
sesuai dengan apa yang diharapkan Yuki pemancingan yang ia dan Oma Patmawati berjalan sesuai keinginannya. Bahkan saking senangnya ia karena baru saja ia melempar mata kailnya ikannya sudah berebut dibawah sana.
"Oma lihatlah kali ini aku mendapatkan yang lebih besar dari yang barusan." Ucap Yuki kegirangan bahkan ia sudah melompat-lompat.
"Hey jangan melompat-lompat seperti itu." Teriak Oma Patmawati.
Bukannya menjawab atau menuruti teriakan Oma Patmawati, Yuki malah heboh sendiri saat kail pancingan yang baru saja ia lempar ditarik oleh ikan.
"Aa ternyata memancing adalah hal yang menyenangkan, jika begini terus aku ingin memancing disini setiap hari." Ucapnya lagi dengan bahagia.
Mendengar penuturan Yuki barusan Oma Patmawati menelan ludahnya kasar seakan air liurnya terasa sulit untuk masuk tenggorokannya.
"Anak ini dikasih hati minta jantung, untung sayang." Batin Oma Patmawati mengerutu.
"Hey kau pikir ini milik siapa, sehingga kau bisa memancingnya tiap hari." Gerutu Oma Patmawati, ia tak tahan jika tidak mengerutu pada cucu cantiknya ini.
"Oma mengajakmu kemari bukan untuk kau pancing tiap hari, dasar gadis nakal." Gerutu Oma Patmawati kembali.
"Omaku sayang, apakah kau melupakan aku bukan lagi seorang gadis. Aku sekarang sedang mengandung dan seorang istri. Dan lagi aku tau tempat ini milik keluarga kita, dan ya aku bisa melakukannya walaupun Oma tak mengizinkanku." Ucap Yuki dengan santai tanpa merasa bersalah.
"Hush sabar." Ucap Oma Patmawati menenangkan dirinya sendiri. "Biasalah ibu hamil." Ucapnya lagi.
Setelah melihat hasil tangkapannya yang lumayan banyak Yuki langsung mengajak Oma Patmawati pulang.
"Oma aku rasa apa yang kita tangkap cukup banyak, mari kita pulang sekarang." Ucap Yuki terlihat senang terlihat dari rona wajahnya.
"Seingat Oma dulu kamu sangat tidak suka memancing, kenapa ngidammu sangat aneh." Tanya Oma Patmawati heran. "Apakah anakmu ini memiliki sifat yang berbanding terbalik darimu." Ucap Oma Patmawati menjawab pertanyaannya sendiri.
"Entahlah Oma aku pun tak tau mengenai hal itu." Ucap Yuki, ia pun merasa heran dengan diri sendiri.
"Anehnya Oma merasa seperti orang yang tak pernah mengalaminya ya." Ucap Oma Patmawati terkekeh menanggapi pertanyaanya barusan. "Padahal itu hal yang wajar." Ucapnya lagi sambil nyengir.
"Ish Oma, tapi Oma aku teringat dengan buah nangka yang ada di jalan tadi apakah kita bisa mengambilnya satu buah nanti aku sangat mengingininya sekarang." Ucap Yuki dengan wajah tanpa dosa dengan ucapannya barusan.
Oma Patmawati menghentikan tangannya yang sedang mengemas peralatan memancingnya, menatap sang cucu yang baru saja berucap. Ia tak habis pikir dimana cucunya ini melihat buah nangka sedangkan ia sendiri tak melihatnya. Ia mengetahui ada pohon nangka yang besar dijalan menuju tempat pemancingan ini tapi ia tak tau apakah ada buahnya.
__ADS_1
"Nanti kita liat." Ucap Oma Patmawati pasrah.
Setelah Oma Patmawati berucap demikian mereka berdua meninggalkan tempat itu. Berjalan menyusuri jalan yang mereka lalui tadi.
"Oma lihat itu buah nangka yang tadi aku katakan." Ucap Yuki menunjuk buah nangka yang ada di atas sana.
Mata Oma Patmawati melotot melihat arah telunjuk cucunya, buah yang Yuki maksud lumayan tinggi.
"Apakah kita harus mengambilnya." Tanya Oma Patmawati memastikan keinginan Yuki.
Dengan santainya Yuki mengangguk mengiyakan apa yang baru saja ditanya Oma patmawati.
