
Waktu berjalan dengan cepat, tak dapat Yuki pungkiri bahwa seringkali dirinya merindukan sosok Damian. Sosok seorang suami memang sangat dibutuhkan saat seperti ini. Terlebih lagi saat ia berpapasan dengan ibu hamil yang didampingi oleh suaminya. Apalagi saat ia cek up setiap bulannya. Bertemu dengan keluarga bahagia, dimana suaminya terlihat antusias menunggu sang buah hati. Terkadang dalam hatinya timbul rasa iri, dikala melihat orang lain terlihat bahagia bersama pasangannya. Terlebih lagi ada beberapa orang yang ia temui menanyakan keberadaan suaminya. Miris memang namun ia yang memilih jalan seperti ini, dan dalam benaknya ia tanam bahwa Damian sudah berbahagia bersama Nira.
"Bu Oy, apakah hari ini ibu bisa mengantarkan saya kerumah sakit, kurasa perut ku terus menerus terasa sakit. Mungkin aku ingin melahirkan sekarang, anakku sudah tidak sabar melihat dunia." Ucapnya dengan tenang sesekali terlihat ia meringis.
"Astaga nak kenapa baru kamu katakan." Ucap ibu Oy terkejut. "Aduh bagaiman ibu tutup dulu, setelahnya kita langsung kerumah sakit." Lanjut Bu Oy, ia langsung berlari ke arah pintu.
Tak lama ibu Oy datang bersama seorang pria, sepertinya orang yang bersama ibu Oy adalah supir taksi. Sekarang yang terlihat panik adalah ibu Oy terlihat dari ia yang tak bisa diam dari tadi.
"Ayo nak." Ajaknya setelah semua hal ia rasa perlu dibawah sudah ia siapkan. "Kenapa kamu terlihat tenang nak, padahal setau ibu kontrasi itu sangat menyakitkan." Tanyanya, sambil mengingat saat ia ingin melahirkan dulu, tak ayal ia meringis kala mengingatnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit mereka tiba dirumah sakit terdekat. Bohong jika Yuki tidak merasakan sakit saat ini, ia hanya menahannya supaya orang disekitarnya tidak terlalu khawatir. Seperti ibu Oy sekarang yang paniknya minta ampun, bahkan berulang kali ia meminta pak supir menyelip kendaraan lain.
"Bu Oy, tenanglah." Ucap Yuki sambil menahan rasa sakit yang ia rasa.
"Nak." Panggil ibu Oy, ia meneteskan air matanya saat melihat betapa tegarnya Yuki saat ini.
Disaat orang lain mungkin mengaduh kesakitan, menahan rasa sakit. Justru Yuki terlihat tenang, bukan ibu Oy tidak tahu betapa Yuki menahan rasa sakit. Tangan Bu Oy tidak tinggal diam tanpa disuruh pun ia sudah mengelus punggung Yuki supaya meredakan sedikit rasa sakitnya.
"Bu Oy jangan menangis aku tidak apa-apa." Ucapnya berusaha menenangkan ibu Oy. "Nanti jika ibu Oy ingin membuka kedai buka saja Bu, saya percaya pada ibu." Katanya.
"Tidak nak ibu akan menemanimu." Putus ibu Oy.
Mendengar penuturan ibu Oy, Yuki tidak mengiyakan ataupun melarang keputsan ibu Oy. Jujur tak dapat ia pungkiri ia butuh sosok seorang ibu saat ini, orang yang bisa membantunya.
Dengan tergesa-gesa ibu Oy menghampiri meja resepsionis untuk mendaftakan Yuki. Ibu Oy sangat sigap mengurus Yuki, bahkan sekarang Yuki sudah dibawa keruang persalinan. Ternyata selama dijalan hingga sekarang Yuki sudah memasuki pembukaan 8 yang mungkin sebentar lagi ia akan melahirkan.
__ADS_1
Bu Oy sudah mundar mandir dari tadi, saat Yuki dibawa keruang persalinan. Dokter mengizinkannya untuk menemani pasien tapi ia merasa takut, sehingga ia tidak masuk. Ia terlihat panik bibirnya terus komat Kamit mengucapkan doa-doa yang terbaik untuk Yuki. Hingga cukup lama ia berada di luar, tak lama terdengar suara tangisan bayi.
"Terimakasih Tuhan." Ucap ibu Oy penuh rasa syukur. "Engkau teramat baik pada kami." Lanjutnya lagi.
Tak lama muncul seorang dokter yang keluar dari ruang persalinan.
"Saudara pasien." Panggilannya.
"Iya saya, bagaimana keadaan anak saya dok." Tanya ibu Oy.
