
Rengganis berangkat lebih awal karna di antar Ibu nya. Tidak seperti biasanya, Aca tak terlihat di depan gerbang ataupun di tempat parkir menunggu kedatangannya.
"Tumben banget si Aca belum dateng, biasanya dia yang paling gesit." gumam Ganis sambil clingak clinguk.
"Nyari apa Nis? Rangga?" cetus Riska bercanda.
"Iih Ibu, apaansih? Ninis nyari Aca Bu, bukannya nyari Rangga." sentak Ganis merasa kesal.
"Hihii, Ibu bercanda sayang. Sana turun, Ibu sudah terlambat."
Rengganis pun turun dengan langkah yang hati-hati. Sambil mencari Aca, siapa tahu dia ada di semak-semak. Bukannya Aca yang ia temukan, malah manusia itu yang ada di hadapannya menyaksikan Ganis sedang clingak clinguk.
"Rengganis?" panggil Rangga.
Ganis langsung memutar badannya pura-pura tidak melihat Rangga.
"Rengganis tunggu!" teriak Rangga.
Ganis menghentikan langkah kakinya dan melihat Rangga sambil tersenyum kecut.
"Kenapa kamu malah mau pergi Nis?"
"Hah? Aku memang berniat pergi untuk mencari sahabatku."
"Aku memanggilmu tadi."
"Ah, hah benarkah? Maaf aku tidak mendengar mu. Ada apa? Aku buru-buru."
Rangga berjalan selangkah lrbih dekat dengan Ganis. Ia melihat pergelangan tangan Ganis yang ternyata gelang pasanganyang di berikan Rangga masih melekat di pergelangannya.
"Tunggu, ini? Kamu masih memakainya?"
Ganis langsung melihat tangannya. "Aiss, kenapa benda ini masih ada di tanganku?" batin Ganis. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." terang Ganis mencoba menjelaskan.
"Yes! Sekarang kamu resmi menjadi pacarku Rengganis." ucap Rangga semangat. "Heeey, Rengganis sekarang pacarku, dan kami memakai gelang pasangan sekarang." teriak Rangga mengumumkan di depan banyak orang.
Rengganis mencoba menghentikan aksi Rangga namun tak bisa. Karna badannya yang lumayan lebih tinggi di banding dirinya.
"Ra-Rangga cukup, hentikan!" Ganis terus memohon namun tak di hiraukan Rangga yang sedang merasa bahagia.
Aca yang baru saja nongol, dikejutkan oleh pengumuman dari Rangga.
"Astga, kan gue bilang juga apa? Mereka pasti pacaran." ucapnya bangga.
Aca berjalan mendekati Rengganis dan Rangga, lalu menyalami keduanya.
"Selamat ya guys kalian sekarang sudah resmi pacaran."
"Apaan sih Ca?" ucap Ganis tak terima.
Sahabat Rangga yang kalah taruhan menepuk jidatnya masing-masing, namun ikut bersorak juga karna keberhasilan sahabatnya itu. Mereka harus bersiap memenuhi apapun yang di perintahkan atau yang diinginkan sahabatnya itu.
Aca membawa Ganis masuk ke dalam kelas, sedangkan Rangga masih bersama sahabatnya membicarakan kesepakatan.
"Jadi lo mau apa Ga?" tanya Dimas, salah satu sahabatnya.
"Gua belum kepikiran mau apa. Nanti guakasih tahu kalau udah kepikiran."
"Oke."
"Bye the way kok lo bisa sih dapetin si Rengganis? Padahal dia itu kan kaya macan betina."
"Luar nya, dalemnya kaya hello kitty."
"Emang Ia?"
__ADS_1
"Dah ah, penasaran banget kayanya kalian."
"Bye the way, elu gak beneran suka kan sama dia?"
"Kalau gua suka beneran gimana?"
"Ya gak bisa gitu, kalau sampai lo suka sama dia lo harus ngikutin semua perintahkita. Ya kan Dim?" ucap Angga.
