
Waktu pun berlalu dengan cepat, kini malam pun tiba. Yuki merenungi apa yang ia perbuat, apakah ia patut lari dari kenyataan. Ia sudah dewasa dan bukan anak-anak lagi, mengapa sekarang ia tak bertanya atau mendengarkan dari berbagai pihak. Mengapa hari itu Damian dan Nira bisa berada dirumah sakit. Apakah memang Damian mengantar Nira kesana atau mereka tidak sengaja bertemu. Cukup lama Yuki berpikir, batinya berperang memikirkan semuanya.
"Huuhhhh." Suara hembusan nafas Yuki. "Ku pikir aku harus kembali besok." Ucapnya pada diri sendiri. "Dan ya aku harus packing dulu." Lanjutnya lalu mengemasi barang-barangnya.
Cukup lama ia membereskan barang-barangnya, ya walau tak terlalu banyak. Ia hanya mengemasi barang-barang yang ia bawa sebelumnya. Tidak lupa ia memasukkan beberapa cemilan yang mungkin ia butuhkan saat diperjalanan.
"Hmm hari sudah sangat larut, besok pagi saja aku bilang pada Oma dan opa bahwa aku akan pulang." Ucapnya berucap pada diri sendiri.
"Apa mas Dami mencariku sekarang, atau aku yang terlalu berharap ia mengkhawatirkan aku dan anakku." Gumamnya pelan dengan pikiran yang berkecamuk di otaknya tak lupa tangannya terulur mengelus perutnya yang sedikit buncit.
"Sayang mommy tak tau apakah mommy benar atau salah sekarang. Tapi seadanya terjadi sesuatu yang tak kita harapkan nanti maafkan mommy yang mungkin egois." Ucapnya lagi, tangannya masih mengelus perutnya.
Yuki masih terus berpikir apa saja kemungkinan yang mungkin saja terjadi saat ia kembali kerumahnya. Rumah tempat ia dan Damian selama ini.
Di kota lain tepatnya di rumah Yuki dan Damian yang tengah frustasi mencari keberadaan istrinya yang tak ketemu. Sampai ketukan pintu terdengar digendang telinganya. Penampilannya yang berantakan dan lusuh, sungguh ia terlihat tak terawat sekarang.
"Ada apa." Tanya tanpa menongak.
Sedangkan orang yang baru saja masuk tanpa dipersilahkan masuk itu hanya menunduk. Bukan berniat tak hormat, masuk tanpa dipersilahkan. Tapi Damian tidak akan mengatakan masuk pada orang yang ada di luar dia hanya diam.
"Maaf tuan, saya hanya ingin menyampaikan bahwa nona Yuki sek...." Ucapan Orang itu terpotong.
"Dimana istriku." Tanya Damian saat mendengar nama istrinya.
"Nona sekarang berada dikampung tuan, bersama Oma dan opanya." Ucap orang itu cepat.
"Sekarang juga kita kesana." Ucap Damian tanpa mau dibantah.
"Baik tuan." Jawab Bik, ya orang itu adalah Bik orang kepercayaan Damian.
Dengan cepat Bik sudah mengurus semuanya, padahal hari sudah sangat malam. Jam sudah menunjukan pukul 02:47 dini hari.
"Untung upah gue gede disini kalau ngak mana sanggup kerja 24 jam nonstop seperti ini." Batin Bik.
Ya, Bik juga manusia yang bisa mengerutu dan punya rasa lelah.
Sedangkan didesa Yuki tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Pikirannya gamang, hatinya bimbang memikirkan keputusan apa yang akan ia buat saat bertemu Damian nanti. Jam sudah menunjukkan pukul 04:50 dini hari. Ia beranjak dari ranjangnya lalu menuju dapur untuk membuat sarapan untuk mereka semua.
__ADS_1
"Kurasa aku harus menyibukkan diriku sendiri agar aku bisa tenang, mungkin dengan menyibukan diriku aku bisa lupa dengan pikiranku." Gumam Yuki memulai pekerjaannya.
Tak lama Oma Patmawati datang menghampiri Yuki, tapi Oma hanya mengamati apa yang dilakukan Yuki. Ia takut mengagetkan cucunya itu terlebih lagi Yuki sekarng tengah memegang pisau. Setelah mengamati Yuki cukup lama dan apa yang Yuki kerjakan selesai Oma Patmawati mendekat.
"Cucu Oma masak apa hmmm." Tanya Oma Patmawati.
"Astaga Oma ngagetin aja." Ucap Yuki terkejut.
"Huh untung Oma cuman diam aja tadi, coba kalau Oma ngomong dari tadi bisa-bisa kamu nusuk Oma pake pisau." Ujar Oma Patmawati berucap.
