Anakku (Mu)

Anakku (Mu)
1. Kandungan


__ADS_3

Pernikahan yang berawal dengan kesalahan akan berakhir kembali dengan kesalahan. Damian Pamungkas Marley anak sulung dari Bagas Marley dan Marliana Marley. Menikahi perempuan sederhana seperti Yuki March Agustin, putri bungsu Bambang Priyanto dan Noni Aprilia.


Kini pernikahan mereka sudah berjalan dua tahun semenjak Yuki, mengantikan sahabatnya Nira Yunanda untuk menikahi Damian. Ia yang dulunya sebagai tamu undangan berujung di atas pelaminan. Sahabatnya yang tak tau entah dimana saat itu, menghilang bagai ditelan bumi. Selama lebih satu tahun ini, ia hidup dengan rasa sakit, sakit hati, batin dan jiwa raga. Menikahi orang yang mencintai orang lain, bagaikan siang dan malam, sulit untuk bersatu dan bertemu. Seakan saat pagi tiba malam sudah menghilang, begitu yang ia rasakan. Saat ingin menggapai hati Damian, hati itu sudah milik orang lain, semakin ia mencoba rasanya semakin tak mungkin.


Kenyataan pahit kembali Yuki rasakan, saat ia tak sengaja melihat Damian dan Nira yang baru saja keluar dari rumah sakit ibu dan anak. Perut Nira yang sudah membuncit, membuat hati Yuki terasa dicubit dan diremas. Bukan hanya hatinya saja yang sakit tapi jiwanya pula. Hati siapa yang tak sakit melihat sang suami bersama perempuan lain. Apalagi perempuan itu tengah mengandung, yang dapat ia yakini, itu anak mereka.


Badannya perlahan luruh ketanah, rasanya ia sudah tak mampu sekedar untuk berdiri, mulutnya terasa kelu. Dunia seakan runtuh menimpa dirinya, tak ada kata yang mampu, ia utarakan untuk keadaannya sekarang. Jangan tanya air matanya sudah mengalir bagai sungai. Ia sudah berusaha membendungnya namun saat ia mengedipkan matanya, air matanya ikut luruh.


Tak lama muncul beberapa orang yang menghampirinya, terkhusus pak sekuriti yang berjaga didepan rumah sakit tersebut.


"Permisi Bu, apakah ibu baik-baik saja." Tanya pak securiti.


Sebelum mendongakkan kepalanya Yuki menghapus air matanya sejenak, lalu ia mengangguk berusaha menampilkan senyumnya.


"Saya baik-baik saja pak, hanya saja saya kelelahan dan ya, mata saya juga kelilipan debu." Tuturnya dengan senyumnya.


"Kalau begitu mari bu, saya bantu kedalam, jika demikian." Ucap pak securiti menawarkan diri.


"Tidak usah pak, ini saja saya sudah merepotkan bapak." Ucap Yuki yang tak enak hati.


"Sudah menjadi kewajiban saya Bu, menolong sesama." Tutur pak securiti.


Yuki menurut, jujur sekarang ia tak mampu hanya sekedar berjalan. Ia seperti orang yang tak bertulang, lembek bagaikan jelly. Pak securiti memegang tangan Yuli, perlahan menuntutnya menuju bangku tunggu.


"Terimakasih pak, maaf merepotkan bapak." Ucap Yuki, ia menyalami pak securiti dengan beberapa lembar uang berwarna merah. "Maaf pak bukan maksud saya untuk menyinggung bapak atau semacamnya, itu saya berikan ikhlas, sebagai ucapan terimakasih saya atas bantuan bapak." Ucapnya lagi saat melihat pak securiti diam menatapnya penuh tanya.


"Tidak usah Bu, saya ikhlas menolong ibu." Ucap pak securiti berusaha mengembalikan uang itu kembali.


"Saya mohon bapak terima, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada bapak, jika bapak tidak berkenan anggap saja saya lagi ngidam memberi bapak uang itu." Ucap Yuki dengam senyumnya.


Mendengar penuturan yang diucapkan Yuki, pak securiti terpaksa menerima uang itu dengan perasaan tak enak.


"Jika begitu terima kasih Bu, saya harap ibu dan bayi sehat sampai hari persalinan." Ucap pak securiti.


"Amin pak, terimakasih atas doanya." Ucap Yuki, yang diangguki pak securiti.

__ADS_1


Baru saja Yuki ingin melanjutkan ucapannya pada pak securiti, ia sudah dipanggil oleh seorang suster.


"Mari pak, saya sudah dipanggil, kalau gitu saya tinggal ya." Ucap Yuki ramah dan diangguki pak securiti lagi.


Setibanya diruangan sang dokter, Yuki tekejut melihat orang yang ada disana, begitupun dengan sang dokter. Bagaimana tidak orang itu adalah sahabat dekat Damian.


"Bian, eh maaf maksud saya dokter Bian." Ucap Yuki meralat ucapannya.


"Loh Bulan." Kaget Bian.


"Iya, dok saya." Jawab Yuki terkekeh.


"Loh, kenapa kamu disini, apakah kamu juga ingin memeriksa kandungan atau ada keluhan lain yang ingin kau tanyakan." Tanya dokter Bian, jujur ia merasa terkejut dengan kedatangan Yuki, terlebih ia baru saja didatangi oleh sang sahabat dan mantan tunangan yang juga mengandung.


