
Sesampainya Yuki di kediamannya dan Damian matanya membelalak sempurna saat melihat punggung perempuan yang ia kenali. Duduk di sofa ruang tamu, bak ratu dirumahnya sendiri. Tanpa banyak berucap lagi Yuki sudah tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Mungkin aku yang salah hadir diantara kalian." Gumam Yuki, air matanya tak dapat ia bendung lagi.
Ia berlari meninggalkan rumah yang hampir dua tahun lebih ia tinggali. Rasanya ia tidak ingin lagi mengijakkan kakinya dirumah itu. Mengenal orang-orang yang ada didalamnya. Jika boleh ia ingin melupakan semuanya memulai hidup baru tanpa orang lain ketahui. Ya dia egois karena berasumsi sendiri tanpa mendengarkan penjelasan orang yang ada di sekitarnya termasuk suaminya sendiri. Namun bolehkah ia egois untuk saat ini, matanya tak dapat membohongi dirinya sendiri. Perempuan yang ia lihat tadi adalah sahabatnya ralat mungkin mantan sahabatnya. Karena Yuki sudah tidak ingin bertemu mereka setelah ini.
Yuki berlari ke jalanan lalu mencegat taksi yang melintasi didepannya. Matanya tak hentinya keluar dari pelupuk matanya. Tangannya dengan lihai mengotak-atik ponsel cangihnya. Memesan tiket pesawat. Ia memilih negara yang sekiranya akan cepat lepas landas. Tujuannya hanya pergi jauh dari kota kelahirannya. Tak lama ia langsung tiba dibandara, dan mungkin tak menunggu lama ia akan take off. Tak menunggu lama Yuki langsung berangkat ke negara yang ia sendiri tak tau harus melakukan apa nantinya.
Damian baru saja tiba dikediamannya, matanya berbinar. Rasanya ia sudah tak sabar bertemu dengan istrinya. Lalu mengungkapkan segala hal yang ada di relung hati. Mengungkap hal yang belum ia sampaikan untuk istrinya.
Ia langsung berlari menatap punggung perempuan yang ada di sofa. Hatinya bergejolak, ada perasaan yang tak dapat ia ungkapkan saat ini. Bahagia bercampur haru, kesal, emosi dan rasa rindu yang tak dapat ia bendung rasanya sangat menyeruak di relung hati.
"Sayang." panggilnya, ini kali pertamanya memanggil sang istri dengan sebutan itu.
Biasanya ia akan memanggil Yuki dengan sebutan sayang jika hasratnya sedang mengebu-gebu.
Namun, matanya menatap kejanggalan ada yang berbeda, perempuan itu bukan Yuki. Damian mematung ditempatnya, saat orang yang dia panggil sayang bukan sang istri.
"Kamu panggil aku sayang mas Dami." Tanya Nira terlihat dari raut wajahnya ia sangat senang.
"Kenapa kamu, dimana istriku." Tanya Dami dengan terheran. "Sayang, Yuki." Panggilnya lagi tanpa memperdulikan Nira yang memandangnya. "Oh ya pergi dari rumahku sebelum aku berlaku kasar padamu." Peringat Damian lagi.
"Mas kamu tega mengusirku dari sini." Teriak Nira dari bawah.
Ya Damian sekarang tengah berlari kekamarnya dan Yuki yang berada dilantai atas. Ia berhenti di ujung tangga, matanya menatap Nira insten.
"Ingat Nira apa yang kamu katakan tempo hari lalu, bahwa kamu tidak akan menganggu aku dan istriku jika aku mengantarmu kerumah sakit." Ucap Damian. "Pergilah selagi aku bisa menahan diri." Usirnya lagi.
Melihat Damian yang tidak main-main tanpa menunggu ba-bi-bu lagi Nira langsung meninggalkan rumah itu. Nira sadar jika Damian tidak main-main seperti sekarang, maka apa yang ia ucapkan dari bibirnya itu yang akan terjadi. Nira tahu betul bagaimana sifat Damian jika sudah marah.
__ADS_1
"Sa-yang." Ucapan Damian tertahan.
Istrinya tidak ada di kamar, bahkan kamarnya masih seperti semula berantakan. Ia langsung berlari keluar meninggalkan kamarnya sambil memanggil nama sang istri. Mengumpulkan semua art dan securiti, menanyai mereka semua.
"Ma-ma-af tu-tu-an ta-ta-di no-na Yu-. Gagap Pak securiti.
"Katakan dengan jelas." Teriak Damian Emosi.
