Anak Yang Dulu Kau Asingkan

Anak Yang Dulu Kau Asingkan
Chapter 9


__ADS_3

Pagi ini Rangga memutuskan untuk kembali karna besok sudah kembali masuk sekolah. Selain karna sekolah, dia juga merindukan seseorang yang tidak peka.


"Pah, hari ini Rangga mau balik."


"Perlu Papah antar?"


"Tidak usah Pah, lagian kan Rangga bawa mobil sendiri."


"Yaudah tidak apa-apa. Kamu hati-hati jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya."


"Enggak Pah, Rangga janji hehe."


Beberapa menit kemudian Rangga melesat jauh meninggalkan Ibukota Jakarta dan orang yang paling dia sayang.


Bandung.. 


Rengganis yang sibuk dengan alat tempur tak menghiraukan ponsel nya sama sekali, karna memang tak ada satupun notifikasi masuk dari semalam. Dan memutuskan untuk menyimpan ponsel nya di bawah bantal. 


Menggantikan Ibunya beres-beres karna harus pergi kerja lebih pagi. 


"Kenapa coba hari libur pun harus bekerja? Apa dia tidak membutuhkan family time meski hanya denganku saja? Atau dengan pacar barunya juga." gumam Ganis sedikit merasa kesal. 


"Eh iya, ngomong-ngomong apa Ibu tidak pernah punya pacar lagi? Ataaaaaaau, jangan-jangan Ibu punya tapi menyembunyikan dari aku. Ya pasti, Ibu pasti punya pacar. Tidak mungkin dia selama ini tidak punya." terka nya. 


Setelah beberapa jam bergelut dengan alat tempur dan pikirannya. Ganis merebahkan badannya di atas sofa butut yang sudah sejak lama menemaninya. 


DING DONG.. 


Bel berbunyi. Ganis membuka pintu, dan ternyata yang datang adalah seonggah manusia menyebalkan. 


"Mau ngapain?" tanya Ganis tanpa melihat mata Rangga. 


Tanpa permisi, Rangga menarik tangan Ganis dan memeluknya dengan erat. Ganis tak bisa berkata, pelukannya menahan suara nya untuk keluar.


"Euk euk, Rang-ga lepaskan aku." ucap Ganis terengah-engah. 


Ganis masih berusaha berontak, namun tiba-tiba pundaknya seperti di sirami dengan air hangat. Rangga menangis dipelukan Ganis dan air mata nya mengalir begitu deras. 


Tak lama suara tangisan Rangga pecah, ia menangis dan berbicara terbata-bata. 


"A-aku me-rindukan Ibu ku Nis." 


Akhirnya Ganis melemaskan ototnya dan membiarkan Rangga menangis sepuasnya. 


"Oke, kali ini aku membiarkan pundak ku untukmu." ucap Ganis sambil menarik nafas panjang. 


Setelah puas menangis, Rangga melepaskan pelukannya dan berbicara tentang bagaimana masalalu nya bersama Ibunda tercinta. 


Rengganis menangis haru dan suara nya sampai terpenggal-penggal.


TOK TOK TOK.. 


Suara pintu kembali di ketuk. Ganis terperanyat, ia terkejut karna mimpi seperti tadi. Ganis bangun dan berjalan perlahan mendekati pintu, takutnya itu benaran Rangga. 


"Apa ia dia datang?" lirih Ganis sambil mengendap-ngendap. 


KREEEEK.. 


"Kenapa lama sekali membuka pintu nya?" semprot Riska Ibu Rengganis. 


"Humpt huuuuh." Ganis membuang nafas lega. 


"Kenapa sampai berkeringat seperti itu? Terus kenapa mata kamu sedikit sembab?"


"Gak papa. Tadi Ninis ketiduran. Lalu tumben banget Ibu pulang jam segini?"


"Ibu pulang dulu, buat beli in kamu makan siang."


"Emm, kirain mau ada kegiatan di rumah." sindir Ganis. 


Riska melihat anak nya dan tersenyum kecil.  "Minggu depan Ibu ada libur 2 hari."


"Percuma libur kalau hanya diam di rumah." ucap Ganis datar. 


"Mau camping?" tanya Riska dengan antusias yang tinggi. 


Mata Ganis langsung melotot. "Ma-mau Bu mau." 


