
Kedua nya hening, tak ada suara sampai tak terasa waktu begitu cepat. Rangga tertidur di nisan Ibu nya, dan ponsel terus menyala karna Rangga ataupun Rengganis tak mematikan panggilan.
Rangga tersadar saat tetesan air hujan membasahi telapak tangannya. Ia bangun dan sedikit shock saat melihat sekeliling hampir di selimuti kegelapan.
"Astga, kenapa bisa sampai ketiduran?" Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rangga memasukkan ponsel di genggamannya ke dalam saku jaket bomber yang di pakenya.
"Mah, Rangga pulang dulu. Papah pasti nyariin, soalnya tadi gak ijin dulu hehe. Maaf ya Mah, Rangga bandel lagi. Nyenyak banget tidur bareng Mamah, sampe gak sadar udah mau malam aja."
Langkah kaki Rangga semakin cepat karna sebentar lagi tempat pemakaman akan segera di tutup. Ia berlari sekencang mungkin, takut kalau ia harus bermalam di kuburan sendirian.
Terlihat penjaga kuburan akan segera menarik gerbang ke sisi lain untuk menutup. Rangga berteriak, "Pak, Pak tunggu. Jangan tutup duluuuuuu." teriak Rangga sambil mengatur napas.
"Eh, tak kirain mau menginap disini De. Soalnya tadi saya bangunin gak bangun-bangun."
"Huuuuh haaaah," Rangga mengatur napas pelan.
"Makasih ya Pak." timpal Rangga.
Penjaga kuburan meneruskan tugas nya menutup gerbang dan Rangga segera menuju ke jalan utama untuk mencari taxi.
TID TID TIIID..
Mata Rangga melihat ke arah suara klakson berbunyi. Mata nya sedikit meram karna silau akan cahaya lampu dari mobil.
Mobil melaju mendekati Rangga, "Pulang sekarang?" tanya Bagas.
"Eh, Papah? Papah kok tahu Rangga disini?"
"Apa sih yang gak Papah tahu tentang kamu Nak?"
"Perempuan yang aku suka!"
"Ohok-ohok," Bagas terkejut. "Jadi kamu sudah punya kekasih?"
"Belum, masih jadi gebetan."
"Kalau suka tembak aja, keburu di gebet sama orang lain. Yang lebih sakit pas di gebet nya sama teman sendiri."
Keduanya cekikikan, tanpa sadar sedari tadi ada kuping yang diam-diam masih mendengarkan.
"Laper gak? Papah udah bawa in burger sama kentang goreng." tanya Bagas sembari menjalankan mobilnya pelan.
"Aduuuh Papah ngerti banget. Ia aku laper banget Pah, soalnya dari pas sampe tadi belum makan apapun."
"Yaudah tuh bawa di kursi belakang."
Rangga meraih kantong plastik di jok belakang, dan membuka plastik yang berisikan burger king dan kentang goreng.
"Waaah ini enak banget Pah, Papah masih inget aja kalau aku suka varian ini." ucap Rangga dengan mulut nya yang penuh.
Fokus dengan burger, tapi di sadarkan dengan bunyi ponsel nya yang lowbet. Rangga mengambil ponsel di saku jaket nya dan melihat layar ponsel yang masih memperlihatkan detik beserta menit bahkan jam di sana.
Rangga menelan salivanya berulang kali. Ingin meralat semua ucapan yang dia ucapkan dari tadi. Tidak lama kemudian ponsel mati, dan disitulah penyesalan di mulai.
Rangga menarik napas berat, dan membuangnya dengan kasar.
"Kenapa?" tanya Bagas.
"Gak papa Pah," ucapnya murung. "Papah ada powerbank?"
"Ada tuh di laci."
•
Disisi lain, Rengganis yang masih setia mendengarkan sejak dari tadi bahkan sampai ponsel Rangga mati. Ia merasakan ada yang mengganjal. Ganis seperti sedang menjadi orang yang menguping pembicaraan orang lain, ada rasa cemburu, penasaran dan salah.
Pertama rasa cemburu. Ganis merasa cemburu pada Rangga yang memiliki Ayah yang begitu baik dan perhatian padanya. Tapi dia sudah tak memiliki seorang Ibu yang bisa ia jadikan tempat berkeluh kesah seperti ku.
__ADS_1
Yang kedua, penasaran. Penasaran siapa gadis yang ia sukai dan bahkan sedang menjadi gebetan nya sekarang.
Dan yang ketiga, Ganis merasa bersalah karna menjadi penguping. Padahal mungkin itu adalah privasi nya.
"Ahh bodo amat, kan dia yang nelpon juga. Jadi aku gak salah dong! Iyakan?" tanya nya pada sosok orang di depan cermin.
"Sayaaaaang?" panggil Riska.
"Ya Bu?" sahut Ganis lemas
"Makan malam dulu, biar kuat."
"Kuat apa Bu?"
"Kuat menghadapi kenyataan." jokes.
Keduanya menjadi hening dan hanya menyisahkan suara sendok dan garpuh yang beradu dengan piring.
Keheningan malam datang, suasana menjadi sangat bersahabat. Langit yang di penuhi dengan gemerlap bintang-bintang dan sinar bulan yang menyinari semesta.
KRIK KRIK KRIK..
suara jangkrik.
KROK KROK KROK..
suara kodok.
Di bawah langit malam yang sama, Rangga dengan segala kerinduannya. Dan Rengganis dengan segala rasa penasaran, kasihan yang campur aduk menjadi satu.
"Kenapa bengong? Udah bulat mau kuliah di Jakarta?" tanya Riska sedikit heran melihat tingkah anaknya.
"Ah? Hah? Gak papa kok bu." jawab Ganis sedikit terkejut.
