
Ganis menarik kedua bibir nya dan duduk memilih sibuk dengan ponsel nya. Semakin lama Ganis membiarkan Aca tak merespon perkataannya, semakin besar rasa penasaran Aca.
"Emh ekhemm.." Aca pura-pura gatal tenggorokan.
"Punya temen gini amat ya gue. Temennya marah, bukannya di bujuk rayu malah dibiarkan. Vangkye emang!"
Ganis menahan tawa saat mendengar Aca melontarkan kata-kata umpatan.
"Memang nya ada apa? Sampai jantung lu mau hilang?" cetus Aca melepaskan rasa penasaran.
Ganis mendelikkan matanya melihat Aca sambil terkekeh. "Penasaran kan kamu Ca?"
"Udah gak usah banyak kesana kemari deh! Jawab aja langsung bisa kan?"
"Oke-oke aku ceritain."
"Sok!"
"Jadi tadi itu kan gini, bla bla bla dan blu blu blu and bli bli bli."
Singkat cerita Ganis selesai menceritakan kejadian yang membuat jantungnya hampir hilang itu. Dan kalian tahu, Aca masih terperangah namun tiba-tiba terkekeh.
"Bagaimana bisa elu gak sadar sih Nis? Hahaha, " Aca tertawa sambil menyeka air matanya yang mengalir karna terlalu enak tertawa. "Tapi gak aneh juga sih! Bahkan elu gak sadar saat gue pergi," timpal Aca mengulas kembali.
"Hehe maaf-maaf. Gak aku ulangin lagi deh, janji."
"Hemm.. Laper nih makan yuk?"
"Boleh. Aku yang traktir ya?"
"Serius?" mata Aca hampir loncat.
"Iyaaa."
Rengganis dan Aca menuju ke kantin sekolah dan langsung memilih makanan yang mau di santap.
Ganis terlebih dulu duduk di kursi, sedangkan Aca masih memilih minuman yang pas untuk cemilannya.
Memakan pentol pedas dengan es teh manis yang seger. Tak lupa dengan benda pipih yang selalu menemaninya di kala malam. Ganis memainkan ponsel dan membuka salah satu aplikasi baca di ponselnya.
*** App. Ganis membaca novel yang berjudul ANAK YANG DULU KAU ASINGKAN karya Novita Sari.
Ia sering menangis saat membaca kisah tentang tokoh utama di Novel itu, sampai-sampai ia sering berkata.
[Ku kira hanya buku, tapi ternyata itu kisahku.]
SEUT..
ponsel Ganis di sambar dengan cepat dari tangannya.
"Eh eh eh.." Ganis merasa terkejoet.
Rangga memasukkan nomor ponselnya ke papan tombol ponsel Ganis dan langsung menelpon nomor nya.
"Aku lupa menyimpan ponselku, pinjam sebentar untuk menghubungi." ungkap nya datar.
"Aiss, kenapa gak pake ponsel temanmu saja?"
[Yang Yang Yang di Goyang Goyang Yaaaaang, Dangdut dangdut dangduuuuut.]
Nada dering panggilan masuk.
Rangga merogoh ponselnya dari dalam jaket bomber miliknya.
"Naah ini dia, tengkyu ya Nis?"
Rangga meninggalkan Ganis yang masih berdiri tak habis pikri.
"Sungguh dia di luar nurul." Ganis masih memperhatikan cowok menyebalkan di hadapannya.
Aca datang dan bertanya, "Si Rangga ngapain?"
"Entahlah, selalu saja ada tingkah menyebalkan darinya." Ganis menggelengkan kepalanya merasa pusing.
"Jangan terlalu begitu, nanti suka berabe." cetus Aca meledek.
"Apaan? Aku suka sama dia? Gak mungkin lah. Hih, dia bukan tipe ku."
"Sejak kapan punya tipe? Bukannya elu gak pernah pacaran?" ledek Aca.
Ganis mengembang kempiskan hidungnya merasa sebal.
Pulang...
Beberapa menit setelah sampai di rumah..
TRING..
TRING..
TRING..
ponsel Ganis bergetar beberapa kali pertanda pesan masuk.
__ADS_1
[P]
[Save]
[Rangga]
"Hiss apaan sih ni orang? Udah pura-pura lupa naruh ponsel juga, masih berani ngirim pesan. Saraf!" umpat Ganis. "Astaghfirullah, maaf ya Allah, aku tidak bermaksud mengatainya. Tapi, dia memang seperti itu."