"Bersyukrlah pada Tuhan, anak dan cucu anda sehat, sebentar lagi mereka akan dipindahkan keruang rawat." Jawab dokter tersebut.
Setelah kepergian dokter tersebut ibu Oy langsung memasuki ruang persalinan Yuki.
"Iya Bu." Jawab Yuki, suaranya sangat pelan hampir tidak terdengar.
"Siapa nama bayi munggil ini nak." Tanya ibu Oy, tangannya mengelus pipi halus si bayi.
"Gamaliel Marley yang artinya keturunan Marley laki-laki yang mewarisi kebaikan dari Tuhan." Ucap Yuki. Untuk panggilannya Bu Oy bisa memanggilnya baby El." Lanjutnya lagi.
"Hay baby El." Sap Bu Oy.
Ditempat lain sebelum Yuki melahirkan hingga sekarang Damian tengah merasakan rasa sakit diperutnya yang berkelanjutan. Hingga kini badannya serasa dibelah dua, perutnya serasa dililit. Bahkan hanya sekedar untuk bergerak pun rasanya teramat sakit. Sementara dokter yang memeriksanya merasa amat binggung. Menurut hasil rongsen yang dilakukan Damian tidak memiliki gejala penyakit atau luka yang serius di perutnya.
"Dok lakukan sesuatu untuk putraku berapa pun biayanya asal Dami sembuh." Pinta mommy Marliana pada dokter yang menangani Damian saat iya keluar dari ruangan Damian.
__ADS_1
"Nyonya saya sudah melakukan yang terbaik pahkan sangat baik, tapi pak Damian memang tidak mempunyai penyakit yang serius. Hasil rongsen menyatakan bahwa tidak ada yang bermasalah dengan pak Damian." Jelas dokter itu panjang lebar.
"Tapi dokter anak saya." Ucap Mommy Marliana dengan tersedu-sedu.
"Mom, jika dokter sudah mengatakan Dami baik-baik saja, itu berarti Dami tidak kenapa-napa." Ucap Daddy Bagas, merangkul sang istri sesekali ia mengecup pucuk rambut sang istri.
Setelah kepergian dokter tersebut mereka masuk keruangan Damian setelah diizinkan. Sementara itu mommy Marliana masih tersedu-sedu dipelukan hangat sang suami, Damian masih terus merintih kesakitan. Sampai obat tidur berfungsi, agar pasien merasa tenang dan dapat beristirahat dengan baik.
"Dad, ada dengan Dami, mommy takut dad." Ucap mommy Marliana, menatap wajah sang anak lekat.
"Dokter mengatakan Dami baik-baik saja mom, bahkan mommy dengar penjelasan dokter tadi dami tidak mempunyai luka dalam atau semacamnya my, jadi Daddy harap mommy bisa tenang biarkan dokter yang bekerja." Ucap Daddy Bagas menyampaikan apa yang telah disampaikan oleh dokter.
Sedangkan Damian terlelap dalam tidurnya, tapi masih terdengar sesekali desisisan keluar dari bibirnya, akibat rasa sakit yang ia alami.
Pak Bambang dan ibu Noni orang tua Yuki langsung menuju rumah sakit saat mengetahui keadaaan Damian. Ya mereka lebih baik berdamai dengan kenyataan, dan lebih mengakui Damian sebagai anak kandung mereka sendiri mengantikan Yuki. Sesampainya mereka didepan pintu ruangan Damian, perlahan tangan mamah Noni mengetuk pintu disertai salam dan dipersilahkan masuk oleh orang yang berada didalam.
"Bagas, bagaimana keadaan anak kita." Tanya papah Bambang yang terlihat khawatir dari raut wajahnya walaupun tidak terlalu kentara.
"Iya, Mar, mas Bagas Dami sakit apa." Sahut mamah Noni, ia juga nampak sangat khawatir dan cemas.
"Seperti yang kalian lihat, tapi dokter mengatakan bahwa Dami baik-baik saja, bahkan hasil rongsennya sangat bagus. Tidak ada penyakit atau luka dalam, dan tidak ada yang serius, tapi Dami merasakan rasa sakit yang teramat." Jelas Daddy Bagas, menerangkan apa yang ia ketahui. "Dan sekarang Dami bisa beristirahat karena diberi obat tidur." Lanjutnya.
"Huufff." Papah Bambang membuang nafasnya perlahan mendengar penuturan yang disampaikan Daddy Bagas. "Kita berdoa saja semoga apa yang terjadi pada Dami bisa segera dilalui dan ia kembali sehat seperti semula." Ucap papah Bambang.
Setelah itu mereka seperti biasa mengobrol banyak hal. Baik itu tentang pekerjaan, rencana liburan, dan sebagainya, tapi yang paling mendominasi ya pekerjaan.
__ADS_1