"Bener tuh, bener."
"Eh itu di luar skrip ya? Tapi yaudah lah gak pa-pa. Yang penting gua menang dan bisa dapatin Rengganis."
•
"Ca tunggu dulu, aku mau ngomong sama Rangga. Ini gak sepertiyang kalian semua pikirkan."
"Emang kamu tahu Nis apa yang kami pikirkan?"
"Ya enggak, makannya kita harus selesaikan baik-baik."
Sedang berdebat masalah barusan, tiba-tiba datang orang-orang bersorak sekaligus melabrak Rengganis.
"Ciee yang baru saja jadian, asik nih ada PJ."
"Enak banget ya lo, gak ngapa-ngapain tiba-tiba jadian. Gue aja yang berjuang begitu banyak gak bisa naklukin dia. Elo pasti pake guna-guna kan?" pekik Dara tanpa rasa peduli.
"Eh apaan sih lo? Nuduh-nuduh sembarangan sama Ganis." sentak Aca.
"Apa lo berani-beraninya bicara tinggi?" ucap Dara tak terima.
Dara mendorong badan Aca sampai hampir terjungkal. Rengganis segera menangkap tubuh Aca, dan menahannya.
Dengan tatapan murka tapi bingung Ganis mencopot gelang pasangan di tangannya.
Mata Dara langsung terpaku pada gelang itu. Rengganis melemparkan gelang nya ke atas, dan Dara dengan langkah yang cepat segera berusaha meraih gelang itu.
Dengan bangga Dara memakai gelang itu dan menunjukannya pada semua orang yang ada disana.
"Lihatlah teman-teman, sekarang aku yang jadi pacar Rangga. Bukan gadis pulu-pulu kaya dia." ucap Dara bangga.
"Apa kamu yakin, setelah memakai gelang itu Rangga akan berpaling padamu?" tanya Ganis dengan senyuman liciknya.
Rengganis menarik nafas panjang, dan memberanikan diri untuk bicara.
"Apa kamu yakin, setelah memakai gelang itu Rangga akan berpaling padamu?" tanya Ganis dengan senyuman liciknya.
"Tentu saja, karna ini yang melambangkan ikatan." ucap Dara merasa percaya diri.
"Gelang itu hanya assesoris. Itu artinya bukan apa-apa." seru Ganis mempertegas ucapannya.
Rangga berdiri di balik pintu kelas Ganis, menyaksikan kejadian barusan. Melihat Ganis dengan senyuman liciknya.
Dara yang melihat Rangga menunjukan reaksi yang tidak menyenangkan, ia merasa menang. Berlari menyusul Rangga, dan mencoba membujuk supaya tidak berlarut-larut dengan rasa sedihnya.
"Honey? Tunggu!" teriak Dara.
Rangga berhenti dan menatap Dara dalam. "Stop manggil gua kaya gitu, gua bukan madu."
"Iihh kok kamu gitu sih Baby, kamu kan Honey bunny sweety ku." rengek Dara manja.
"Stop Dar! Gua pusing."
"Udahlah Ga, kamu gak usah mikirin si Rengganis. Dia gak bener-bener suka sama kamu. Dan kamu lihat ini? Ini gelang yang si Rengganis buang, dan aku mengambilnya karna aku peduli."
"Rengganis benar itu hanya Acessoris, jadi gak berarti apa-apa."
__ADS_1
"Tapi? Aku pikir kamu mau jadiin aku pacar karna gelang ini sekarang ada padaku."
"Apa lo pikir perasaan bisa gampang di bolak-balik Dar? Hemh, lo gak tahu apa-apa tentang cinta. Yang lo tahu hanya nafsu, nafsu buat milikin gua tanpa tahu bagaimana perasaan gue bagaimana."
"Tapi Beb, aku beneran suka sama kamu!"
