
Esoknya..
Semalam setelah kejadian itu, Rangga langsung di suruh pulang oleh Ganis. Karna masih kesal ia mendorong dan sedikit memaki Rangga.
"Awas ya kalau sampai berani ke rumah lagi!" ancam Ganis.
Rangga mengerucutkan bibirnya, dan tersenyum pada Ibu Ganis yang berdiri di balik pintu.
"Tante? Saya pulang dulu. Senang bisa kenal sama tante." ucap Rangga seraya melambaikan tangan perpisahan.
"Lain kali main lagi." ajak Riska.
Sontak Rengganis memekik. "Ibuuuuuuuuuuuuuuuu."
•
Hari ini sekolah libur karna hari Sabtu, Rangga memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan menginap disana. Lumayan bisa nginap satu hari katanya.
DJUUUUUSSS..
Rangga melesat jauh, membelah kepadatan jalan raya. Dengan mobil nya yang berwarna merah menyala, pemberian dari sang Ayah.
Butuh waktu sekitar beberapa jam untuk sampai ke rumah mewah nya.
DING DOOOONG..
DING DOOOONG..
Beberapa kali Rangga memencet bel namun tak mendapat jawaban. Asisten rumah tangga pun tidak muncul, apalagi Ayah nya yang selalu sibuk di kantor.
Untung Rangga membawa kunci cadangan rumahnya.
KOTREK KOTREK CEKREK.
Rangga membuka pintu dan melihat secara langsung adegan dewasa di hadapannya.
"Kenapa tak membukakan pintu untuk ku?" tanya Rangga membuat Ayah nya terperangah kaget.
Ayah nya langsung berdiri dan menghempaskan wanita di pangkuannya.
"I-ini tidak seperti yang kamu lihat Nak," ucap Bagaskara Ayah Rangga.
"Tidak usah berdiri, aku akan langsung ke kamarku." Rangga langsung berlari ke lantai dua.
"Nak, Nak? Tunggu." panggil Bagaskara.
Tak di gubris Rangga, Bagas langsung lemas. Perempuan asing tadi mendekati Bagas yang akhirnya kena semprot Bagas.
"Ini semua gara-gara kamu!" bentak Bagas.
"Kok aku? Bukankah kita sama-sama mau Pak?" terang Rima, perempuan simpanan Bagas sekaligus sekretaris pribadinya.
"Kamu yang terus menggoda ku Rima!"
Rima tak habis pikir, laki-laki yang baru saja menghabiskan waktu drngan nya berubah seketika menjadi dingin karna anaknya.
"Sudahlah aku pergi. Tidak akan selesai berdebat denganmu, kamu terlalu egois dan ingin menang sendiri."
Rima pergi meninggalkan Bagas seorang diri. Dan Bagas menghampiri anaknya ke atas. Ia mengetuk pintu kamar Rangga, yang ternyata sedang memandangi poto mendiang Ibu nya.
TOK TOK TOK..
"Nak? Boleh Papah masuk?"
"Masuk saja Pah, gak di kunci kok." suruh Rangga sembari menyimpan poto Ibu nya kembali ke atas meja.
"Kita jiarah mau?" tanya Bagas.
"Rangga masih cape Pah," ucap Rangga sembari menaikan selimut hendak tidur.
__ADS_1
"Baiklah, istirahat saja nanti Papah bangunkan untuk makan siang."
Bagas melangkah pergi menuju pintu hendak keluar karna tidak mau mengganggu anak nya tidur.
"Kalau Papah mau menikah lagi gak apa-apa kok. Rangga bisa paham itu." ucap Rangga membuat langkah kaki Ayah nya berhenti.
"Sudah satu tahun Mamah meninggalkan kita, dan wajar saja kalau Papah merasa kesepian. Dan Papah masih terlihat muda untuk memberikan adik untukku." timpal Rangga, lagi-lagi membuat Bagas tak bisa berkutik.
Bukannya mengiakan atau justru menolak, Bagas lebih memilih pergi dan membiarkan anak nya istirahat..
