Anak Yang Dulu Kau Asingkan

Anak Yang Dulu Kau Asingkan
Chapter 6


__ADS_3

Rengganis menahan langkah kaki nya saat ia mendengar namanya di panggil. Ia berdiri kaku, tak tahu apa yang meski ia jawab kalau Rangga menanyakan tentang keberadaannya saat ini. 


Rangga menuruni tangga dan segera menghampiri Rengganis.


"Apa yang membawamu kesini tuan putri?" tanya Rangga dengan rayuan gombalnya. 


Rengganis speecless dan seketika ingin muntah saat mendengar ucapan Rangga. 


"Huekk, huekk. Bisa gak sekali saja bertemu denganku jangan menyebalkan? Aku hampir mau muntah gara-gara perkataanmu tadi." 


"Hahaha.." Rangga tertawa puas. "Maaf-maaf, oke aku serius. Ngapain kesini? Kamu rindu aku ya?"


"Ohok-ohok," Ganis bingung, otak nya memikirkan cara supaya dia tidak salah bicara. "A-akuuuu, emm, a-aku di suruh Ibu ku beli buah karna Aca mau meningap." seru Ganis merasa lega. 


"Oooh, emang gak ada tukang buah ya di sebelah sana? Sampai kamu harus berjalan memutar?"


"Ahh itu, yang dekat sini langganan Ibu ku. Jadi aku di suruh beli nya di sekitaran sini."


"Ooh gitu. Mau aku antar?"


Ganis mengernyab. "Ahh tidak usah, aku bisa sendiri." ucapnya setengah ragu. 


"Oh oke kalau gitu. Tapiiiii, tadi aku lihat kamu mau masuk kesini. Mau ngapain?" tanya Rangga masih merasa heran. 


"Hah? Kapan? Salah lihat kali kamu. Oh ia aku buru-buru nih keburu sore." pungkas Ganis memotong pembicaraan. 


Ganis segera pergi, ia berjalan cepat setengah berlari. Bukannya berjalan ke tukang buah yang ia maksud, Ganis malah berputar balik. 


Rangga menggeleng, "Entah apa yang merasuki nya sampai bisa seplinplan itu."


••


Sampai di depan rumah, ternyata Aca sedang selonjoran di lantai sambil memainkan ponsel. 


"Eh kok sudah datang?" tanya Ganis. 


Aca menatap Ganis sedikit kesel. 


"Tuan putri kemana dulu sih? Kok lamaaa?"


"Apaan sih kamu Ca, panggil-panggil begitu? Kaya orang aneh tadi aja."


Aca melotot, "Siapa orang aneh yang kamu maksud? Apa dia laki-laki?"


"Ahh itu, bukan siapa-siapa. Ayok masuk?" Ganis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


"Tunggu, sebentar, apa baru saja aku melihat kau tersenyum?" tanya Aca sedikit mengintrogasi.


Ganis mengangkat wajahnya, dan menarik senyuman di wajahnya menjadi muram. "Siapa yang tersenyum?" tanya nya tak terima. 


"Jangan membodohiku Rengganis. Lihat pipi mu memerah sekarang. Cepat katakan siapa orang itu? Apa jangan-jangan kau habis ketemuan dengan dia?" cerca Aca dengan beberapa pertanyaan. 


Ganis tak berniat menjawab pertanyaan Aca dan memilih masuk ke dalam rumah untuk istirahat. 


"Nis? Lu suka sama dia?"


Ganis tak menggubris. 


"Jangan-jangan elu udah ciuman lagi sama dia."


Mata Ganis langsung menyorot Aca dengan tatapan ingin memukul. 


"Oke-oke sorry-sorry." Aca meminta maaf dan menutup mulutnya rapat-rapat. "Nyokap lu pulang jam berapa Nis?" tanya Aca mengalihkan pembicaraan. 


"Gak tahu, mungkin nanti malam."


"Nyokap elu kerja apa sih Nis? Kok pulangnya malam-malam. Terus elu juga kadang di jemput kadang enggak, kenapa?"


Ganis terdiam sesaat, "Ituuuu, aku gak tahu, dan juga tidak ingin mencari tahu."


