Anakku (Mu)

Anakku (Mu)
2. Perdesaan


__ADS_3

Cukup lama mereka bertiga mengobrol, sampai sore berganti malam bahkan Yuki sudah tertidur meringkuk ditempatnya semula. Perlahan Damian menggeser tubuh Yuki sehingga kakinya menjadi bantal dan tidur Yuki lebih nyaman.


"Aku akan pulang sekarang, tapi ingat Dami jangan sampai Yuki mengetahui bahwa kamu juga bersama Nira. Bahkan Nira, aku tidak tau apa ia benar mengandung anakmu. Tapi yang jelas jangan membuang berlian yang berharga hanya karena sebongkah emas yang tak berguna. Jika itu terjadi aku adalah orang pertama yang akan membuatmu jauh dari bulan, karena cahaya indahnya untuk menyinari malam harus bersinar selamanya." Ucap Bian diakhiri ancaman.


Damian terdiam ia paham apa yang diucapkan Bian padanya. Dan, ya, ia memang bersama Nira, namun entahlah hati dan pikirannya sudah tak sama seperti dulu.


Keesokan harinya, matahari menyembul dengan sempurna diufuk timur. Membangunkan umat manusia agar melakukan aktifitasnya, tak luput dari kedua insan yang berpelukan hangat.


"Mas ceraikan aku sekarang." Ucap Yuki tiba-tiba.


Mendengar penuturan Yuki, Damian langsung mengendorkan pelukannya, memandang Yuki dengan serius. Bahkan ia langsung mendudukkan tubuhnya dengan tegak diatas kasur. Melihat hal itu Yuki pun ikut duduk mengahadap Damian.


"Katakan kembali apa yang kau ucapkan barusan." Ucap Damian serius.


"Ceraikan aku." Ucap Yuki tak kalah serius.


"Jangan bercanda apa kau tau yang kau ucapkan barusan." Ucap Damian dengan berteriak.


"Aku sangat tau, dan aku sangat sadar sekarang." Ucap Yuki dengan suara tak kalah lantang.


"Jangan gila Yuki, kau tau aku tak berharap pernikahan kita akan berakhir seperti ini." Ucap Damian berusaha merendam emosinya.


"Aku tak gila Dami tapi ini sangat serius, aku tak bercanda, bahkan tadi aku sudah katakan, aku sangat sadar sekarang." Ucap Yuki. "Bercerailah dari ku, bukankah ini yang kau harapkan dari dulu. Mengapa disaat aku ingin melepaskanmu kau tak mau melepaskan aku Dami." Ucap Yuki.


"Apa kau tak ingin hidup bahagia bersamaku hah, aku tanya kepadamu." Tanya Damian tersulut emosi bahkan ia mengoyangkan tubuh Yuki.


"Aku ingin Dami, sangat bahkan." Ucap Yuki.

__ADS_1


"Lalu mengapa kau ingin berpisah." Tanya Damian Serius.


"Karena aku sudah tak sanggup lagi." Jawab Yuki pasrah.


"Mengapa bukankah kita bisa membahas dan mencari solusi yang terbaik untuk setiap masalah." Tanya Damian berusaha menyelesaikan masalah.


"Tidak bisa Dami masalahnya terlalu rumit, dan hati ini sudah tak mampu untuk bertahan begitu lama lagi." Ucap Yuki menunjuk dadanya.


"Apa yang membuatnya begitu rumit, lalu aku berbuat apa sehingga kau tak mampu memaafkan ku, aku minta maaf untuk semuanya itu. Tapi biarkan pertemuan kita dan pernikahan kita hanya maut yang dapat memisahkannya." Ucap Damian, bahkan ia sudah berlutut dihadapan Yuki.


"Jika kau katakan ini pertemuan kita untuk selamanya, aku harap ini yang terakhir". Tutur Yuki pada Damian.


"Karena kamu dan dia telah menjadi satu, aku dan kamu akan menjadi asing." Ucap Yuki kembali berucap penuh kekesalan dan amarah.


Ia tak memperdulikan Damian yang menatapnya dengan serius penuh makna. Yuki seakan tak melihat semua itu dia seaka buta.