"Kamu pasti kecapean, sekarang istirahat dulu. Papah masih ada pekerjaan."
Setelah Ayah nya keluar, Rangga duduk dan memeluk poto bingkai mendiang Ibu nya.
"Mah? Rangga kangen sama Mamah, Rangga kangen di peluk Mamah, Rangga ingin sekali memakan masakan Mamah lagi. Maaf ya Mah, Rangga egois. Waktu itu Rangga bandel sampai Mamah harus memindahkan menderita karna Rangga." ucap Rangga sembari menyeka air mata nya.
Pagi tadi di bandung..
Rengganis dan Aca sengaja lari pagi karna badannya berasa pada pegel. Apalagi semalam habis menghadapi anak bujang rese.
Mata Ganis terfokus pada kost an yang di diami Rangga, sampai kaki nya terpentok dan akhirnya terjatuh.
Tukutuk tukutuk,
"Awww." rengek Ganis.
"Liatin apaan sih Nis? Gitu banget sampai jatuh gitu?" ucap Aca sambil menyodorkan tangan hendak membantu Ganis bangun.
Ganis meraih tangan Aca dan bangun, lalu duduk di bangku yang ada di samping jalan raya.
"Gak ada, mau lihatin aja. Emang gak boleh?"
"Ya enggak gitu juga. Apa jangan-jangan elu berniat mau ngekost Nis?" tanya Aca tanpa tahu kalau itu adalah kost an yang di tinggali Rangga.
"Astagfirullah ngaco banget, masa ia aku harus tinggal disana? Rumahku kan lumayan dekat dari sekolah, lagian ngapain juga aku harus tinggal di kost an cowok, apagi sama Rangga." terang Ganis tanpa merasa terbebani.
"Hah?" Aca terkejut, "Jadi si Rangga tinggal di kost an? Bukannya dia hanak horkay ya? Terus sejak kapan elu tahu kalau Rangga tinggal disini?" Aca mentap Ganis mengintrogasi.
"I-itu," Ganis gelagapan.
"Elu pernah masuk kesana?" tanya Aca membulatkan mata nya.
Ganis tersenyum tipis, "Hehe, iya aku pernah masuk ke sana."
Aca shok, mata nya membulat seperti ingin melompat. Beberapa kali ia menelan salivanya, merasa tak percaya dengan kelakuan sahabatnya.
Aca membuka tutup botol minumnya, lalu menelan air dengan susah payah.
"Aku gak ngapa-ngapain Ca, jangan suudzon dulu." terang Ganis.
"Gak mungkin gak ngapa-ngapain, secara cewek dan cowok berdua di dalam satu ruangan Nis."
"Astagfirullah Caaa, emang kamu kira aku ngapain sama Rangga Ca? Gak usah menyamakan aku dengan anak-anak di luar sana. Biarpun aku hidup tanpa seorang Ayah, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri." ucap Ganis sedikit emosi.
"Loh, kok jadi kesana si Nis? Maksud gue kan bukan itu,"
"Lama-lama kamu sama dengan Ibuku Ca," potong Ganis, lalu pergi meninggalkan Aca dan melanjutkan lari pagi.
"Astgaaaa, kenapa dia kaya gitu sih? Nis? Tunggu." Aca berlari mengejar Ganis.
Sekitar jam 2 siang, Rangga yang sekarang berada di jakarta, begitu merindukan sosok Ibu nya. Dia pergi ke pemakaman tanpa sepengetahuan Ayahnya.
Ayah nya yang sedang sibuk menyiapkan makan untuk anak satu-satu nya. Bagaskara teramat menyayangi Rangga, namun ia tak pernah lupa kalau dia juga mempunyai seorang anak dari perempuan yang pernah ia cintai dulu. Meski tak pernah tahu bagaimana kabar anak dan perempuan itu, tapi diam-diam Bagaskara selalu menunggu kalau-kalau anak nya anak menemui nya.
Bagaskara sadar betul kalau perempuan yang dulu ia cintai, sekarang sudah sangat membencinya. Karna bagaimanapun dulu 18 tahun yang lalu Bagaskara meninggalkan nya dengan cara tak manusiawi.