Ganis langsung memeluk Ibu nya erat.  "Jangan sampai gak jadi, Ninis akan marah besar pada Ibu." ancam Ganis. 

__ADS_1


"Iyaaa Ibu gak bakalan bohong."


Mereka berdua menikmati makanan yang di bawa Riska. Melahap nya sampai habis, dan dengan perut yang begah Riska terpaksa harus kembali berangkat karna sudah di telpon oleh Bos nya. 


"Aduuuh Bos Ibu sudah nelponin terus, Ibu harus berangkat sekarang. Kamu beresin bekas makan ya hehe.." 


"Iyaaa." ucap Ganis sedikit kesal. 


Riska pergi terburu-buru karna memang sudah sedikit terlambat dari jam yang di tentukan. 


Beberapa menit kemudian, ketukan pintu membuat Ganis segera bangkit dari tempat makan, dan tak sempat mencuci tangan karna masih sibuk dengan ponsel nya. 


TOK TOK TOK.. 


"Kenapa harus mengetuk pintu sih Bu? Masuk aja, aku tanggung belum cuci tangan." ucap Ganis sambil membuka pintu dengan tangan kiri nya beserta ponsel yang ia simpan di ketiaknya. 


CEKREK.. 


"E e kok?" Ganis terkesima. 


Karna saking terkejutnya, ponsel Ganis jatuh tepat pada kaki nya. 


"Aw aw aaaww." ringis Ganis. 


"Eh eh, kamu gak pa-pa kan?" tanya Rangga sambil mengambil ponsel Ganis yang terjatuh. 


Rangga mengambil dan mencoba menyalakan ponsel Ganis. 


"Yah, LCD nya pecah." 


"Hah? Serius?" 


Ganis langsung mengambil ponselnya dengan tangan kanan nya yang kotor. 


"Yaaah gimana dong?" Ganis mengerucutkan bibir nya. 


"Biar aku yang ganti. Nanti aku bawa ke konter buat di ganti LCD nya gimana?" usul Rangga. 


"Gak usah lah, lagian ponsel nya juga udah jelek." 


"Jelek gimana? Ini kan masih keluaran 1 tahun yang lalu. Biar aku yang bayar."


"Iiihh gak papa gak usah. Aku juga punya tabungan kok, biar nanti aku yang pergi sendiri."


"Terserah deh! Bye the way ngapain kesini? Bukan nya kemarin masih di rumah Ayah mu."


"Aku kangen seseorang, jadi cepat-cepat pulang kesini."


Rengganis berdecak, "Ck, gebetan yang kau bilang kemaren pada Ayahmu kan?" cetus Rengganis datar. 


"Iya, jadi gimana?" tanya Rangga membuat Ganis bingung. 


"Apanya?"


"Gak jadi deh."


"Kalau ngomong ya di beresin, jangan setengah-setengah."


"Hahaha.. Emang kenapa kalau setengah-setengah? Apa aku bakalan jadi pipti-pipti?"


"Gak bisa di ajak serius banget nih orang. Awas aja kamu datang lagi terus nangis-nangis di pelukanku." ucap Ganis sambil menyunggingkan mulutnya. 


"Hah? Kapan?" Rangga terheran-heran. 


"Humpt." Ganis menutup mulut, mengalihkan pandangan dari Rangga dan menepuk-nepuk mulutnya dengan telapak tangan. "Astagfirullah kenapa ini mulut ember sekali sih?" gumam Ganis. 


"Jangan-jangan itu kode ya?" tatap Rangga liar. 


"Kode apa?" Ganis pura-pura tidak mengerti. 


"Kode kalau kamu ingin di peluk haha.. Sini-sini biar aku peluk." Rangga mendekati Ganis.


Ganis selangkah lebih mundur karna merasaketakutan. 


"Kenapa panik gitu? Aku bercanda kali Nis."


"Aku tidak suka bercanda, jadi jangan pernah mengulanginya."


"Lagian kan kamu duluan yang bercandain aku tadi. Kapan coba aku datang kesini, nangis terus meluk kamu? Hah? Tunggu, apa kamu memimpikan aku? Karena saking rindunya sama aku Nis?"

__ADS_1


"Jangan ngasal kamu. Kalau gak ada kepentingan, sana pergi."


"Kok ngusir sih? Aku mau ketemu Ibu." terobos Rangga masuk. "Bu? Ibu?" panggil Rangga. 


