
"Pecel lele 1, sate nya jangan banyak-banyak 10 tusuk aja. Terus minumnya es teh." ucap Ganis pada pemilik Resto.
Rangga menggeleng tak percaya dengan tingkah gadis dekil di hadapannya.
"Oh ia mas, nasi nya 2 porsi." timpal Ganis.
Rangga tersenyum malu, "Wah, diam-diam elu juga perhatian ya Nis?"
"Maksud kamu apa?"
Rangga masih menyembunyikan senyum malu nya.
"Aah aku ngerti. Tapi itu bukan buat kamu. Kamu pesen aja sendiri kalau mau."
"Hah? Jadi bukan buat gue?"
"Ya bukanlah! Ngapain juga aku mesenin buat kamu? Bapak mu kan konglomerat, jadi kamu pesen aja sendiri. Sekalian bayarin punya ku juga."
"Dasar gadis jadi-jadi an. Badan kecil tapi porsi makannya kaya tukang kuli."
Pesanan sudah datang dan mereka mulai menikmati makanan yang di pesan. Sesuai prediksi, Ganis makan dengan lahap sedangkan Rangga hanya melongo melihat Ganis meski sesekali memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Ganis sudah selesai, ia menenggak es teh manis miliknya sampai tersisa setengah.
"Yuk pulang, keburu malam." ajak Ganis.
Rangga menggeleng dan bertepuk tangan.
PROK PROK PROOK..
"Gue masukkin lomba makan tercepat pasti menang lu Nis."
"Jangan banyak bicara! Cepat habiskan makanan mu dan pulang."
"Gue udah selesai kok."
Ganis melihat ke piring Rangga yang masih penuh dengan nasi dan lauk pauknya.
"Kamu gak makan?" tanya Ganis sambil mengangkat sudut alis nya melihat Rangga.
"Gue makan kok, dan gue udah kenyang."
"Kenyang dari Hongkong? Mubazir tahu gak? Ya elah sayang banget," Ganis memegang perutnya yang kekenyangan namun menatap sedih pada makanan di hadapannya.
"Kok lo nangis sih Nis? Lagian itu cuma makanan doang, dan lagipula sudah gue bayar. Jadi gak usah khawatir."
"Mau saya bungkusin Neng?" ucap Mas nya setengah berteriak.
Ganis langsung mengangkat kepalanya dan menengok si Mas nya.
"Boleh Mas, maaf ya?!"
Rangga melihat dengan iba pada Rengganis. "Pasti hidup lu susah banget ya Nis, sampe segitunya lu lihat makanan sisa." batin Rangga.
Ganis berjalan membawa bungkusan yang di serahkan si Mas nya, dan menghampiri Rangga mengajak nya pergi.
"Yuk?"
Rangga mengangguk lalu membukakan pintu untuk Ganis.
"Dih, dih ngapain so romantis sih? Geli banget."
Rangga menyadari sesuatu. Ia langsung menutup kembali pintu mobilnya dan membiarkan Ganis membuka sendiri pintunya.
JUUSSSSS..
Mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki gang dan hampir sampai di rumah Ganis.
__ADS_1
"Turun di sini aja!" cetus Ganis.
"Sudah sampai ya? Mana rumah lo?"
"Enggak belum, rumahku masih tinggal beberapa meteran lagi."
"Terus kenapa turun disini?"
"Aku mau ketemu anak-anak ku dulu." ucap Ganis membuat Rangga tersentak kaget dan hampir tak sadarkan diri mendengar perkataan Ganis.
"Elu serius? Jadi? Lu bukan per..." Rangga memotong perkataannya.
Ganis menggeleng, dan ia pun berjalan sedikit menjauh dari mobil Rangga. Ia berjongkok saat melihat seekor induk kucing bersama 4 ekor anaknya.
Ganis membuka bungkusan plastik dan kertas nasi yang di bawanya sejak tadi. Tanpa di sadari ternyata Rangga masih memperhatikannya.
"Ooh jadi maksud lu kucing-kucing ini?!"
"Heem. Emang punya anak harus selalu gak virgin ya?"
"Emm, ya enggak juga sih. Kecuali anak itu lahir dari diri kita sendiri."
"Hah kita? Maksud kamu, kamu?"
"Dahlah gue balek. Udah malam cepat masuk nanti emak lu marah lagi."
Ganis tak menjawab, dan Rangga pun pulang dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Apaan ini? Gak mungkin gue suka sama si Rengganis. Cewek dekil gitu, terus makannya banyak lagi. Iyyuuhh, bukan level gue banget." Rangga bergelut dengan pikirannya sendiri.
Rengganis selesai memberi makan kucing, dan dia pulang dengan pikiran yang sembrawut. Pikiran dan perasaannya selalu di ambang kesedihan jika mengingat dan penasaran siapa sosok Bagaskara itu?
"Siapa dan bagaimana rupanya dia? Apa dia adalah benar Ayah biologis ku?"
Tanpa sadar air cukup deras berjatuhan dari langit, Ganis segera berlari dan masuk ke dalam rumah. Ia tak melihat mobil Ibu nya, itu tandanya Ibu nya belum pulang.
"Belum pulang ternyata." ucap Ganis sedih.
"Tidak mungkin dia mengakuimu, terlebih dia sudah memiliki keluarga yang utuh."
"Jika pun kamu hadir atau berusaha mencarinya, mungkin dengan mudah dia mendorongmu ke jurang. Tanpa ragu!"
"Tidak mungkin, apa aku anak yang tak di inginkan?"
