Anakku (Mu)

Anakku (Mu)
10. El


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat tidak terasa 3 tahun telah berlalu. Seorang anak lelaki berlari kearah Yuki.


"Mom, I pulang." Teriak anak kecil itu, sambil berlari.


"Hey nak El tidak boleh berlari nanti jatuh." Teriak ibu Oy memperingati.


Baru saja ibu Oy selesai berucap, benar saja, anak itu terjatuh tersandung kakinya sendiri. Yuki yang mendengar tetiakan ibu Oy, langsung berlari dari dapur menghampiri sang anak.


"El, mom sudah sering bilang tidak boleh berlarian sayang, lihat El jatuh sekarang." Ucap Yuki pelan-pelan memperingati sang anak, sambil mengelus lututnya yang terlihat memar. Sesekali ia meniup lutut anaknya, agar rasa sakitnya hilang, ya walaupun tidak terlalu berfungsi.


"Maaf mom, I janji ngak ngulangin lagi." Jawab El sambil menunduk, tanganya saling memilin.


"Iya mom maafin, tapi lain kali El ngak boleh lari lagi ya, untung sekarang resto ngak serame biasanya." Ucap Yuki masih menggingatkan El.


Ya kini kedai Yuki sudah semakin besar dan menjadi resto yang sudah memiliki beberapa cabang. Rasa khas dari masakannya kian hari membuat pengunjung silih berganti, sehingga tanpa diduga ia bisa membuka beberapa cabang baik di dalam negeri maupun luar negeri.


"Ya mom." Jawab El masih menunduk.


Yuki mengangkat wajah putranya agar menatap kearahnya.


"Ada yang ingin El katakan, sama mom." Tanya Yuki melihat gelagat sang anak.


"Yes mom, I boleh liburan ke negara (Xx) ketika liburan semester ini." Tanya El yang sudah bersekolah.


"Mmmm emang El pengen bangat ke negara (Xx). Tanya Yuki. "Kalau El pengen kesana El harus juara kelas, bisa." Tanya Yuki memastikan.


"Sure mom." Jawab El dengan yakin.


Yuki menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, jujur kembali ke kota kelahirannya bukan suatu hal yang mudah baginya. Terlalu banyak ingatan pahit disana, walaupun banyak hal bahagia juga disana. Namun yang pling membekas dalam ingatannya adalah rasa sakit. Seakan disana hanya menyimpan banyak luka, padahal jika diingat juga banyak hal menarik dan membahagiakan disana. Rasa bahagia yang dirasa akan tertutup rasa sakit, saat rasa sakit itu terlalu besar dari bahagia yang pernah tercipta. Otaknya terlalu mendokrin rasa sakit yang terasa dari pada rasa bahagia yang pernah tercipta.


"Oke." Jawab Yuki pasrah pada kenyataan, bahwa ia kemungkina akan kembali ke kampung halamannya meski hanya beberapa saat.

__ADS_1


"Mom, I masuk kedalam ya, mau kekamar bobo siang." Ucap El meminta izin dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Iya sayang, nanti mommy bangunin El kalau kita pulang kerumah." Jawab Yuki, ia pun juga kembali kedapur untuk mengawasi pekerjaan karyawan. Sesekali membantu mereka melakukan apa yang menurutnya perlu bantuannya.


Ditempat lain, Damian baru saja turun dari jet pribadinya. Hari ini ia ada pertemuan di negara (xx) di negara tempat Yuki berada sekarang. Bisnisnya semakin berkembang, namun berbanding terbalik dengan sikapnya yang semakin tak tercapai. Ia semakin dingin, arogan dan semakin sadis dalam bertindak.


"Bik, semua siap." Tanya Damian dengan serius.


"Ya tuan, kita akan menginap di hotel P, tapi sebelum itu kita ada meeting dengan klien di restoran Z. Tiga puluh menit lagi, klien sudah menunggu anda saat ini." Ucap Bik panjang lebar.


"Kita berangkat sekarang." Perintah Damian.


Tanpa menunggu lama mereka langsung menuju restoran Z. Dengan kecepatan diatas rata-rata dan jalan yang mulus tanpa macet, mereka tiba di restoran Z lebih cepat sepuluh menit dari waktunya. Damian berjalan dengan gaya coolnya yang membuat banyak wanita histeris melihatnya.


"Tuan di sebelah sini." Ucap Bik, menurun Damian menuju ruang VIP yang dipesankan klien.