"Hush, mengapa kau mengidam tidak meminta pada suamimu." Gumam Oma Patmawati mengeluh.
"Kalau begitu, mari kita lihat apa yang bisa kita gunakan untuk mengambil buah itu." Ucap Oma Patmawati berusaha bersabar dengan keinginan cucunya.
"Hemm, Oma kurasa tidak perlu bersusah payah, kita minta tolong orang itu saja." Ucap Yuki menunjuk orang yang tidak jauh dari mereka dengan dagunya.
Tak jauh dari mereka ada orang yang nampaknya sedang mencari rumput, mungkin untuk ternaknya.
"Pak Karto." Panggil Oma Patmawati yang mengenal orang tersebut.
"Mmm, begini, saya ingin merepotkan pak Karto, cucu saya lagi ngidam nangka itu, apakah boleh pak Karto membantu kami mengambilnya." Ucap Oma Patmawati mengutarakan keinginannya.
"Oh begitu, baiklah Oma saya tidak keberatan." Ucap Pak Karto menyanggupi permintaan Oma Patmawati.
Sedangkan Yuki ia hanya mendengarkan obrolan kedua orang yang ada didepannya sambil sesekali tersenyum ketika kedua orang tersebut menatapnya.
Tak lama terdengar suara buah jatuh dari atas sana, ya siapa lagi pelakunya jika bukan pak Karto. Tak lama setelahnya, terlihat pak Karto turun dari pohon nangka tersebut.
"Makasih pak Karto." Ucap Oma Patmawati menyodorkan uang sebagai ucapan terimakasih.
"Tidak usah Oma, mbaknya juga lagi ngidam bukan, terimakasih." Ucap pak Karto menolak.
"Ambil saja pak dan ini." Ucap Oma Patmawati menyerahkan beberapa ikan lagi.
__ADS_1
"Tidak usah Oma." Ucap pak Karto menolak lagi.
"Ambil saja pak." Ucap Oma Patmawati sekali lagi.
Dengan terpaksa Pak Karto mengambil apa yang diberikan Oma Patmawati dengan tidak enak hati, niat hati hanya membantu.
"Terimakasih Oma." Ucap Pak Karto.
"Seharusnya saya yang mengucapkan terimakasih pada pak Karto." Ucap Oma Patmawati. "Mari pak Karto kami pulang duluan." Ucap Oma Patmawati.
"Ya mari Oma." Ucap pak Karto.
Setelah itu Oma Patmawati dan Yuki meninggalkan pak Karto untuk pulang kerumah. Tak lama mereka berdua sudah tiba dirumah. Terlihat disana opa Dani yang nampaknya menunggu kedatangan kedua wanitanya.
"Hey kenapa kalian begitu lama." Tanya opa Dani.
"Kami tidak lama." Ucap Oma Patmawati ketus.
"Hmmm baiklah, loh dari mana buah nangka ini ada bukannya kalian hanya pergi memancing." Tanya opa Dani penasaran melihat buah nangka yang dipegang Yuki.
"Hehe ini dari pohonnya opa." Ucap Yuki manja.
"Hemm jangan bermanja dengan suamiku." Ucap Oma Patmawati.
"Tidak usah cemburu Oma." Ucap Yuki dengan wajah menyebalkan.
"Sudah-sudah ikan-ikan ini ingin dimasak apa." Tanya Opa Dani.
"Opa sangat perhatian sekali." Ucap Yuki tersenyum senang. "Aku ingin ikan bakar lalu makanan perdesaan yang opa masak menggunakan ini dan ini." Ucapnya lagi menunjuk buah nangka dan ikan.
"Hmmm baiklah sini biar opa buat, kamu dan Oma bersih-bersih dulu setelah itu nanti opa siapakan teh hangat untuk kalian." Ucap Opa Dani mengambil ikan dan buah nangka tersebut.
"Apa perlu Oma bantu opa." Tanya Oma Patmawati.
"Tidak usah Oma, Oma pasti lelah." Ucap Opa Dani lembut.
__ADS_1
Setelah itu opa Dani meninggalkan kedua orang itu, sedangkan Oma Patmawati dan Yuki langsung berjalan menuju kamar masing-masing untuk berbersih.
Tak lama Oma Patmawati dan Yuki berkumpul diruang keluarga ditemani teh hangat yang sudah disiapkan oleh opa Dani, seperti yang diucapkannya tadi.