"Kenapa gitu? Elu kan anaknya Nis."


"Aku hanya di suruh untuk belajar dengan baik dan benar, setelah itu bersenang-senang, pekerjaan Ibu ku itu urusannya."


Merasa situasinya mulai mencekam, Aca menghentikan obrolan mengintimidasi ini dan segera meraih tangan Ganis. 


"Makan yuk, gue laper."


"Emm." Ganis menyetujui.


Jam 20.09 Riska pulang dari kerja nya. Seperti biasa Ibu satu anak ini selalu mengganti baju nya sebelum ia pulang. Beda lagi dengan baju yang ia kenakan untuk bekerja. 

__ADS_1


Ia pulang dengan selamat. Namun di jalan ia sempatkan untuk membeli beberapa buah untuk mereka makan,  Rengganis, Aca dan Riska. 


Riska membeli beberapa buah seperti,  anggur, jeruk, pir dan apel. Tak sengaja bertemu dengan Rangga yang kebetulan juga ingin membeli buah. 


Mata Riska melirik sedikit pada tangan putih yang meraih buah jeruk. Karna merasa dia tak begitu pandai memilih jeruk yang manis, Riska mengambil dan memilihkannya buah untuknya. 


"Ini," Riska menyodorkan kantong berisi buah jeruk itu, lalu melihat wajah Rangga dengan seksama. 


Rangga tersenyum, "Maaf Bu, aku sudah memilih jeruk untuk ku beli."


"Ambil yang ini saja, kamu tidak akan menyesal."


Dengan berat hati, Rangga mengambil buah yang di pilihkan Riska. 


Rangga terlebih dulu pergi meninggalkan Riska. "Mari Bu saya duluan," ucap Rangga sambil tersenyum.


DEG.. 


Jantung Riska seketika bergetar hebat. "Anak itu? Kenapa dia begitu mirip dengan seseorang?" batin Riska. 


Rangga kini sudah tak terlihat lagi, Riska kembali fokus memilih buah dan kemudian pulang dengan mobilnya. "Mungkin aku salah lihat." ucap nya mengelus dada dan kembali mengatur nafas nya.


"Rumah Rengganis dimana sih?" Rangga melingak linguk. 


Rangga berjalan lebih jauh menjauhi mobilnya untuk bertanya pada seseorang yang sedang duduk di dipan rumah nya. 


"Pak? Maaf boleh saya bertanya?"


"Iya Nak, ada apa?"


"Kalau rumah nya Rengganis dimana ya?"


"Rengganis? Eemm, maksudna Ninis ya?"


"Ah i-ia Pak," Rangga kebingungan. 


"Itu Nak, yang depan rumah nya ada tanaman merambat."


"Ooh yang yang ada pagar nya ya Pak?"


"Iya Nak,"


Rangga berjalan dan mengucapkan salam beberapa kali. 


"Assalamualaikum?"


Tak mendapat jawaban, Rangga mencoba satu kali lagi. 


"Assalamualaikum?"


Terdengar ke dalam, Ganis yang sedang berada di kamar mandi tak mendengar, sedangkan Aca ia segera beranjak dari kamar Ganis untuk membukakan pintu. 


"Waalaikumsalam." Aca membuka pintu, "Eh Rangga, ngapain?"


"Eh Aca, Rengganis kemana? Kok bukan dia yang bukain pintu."


"Ganis lagi di kamar mandi, elu belum jawab pertanyaan gue."


"Hehe, main aja. Kebetulan kan ada elu juga, jadi sekalian main bareng ehehe.."


"Diiih sok akrab lu, bilang aja mau ngapel sama Ganis."


"Hahaha, bisa aja lu Ca."


Ganis keluar dari kamar mandi dan tak melihat keberadaan Aca di kamar, 


"Ca? Ca? Kamu dimana? Kamu pulang?" teriak Ganis saat melihat pintu keluar terbuka lebar. 


Dengan rambut yang masih basah di balut kain handuk, Ganis keluar dan kaget saat melihat manusia aneh berada di rumahnya. 


"Ngapain?" Ganis terkejut. 