"Bu, Bu? Apa aku anak har.." Ganis memotong ucapannya.
"Cukup sayang, tidak ada yang namanya anak haram."
"Lantas kenapa dia pergi meninggalkan kita?"
Riska tak menjawab dan berlalu meninggalkan Rengganis yang masih menangis sesenggukan.
"Bu? Ibu? Tunggu dulu. Ninis belum selesai bicara."
Ganis terbangun dari tidurnya dengan deraian air mata yang mengalir deras dari sudut matanya. Di barengi ketukan di pintu kamarnya.
Ganis mengusap air mata dengan telapak tangannya, lalu membuka pintu dengan sumringah.
"Ibu sudah pulang?" tanya Ganis sambil tersenyum.
Riska masih merasa bersalah dengan kejadian tadi siang. "Ibu minta maaf ya sayang, Ibu tidak bermaksud untuk membentak kamu."
Ganis tersenyum, "Gak papa Bu." namun kembali termenung.
"Kenapa baju kamu basah? Kamu baru pulang?"
"Iya Bu, tadi kehujanan pas jalan pulang."
__ADS_1
"Bukankah harusnya kamu sampai lebih awal Nis? Kenapa terlambat? Habis dari mana kamu?"
Riska mulai menaikan oktap suaranya. Ganis menjawab dengan enteng.
"Gak kemana-mana kok, hanya tadi mampir ke kostan nya Rangga sebentar."
"Apa kamu gila? Apa yang kamu lakukan di kost an laki-laki Nis?"
"Apaan sih Bu? Ninis gak ngapa-ngapain kok. Terus Ibu?"
"Kenapa kamu bertanya pada Ibu? Ibu pulang terlambat karna bekerja untuk menghidupi keluarga kita, untuk kamu."
"Kerja apa? Jam segini baru pulang. Mana wangi banget lagi. Emang ada ya kerja tanpa berkeringat? Bahkan seorang pelacur pun tanpa keringat gak bakalan dapat uang."
PLAKKK..
Tamparan keras melayang di pipi kiri Ganis. Ganis tersenyum pasi, "Heuh, apa ucapan ku baru saja menyinggung Ibu?" tanya nya sambil memegang pipi nya yang sakit.
Riska melihat tangannya merasa tak percaya dengan apa yang di lakukannya barusan.
"Kamu tidak perlu tahu apa pekerjaan Ibu!" ucap Riska sambil berjalan meninggalkan Ganis.
"Apa aku anak haram?" cetus Ganis membuat langkah Ibu nya berhenti.
Riska tak menjawab.
"Oke jika Ibu tak menjawab, Ninis simpulkan bahwa itu iya. Ninis harap Ibu berhenti dari pekerjaan merugikan itu, aku tidak ingin Ibu memberi makan hasil dari menjual tubuh Ibu."
Riska masuk ke dalam kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya dan mengambil sesuatu dari dalam laci lemari nya.
"Maaaaas, kenapa ini meski terjadi pada anak ku? Anak kita." ucap Riska sambil memegang poto yang sudah usang di tangannya.
"Aku selalu merasa sakit saat Rengganis menanyakan sosok mu. Bukan karna aku malu mengakuimu, namun karna aku bingung harus bagaimana menceritakan nya. Aku bingung harus mulai dari mana. Kamu begitu kejam padaku dan anak kita, tapi aku tidak bisa menceritakan semuanya dan membuat Ganis membencimu sebagai Ayah nya."
"Aku tidak bisa memberitahu Rengganis kalau Ayah nya seorang konglomerat, sedangkan ia harus hidup dalam kesengsaraan."
Dengan perasaan yang campur aduk, Riska masuk kembali ke dalam kamar Rengganis. Ternyata Ganis sedang tiduran dengan badan yang menyamping.
Riska melihat badan Ganis bergetar seperti sedang menahan tangisan dahsyat di dalamnya.
"Ibu tahu kamu belum tidur Nis. Tunggu lulus, dan kuliah. Kalau sudah selesai semuanya kamu boleh mencari Ayah mu di salah satu perusahan ternama di Jakarta."
Ganis berhenti menangis dan bangun dari tidurnya.
"Apa Ganis kuliah di Jakarta saja Bu?"
"Bukankah kamu sudah mengisi formulit mu untuk kuliah di Yogyakarta?"
"Iya, tapi Ninis mau ke Jakarta. Ninis janji bakalan kuliah yang bener Bu."
"Tapi kamu beneran kan bakalan kuliah yang bener? Ibu tidak mau kamu terfokus mencari Ayah mu sampai kamu melupakan kewajiban belajarmu."
"Tenang saja Bu, Ibu tidak perlu khawatir aku pasti akan belajar dengan benar."
Riska mengangguk mengiakan.
"Apa ini poto Ayah, Bu?"
Riska mengangguk.
"Dia terlihat sepintas tidak asing, tapi nyatanya dia pasti lebih tampan kan Bu?"
"Dia memang tampan, tapi hatinya sangat kejam." batin Riska.
"Bu? Kenapa Ibu diam?"
"Hah, oh kalau gitu Ibu ke kamar dulu ya, Ibuengantuk."
__ADS_1
"Iya Bu. Oh ia Bu Ganis harap setelah Ganis lulus, Ibu berhenti bekerja. Terlepas dari pekerjaan apapun itu. Biar Ganis yang bekerja, Ganis akan mencari pekerjaan yang bisa di lakukan setelah jam kuliah selesai."
Ibu tak menjawab dan pergi meninggalkan Ganis. Ganis punya prinsip diam berarti Ya.