"Ku mohon Dami, lepaskan aku sekarang, aku tau kau dan Nira sudah bersama, bahkan aku tau kau mengantarkan dia ke rumah sakit ibu dan anak. Jangan menuduh Bian memberi tahu ku aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku Dami." Ucap Yuki menekankan nama Nira dan rumah sakit tak luput saat ia menyebutkan nama Bian ia mengangkat jari telunjuknya. "Jadi ku mohon lepaskan aku, Dami, jika kau tak melepaskan aku, akh perutku, ku mohon jangan sentuh aku atau mendekat Dami." Lanjut Yuki bahkan ia mewanti Damian saat perutnya terasa kram.


"Tapi Yuki ada apa dengan perutmu." Tanya Damian khawatir, ia tak memperdulikan ucapan Yuki barusan tangannya kini sudah ada diperut Yuki.


Perlahan perut Yuki terasa lebih baik saat tangan kekar Damian ada diperutnya.


"Maafkan mommy sayang, yang ingin menjauhkanmu dari Daddy, tapi ini yang tebaik untuk kita kedepannya. Mommy sadar disini yang salah adalah mommy, mommy yang menjadi pengahalang Daddy untuk bersama orang yang dicintainya." Batin Yuki bermonolog.


"Aku tak akan melepaskanmu, jika kau ingin aku meninggalkan Nira sekarang. Itu akan ku lakukan sekarang tapi jangan pernah memintaku untuk menceraikan mu. Karena sampai kapan pun itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Damian, ia berjalan kearah balkon kamar mereka berniat untuk menenangkan dirinya sejenak.


Melihat kepergian Damian, Yuki mengambil kesempatan itu untuk pergi dari rumah tersebut. Namun apa yang didapat kamar mereka dikunci Damian. Mata Yuki langsung tertuju pada pintu ruang kerja Damian yang tak dikunci. Ternyata Damian melupakan itu, Yuki berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah. Bahkan ia lewat pintu belakang agar Damian tak melihatnya dari balkon.

__ADS_1


"Aku harus pergi dari kota ini secepatnya." Ucap Yuki bergumam pada dirinya.


Ia menaiki taksi untuk pergi ke kota sebelah dan memesan tiket pesawat ke daerah perdesaan.


Sedangkan dikediaman Damian dan Yuki, belum lama kepergian Yuki. Palingan sekitar satu jam yang lalu, sekarang Damian sedang marah-marah pada semua art dan securiti yang ada dirumahnya. Bahkan ia sudah menyuruh anak buahnya melacak semua akses yang mungkin bisa Yuki gunakan. Bahkan ponsel Yuki, apa pun itu yang bersangkutan dengan sang istri.


Disisi lain, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam di pesawat ia tiba di bandara kecematan, lalu menempuh perjalanan dua jam lebih menggunakan mobil untuk masuk ke pelosok desa. Ia tiba dirumah yang terlihat masih kokoh dan rapi.


"Oma, Opa, Yuki datang." Teriak Yuki didepan pintu.


"Hey, tak usah berteriak kami masih mampu untuk mendengar teriakanmu." Sahut orang rumah juga berteriak.


Yuki tertawa mendengar sahutan orang rumah yang juga berteriak.


"Hey anak nakal, Oma sangat merindukanmu, apakah kamu sendiri dimana suamimu." Tanya sang nenek beruntun sambil memeluk erat sang cucu.


"Satu-satu oma, apa aku hanya disuruh berdiri tanpa disuruh masuk, aku sungguh lelah menempuh perjalanan jauh." Ucap Yuki. "Lalu dimana opa, aku sangat merindukannya." Ucapnya lagi.


"Hey apa kau hanya merindukannya, aku yang lebih dahulu mengatakan aku merindukanmu, kau bahkan tak membalas ucapan rinduku." Ucap Oma Patmawati dengan cemberut.


"Baiklah-baiklah, aku dan cicit Oma sangat merindukan oma." Ucap Yuki menarik tangan Oma Patma menyentuh perutnya.


"Oh, benarkah, disini ada cicit Oma." Ucap Oma Patma memastikan.


"Ya Oma." Sahut Yuki.


Dengan perlahan Oma Patmawati menuntun Yuki menuju ruang tamu dan mereka bercerita banyak hal termasuk wejangan dari Oma Patmawati.

__ADS_1


__ADS_2