Anakku Adalah Anak Adik Ku

Anakku Adalah Anak Adik Ku
Pernikahanku


__ADS_3

Namaku Anita, seorang gadis berumur 23 tahun, Aku berasal dari sebuah dusun yang sangat jauh dari kota.


Saat ini aku lagi bahagia sekali sebab sebentar lagi statusku akan berubah.


Ya, aku akan menikah tepatnya 2 hari lagi.


Rumah sudah di dekor, semua persiapan sudah hampir rampung.


Aku sendiri lagi melakukan perawatan di sebuah salon yang ada di kota. Sebab di dusun ku salon belum ada.


Hari yang di nanti pun tiba, Aku mau melaksanakan ijab kabul. Aku menunggu dengan hati yang tidak menentu.


Satu jam, dua jam rombongan calon pengantin pria belum juga muncul. Hati mulai bimbang ada apa gerangan.


" Ya Allah selamatkan lah rombongan Pengantin ku " doa ku dalam hati.


Semakin lama semakin kacau, tamu tamu sudah pada gelisah.


Tiba tiba ada yang datang dan mencari orang tua ku. " selamat siang, apa betul disini rumahnya Pak Kardi " tanya seorang yang berseragam Polisi itu.


" Betul Pak saya sendiri " jawab bapak ku.


" Pak saya mau menyampaikan berita duka, bis yang membawa rombongan pengantin mengalami kecelakan beruntun " ucap Polisi tadi.


Aku audah tidak bisa mendengar apapun gelap sudah.


Aku tidak ingat apa apa, setelah berapa lama aku terbangun, entah dimana.


Saat kulihat, ibu ku lagi menangis di pinggir tempat tidur ku.


" Sudah bangun sayang?" tanya Ibuku.


" Bu ada apa, kenapa aku disini ?" tanyaku sebab aku masih bingung nyawaku belum ngumpul.


" Sayang tenang dulu ya, tadi kamu pingsan " jawab Ibuku.


Aku tidak mengerti kenapa aku pingsan. Namun beberapa menit kemudian semua teringat kejadian yang tadi pagi.


Aku mau menikah, dan tanpa terasa air mataku jatuh tak tertahankan, sekalipun aku tidak tau nasib Mas Aslan calon suami ku bagaiman.


" Bu, gimana kabarnya Mas Aslan?" tanyaku.


" Sayang semua lagi di cari infonya, sebab tadi hanya mengabarkan kecelakaan saja dan kita tidak tau Aslan ada di mobil yang mana " jawab Ibu ku .


" Bu aku ingin kesana ingin memastikan sendiri gimana keadaan Mas Aslan" ujarku sebab aku tidak bisa menunggu seperti ini.


" Badan mu kurang sehat, kita tunggu sebentar lagi pasti Bapak telpon " ucap Ibu ku menenangkan ku.


Tidak lama kemudian telpon Ibu berdering.


Ibu dengan gesit langsung mengangkatnya.

__ADS_1


" Halo pak " ucap Ibu.


" Bu, Anita gimana, sudah sadar belum ?" tanya Bapak yang masih khawatir kepada ku.


" Sudah Pak, gimana Pak tentang keluarga nak Aslan?" tanya Ibu tidak sabar.


" Nak Aslan belum siuman, Alhamdulillah semua selamat, cuma luka luka saja " jawab Bapak.


" Kalau begitu boleh Ibu sama Anita kesana?" tanya Ibu, sebab dari tadi aku ngomong pake isyarat sama Ibu, biar Ibu tanya sama Bapak agar aku bisa kesana.


" Lihat Anita nya , kalau dia sehat ya sok, mumpung masih siang" jawab Bapak.


Aku bersorak dalam hati sebab Bapak memperbolehkan aku ketemu Mas Aslan.


Singkat cerita sampailah di rumah sakit yang cukup jauh dari dusunku.


Disana masih banyak keluarga Mas Aslan yang pada selamat, dan tidak mendapatkan luka.


Pas melihat aku, semua menghambur memelukku. Mungkin mereka prihatin karena aku gagal nikah.


Aku melepas pelukan mereka satu persatu, dan aku pamit ingin melihat calon Suamiku itu.


Ternyata yang paling parah dari semuanya adalah Mas Aslan sebab dia posisinya di depan di sisi sang supir.


Mas Aslan yang paling parah mukanya terkena pecahan kaca, dan kakinya juga terjepit.


Aku melihatnya tidak tahan, muka nya dibalut perban yang tersisa hanya matanya saja. Kakinya di giv, tangan dan badannya penuh perban.


Aku hanya bisa melihat dari luar saja, air mataku mengalir deras.


