
Di sisi lain Damian yang pusing mencari keberadaan sang istri terlihat frustasi. Bahkan apa saja yang ada didekatnya sudah berhambur dilantai. Beling dari kaca atau apapun yang berkaitan dengan kaca sudah berserakan. Tangannya juga berlumur darah akibat tonjokan yang ia lakukan pada dinding, untuk melampiaskan amarahnya.
"Haaaaah, Yuki dimana kamu, jika aku menemukanmu aku tak akan pernah melepaskanmu lagi." Teriak Damian tak henti.
"Nira kau menjebakku, seandainya aku tak mengantarkanmu, ini semua tak akan terjadi." Racaunya semakin frustasi.
"Akhhrggg, sialan perempuan sialan, aku ingin membunuhmu Nira." Teriak Damian penuh emosi.
"Yuki kembali lah sayang." Ucap Damian pasrah.
Tak lama setelah ia berteriak seperti orang gila ia berjalan keluar meninggalkan ruangan yang berantakan.
Setelah melaju mobilnya dengan kecepatan kencang, bahkan makian orang lain yang ia selip sudah tak ia hiraukan. Bahkan saking frustasinya ia maut pun ia tantang, bagaimana tidak lampu merah pun ia terobos. Sedikit lagi ia tadi berjumpa dengan ajalnya jika sebuah truk melindasnya.Ia sudah tak perduli dengan nyawanya yang ia ingin lakukan sekarang, segera bertemu dengan Bian sang sahabat.
Sesampainya dirumah sakit tempat Bian bekerja ia langsung berlari masuk. Penampilannya yang acak-acakan, darah yang terlihat mengering di tangannya tak ia hiraukan.
Ceklek, suara pintu yang Damian buka dengan kasar, membuat orang yang ada didalam ruangan tersebut terperanjat.
"Astaga Tuhan, maaf pak, dokter Bian sedang melakukan operasi sekarang." Jawab seorang suster yang tau siapa yang dicari orang yang ada dihadapannya.
"Kapan ia selesai." Tanya Damian dengan nada suara yang tak bersahabat.
Untungnya seorang yang ada dihadapannya ini dipastikan mempunyai stok sabar yang banyak. Jika tidak mungkin ia juga akan menyahuti dengan ketus.
"Saya tidak tau pak, coba saya tanya dulu." Jawab suster itu kembali, sebenarnya ia ingin cepat keluar dari sana agar ia tak melihat mata tajam Damian yang terlihat menyeramkan, sehingga bulu kuduknya berdiri.
Damian tak menjawab atau mengiyakan, hanya matanya yang terlihat memerah dan pastinya ia sedang menahan amarahnya.
"Hushhhh, berasa liat hantu berwujud tampan." Keluh suster itu setelah ia pergi dari ruangan Bian. "Niat hati untuk membersihkan ruangan dokter tampan itu malah bertemu iblis." batinya berujar.
"Eh mas Bian, eh salah dokter Bian." Ucap suster tersebut meralat ucapnya sendiri, saat ia tak sengaja menabrak Bian.
"Kenapa sus, kok kaya liat setan aja." Ucap Bian melontarkan candaan.
"Ushhh kalau mas Bian tau yang saya liat barusan lebih seram dari setan mah ngak bakal ngeledek gini." Batin suster.
__ADS_1
"Sus." panggil Bian seraya melambaikan tangannya.
"Akh iya dok, oh itu tadi ada orang yang nyarian dokter Bian diruangan dokter." Ucap suster itu cepat.
Setelah menyampaikan apa yang ingin disampaikan dengan cepat suster itu pamit undur diri.
"Permisi dok kalau gitu saya permisi dulu ya." ucapanya cepat, lalu terdiri terbirit-birit.
"Kenapa sih tuh orang." Ucap Bian yang terheran-heran melihat suster berlari terbirit-birit.
Bian langsung berjalan menuju ruangannya sejujurnya ia penesaran, siapa yang membuat suster yang terlihat ceria tersebut seperti melihat setan.
Ceklek pintu terbuka, ia melihat Damian yang juga memandang kearahnya dengan tatap tak bersahabat.
"Waw, ternyata Lo bro, tumben kesini, Lo kangen gue." Tanya Bian dengan senyum meledek. "Wait, kenapa Lo kaya manusia purba, acak-acakan begini ngak beraturan." Tanya Bian kembali tanpa mempersilahkan Damian menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Lo sembunyiin dimana istri gue." Tanya Damian memegang kerah baju Bian dengan kencang.