"Astagfirullah anak ini. Ibu gak ada di rumah dia kerja. Sana pergi ih, aku mau nonton drama on going sebentar lagi."


"Kasihan banget Ibu, hari wekend masih harus bekerja."


"Ya karna gak ada yang nafkahin kami. Ibu terpaksa harus kerja banting tulang."


"Ibu kerja apa emang?"


"Gak tahu." Ganis menyama ratakan bibir nya.


"Gimana kalau Ibu kamu nikah sama Papah ku saja? Kebetulan dia punya perusahaan yang karyawannya lumayan banyak. Jadi gak usah khawatir gak bisa makan."


"Astagfirullah, enteng banget bocah ngomong gitu. Udah sana pergi jangan mengada-ngada."


"Oke aku pergi, tapi jangan lupa bilangin ya?"


"Apaan sih? Gak janji."


"Eh tunggu." Rangga merogoh sesuatu dari dalam saku jaket nya. 


Sebuah gelang pasangan yang memiliki inisial sama "R" 


"Nih, pake."


"Gak mau, ngapain? Emang kita pasangan? "


"Kan emang ia. Waktu itu, kejadian yang kamu kirim pesan kaya gituke aku. Aku minta syarat buat kamu jadi pacar aku."


"Apaan sih nih orang? Jangan mengada-ngada deh. Barusan saja kamu bilang mau menjodohkan Ibu dan Bapak mu, sekarang malah minta aku jadi pacarmu. Apa kamu gak berpikir itu berlebihan?"


"Kamu tinggal pilih salah satu nya." ucap Rangga seraya memegang tangan Ganis dan memakaikannya gelang pasangan.  


Rengganis menggelengkan kepala tak habis pikir dengan manusia di hadapannya. Begitupun dengan dirinya, Rengganis menjadi sangat penurut pada Rangga. Ia pun sedikit bingung dengan sikapnya sendiri. 


"Jangan di copot. Sampai ketemu besok di sekola, dan bilangin ke Ibu salam ya?"


Rengganis tak menjawab dan membiarkan Rangga pulang tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Rengganis. 


"Dasar batu!" cetus Rangga sambil tersenyum. 


Rengganis tak menghiraukan ucapan Rangga dan masuk ke dalam rumah untuk menonton drama on going yang ia tunggu. 


"Dasar tengil. Bisa-bisa nya dia menyuruhku seenaknya. Memangnya dia siapa? So soan ngasih pilihan."


Rengganis kesal, ia melihat gelang di pergelangan tangannya dan tersenyum tipis. 


"Bagus juga gelangnya."


Ddrrrtttt..


Ponsel Rengganis bergetar. Ganis mengambil dan ternyata ada pesan masuk dari manusia yang baru saja pergi dari rumahnya. Ada sedikit rasa bahagia namun masih gengsi untuk memperlihatkan. 


Rengganis membuka pesan masuk dari Rangga namn tak membalasnya. 


[Jangan lupa makan.] tulis Rangga. 


"Makan-makan, gak tahu apa dia aku baru saja menghabiskan 2 piring besar bersama Ibu ku. Apa dia ingin aku menjadi berlipat-lipat?" umpat Ganis kumat-kamit. 


Sedang asik menonton drama korea, suara ketukan pintu lagi-lagi membuat Ganis kesal. 


TOK TOK TOK.. 


"Astagfirullah, apalagi sih nih orang? Apa dia tidak bisa membuat aku santai sebentar menikmati momen-momen dalam darama ini?"


Rengganis datang membuka pintu dengan mulutnya yang nyerocos seperti bom atom.


"Apalagi sih? Kenapa kamu terusengganggu ku Rangga?" ucap Rengganis tanpa melihat siapa di hadapannya. 


"Eu euhem, apa baru saja ada yang apel di hari minggu?" tanya Aca membuat Ganis terkejut. 


"Ya? Aca? Enggak, enggak ada."


"Ngaku sajaaa, untung gue kesini jadi bisa tahu kalau sahabat gue habis pacaran."


"Apaan sih Ca? Gak ada yang pacaran."

__ADS_1


"Apakah gue percaya? Tentu tidak. Gue yakin kalian berdua pacaran!"


"Terserah kamu Ca, terserah."


__ADS_2