Anak Yang Dulu Kau Asingkan

Anak Yang Dulu Kau Asingkan
Chapter 4


__ADS_3

PLAKKK.. 


Wajah Rangga di tampar oleh preman di hadapannya. Ia meringis kesakitan,  dan sudut bibir nya berdarah. 


Gans yang menyaksikannya tidak bisa diam begitu saja. 


"Aisshh," Ganis mendengus saat merasa kesal pada Rangga dan preman di hadapannya. 


Dengan cekatan Ganis menangkap tangan si preman saat hendak melayangkan pukulan pada Rangga kembali. 


Ganis memelintir tangan si preman dengan cukup kuat. Rangga yang menyaksikan langsung di hadapannya hanya bisa berdiam tak menyangka. 


Para preman langsung hengkang dari tempat itu, saat menyaksikan temannya babak belur dihadapannya langsung. 


PROK PROK PROKK.. 


rangga bertepuk tangan untuk Ganis,  namun sesekali meringis kesakitan dan memegang wajahnya yang lebam. 


"Gilaaaaa, gue akuin lu hebat Rengganis. Ternyata selain pintar, lu juga jago berkelahi. Good job Rengganis."


"Gak usah basa-basi deh. Ngapain kamu ngikutin aku sampai kesini?" tanya Ganis mengintrogasi.


Mata Ganis tak berkedip sedikitpun. Belum Rangga menjelaskan maksudnya,  ia malah menanyakan kembali pertanyaan yang membuat Rangga kikuk. 


"Terus maksud kamu apa?"


"Apa?"


"Ucapanmu tadi." ucap Ganis gelagapan. "Maksud kamu tadi apa? Wanitamu?"


Rangga menarik mulutnya kedalam rapat-rapat. Ingin sekali rasanya dia memukul mulutnya berkali-kali namun malu pada Rengganis. 


"Ahh itu? Itu gak sengaja."


"Apaan sih? Gak sengaja gimana? Orang perkataan itu keluar langsung dari mulutmu sendiri."


"Ia maksud aku, itukeluar sendiri dari mulutku."


"Khik, apa? Gimana-gimana? Apa barusan saja aku mendengar kamu bilang AKU? apa aku tidak salah mendengar?"


"Terserah kamu, yang jelas itu keluar langsung tanpa aba-aba."


"Jangan berbicara santai padaku. Kamu tidak cocok dengan karakter seperti itu." ucap Ganis meledek. 


"Terserah gue, kenapa lu ngatur-ngatur?"


"Hahaha.. Nah itu lebih cocok dengan kamu."


"Mau pulang sekarang?" tanya Rangga memotong perdebatan.


"Yaiyalah, mau kemana lagi."


"Aku antar!"


Ganis mengankat satu sisi sudut alis nya, dan melihat pada sepedah yang tergeletak di bawah. 


"Naik itu?" tanya Ganis sembari mengerucutkan bibirnya. 


"Iya. Kenapa gak mau?"


"Ya, aneh aja. Anak konglomerat kaya kamu masa mau panas-panasan,  dan cape-cape an ngayuh sepedah buat nganterin aku."


"Gak ada yang aneh. Yang konglomerat Bokap,  eh Bapak Ibu ku. Aku bukan apa-apa. Jadi gak usah pandang aku beda."


"Emm,  oke."


Rangga tersenyum dan mengambil sepeda lalu naik dan menyuruh Rengganis untuk berdiri di belakang di antara besi yang ada di bagian ban belakang. 


Ganis menaruh kaki kiri,  lalu tangannya berpegangan pada pundak Rangga. Meski sedikit ragu, Rengganis mulai menaikan kaki kanan nya ke atas sepedah. Sempat goyah,  namun dengan sigap Rangga memegang tangan Ganis yang ada di atas pundaknya. 


"Eh, eh maaf."


"Gak papa, pegangan yang erat biar gak oleng lagi."


Rangga mulai mengayuh sepeda nya dan berjalan menyusuri jalan gang-gang untuk menempuh jarak yang lebih dekat. 


"Habis dari sini kemana?" tanya Rangga pelan. 


"Hah?" 


"Naneno naneno."


"Hah?"

__ADS_1


Masih belum terdengar karna banyak kendaraan lain juga, dan Rangga iseng memberi pertanyaan yang bahkan makhluk astral pun tidak mengerti. 