"Maksud Lo apaan." Tanya Bian, ia berusaha memahami situasi. "Apa maksud Lo istri Lo kabur." Tanya Bian saat ia memahami situasi, melepas paksa tangan Damian yang ada di kerah bajunya.
"Bego Lo, istri Lo itu sedang meng...." Ucapan Bian menggantung saat mengingat Yuki melarangnya mengatakan tentang kandungannya.
"Meng apa, Bian." Tanya Damian serius.
Bian memijat keningnya perlahan memikirkan kata yang tepat untuk diucapakan pada pria yang ada di depannya.
"Apa penyeba Yuki ingin menguat Lo atau apalah itu." Tanya Bian mengalihkan pertanyaan Damian.
"Dia ngeliat gue nganterin Dira." Ucap Damian terlihat frustasi.
"Huh, kenapa Lo ngak bilang atau minta izin istri Lo saat ingin berbuat sesuatu Dami." Tanya Bian ia juga terlihat frustasi mendengar ucapan Damian.
Dalam benak Bian tidak istri yang rela melihat suaminya dengan perempuan yang lain, apalagi perempuan itu adalah orang dari masa lalu yang belum usai dan sedang mengandung. Sedangkan ia sendiri tau bahwa perempuan itu adalah orang yang dicintai suaminya.
"Makanya gue udah bilang sama Lo, kalau cinta sama istri Lo bilang bukan malah diam. Karena perempuan butuh kepastian Dami apalagi untuk ungkapan cinta." Ucap Bian kesal, ia tahu bahwa Damian sangat mencintai Yuki sekarang.
__ADS_1
"Gue yang terlalu bego." Ucap Damian, bahkan suarnya terdengar bergetar.
"Lalu apa rencana Lo sekarang, tanya sama orang tuanya atau gimana." Tanya Bian.
"Ngak mungkin gue langsung nanya sama mertua gue sekarang, mungkin gue akan mampir kesana atau mencari cara lain agar mertua gue ngak curiga. Bahkan kemungkinan terburuknya mereka yang akan menggugat gue setelah tahu kebenarannya." Ucap Damian yang terlihat tak bersemangat.
"Ngak ada pilihan lain gue harus kesana sekarang." Ucap Damian akhirnya.
Lalu ia meninggalkan ruangan Bian dengan langkah gontai, menuju parkiran mobilnya berada lalu menjalankan mobilnya menuju kediaman mertuanya.
Sedangkan di perdesaan terlihat Yuki yang sedang duduk di ayunan, menikmati sejuknya dan asrinya lingkungan perdesaan.
"Sayang kembali lah cuaca sudah semakin siang itu tidak baik untuk kulitmu." Teriak Oma Patmawati dari rumah.
"Ya Oma." Jawab Yuki berjalan menghampiri Oma Patmawati.
"Ada apa, apa cicit Oma meninggikan sesuatu." Tanya Oma Patmawati melihat Yuki yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Ayah Oma tau saja jika Yuki meningginkan sesuatu." Ucap Yuki kegirangan.
"Katakan, cicit Oma ingin apa hah." Tanya Oma Patmawati yang terlihat antusias.
"Oma anakku tidak bisa memakan sesuatu aku yang bisa, tapi kenapa Oma selalu menanyai anak ku yang ada diperut." Ucap Yuki terlihat kesal dengan mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah-baiklah cucu Oma ingin apa." Tanya Oma Patmawati mengalah.
"Oma aku ingin kita pergi memacing lalu ikannya kita panggang, itu pasti sangat enak ditambah sambal tomat yang Oma buat, astaga air liurku hampir menetes." Ucap Yuki sambil membayangkan apa yang baru saja ia ucapkan.
"Huhh." Oma menarik nafasnya berat. "Baiklah ayo kita bersiap-siap untuk pergi." Ucap Oma Patmawati pasrah.
"Untung kita mempunyai kolam ikau sendiri, jika tidak mungkin sore baru bisa mendapatkannya." Batin Oma Patmawati mengeluh. "Ini untuk cicit, sabar Oma sabar." batinnya menenangkan diri sendiri.
Bukannya ikannya tidak dapat jika mereka memancing ke sungai ikannya tak akan sebesar yang dibayangkan sang cucu jika hanya memancing beda cerita jika menggunakan jala.
Setelah menyiapkan apa yang diperlukan, Oma Patmawati dan Yuki menuju kolam ikan yang berada tidak jauh dari rumah, dan jangan tanya ikanya besar-besar.
__ADS_1