
Seorang perempuan hamil terlihat kelelahan membawa barang belanjaannya menuju taksi yang ia pesan. Perutnya yang lumayan besar membuatnya tak segesit biasanya.
"Huhhh capek bangat, gini ya rasanya jadi mamah dulu pas hamil aku. Ternyata pengorbanan seorang ibu sangat besar." Keluhnya pada diri sendiri.
Tak lama terlihat supir taksi yang datang mendekatinya, pak supir menawarkan diri untuk membantunya.
"Makasih ya pak." Ucap Yuki ia tak menolak saat bapak supir menawarkannya bantuan, sungguh ia sangat butuh bantuan saat ini.
"Iya, sama-sama Bu." jawab pak supir.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, kini Yuki tiba di sebuah rumah, ralat bukan rumah pribadi tapi rumah sewa yang ia jadikan rumah makan. Hampir 6 bulan lebih ia tinggal dirumah makan ini seorang diri, mengurusnya sendiri. Tapi sekarang ia sangat butuh bantuan seorang pegawai, mengingat kandungannya semakin hari semakin besar. Apalagi rumah makannya sekarang lumayan ramai dari sebelumnya.
"Apa aku buat selebaran aja untuk cari karyawan." pikirnya. "Kurasa memang ia sih, kalau gitu aku buat dulu deh kayanya." Putusnya setelah memikirkannya dengan matang.
Ditempat lain Damian terlihat memarahi karyawannya hanya karena hal sepele. Emosinya meledak-ledak jika ada yang berbuat kesalahan, baik itu kesalahan kecil apalagi kalau besar.
"Ku ras tuan harus secepatnya bertemu pawangnya." Gumam Bik. "Kalau begini terus aku saja bisa mati dibuatnya." Gumamnya pasrah.
"Bik." Suara Damian mengema di ruangan tersebut. "Apa kamu ingin mati benaran." Tanya Damian kesal, ia mendengar gumaman Bik.
"Kurasa tidak." Jawab Bik cepat.
"Apa kamu sudah menghubungi mertuaiu hari ini, orang tuaku dan Oma opa." Tanya Damian, hal itu sudah menjadi kebiasaan ya sekarang.
Sejak Yuki meninggalkannya Damian tidak pernah luput menanyai kabar orang-orang terdekatnya. Sebab ia jarang berada dirumah, hampir 24 jam ia hanya berada di kantor. Ia sudah seperti robot srkarang, kerja kerja dan kerja hanya kerja yang ada di otaknya.
"Sudah tuan." Jawab Bik.
"Lalu setelah ini apakah masih ada meeting." Tanya Damian.
"Iya tuan hari ini kita meeting dengan perusahaan (++) tuan, jam 13.00 di cafe (-)." Jawab Bik.
"Baiklah ayo berangkat, dan ia perempuan yang membuat kepergian istriku apa kabar." Tanya Damian.
"Tumben tuan nanya biasanya juga b aja sih." Tanya Bik.
"Bik kamu sungguh ingin mati sekarang." Tanya Damian dengan nada suara yang berubah mencekam.
"Ah tidak aku masih lajang tuan aku masih belum menikah, dan kabar perempuan itu sangat buruk." Jawab Bik cepat.
"Jangan biarkan dia menghirup udara segar, aku sungguh muak hanya mendengar namanya." Ucap Damian dari nada bicaranya jelas ia sangat tak menyukai orang yang mereka bahas.
__ADS_1
Banyak hal yang berubah dalam hidupnya setelah kepergian sang istri orang yang dulu ia sayang adalah orang yang paling tak ingin ia lihat. Nira Yunanda perempuan cantik nan baik di mata Damian, itu dulu sebelum kepergian sang istri. Orang yang ingin selalu ia lindungi dan sayangi, tapi kini hanya tersisa benci. Ia sangat membenci Nira, bahkan saat namanya terucap dihadapannya adalah hal yang fatal baginya. Seakan nama itu adalah najis baginya.
"Aku tau." Jawab Bik.
"Kau benar-benar ingin aku bunuh ya Bik." Kesal Damian.
"Kurasa tidak." Jawab Bik dengan santai. "Bahkan aku sudah berulang kali mengatakannya." Lanjutnya lagi.
"Terserah kau saja Bik, aku sangat pusing sekarang." Keluh Damian. "Jangan seperti siput Bik kita akan terlambat untuk meeting nantinya." Peringat Damian, sekarang seakan mereka yang bertukar posisi, seharusnya Damian yang diingatkan bukan dia yang mengingatkan bawahannya.
"Ayo." Jawab Bik dengan semangat.
"Bik." Teriak Damian kesal.
"Apa, aku rasa aku tak melakukan kesalahan dari tadi kenapa aku seakan-akan melakukan hal yang salah." Tanya Bik dengan kesal.