TRING..
"Apalagi nih orang? Ganggu aja."
Ganis membuka pesan masuk nya dengan penuh emosi. Ternyata pesan dari Ibu nya.
"Sudah suudzon kan aku hadeuuuh.."
[Jangan lupa makan ya sayang, hari ini Ibu pulang telat lagi. Uang udah Ibu siapkan dan taro di tempat biasa. Kamu beli saja lauk pauk di warung depan jalan, nasi nya gak usah Ibu sengaja masak tadi pagi.]
[Oke Bu.] balas Ganis.
[I Love You.]
Ganis menyermati kata-kata sederhana itu dengan teliti.
"Tumben banget, apaan sih nih Ibu? Bikin orang salting aja."
Ganis membaca, membiarkan sebentar lalu membalas nya.
[I Love You Too.] balas Ganis.
TRING..
TRING..
TRING..
Beberapa pesan masuk kembali, Ganis membuka nya.
[Maksudnya apa?]
[Wah diam-diam kamu suka aku ya Nis?]
[Besok bakalan aku umumin di sekolah.]
Ganis terperangah, ia menyekrol pesan nya ke atas.
"Hah, hah, hah.. Apa-apa an ini? Kok bisa? Mampus!"
Ternyata Ganis membalas pesan ke orang yang salah. Harunya ia memberikan balasan itu untuk Ibu nya tapi malah ke kirim ke nomor Rangga.
[Jangam repot-repot menghapus, semua bukti sudah aku simpan.]
[Itu gak seperti yang kamu pikirkan Rangga. Tolong hapus, dan jangan beritahu siapa pun tentang pesan tadi.]
[Oke, tapi dengan beberapa syarat.]
[Oke, apa? Jangan macam-macam.]
Di sekolah..
Beberapa hari sebelum pelulusan, dan perpisahan kelas 12 akan segera tiba.
Ganis tiba di sekolah, ia berjalan mengendap-ngendap memperhatikan sekeliling. Memastikan si kutu kupret gak ada di dekatnya.
Setelah di rasa aman, Ganis segera masuk ke dalam kelas dengan berjalan mundur.
TAP
TAP
TAP
BRUKH..
Ganis menyenggol meja dengan bokongnya.
"Aaaawww." pekik Ganis kesakitan. "Aisssh sialan!" umpat Ganis.
"Emm, ohok-ohok. Tunggu, apa baru saja kau mengumpat Rengganis?" ucap Rangga tak habis pikir.
Ganis terkejut, dia langsung menutup mulutnya dan membalikkan badan serentak.
"Se-sejak kapan kamu ada disitu?" tanya Ganis gelagapan.
"Aku sengaja kesini dari pagi, karna aku sudah yakin ini akan terjadi. Kamu akan menghindariku seharian karna kejadian tadk malam." terang Rangga.
"Kejadian apa nih?" sela Aca dari balik pintu.
Ketiganya saling bertatapan, Ganis panik dan segera menutup mulut Rangga dengan kedua tangannya. Ganis merasa ketakutan, takut Rangga ngomong yang tidak-tidak.
"Ahh haha tidak, dia hanya bercanda." Ganis menyerobot. "Iya kan Ngga?" Ganis mencubit pelan kulit perut Rangga.
"Aw aw.." ringis Rangga.
__ADS_1
"Emm, seperti nya ada yang tidak beres." Aca menerka-nerka. "Sejak kapan kalian akrab?" timpal Aca.
"Sejak malam." celetuk Rangga membuat Ganis semakin mendorong wajahnya dengan kedua tangannya.
Ganis merasa tak ada cara lain selain membungkam mulut Rangga dengan cepat. Badan Rangga terjungkal ke belakang karna tak sengaja di dorong dengan Ganis.
SEUNG..
BRAKKHH..
Meja yang Rangga duduki terjungkal bersama dirinya dan Ganis. Aca yang menyaksikan kedua si joli ini hanya bisa terperangah, karna keagresifan sahabatnya.
"Kalian pacaran kan?" tanya Aca mengerutkan dahinya.
"Ya. " jawab Rangga ngasal.