"Jadi gimana?"
"Kok apanya sih? Itu?"
"Ah, Ninis gak ada hubungan apa-apa sama Rangga, Bu."
"Lah, emang Ibu nanyain soal itu ya? Eh tapi emang kamu sama Rangga ada apa?" tanya Riska kepo.
"Iiih, aduuuuh." batin Ganis.
Ganis menepuk jidatnya pelan, "Emang maksud Ibu tadi apa?"
"Kuliah, Ibu nanyain kuliah kamu gimana? Bukan onoh." nyinyir Riska.
"Ooh, hah, haha.. Oh itu, udah Bu aku udah isi formulirnya."
"Syukur deh kalau udah. Tapi apa kamu benar-benar sudah sangat yakin mau kuliah di Jakarta dan mencari Ayah mu itu?" tanya Riska sedikit cemas.
Ganis tersenyum tipis dan berusaha meyakinkan Ibunya. Ganis berdiri dan memeluk Ibu nya dari belakang.
"Ninis sudah yakin Bu, Ninis sudah pikirkan ini baik-baik dan dalam perasaan yang baik juga. Tapi Bu,"
"Tapi kenapa sayang?"
"Ada yang mengganjal di hati Ninis."
"Apa Nak? Kalau kamu tidak yakin lrbih baik kamu urungkan niatmu untuk mencari Ayah mu."
"Rangga ternyata sudah tidak punya Ibu."
"Okohok ohok, apa iya? Tapi dia kelihatan seperti baik-baim saja. Dan kenapa pembicaraan mu selalu menyangkut tentang Rangga?" Riska tersedak salivanya sendiri. "Apa kamu suka dia Nis?"
"Apa sih Bu? Bukan nya begitu, tapi ya Ninis merasa kasihan aja sama dia. Dia di sini seorang diri, diam di kost an sendiri. Tanpa sarapan dan makan malam bareng sama orangtua nya." terang Ganis. "Tapi ada yang membuat Ninis iri sama dia Bu,"
"Apa?"
__ADS_1
"Rangga punya Ayah yang begitu baik dan perhatian padanya." ucap Ganis sambil mengerucutkan bibir nya.
"Apa kamu juga mau memiliki Ayah seperti Rangga dan teman-teman lain mu?"
"Iya."
"Kamu serius?"
"Tentu saja, kalau Ayah ku masih hidup aku akan menyuruhnya untuk menikahimu Bu. Meski tidak mungkin, tapi ini adalah harapanku."
Riska mengernyab beberapa kali, ia tak merespon ucapan Ganis dan pergi ke dalam kamar karna sudah larut juga.
"Cepat tidur besok kesiangan."
"Sekolah masih libur Bu, besok minggu."
"Oh ia Ibu lupa. Tidur yang nyenyak."
•
Setiba di rumah, Rangga langsung menyalakan ponselnya dan berusaha menghubungi Ganis namun kembali mengurungkan niatnya. Karna sudah malam juga, Rangga memutuskan untuk tidur dan berencana untuk bangun lebih pagi karna akan pulang.
Sebelum nya Rangga sempat berkata pada Ayah nya sebelum masuk ke kamar.
"Papah boleh memikirkan apa yamg sudah tadi siang kita bicarakan." cetus Rangga membuat ayah nya dalah tingkah.
"Akan Papah pikirkan. Tapi kalau keputusan nya tidak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan, Papah minta maaf."
"Tentu saja Pah, Rangga akan mendukung setiap keputusan Papah."
Bagas tersenyum dan pergi meninggalkan Rangga.
Rangga memutar-mutar ponsel di genggamannya. Namun kembali menyimpannya di atas meja kecil di sudut ranjangnya. Dan memejamkan mata hanya untuk sekedar melepas lelah namun ternyata bablas sampai pagi.
TOK TOK TOK.
pintu kamar Rangga di ketuk dari luar. Bagas membangunkan Rangga untuk sarapan.
"Nak, bangun. Ayo kita sarapan?" ajak Bagas.
Rangga langsung membuka mata nya, merasa terkejut oleh suara ketukan pintu di kamarnya.
Rangga menepuk jidatnya pelan, "Dasar bodoh, kenapa harus bangun siang. Kan jadi ketahuan kalau gua malas." batin Rangga. "Iya Pah, Rangga ke bawah sekarang."
Bagas segera turun setelah membangunkan anaknya, dan menyiapkan piring untuk sarapan. Ada roti panggang dan beberapa selai untuk isian nya.
Bagas mengambilkan selai coklat dan memasukkan nya kedalam roti milik Rangga, tak lama Rangga turun dari atas tangga sembari sedikit mengucek mata nya yang masih terlihat mengantuk.
Rangga duduk dan langsung di suguhkan dengan roti hangat yang sudah di isi dengan selai coklat.
"Makasih Pah?"
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Bagas.
"Apanya Pah?"
"Kuliahmu, apa kamu sudah membuat kepurusan akan kuliah dimana?"
"Sudah Pah."
"Papah harap kamu bisa memilih universitas yang baik untukmu. Emang kamu mau melanjutkan kuliah dimana Nak?"
"Rangga sudah kehilangan Mamah, dan Rangga gak mau kehilangan Papah lagi."
"Jadi maksud kamu? Kamu mau?"
"Iya Pah, Rangga mau kuliah di Jakarta saja. Selain lumayan dekat dengan rumah, Rangga juga bisa lebih dekat dengan Papah. Karna biar bagaimanapun, Papah anggota keluarga satu-satu nya yang Rangga punya."
Bagas tak dapat menahan bendungan di matanya. Bukan cengeng, tapi ini kali pertama dia mendengar ucapan sayang dari Anaknya.
__ADS_1