Tanpa banyak bertanya Damian mengikuti arah yang ditunjukan oleh Bik. Hingga mereka tiba ditempat yang disiapkan klien, dan benar saja seperti yang diucapkan Bik tadi saat mereka masih dibandara. Bahwa klien sudah menunggu mereka. Setelah mengobrol banyak hal tentang negosiasi bisnis, mereka akhirnya mencapai titik tentang kesepakatan kerja sama yang akan dilakukan.


"Saya juga senang bekerjasama dengan anda tuan." Jawab Damian.


Setelah kesepatakan kerja sama yang terjalin, mereka semua meninggalkan ruangan tersebut. Dari dalam sebuah ruangan yang terbuka pintunya, Muncul seorang anak. Anak itu terlihat terburu-buru untuk keluar dari ruangan tersebut. Hingga tanpa sengaja anak itu menabrak Damian yang juga sedang melihat ponselnya. Bruakkkkk, suara ponsel mahal Damian jatuh kelantai. Wajah Damian langsung berubah memerah siap memarahi orang yang menabraknya.


"Ma-maaf tuan, El tidak sengaja." Ucap El sambil menunduk, tangannya memilin jari-jarunya.


"Hay, nak mengapa kamu terlihat buru-buru." Tanya Bik, ia angsung mengambil ponsel Damian yang terletak dilantai. Sedangkan Damian menatap dari atas sampai bawah.


Ada yang mengganjal dihatinya saat melihat anak itu, seketika kemarahannya meluap saat melihat wajah takut El. Ada rasa aneh yang hinggap di hatinya saat melihat El.


"Ma-ma-af tuan-tuan El ingin segera menemui mommy supaya cepat pulang." Ucap El, ia mengangkat wajahnya untuk menatap kedua orang yang ada dihadapannya.


"Hey nak, namamu El." Tanya Damian seketika.

__ADS_1


"Ya tuan namaku Gamaliel Mar...." El menghentikan ucapannya saat namanya dipanggil.


"Nak El, mommymu menunggumu dimobil." Ucap Bu Oy. "Maaf tuan-tuan apa nak El membuat kesalahan." Tanya ibu Oy, saat melihat kedua pria yang ada dihapannya dan El saat ini.


"Ibu Oy, jangan katakan pada mommy, El tidak sengaja menabrak om ini." Ucap El menunjuk ke arah Damian dengan jari kecilnya. "El bersalah, hinggap ponsel om ini terjatuh." Ucapnya mengaku kesalahannya.


Sedangkan Damian dan Bik melihat apa kelanjutan dari drama kecil yang tercipta dihadaan mereka saat ini.


"Huhf, Bu Oy akan katakan pada mommy, agar mommy tanggung jawab." Putus Bu Oy.


"Tapi Bu Oy, nanti El akan dimarahi mommy." Ucap El, ia memasang muka memelas.


Melihat muka El yang sangat menyedihkan ibu Oy terlihat pasrah.


"Hugh, baiklah nak El bibi tidak akan bilang mommy, asal nak El bertanggung jawab dengan om ini." Ucap Ibu Oy pasrah. "Apa yang akan nak El lakukan." Tanya ibu Oy lagi.


"Om, El minta maaf dan ini uang saku El yang tersisa, untuk sisanya El bayar jika bertemu om lain waktu." Ucap El, menyerahkan beberapa lembar uang.


"Kalau gitu om bisa menganggap ini utang El." Tanya Damian.


"Ya, om bisa menagih El kapanpun, El akan datang." Ucap El menirukan gaya super Hero yang ia tonton biasanya.


"Hahaha baiklah." Tawa Damian, saat melihat tingkah El yang ia anggap lucu.


"Tuan bos nampaknya terkena virus nih, biasanya juga ngak gini, ini tidak terlalu lucu malah tertawa. Padahal giliran nonton komedi aja ngak pernah ketawa beberapa tahun ini." Batin Bik, memgatai Damian.


"Om El, pergi dulu ya ini nomor telpon El." Ucap El menyerahkan secarcik kertas.


Damian terdiam melihat nomor ponsel yang diberikan El, ternyata anak itu sama dengan anak sepantarannya yang tidak jauh dari gadget. Tapi seakan sudah terlalu dewasa untuk anak seumurannya, ia memperlihatkan sikap tanggung jawabnya.


"Padahal ponsel bos baik-baik saja." Ucap Bik, membolak-balikan ponsel Damian yang ada ditangannya. "Ingat tuan bos, jangan memanfaatkan bocah itu." Ucap Bik mengingatkan.

__ADS_1


"Kita kehitel Bik." Ucap Damian tanpa menghiraukan ucapan Bik.


__ADS_2