Meninggalkan dalam keadaan hamil, dan dia harus terusir dari rumahnya karna ulah Bagaskara.
"Rangga?" panggil Bagas dari ruang makan.
__ADS_1
Tak mendapat jawaban, Bagas akhirnya naik dan membuka pintu kamar Rangga hati-hati. Takutnya mengganggu dia sedang tidur.
CEKREK..
"Nak? Ayo kita makan siang dulu." ajak Bagas.
Tak melihat sosoknya, Bagas tak begitu heran. Ia cukup yakin kalau anaknya pasti ke TPU.
"Dia pasti sangat merindukan Ibu nya," gumam Bagas.
Bagas keluar dan berniat menyusul Rangga. Namun ternyata Rangga tak membawa mobil, dan itu artinya dia sedang tidak ingin di ganggu.
Rangga berangkat ke TPU naik taxi online, dia berfikir mungkin akan lebih baik jika ia tak menyetir, apalagi dalam keadaan seperti ini.
Langkah kaki yang berat, Rangga harus berusaha menahan air matanya supaya Ibunya tak melihat nya menangis di ujung sana. Siapa sangka bujang ini yang selalu terlihat ceria, ternyata menyimpan begitu banyak kesedihan di hidup nya.
Rangga duduk di atas tanah sebelah bati nisan yang bertuliskan nama ibu nya. Rangga mengusap nisan di hadapannya drngan penuh rasa. Rada yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata.
"Mah, Rangga kangen Mamah." lirih Rangga di bawah teriknya sinar mentari.
"Mah? Apa disana begitu menyenangkan?"
Seketika air mata jatuh membasahi pipi nya.
"Sepertinya disana memang sangat seru dan menyenangkan ya Mah? Mamah begitu betah tinggal disana? Mamah bahagiakan Mah?" Rangga menyeka air matanya dengan baju.
"Kalau Mamah bahagia, Rangga gak bakalan sedih lagi. Rangga bakalan banyak kirim doa buat Mamah. Dan, Rangga bakalan wujudkan mimpi-mimpi Rangga untuk bisa menjadi seseorang yang berguna." ucap Rangga penuh percaya diri.
Sudah mulai petang, Rangga tak kunjung pulang dan membuat Bagas khawatir. Bagas memutuskan untuk menghubungi putra nya itu meski pada dasarnya dia bakalan tidak suka.
[Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan.] ucap operator :D
"Apa disana tidak ada signal?" gumam Bagas.
Ddrrrttttt Ddrrrtttttt..
[Hallo..]
[Lagi ngapain?]
[Kepo sekali anda. Ada perlu apa?]
[Gak ada perlu apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suara kamu saja.]
[Diiih, apaan sih?]
[Pipimu pasti memerah kan?]
[Jangan sotoooooy. ] sentak Ganis, [Hari ini aku tidak melihatmu di kost an, kemana?] timpal Ganis mencoba meluapkan rasa penasarannya.
[Ngapain ke kost an? Apa kamu sangat merindukan ku sampai-sampai tidak bisa menunggu dan nekat pergi ke kost an?]
[Ohok-ohok.. Apaan sih? Enggak yah! Tadi aku hanya kebetulan lewat di depan sana dan gak sengaja ngelirik sedikit.]
[Astgaaa, manis banget sih.]
[Manis-manis emangnya aku gula?]
[Kamu mah bukan gula, tapi pemanis. Pemanis di kala suasana ku sedang tidak baik-baik saja.]
[Iyyuuuh, gombal banget anak orang.]
Suasana hening..
[Lagi dimana?] tanya Ganis.
[Lagi nengok Mamah.]
[Ibu kamu sakit?] tanya Ganis sedikit khawatir.
__ADS_1
[Sudah tidak lagi, Mamah sudah bahagia bersama sang pemiliknya.]
[Hah, maksud kamu Mamah kamu?] Ganis menutup mulutnya, [Sorry.] timpal Ganis.