"Eh, maafkan saya yang bertanya demikian, aduh jika kamu yang menjadi pasien saya, saya malah tidak bisa konsentrasi ini." Ucap Bian kembali.


Ia menarik nafasnya berulang kali, lalu memerintahkan suster menangani Yuki terlebih dahulu. Setelah melihat Yuki yang sudah berbaring dibrankar dan perutnya sudah diolesi jel, ia perlahan mendekat. Setelah selesai, ia langsung menuntun Yuki menuju mejanya kembali.


"Maaf karena saya lancang memegangmu seperti ini." Ucap Bian canggung.


"Tidak apa dok." Ucap Yuki tersenyum ramah.


"Hmm, untuk sekarang aku tak merasa apa pun Bi, hanya saja moodku yang terkadang naik turun." Ucap Yuki yang merasa perubahan pada dirinya.


"Itu sering terjadi pada ibu hamil, nanti akan aku resepkan beberapa vitamin untukmu, dan ya nanti akan aku antarkan kerumahmu langsung. Sekalian aku ingin bertemu dengan Damian dan mengucapkan selamat padanya." Ucap Bian.


"Aaa jangan." Pekik Yuki, saat mendengarkan penuturan Bian.


"Kenapa, bukankah ini hal yang baik." Ucap Bian keheranan.


"Bukan begitu Bi, aku hanya ingin memberikan suprise untuk mas Dami itu saja, jika kau yang mengucapakan nanti bukan suprise lagi ya itu." Ucap Yuki dengan ragu-ragu.


"Baiklah jika begitu, tapi aku akan tetap mengantarkanmu pulang, karena sekarang sudah jam pulangku." Ucap Bian. "Tunggu aku sebentar disini." Ucapnya yang diangguki Yuki.


Bian langsung mengambil tas kerjanya dan kunci mobilnya, lalu ia dan Yuki langsung menuju parkiran.

__ADS_1


"Tadi kamu kemari naik apa." Tanya Bian saat mereka masih dijalan menuju parkiran.


"Tadi aku diantarkan supir." Ucap Yuki dengan santai.


"Lalu sekarang dimana supirnya." Tanya Bian serius.


"Tadi aku sudah menyuruh supirnya pulang, karena aku ingin bersantai tadinya ditaman depan, sebelum pulang." Ucap Yuki dengan santai.


"Apakah kau ingin bersantai sekarang." Tanya Bian.


"Tidak usah, aku sekarang merasa lelah." Ucap Yuki jujur.


"Ingat jaga kesehatan dan bla-bla." Ucap Bian ditambah ceramah panjang lebar yang hanya dapat diketahui oleh Yuki dan Bian.


Sesampainya didepan rumah mewah, halamannya dikelilingi bunga berwarna-warni yang tentunya milik Yuki.


"Nampaknya mas Dami sudah pulang." Ucap Yuki. "Ayo Bi masuk saja." Ucapnya lagi mempersilahkan Bian. "Tunggu sebentar aku siapkan minum, seperti biasa bukan kopi hitam." Ucap Yuki, yang sudah tau kebiasaan Bian saat bertamu dirumahnya.


Tak lama setelah kepergian Yuki ke dapur Damian turun dari lantai tiga. Ia langsung menghampiri Bian yang bersantai di ruang tamu.


"Loh bro, bukanya kita baru saja bertemu, kenapa kau tak memberi tahuku jika ingin kemari." Ucap Damian bertanya.


"Apakah aku harus laporan dulu jika aku kemari." Tanya Bian dengan senyum mengejek lalu disusul tawanya. "Haha tenang saja Dami, aku kesini hanya mengantar Bulanku saja." Ucapnya lagi.


Mata Damian langsung melotot, menatapnya tajam saat nama Bulanku keluar dari bibir Bian.


"Memangnya kamu dan istriku dari mana." Tanya Damian menekankan kata istriku.


"Astaga Dami, tadi aku...." Ucapan Bian terpotong oleh panggilan Yuki.


"Bi, ini kopimu sudah aku bu-atkan." Ucap Yuki sedikit terbata, ia terkejut melihat Damian yang memandangnya dengan tajam. Perlahan ia menaruh kopi Bian diatas meja tepat dihadapan Bian.


"Aku tadi tidak sengaja bertemu istrimu dijalan, kebetulan ban taksinya bocor, jadi ku menawarkan untuk mengantarnya pulang, hanya itu saja." Bohong Bian, ketika ia ingat Yuki menyuruh tidak mengatakan tentang kehamilan Yuki. Jika ia mengatakan Yuki dari rumah sakit atau sekitarnya takutnya Damian akan salah paham.


"Mengapa tak meneleponku." Tanya Damian menatap Yuki seakan ingin menelannya.

__ADS_1


Bulu kuduk Yuki berdiri melihat tatapan Damian yang menyeramkan itu, seketika ia merutuki dirinya yang dengan mudahnya jatuh kepesona Damian. Sehingga ia bisa mencintai pria itu seperti sekarang ini.


"Ponselku mati." Ucap Yuki, menimpali kebohongan Bian.


__ADS_2