"Mau ngapel!" ucap Aca ngasal sambil berjalan masuk meninggalkan keduanya. 


"Eh, eh mau kemana?" Ganis kebingungan. 


"Mau mandi dulu, gerah."


"Ooh, oke."


"Seger banget Nis," sergah Rangga pada Ganis yang masih membeku tak berani membuka pertanyaan.

__ADS_1


"Hemh? Apanya?" Ganis langsung mengangkat kepalanya. 


"Muka kamu kelihatan seger banget."


"Ooh, kan baru selesai mandi."


"Eem, kamu tinggal sendiri?" tanya Rangga celingak celinguk mencari seseorang. 


"Enggak, aku tinggal sama Ibu ku. Dia belum pulang kerja."


"Ooh, Ayah mu? Kemana?" timpal Rangga membuat Ganis tak bersuara. 


TID


TID


TID.. 


suara klakson mobil berbunyi, Rangga melihat ke arah samping. Ia baru menyadari kalau mobilnya berada di sana dan menghalangi mobil lain untuk masuk. 


Rangga berlari dan segera masuk ke dalam mobilnya untuk memindahkan ke tempat yang lebih luas. 


"Maaf-maaf. " Rangga membungkuk meminta maaf pada sosok seseorang di dalam mobil yang tidak terlihat dari luar. 


Pada saat yang bersamaan, sesaat setelah Rangga memarkirkan mobilnya ia turun begitupun dengan pemilik mobil yang tadi sempat ia halangi jalannya. 


Rangga kembali ke rumah Ganis dengan agak sungkan karna mobil barusan masuk ke dalam garasi di rumah Ganis. 


"Jangan-jangan emak nya lagi?" batin Rangga. 


Ganis dengan tangan yang di silangkan di depan dadanya, menunggu Ibu nya keluar dari dalam mobil. 


"Tumben banget gak larut?" tanya Ganis dengan tatapan sinis. 


"Iya Ibu sengaja pulang lebih awal, karna kan ada Aca nginep. Ibu takut Aca kelaperan."


"Anak nya yang kelaperan mah gak papa ya?" Ganis mendelikkan mata nya sebel. 


Aca menyerobot dari belakang, salim dan memeluk Riska. "Tante perhatian banget, makasih ya Tan?"


"Iya sama-sama. Ayo masuk," ajak Riska. 


"Eh tunggu Bu,"


"Kenapa?"


"Ini, ada teman kami main ke rumah." 


"Mana?"


"Tuh," Ganis menunjuk nya dengan bibir. 


"Eh kok? Kamu? Yang tadi itu kan?"


Rangga sedikit terkejut, "Eh ia, jadi tante Ibu nya Rengganis?"


"Ia, ayok masuk sekalian sayang." ajak Riska, "Tunggu, itu di tangan kamu?"


"Hehe, ia tante ini jeruk yang tadi tante pilihkan. Saya lupa tadi, ini sengaja buat Rengganis sama Aca."


"Oh yasudah ayo masuk."


Mereka masuk dan sibuk dengan berbagai obrolan mengenai kemana mereka akan melanjutkan. Dan ternyata pertanyaan di akhir obrolan Riska malah bertanya yang membuat Rengganis sedikit canggung. 


"Jadi hubungan kalian apa?" sembari melihat Rangga dan Rengganis. 


Rangga dan Rengganis jadi salah tingkah, Aca malah terkekeh saat melihat keduanya saling beradu pandangan dan tak kunjung memberi jawaban. 


"Oke, mungkin kalian sebenarnya pacarankan? Karna tak ada yang menjawab."


"Tu-tunggu Bu, enggak kok kami gak ada hubungan apa-apa."


Riska melihat Rangga, menunggu jawaban keluar dari mulut Rangga. 


"Benar tante kami tidak ada hubungan apa-apa." terang Rangga. 


Serentak Rengganis, Aca dan Riska bernafas lega. 


"Belum!" timpal Rangga sontak membuat semuanya terperangah. 


"RANGGAAAAAAAAAAAA." teriak ketiganya serentak.

__ADS_1


__ADS_2