Rangga cengengesan karna merasa senang telah mengerjai Ganis. Rangga berhenti di warung dekat belokan menuju jalan raya untuk membeli sebotol minum. 


"Eh, kenapa berhenti? Ini masih agak jauh."


"Aku cape, haus dan hampir kehilangan tenagaku. Kamu terlalu gendut jadi aku kewalahan."


"Apa kamu bilang? Gendut?" Ganis sedikit murka. 


"Iya, kamu gendut Nis."


"Jangan berbicara santai!" sentak Ganis. 


"Tapi kamu lucu, aku suka." ucap Rangga sembari menyubit manja pipi Rengganis. 


Muka Ganis memerah seperti memakai blush on. Badannya memanas seperti sedang berada di dekat api yang membara. 


"Dahlah, cepat. Biar aku yang memboncengmu. Jangan membuat alasan palsu untuk menutupi kesalahanmu yang lain." Ganis meredakan emosi nya yang membara. 


"Apa kamu marah?"


"Jangan bertanya, cepat naik atau aku tinggal."


"Oke-oke."


Rengganis melajukan sepeda nya dengan cepat, lagi-lagi Rangga di buat kagum pada Ganis. Dia heran kenapa gadis dekil ini serba bisa? 


"Nis?"


"Rengganis?"


Ganis tak menjawab meski sebenarnya ia mendengar panggilan dari Rangga. Ganis masih terlalu marah sekaligus salting karna sikap Rangga tadi. 


"Kamu marah Nis?" tanya Rangga setengah berteriak. 


"JANGAN BERBICARA SANTAI PADAKU. AKU SUDAH BILANGKAN?" sentak Ganis kesal. 


"Apa salah nya?" 


Ganis menghentikan sepeda nya dengan segera. 


CEKIIIIIIIITT.. 


BRUKKHHH.. 


"So-sorry."


"Tolong jangan berbicara santai padaku, kita tidak sedekat itu."


"Memangnya harus sedekat apa supaya aku bisa berbicara santai padamu Nis?" Rangga menatap mata Ganis dalam-dalam. 


"Jangan berharap lebih, atau rumah mu benar-benar akan aku bakar."


"Hahaha,, kamu masih ingat perkataanmu waktu itu? Astaga Nis kamu sangat pendendam sekali."


"Kamu akan kecewa!" ucap Ganis datar tanpa ekspresi.


Beberapa minggu kemudian.. 


Ujian telah selesai, Ganis beserta rekan nya yang lain sedang mencari fakultas yang cocok untuk masing-masing. Sembari menunggu pelulusan tiba, Aca berencana menginap di rumah Ganis karna orangtua nya pergi ke luar kota. 


"Nis? Siang ini orangtua gue mau ada pekerjaan ke luar kota. Bokap gue sih tepatnya,  nyokap harus ikut karna sekalian ngurus-ngurus pendaftaran gue di universitas yang gue mau."


"O ya boleh. Ngomong-ngomong emang kqmu mau ngelanjutin kuliah dimana Ca?" Ganis penasaran. 


"Emm tadinya mau di Jakarta,  tapi berhubung banyak sodara di pekan baru jadi gue memutuskan untuk kuliah disana. Bukan karna itu aja sih,  setelah gue cari tahu tentang beberapa fakultas nya,  ternyata ada yang cocok sama gue."


"Emm oke."


"Elu gak sedih Nis?"


"Sedih? Kenapa harus sedih?"


"Ya setidak nya lu pura-pura sedih lah! Gue sahabat elu mau pergi ke tempat jauh dari elu Rengganis, Rengginang. Nyebelin banget sih!" Aca menyunggingkan sudut bibirnya merasa sebal. 


"Ahaha.. Kirain apa."


"Ya! Rengganis!"


"Iya-iya maaf.. Bukannya gak sedih,  tapi lebih ke seneng aja Ca. Itu kan yang kamu mau, jadi aku gak boleh sedih. Aku ngedukung banget keputusan kamu,  meski aku harus di tinggalkan sahabat baik ku iniiiii." Ganis mencubit pipi Aca,  merayu agar tak marah dan kesal lagi pada nya. 


"Diiiiih naj*s. Sejak kapan lu pandai merayu?  Terus barusan? Apaan cubit-cubit pipi gue?" tanya Aca heran. 