Kakaknya Mas Aslan namanya Mas Prima, dia seorang CEO di satu perusahaan garment. Aku bekerja sebagai staf biasa disana. Intinya calon kakak iparku itu adalah bos ku.


Saat aku lagi memandangi Mas Aslan datanglah Mas Prima dia tiba tiba memelukku, mungkin dia mau menenangkan ku. Tapi Aku tidak suka dengan caranya main peluk peluk aja.


" Sabar ya Nita, Aslan pasti sembuh " ucapnya.


" Iya, Mas semoga " jawabku.


Aku bingung harus ngomong apa sama Mas Prima dia itu pria kaku, sorang Duda yang arogan, aku sebenarnya aku tidak suka sama dia, sebab galak orangnya.


Tidak lama kemudian Dokter masuk ke ruangan Mas Aslan. Dan memeriksa Mas Aslan.


Dokter memanggil Mas Prima dan mereka bicara dengan serius. " Semuanya sudah stabil cuma pasien belum melawati masa kritisnya, tunggu beberapa jam lagi " itu kata Dokter tadi.


" Ko aneh ya, katanya sudah stabil tapi masa kritis belum lewat" aku bicara sendiri dalam hati.


Setelah menunggu beberapa lama, Mas Prima masuk ke ruangan Mas Aslan, Aku tidak bisa ikut sebab belum di perbolehkan.


Namun tidak lama dari situ, Dokter datang lagi dan beberapa perawat, aku bingung ada apa sebenarnya.


Para dokter sibuk, Mas Prima ke luar sambil menangis. Dia kembali memeluk aku.

__ADS_1


Dalam hatiku aku berkata " kesempatan banget peluk peluk aku terus, Mas Aslan aja belum pernah meluk aku "


Mas Prima terus menangis, aku mencoba menenangkannya, kebalikan harusnya aku yang menangis pilu, dan ditenangkan sama dia.


Ya sudah lah memang mungkin harusnya begitu, orang yang di Kantor bagai singa, eh sekarang kaya kucing minta makan, menghawatirkan banget.


Tidak lama kemudian Dokter dan perawat pada keluar. " Maaf Pak, ada yang namanya Anita?" tanya Dokter tadi.


" Saya Dok " jawab ku singkat.


" Boleh mba masuk, pasien sudah siuman pengen ketemu mba " kata Dokter itu.


Tanpa menjawab sang Dokter aku langsung masuk, tapi belum juga kaki melangkah jauh, kerah bajuku ada yang narik.


" eeeh kamu mau kemana ?" tanya .as Prima, tadi nangis sekarang balik ke setelan pabriknya.


" Mau masuk lah , kan disuruh masuk " jawab ku sedikit jengkel.


" Iya tapi harus ikuti peraturan neng, ganti baju itu " imbuhnya sambil menunjuk baju yang tersedia di situ.


" Oh iya lupa " jawab ku enteng sambil mengambil baju tersebut dan memakainya.


Lantas aku langsung masuk, eh di tarik lagi bajuku, aku gemas juga dengan dia lalu kutanya dengan sedikit menaikan intonasi.


" Apa lagi Mas " ucap ku sebel.


" Ingat kamu jangan membuat dia sedih, kamu tidak boleh menangis di depan dia" ucapnya.


" Siapa dia, ngatur ngatur aku, menangis pun diatur olehnya muak aku jadinya " aku terus ngomong sendiri dalam hati dan melangkah kaki untuk masuk.


Belum juga aku masuk dia berkata lagi " jangan ngedumel, Aku tau loh " katanya lagi.


Sungguh sungguh menyebalkan lebih baik aku tidak mendengarnya sumpah kalau terus dekat dia bisa darah tinggi aku.


Pas sampai ruangan, aku melihat Mas Aslan memaksakan tersenyum padaku, sungguh miris, yang seharusnya hari ini berakhir di ranjang pengantin, ini malah di ranjang Rumah sakit, nasib nasib.


" Mas gimana, mana yang sakit?" tanyaku menghiburnya, aku berdoa dalam hati semoga dia baik baik saja. terus melanjutkan pernikahanku


" Nita maukah kamu memenuhi permintaanku ?" tanya nya.


" Apapun yang Mas minta asal membuat Mas bahagia aku akan memenuhinya, selama aku bisa" jawabku.


" Coba kamu panggil Mas Prima kemari" katanya.


Tidak banyak tanya aku panggil aja si manusia kutub itu.


" Mas, Mas Aslan mau bicara sama Mas " kataku.


Mas Prima langsung masuk tanpa membuang waktu.


Ya .....besok ya lanjutannya biar seru apa yang akan di ucapkan Aslan pada Anita dan Prima.

__ADS_1


Tunggu saja lanjutannya.


Selamat menbaca


__ADS_2