
TEET TEET TEEEEET..
Bel masuk berbunyi. Ganis segera berlari menuju kelas nya dan segera duduk di bangku nya. Tatapan aneh muncul dari teman-temannya. Hendak bertanya namun seorang Guru masuk dan keheningan di kelas tercifta.
"Selamat pagi anak-anak?"
"Pagiiiiiiiii." ucap murid serentak.
Ujian di mulai. Ganis mengambil pensil, pulpen dan penghapus dari dalam tas nya. Saat ujian berlangsung sekitar setengah jam an mata Ganis tak sengaja melihat seonggah manusia yang berjalan dengan santai di balik jendela.
"Manusia itu? Astagfirullah." Ganis menggelengkan kepalanya.
"Rengganis?" panggil Pak Guru membuat Ganis segera menyahut.
"Ia Pak? Kenapa?"
"Kamu sudah selesai?"
"Sudah Pak."
Semua mata terperangah, apalagi Aca yang baru mengerjakan 75% dari semua soal.
"Gila nih anak, otak nya terbuat dari apa sih? Cepet banget ngerjainnya." batin Aca.
"Yasudah kalau sudah selesai, taro lembar jawaban mu disini dan kamu boleh istirahat sampai ujian jam kedua di mulai."
"Baik Pak."
Ganis keluar dan segera menujuke kantin untuk membeli beberapa potong gorengan karna sudah sangat kelaparan. Ia tak sempat sarapan meski Ibu nya sudah memasakannya beberapa menu. Ganis terlambat karna harus menyetrika kering baju nya yang terkena hujan semalam.
Dikelas lain...
TOK TOK TOK..
Suara ketukan pintu memecah keheningan.
CEKLEK..
Pintu di buka, dan ternyata yang datang Rangga. Semua mata menatap pada sosoknya.
"Kenapa kamu terlambat?" tanya pak Guru.
Dengan santainya Rangga menjawab. "Tidak ada kata terlambat untuk belajar Pak," ucapnya sambil tersenyum malu dan takut.
"Anak zaman sekarang sangat pandai menjawab, danjawabannya selalumembuat otak berfikir ulang. Kamu boleh ikut ujian, tapi dengan satu syarat."
"Apa Pak?"
"Kamu pungutin sampah yang berserakan di luar dan buang semua sampah yang ada di tempat sampah kelas."
"T-tapi Pak,"
"Nanti kamu nyusul ke kantor, soalnya yang lain udah pada mau selesai."
"Oke Pak."
Rangga berjalan ke kursinya yang terletak di pojok belakang. Ia menyimpan tas nya dan segera berlari mengambil tong sampah yang ada di samping pintu.
Rangga berlarian mengambil sampah yang ada dihalaman. Meski tak seberapa tapi membuatnya kewalahan karna harus berjongkok menahan rasa sakit karna celannya yang super ketat.
Ganis yang sedang menikmati gorengan tak sengaja melihat Rangga yang sedang berlarian ke kelas-kelas lain mengambil sampah yang ada di tempat sampah.
"Apakah besok dia akan mengulangi kesalahan yang sama?" lirih Ganis menyunggingkan sudut bibir nya.
Ganis membawa tempat sampah yang ada di kantin danmembuangnya ke tempat sampah besar khusus pembakaran. Rangga melirik dan tak percaya apa yang dia lihat.
"Apa gue gak salah lihat?" Rangga menyeringai.
Ganis melihat Rangga keliru. "Maksudnya?" ucap Ganis sambil membuang sampah.
"Lo kan murid teladan, gue kira gak bakalan telat masuk sekolah." ledek Rangga.
"Hemh." Ganis mendengus dan menggelengkan kepalanya. "Setelah di hukum seperti ini apa kamu akan mengulanginya?"
"Kenapa nanya gue? Harusnya lo bisa nyimpulin sendiri, wong lo juga telat."