"Hey lihat tingkahmu ini sangat mengesalkan seharusnya aku yang kesal padamu kenapa sekarang kamu yang kesal." Tanya Damian tak kalah kesal.
"Ya, ku rasa aku yang salah, atasan tidak pernah salah, dan yang selalu salah adalah bawahan." Sindir Bik.
"Hey tak usah menyindirku seperti itu." Kesal Damian. "Dan ya ingat selalu membawa cermin untukmu berkaca Bik. Bukan hanya itu ingatanmu juga harus di refresh ulang nampaknya ingatanmu mulai pikun sekarang." Kata Damian.
"Dasar bos gila, kurasa aku memang harus secepatnya mencari nona."Umpatan Bik dengan bergumam.
"Hah, apakah dia memiliki ninjustu sekarang." Keluh Bik.
"Bik." Ucap Damian.
"Iya-iya." Jawab Bik cepat.
Setelah melalui pembicaraan yang non faedah kini keduanya sudah tiba di cafe yang disepakati.
"Bik tanyakan kaliennya tiba jam berapa katakan kita tak punya banyak waktu hanya untuk menunggunya." Perintah Damian saat ia tak menemukan seorang pun di room yang sudah dipesan.
"Katanya sebentar lagi tiba." Jawab Bik.
"Iya yang sebentar itu berapa lama lagi Bik, kalau dalam 5 menit mereka belum juga tiba kita pulang saja." Putus Damian.
"Kurasa dia semakin bawel saja." Keluh Bik.
"Bik." Tegur Damian.
__ADS_1
"Iya bos ini aku." Jawab Bik.
"Kurasa kamu memang semakin kurang aja Bik." Ungkap Damian.
"Kurasa tidak." Jawab Bik.
Ketika Damian ingin menyahuti ucapan Bik, pintu ruangan tersebut terbuka. Muncul perempuan cantik yang terlihat anggun dan berkharisma.
"Maaf tuan-tuan saya terlambat, apakah kalian menunggu lama." Tanya Perempuan itu.
"Ya langsung pada intinya." Jawab Damian.
Perempuan itu langsung mendudukan bokongnya di bangku kosong yang ada dihadapannya.
"Jadi begini tuan, dan bla-bla. Ucap perempuan itu menjelaskan sekali-kali terlihat ia curi-curi pandang pada Damian.
"Emang damage bos beh, tak bisa tertandingi, lihat saja perempuan cantik itu selalu meliriknya." Gumam Bik.
"Bik kamu yang urus, jangan selalu bergumam." Ucap Damian, lalu ia dengan santainya meninggalkan tempat itu. "Aku tunggu di mobil." Jawabnya menepuk punggung Bik.
Damian tidak bodoh ia tau tatapan itu, ia sering menemuinya apalagi saat orang-orang tau bahwa istrinya meninggalkannya. Tatapan menginginkannya, ia sudah bosan melihat itu setiap harinya. Bukan ingin bersikap sombong, ia hanya menghindari itu semua, hati dan pikirannya hanya terisi oleh sang istri.
Ditempat lain, lebih tepatnya di rumah makan yang setiap hari semakin ramai, membuat ibu hamil itu kewalahan. Sudah beberapa hari ini ia mencari pegawai, namun ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Tampak dari pintu masuk muncul seorang ibu yang terlihat lusuh.
"Nak apa benar tempat ini mencari pegawai." Tanya ibu itu.
"Iya Bu betul." Jawab Yuki.
"Saya ingin melamar menjadi pegawai." Jawab ibu itu. "Maaf saya tidak membawa berkas, tapi saya butuh uang untuk saat ini." Lanjut ibu itu.
"Baiklah ibu saya terima, saya sangat butuh karyawan sekarang Bu." Jawab Yuki tanpa pikir panjang.
"Apa saya boleh mulai bekerja hari ini." Tanya ibu itu lagi.
"Bisa, malah sangat bisa sekali." Jawab Yuki. Oh iya nama ibu siapa." Tanya kembali.
"Panggil saja ibu Oy." Jawabnya.
"Baik ibu Oy, mmm begini mengenai gaji anda kita sepakati sekarang saja. Apakah ibu Oy ingin saya bayar per hari, per Minggu atau perbulan, nah bagaimana ibu Oy." Tanya Yuki.
"Apakah boleh saya menerima gaji saya per hari untuk sekarang. "Tanya ibu Oy."
__ADS_1
"Ya tentu Bu Oy." Jawab Yuki. "Jadi kita sepakat gaji ibu Oy akan saya beri sepulang kerja." Jawab Yuki dan diangguki ibu Oy.
Setelah itu keduanya kembali melanjutkan pekerjaan, ibu Oy khusus untuk melayani sementara Yuki merangkap menjadi chef dan kasir sementara ini. Sebab ia masih belum menemukan sosok kasir yang tepat.