"Oma bisa aja melebih-lebihkan, Yuki ngak gitu juga." Ucap Yuki mengelak.
"Ya udah iya, tadi masak apa sayang." Tanya Oma Patmawati sekali lagi.
"Oh ini Oma, Yuki masak nasi goreng sama buat ikan tumbuk." Ucap Yuki ngasal.
"Issh kamu ini sayang." Ucap Oma Patmawati.
"Eh ada apa ini rame-rame tidak mengajak opa." Ucap Opa Dani yang baru saja ikau bergabung.
"Oma sangat jahat tidak ingin berbagi dengan opa." Ucap Opa Dani cemberut.
Sedangkan Yuki hanya terkikis mendengar penuturan kedua orang tua yang ada dihadapannya saat ini.
Setelah suasana kembali tenang dan ya mereka semua makan dengan nikmat. Suasana yang tenang tanpa ada yang berucap. Setelah menghabiskan semua makanan yang ada diatas meja Yuki masih belum beranjak hanya opa Dani yang siap-siap membersihkan semuanya.
"Opa tunggu dulu." Ucap Yuki menahan opa Dani.
"Kenapa sayang ada yang ingin kamu ucapkan." Tanya Oma Patmawati saat melihat gelagat Yuki.
"Cucu opa ingin mengatakan apa." Tanya opa Dani tak kalah penasaran.
"Hhmmm, Yuki akan pulang hari ini." Ucap Yuki, ia merasa berat untuk mengatakan bahwa ia pulang kerumahnya. ia sungguh merasa nyaman ditempat ini sekarang tapi masalahnya harus diselesaikan.
"Hey itu semua sudah jadi keputusanmu sayang, tapi mengapa terdengar begitu mendadak." Tanya Oma patmawati sedikit heran.
"Hey Oma, mengapa berucap demikian." ucap Opa Dani. "Jika demikian Oma dan opa bisa apa, kamu sudah berkeluarga nak, dan suamimu tak ada disini pasti dia merindukanmu." Tutur opa melanjutkan ucapnya.
__ADS_1
"Ingat sering-seringpah kemari nanti." Ucap Oma Patmawati.
"Opa akan membersihkan ini semua dulu, Oma bantu cucu kita mengemas bawaannya." Ucap Opa Dani sebelum ia beranjak dari meja makan menuju dapur kotor.
"Ayo sayang." Ajak Oma Patmawati.
"Kemana Oma." Tanya Yuki heran.
"Hey, mengemasi barang-barangmu sayang." Jawab Oma Patmawati.
"Tidak perlu Oma, semuanya sudah Yuki siapkan." Jawab Yuki.
Setengah jam kemudian opa Dani, Oma Patmawati, dan Yuki pergi menuju bandara terdekat untuk mengantar Yuki ke cemaran tempat Yuki sebelumnya.
"Opa, Oma Yuki berangkat ya." Ucap Yuki saat ia akan berangkat.
"Iya sayang sering-seringlah kemari." Ucap Oma Patmawati diiringi air mata.
"Mengapa Oma menangis, bukankah ini bukan yang pertama kalinya Yuki berangkat dari sini dan biasanya Oma tidak seperti ini." Ucap Opa Dani terheran-heran melihat Oma Patmawati.
"Ya Oma tak perlu menangis, Yuki juga ingin menangis sekarang." Ucap Yuki menghapus air mata Oma Patmawati.
Setelah melewati suasana haru yang terjadi, sekarang pesawat yang ditumpangi Yuki sudah terbang melintasi awan.
Satu jam berlalu setelah kepergian Yuki Oma Patmawati yang tengah membaca buku diruang keluarga dikejutkan dengan kedatangan Damian yang baru saja menyapanya.
"Eh, cucu Oma kok kemari, padahal istrimu baru saja berangkat, paling baru satu jam lebih." Ucap Oma Patmawati.
Mendengar hal itu mata Damian ingin keluar dari tempatnya, istrinya baru saja pulang dan ia hanya terlambat satu jam. Rasanya ia ingin sekali berteriak jika orang yang dihadapannya bukan Oma Patmawati.
"Oh jika demikian Oma, nampaknya Dami harus kembali sekarang juga." Ucap Damian yang bersiap untuk pergi lagi.
"Loh, ngak minum dulu atau bebersih dulu nak." Tanya Oma patmawati menawarkan.
"Sepertinya tidak usah Oma, Dami akan kembali sekarang. Takutnya Yuki mencari Dami jika ia pulang kerumah Dami tidak ada dirumah." Ucap Damian mencari alasan yang tepat untuk menolak.
"Ya baiklah nak, jika itu yang kamu mau hati-hati ya nak." Ucap Oma Patmawati, setelah Damian pamit pulang.
__ADS_1