__ADS_1
"Kalau aku jadi kamu, kayanya gak bakalan ngulangin lagi deh." Ganis melihat Rangga dengan seksama, berharap dia tak lagi melakukannya.
"Sebentar, mata lo? Kenapa? Lo dimarahin Ibu lo?"
Ganis yang tak suka di tatap lama-lama kini wajahnya memerah. Meski tak terlihat di pipinya yang berwarna sedikit gelap, namun gelagatnya tak bisa di bohongi.
"Enggak kok!" Ganis berjalan menjauhi Rangga.
"Eh eh mau kemana? Kerjaan lo belum selesai." teriak Rangga.
Ganis hampir lupa, ia melemparkan sebotol air mineral kecil pada Rangga dan dengan sigap Rangga menangkapnya.
"Hah, hoh, ngapain dia? Apa baru saja dia mempedulikan gue? Tidak bisa dipercaya." Rangga tersipu malu.
Ganis berlari menuju toilet wanita dan melihat dirinya di depan cermin.
"Astagfirullah kenapa aku tak menyadarinya? Mataku seperti panda! Hitam dan sembab."
Ganis mengompres matanya dengan tisu yang di basahi dengan air.
TEEEEET..
Jam kedua di mulai, Ganis segera berlari dan masuk ke dalam kelas. Rangga diam-diam memperhatikan Ganis, karna masih merasa penasaran dengan mata sembab Rengganis.
Melihat Ganis tak menyadari keberadaannya, Rangga masuk dengan perasaan kesal.
"Nis? Nis?" panggil Aca.
"Hem." sahut Ganis.
"Mata lu kenapa sembab begitu? Lu abis nangis? "
Ganis menatap Aca seksama. "Emang masih kelihatan ya? Apa sesembab itu?"
"Lah ia, emang lu gak nyadar?"
Ganis menyunggingkan bibir nya. "Dahlah, lagian gak penting juga. Mending mikir nih cara ngerjain ujian kedua sekarang."
Aca mendelikkan matanya karna merasa tak puas sebab belum mendapat jawaban yang jelas.
•
"Rengganis!"
"Si cewek deckil."
"Preman pasar!"
"Lucu."
"Manis."
Rangga menuliskan beberapa sakte di buku nya. Menuliskan tentang gadis dekil di kelas sebelah, tanpa sadar ia terus mengamati tulisannya. Sampai pada saat Guru mendekati meja nya, Rangga langsung tersadar dan segera merobek kertas dari halaman buku nya. Lalu menggulung kertas dan membuangnya ke bawah meja.
"Rangga?" panggil Guru menghentikan pergerakan Rangga.
Rangga menelan salivanya, "I-iya Bu?" sahut Rangga terbata.
"Kalau jatuh cinta bilang saja langsung! Jangan membuat konsentrasi ujianmu berkurang." bisik Bu Nina setengah mengejek.
Rangga melihat Bu Nina malu namun berusaha tersenyum menahan rasa malu nya. Mukanya memerah dan bara api seperti membakar tubuhnya.
"Aiiiss, apa-apaan sih nih tangan pake nulis begituan segala? Hisss."
Rangga mengepalkan tangannya erat lalu memukul kepalanya pelan.
Ujian dimulai dan berlangsung dengan hidmat.
Hari ini hanya sampai 2 pelajaran saja. Setelah ujian hari ini selesai, semua murid berhamburan keluar untuk pulang. Sedangkan Rangga langsung menuju ruang guru untuk mengerjakan ujian yang tadi belum sempat ia kerjakan.
Ganis yang melihat Rangga terburu-buru, namun sempat meliriknya saat berjalan setengah berlari tadi.
"Apa yang dia lihat? Kenapa melihatku seperti itu?" Ganis mengerutkan dahinya lalu mendengus heran.
"Nis? Si Rangga kayanya suka sama lu." ucap Aca sambil menyenggol sikut Ganis.