__ADS_1


Ganis menarik senyum tipis nya menjadi datar. Ia teringat akan seseorang yang tempo lalu mencubit pipi nya dengan manja. 


"Aduuuh, apa jangan-jangan aku kerasukan manusia menyebalkan itu? Hiiih." Ganis merinding dan berbicara dalam hati. 


"Iss gila nih orang lama-lama. Udah mah gue nanya gak di jawab, terus sekarang malah ngelamun. Parah!" cerca Aca. 


Aca meninggalkan Ganis yang masih duduk memikirkan seonggak manusia purba yang memang termasuk manusia tampan di sekolahnya. 


"Kenapa sekarang setiap hal yang aku lakukan selalu ada saja dia? Bahkan hal yang tidak mungkin aku lakukan. Dan?.."


Tiba-tiba Ganis memegang dada nya, "Kenapa jantungku berdebar sedikit kencang?" tanya nya pada diri sendiri sambil memegang dada nya. 


"Ca?" panggil Ganis yang masih tidak menyadari kalau Aca sudah pergi sejak lama. 


"Astagfirullah. Ngapain kamu disini?" tanya Ganis pada sosok yang baru saja menerobos masuk pada otak nya. 


Ganis memegang kembali dada nya yang berdebar semakin kencang. 


"Ada apa dengan dada mu? Apa kau sakit Rengganis?" tanya Rangga khawatir. 


"Kau! Kau penyebab aku sakit. Gara-gara kau datang seperti hantu,  muncul tiba-tiba."


"Aku tidak tiba-tiba. Hanya kamu yang tidak menyadarinya, sekitar beberapa menit yang lalu,  setelah Aca pergi."


"Hah, Aca kemana? Kenapa dia tidak bilang-bilang kalau mau pergi. Iss anak ini!" Ganis beranjak meninggalkan Rangga. 


"Tunggu!" panggil Rangga. 


Ganis menengok, "Ada apa?"


Rangga mendekat. 


"Apa kamu akan melanjutkan sekolah?"


Ganis merespon dengan lembut. "Hemm,  iya." lalu melanjutkan kembali langkahnya. 


"Astga kenapa anak ini begitu lembut sekarang? Apa dia sudah jatuh cinta padaku?"  gumam nya dalam hati. 


Rangga berjalan sambil tersenyum. 


"Lama-lama tuh tihang bendera bisa cair kalau lu senyum terus-terusan Ga!" cetus Ganta. 


Rangga menoleh, "Apaan sih lu ganggu aja."


Ganta mendekati Rangga. 


"Ngomong-ngomong gimana kalau kita taruhan?"


Rangga berhenti dan membalikkan badannya menghadap Ganta. 


"Taruhan apa? Gue gak butuh uang."


"Oke, gue akuin elu gak butuh uang. Tapi ini beda,"


"Apaan dulu?"


"Elu yakin gak bisa dapetin Ganis?"


"Emang kenapa?"


"Kalau elu bisa dapetin Ganis dalam waktu seminggu sebelum perpisahan, gue bakalan nurutin semua kemauan elu."


"Waah serius lu? Gue yakin sih bisa dapetin dia."


"Tapi,"


"Tapi ape nih?"


"Kalau elu gagal, elu juga harus nurutiin apa yang gue mau."


"Oke! Siap-siap aja lu jadi babu gue Gan."


"Jangan pede dulu lu Ga, gue sih yakin Rengganis gak mungkin semudah itu di taklukan." ucap Ganta penuh percaya diri. 


"Jika dia gak bisa gue dapetin dengan cara rayuan, masih banyak cara lain untuk bisa mendapatkannya."


•••


Rengganis berjalan sembari melirik kanan dan kiri mencari keberadaan sahabatnya. Terlihat Aca sedang berada di perpustakaan. Ganis masuk dan menghampiri Aca yang sedang membaca buku novel yang tidak asing yaitu PETRUK. 


"Ca?" panggil Ganis hampir tak terdengar. 


Aca mengangkat satu alis nya pertanda menyahut seruan Ganis. 

__ADS_1


"Tadi kenapa pergi gak bilang-bilang? Aku hampir kehilangan jantungku tadi."


Aca melihat Ganis dengan tatapan menerka. "GAK PEDULI! GUE GAK PEDULI. MAU LONCAT ATAU MAU GAK ADA SEKALIPUN." aca menegaskan suaranya.


__ADS_2