"Eh enggak Ca," Ganis memotong ucapan Rangga. "Kamu apa-apaan sih? Jangan ngasal deh." timpal Ganis dengan raut wajah yang kesal.
"Sudaaah, kalian lanjutkan. Gue mau ke ruang BP dulu, BYE."
Aca pergi meninggalkan keduanya yang masih tergeletak di atas lantai dengan posisi yang tidak bisa di utarakan.
Ganis bangkit, "Ca tunggu?"
Aca hendak bangun dan pergi meninggalkan Rangga, namun tangannya segera di raih Rangga dan di tarik sampai keninggnya mendarat tepat di mulut Rangga.
"Muucchh."
Rangga sengaja mengeluarkan suara asing dari mulutnya. Membuat Rengganis terperangah dan tak percaya. Pipi nya menjadi merah seperti terbakar, tingkahnya menjadi sulit di tebak.
"Aku pergi dulu." ucap Ganis pergi meninggalkan Rangga.
Setelah Ganis pergi, Rangga memukul-mukul mulutnya. Merasa bersalah dengan perilakunya barusan.
"Bodoh-bodoh, kenapa aku tidak bisa mengontrol perilaku? Astga, ini tidak bisa aku biarkan. Aku harus minta maaf padanya."
Rengganis berjalan setengah berlari, mencari-cari keberadaan sahabatnya, Aca.
BUKH..
Bahu Ganis di tepuk dari belakang. Ganis langsung menoleh, dan ternyata sahabatnya.
"Astagfirullah, kenapa doyan sekali membuat orang terkejut sih Ca?" ucap Ganis seraya memegang dada nya.
Bukannya menjawab pertanyaan Ganis, Aca malah memberikan pertanyaan yang membuat Ganis membisu begitu lama.
"Tunggu, kenapa pipi mu memerah seperti itu? Terus nafas mu juga seperti orang yang habis di kejar-kejar hantu." tanya Aca menginteogasi. "Apa kaliaaaaaan?" Aca kembali melayangkan pertanyaan di luar nurul eh nalar.
Ganis langsung membulat kan matanya, ia melihat Aca dan hendak mencubit perutnya.
"Apa? Hah? Apa maksudmu?"
Aca berlari, dan Ganis mengejar nya sampai Aca tak bisa berkutik.
Waktu pulang..
TET TET TET TEEEEEEEET..
"HORE," seru para sisw dan siswi serentak.
Semuanya berjalan keluar, begitupun dengan Ganis. Ganis berjalan perlahan dan menerka-nerka memastikan Rangga tidak ada di sana.
Ddrrrttttt...
Ponsel Ganis beegetar, dengan posisi yang masuh menerka, Ganis merogoh ponsel dari dalam saku rok nya lalu membaca pesan masuk.
[Jangan mencariku, aku pulang lebih dulu karna ada hal yang penting terjadi di kosan ku. Pulang dengan selamat ya Nis?]
"Apa-apaan sih nih orang? Emangnya aku anaknya apa? Nyuruh-nyuruh segala. Hisss!" ucap Ganis kesal sembari mengerucutkan bibirnya.
Ganis berjalan dengan santai, bukannya merasa bete, justru ada guratan senyum di sudut bibirnya. Ganis berjalan seperti anak yang sedang tak memiliki beban pikiran.
Seperti biasa hari ini pun Ibu nya Ganis tak menjemput. Ganis hanya mengirim pesan pada Ibu nya memberi tahukan kalau Aca akan menginap sore ini.
Ganis terus memikirkan hal yang baru saja mengganggunya, tanpa sadar langkah kaki nya justru menuju ke arah yang berlawanan.
TAP..
TAP..
TAP..
ganis berhenti.
"Tunggu! Kenapa aku ada disini?" Ganis melihat sekeliling.
"Otakku memang tak sengaja memikirkan hal konyol yang menggangguku tadi. Tapi kenapa dengan kaki ku? Kenapa dia malah membawa ku padanya? Ke tempat dia berada?" Ganis masih tak percaya dengan yang baru saja terjadi.
Langkah kaki nya ternyata berhenti di depan kost an Rangga.
"Astagfirullah kenapa ini? Ada apa dengan ku? Apa aku sudah gila?" cerca nya dalam hati.
Ganis segera mundur dan dengan cepat membalikkan badannya.
__ADS_1
"Rengganis?" panggil Rangga dari atas tangga.