__ADS_1
"Apaan sih? Ngiseng banget." Ganis tak peduli.
"Gue serius Nis, dari tatapannya aja udah kelihatan."
"Emang nya dia pernah natap aku? Sotau banget kamu Ca," Ganis mengelak.
"Itu? Barusan apa?"
"GAK TAHU! dan GAK PEDULI."
Ganis pergi meninggalkan Aca yang masih mengoceh, namun segera menyusul Ganis yang berjalan cepat seperti di kejar hantu.
Meski berbicara demikian, Ganis tetap sesekali melihat ke jendela ruang guru. Memperhatikan tanpa menyadari.
"Ngelihat apa lu?" ucap Aca meledek. "Diam-diam lu suka juga kan sama si Rangga?"
"Apaan sih? Ngarang banget. Aku hanya kasihan aja! Dia gak sepintar kelihatannya, tapi harus ngerjain ujian sendiri."
"Acie elaaaah.. Itu mah khawatir bukan kasian." Aca menegaskan suaranya dan berlari menghindari amukan Ganis.
Ganis melihat Aca yang berlari tunggang langgang, lalu berlari mengejarnya.
"Acaaaa? Tunggu. Awas kamu yaaa!"
Rangga menyadari kebisingan yang terjadi, dan diam-diam tersenyum dan tersipu malu.
"Kerjakan yang benar, jangan cengengesan." ucap Pak Hamdi langsung membuat suasana muram di wajah Rangga.
"Kenapa mereka tidak bisa membiarkan gue happy sebentar saja si?" ucap Rangga sambil menggaruk kepala nya berfikir.
Rangga kembali fokus mengerjakan soal-soal ujian di hadapannya. Bu Nina datang menggoda Rangga.
"Cepat selesaikan, biar bisa antar doi pulang." cetus Bu Nina membuat wajah Rangga memerah.
Rangga hanya tersenyum tipis dan segera menyelesaikan tugas nya.
Ganis menunggu di parkiran, tak biasanya Ibu Ganis telat menjemput. Aca duluan pergi karna Ayah nya sudah menjemput.
Ddrrttttt...
Ponsel Ganis bergetar. Ada panggilan masuk di ponselnya.
Ganis merogoh ponsel dari saku rok span nya.
[Ibu..]
[Ibu dimana?]
[Hari ini Ibu tidak bisa jemput kamu Nis, Ibulagi banyak banget pekerjaan. Kamu naik taxi atau angkot aja ya Sayang?!]
[Hem..]
Ganis menutup telpon dan berjalan keluar dari lingkungan sekolah. Celingak-celinguk mencari taxi dan angkot yang kosong. Namun, tak ada satupun yang tersisa.
Ganis berjalan mendekati tempat para preman. Mencari jalan alternatif yang lebih dekat menuju rumahnya.
Rangga yang ternyata sudah selesai mengerjakan ujian, tak sengaja melihat Rengganis berjalan sendirian menuju gang. Rangga tak membawa mobil, namun ia berinisiatif meminjam sepeda milik satpam di sekolah.
Dengan sigap Rangga mengayuh sepeda dan mendekati Ganis yang sedang di goda dengan para preman tengil.
"Mau kemana neng? Mau abang antar pulang? " tanya salah satu preman.
Ganis tak menjawab, dan memilih untuk terus melangkah.
"Rok nya kurang atas sedikit neng."
Ganis sempat merasa mutka namun memilih untuk diam.
Salah satu preman merasa kesal karna tak di hiraukan.
"Heh anak sekolah tapi gak sopan!" sentak nya.
Ganis menatap dengan tatapan ingin memangsa abang-abang di belakangnya. Ganis berjalan mendekati preman itu, namun Rangga dengan merasa seperti pahlawan kesiangan.
"HEH BRENGSEK, JANGAN BERANI-BERANI MENGGODA WANITAKU!"
__ADS_1