Rangga menggeleng dan pergi meninggalkan Dara. Langkah kaki Rangga sempat berhenti sepersekian detik, karna Rengganis berdiri tepat di depan nya, namun masih rada jauhan.
Rengganis menatap Rangga, ingin menjelaskan yang sebenarnya namun sebenarnya ada rasa tidak peduli di dalam hatinya, tapi ada rasa gak enak juga dengan kejadian barusan.
Rangga yang tak nyaman terus di tatap, ia segera masuk ke dalam kelas nya dan meninggalkan Rengganis yang masih berdiri tanpa bergerak disana.
"Apa dia benar-benar marah padaku?" gumam Ganis sambil berfikir.
"Kenapa aku khawatir dia marah? Padahal kan emang aku tidak pernah suka padanya. Tapi, mungkiiin, eh enggak-enggak, gak ada. Gak mungkin dan gak bakalan terjadi."
Rengganis berfikir keras, namun kembali ke kelas dan berhenti memikirkan Rangga.
Hari ini hanya sampai setengah hari karna kelas XII sudah bebas. Rangga beserta teman-temannya berkumpul di kantin sebentar, sedangkan Rengganis dan Aca langsung pulang. Aca di jemput Ayah nya karna sudah pulang dari luar kota nya. Sedangkan Rengganis pulang berjalan kaki.
"Ga? Jadi apa yang lo mau lakuin nih? Kita harus ngelakuin apa karna elo sudah berhasil mendapatkan si Rengganis."
"Gak jadi, kaya nya gua di tolak sama Rengganis. Kalian pilih mau apa dari gua?"
"Hah serius lo Ga?"
"Udah gua bilangkan? Si Rengganis emang sepertinya susah buat jatuh cinta."
"Udahlah jangan bahas dia dulu. Sok kalian mau apa sekarang?" Rangga bersimpang dagu di atas meja kantin.
"Oke-oke."
Kedua sahabatnya saling menatap dan berfikir sepakat.
"Lo hanya wajib mentraktir kita berdua sepuasnya. sampai kita semua lulus dari sekolah ini. Selebihnya, itu yerserah lo Ga, lo bisa neraktir kita kapan-kapan lagi setelah lulus."
"Deal!" ucap Rangga tanpa basa basi.
Tanpa aba-aba Rangga di tarik kedua sahabatnya keluar dari kantin dan pergi ke parkiran, lalu masuk ke dalam mobil milik Rangga.
"Mau kemana?" tanya Rangga tak bersemangat.
"Hari ini biar gue yang nyetir. Lo diam aja di belakang, oke bos?" ucap Ganta dan Dirga hanya ikut-ikut saja.
"Terserah kalian, suka-suka kalian dah."
Setelah tiba di sebuah caffe mewah yang tidak jauh dari sekolah. Hanya berjarak sekitar 2 kiloan dari sana. Ganta dan Dirga turun, lalu menyeret Rangga untuk berjalan terlebih dulu.
Ganta dan Dirga melihat menu-menu seafood dan memilih menu yang pas untuk di makan 5 orang, sedangkan mereka hanya bertiga.
"Serakah banget kalian. Ini menu buat berlima, dan kita hanya bertiga. Awas saja kalau gak di habisin." ucap Rangga.
"Tumben banget peka, biasanya juga elo Ga yang suka buang-buang makanan. Kulkas di kost an elo juga banyak makanan yang sampe expired. Gak sayang kan lo?" ucap Dirga meledek Rangga.
"Yaudah nanti kalian juga bisa bawa makanan di kulkas gua. Puas kalian?"
"Oke siap bos." Ganta memberikan sikap hormat pada Rangga.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka sampai. Seafood porsi 5 orang dan minuman nya 3, beserta bonus minuman free 1.
"Kak ini minuman nya lebih." ucap Rangga pada pelayan caffe, "Kami hanya bertiga."
"Ooh ini free kak, beli seafood porsi 5 orang dapat free minuman satu." jawab pelayan caffe.
"Oh oke, thanks kak."
__ADS_1