"Nona tadi sudah tiba dirumah tuan tapi pergi lagi." Ucap securiti itu kembali menetralkan rasa gugupnya yang semakin bergemuruh.
"Apa katamu, kenapa kamu tidak menahan istriku barang sebentar saja." Teriak Damian memegang kerah baju pak securiti.
"Ma-ma-af tuan." Jawab pak securiti, keringatnya sudah bercucuran membasahi bajunya.
Tak lama pintu rumah terbuka, masuklah sepasang suami istri yang terlihat haromis dan tentunya masih romantis. Dengan paras keduanya yang masih terlihat muda walaupun usia sudah tak muda.
"Dami." Teriak mommy Marliana.
"Kalian semua kembali bekerja." Perintah Daddy Bagas pada semua art dan securiti yang ada disana.
"Ada apa ini." Tanya mommy Marliana dengan berderai air mata. "Dimana istrimu, kenapa semuanya terlihat tidak teratur." lanjut mommy Marliana memncerca banyak pertanyaan. "Katakan Dami." Marah mommy Marliana saat tak mendapat jawaban dari pertanyaannya.
"Ada apa." Tanya Daddy Bagas menepuk bahu putranya.
Damian terdiam, ia tak tau harus berucap apa saat ini. Pikirannya semakin kacau, ingin jujur pada orang tuanya tapi ini rumah tangganya. Namun apa yang disembunyikan jika suasananya seperti sekarang ini. Damian membuang nafasnya dengan kasar, lalu bercerita sesuai versinya.
"Tunggu, kenapa Yuki minta diceraikan, apa yang kamu perbuat sehingga kata keramat itu yang keluar dari bibirnya." Tanya mommy Marliana penasaran kenapa Yuki menginginkan perceraian. "Mommy kenal betul Yuki tidak akan mengatakan itu jika kamu tidak melakukan kesalahan." Tunding mommy Marliana.
Dengan terpaksa Damian menceritakan apa penyebab ia mengantarkan Nira kerumah sakit.
__ADS_1
flashback on:
Saat itu Damian yang masih ada di kantor, sedang sibuk-sibuknya dengan berkas-berkas yang menumpuk. Tak lama pintu terbuka dengan kecang, terlihat seorang perempuan di belakangnya *ada Bik yang ingin menyeret perempuan itu keluar dari ruangan.
"Maaf tuan atas keteledoran saya." Ucap Bik membungkuk tanda hormat pada tuannya.
Melihat Bik yang ingin membawanya pergi dari ruangan itu, Nira yang sudah susah payah untuk masuk tidak ingin membuang-buang waktu. Ia langsung berlari memeluk Damian.
"Hey, apa yang kamu lakukan." Marah Damian.
"Mas Dami mau-ku sangat simpel." Ucap Nira mendayu-dayu, dulu Dami akan senang mendengar nada bicara itu namun sekarang ia merasa jijik.
"Pergi Nira aku sudah tidak perduli padamu." Ucap Damian berusaha mengusir perempuan itu.
"Baiklah aku akan pergi tapi bukan ke rumahku tapi kerumahmu." Ucap Nira santai.
Bik sudah ingin menyeret Nira pergi dari ruangan bosnya itu, namun Damian menahannya dengan memberi kode.
"Mau apa kamu." Tanya Damian, jelas Nira punya niat jahat ingin kerumahnya.
"Aku sudah mengatakannya mas Dami sayang, sangat simpel. Antar aku kerumah sakit hari ini untuk USG." Jawab Nira dengan santai.
"Jangan gila nira aku tidak sudi." Tolak Damian tegas.
"Baiklah mas Dami tersayang, jika kamu tak mau mengantarku aku akan datang kerumahmu. Aku akan menjumpai istri tercintamu lalu mengatakan anak yang aku kandung adalah anakmu. Aku sangat yakin istrimu akan percaya, apalagi dia tak kunjung hamil. Aaa aku tau atau jangan-jangan istrimu itu mandul." Ucap Nira dengan santai.
Dami tahu betul sifat Nira yang sangat gila, ia akan melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya. Maka dengan terpaksa Damian meniyakan ucapan nira dengan syarat Nira tidak boleh menganggu keluarganya setelah ini. Dan Nira menyanggupi itu, setelahnya mereka langsung menuju rumah sakit yang dokternya adalah Bian.
flashback off*
__ADS_1
"Jadi gitu mom, dad." Ucap Damian mengakhiri ceritanya.