Anakku Adalah Anak Adik Ku

Anakku Adalah Anak Adik Ku
Lamaran


__ADS_3

Hari yang dinanti pun Prima datang kerumahnya Anita dan melamarnya, Orang tua Anita sangat bahagia sekali, kini anak semata wayangnya akhirnya dilamar juga.


Namun disini baik anita ataupun kedua orang tuanya, ada sedikit trauma menjelang pernikahan, masih terbayang kejadian beberapa bulan yang lalu.


Namun Prima meyakinkan dan Prima tidak akan jauh dari rumah orang tua Anita. Dan akad akan dilaksanakan malam ini juga.


Karena khawatir yang berlebih akhirnya Prima meminta orang tua Anita untuk memanggilkan saja penghulu sekalian.


Maka malam ini Anita kini sah menjadi istri dari Prima, tidak ada jamuan yang mewah hanya sekedarnya saja.


Rencana mereka akan mengadakan resepsi setelah 1 tahun pernikahan, alasannya hanya Anita dan Prima yang tau.


Sekarang mereka ada di kamar Anita yang kecil dan sempit, tempat tidur yang hanya cukup buat Anita saja.


Prima duduk di lantai di alasi sebuah karpet plastik, ada satu kegetirannya dalam hati, ternyata istrinya itu sangat sederhana.


Prima bertanya pada Anita karena merasa aneh setiap bulan Anita selalu mendapat gaji yang lumayan, juga bonus tapi melihat kamar Anita sangat tidak layak menurut Prima.


" Anita, kamu tiap bulan dapat gaji, ko kamu gak beli tempat tidur yang agak besar, atau beli karpet yang bagus gitu?" tanya Prima.


" Mas aku gajihan setiap bulan, cuma ngambil secukupnya untuk jajan saja, sisanya aku kasih orang tuaku, buat makan sehari hari, kan Bapak sudah jarang ke sawah sudah tua" jawab Anita.


" Jadi setiap bulan kamu gak pernah beli baju ataupun apa gitu buat mempercantik diri" ucap Prima penuh keterkejutan soal Anita yang menurut dia Anita itu di luarnya sangat lincah dan seperti seneng hura hura ternyata berbanding terbalik dengan keadaan yang di hadapi Prima saat ini.


" Beli Mas kalau mau lebaran" jawab Anita enteng.


" Ya ampun, istriku baik banget, jauh sekali dengan cewe cewe yang dia kenal" batin Prima.


" Dek kamu selama hamil, tidak boleh Mas sentuh, hukumnya haram, kamu ngerti ya, gak papa kan ?" tanya Prima ke Anita ada suatu kekhawatiran dalam diri Prima.


" Mas aku yang minta maaf sama Mas, membuat Mas harus tanggung jawab sama bayi ini" ucap Anita sambil menetap Prima dengan mata yang berkaca kaca.


" Jangan nangis sayang, udah gak apa apa, mungkin ini takdir Mas, tapi kamu juga janji ya mau menyayangi anak Mas juga" ucap Prima.


" Mas punya anak toh, berapa tahun Mas umurnya?" tanya Anita.


" Ada anak laki laki umurnya sekitar 6 tahun Nita, dia anak dari istriku terdahulu" jawab Prima.


Prima tidak ingin berterus terang tentang jati diri Anaknya, dia akan simpan dalam hati selamanya, seandainya Lira tidak membukanya, biarlah Riki menjadi anaknya untuk selamanya.

__ADS_1


" Mas, aku merasa tidak berharga dan berguna untukmu" ucap Anita sendu.


" Kamu tidak boleh berpikiran seperti itu, yang penting kamu patuh sama Suami mu ini kamu akan sangat berharga bagiku juga orang tua mu" ucap Prima lagi.


" Tidurlah kamu sedang hamil jangan sampai kelelahan ya, besok Mas mau ke Jakarta melihat Aslan, apa kamu mau ikut?" tanya Prima.


" Gak Mas aku dirumah saja, Mas apa aku masih boleh bekerja ?" tanya Anita.


" Kamu dirumah saja, itu kan perutmu nanti semakin besar entar kamu malu sendiri" jawab Prima.


" Tapi aku nanti gak bisa ngasih orang tuaku uang untuk keperluan mereka?" tanya Anita lagi.


" Biarlah suami mu ini yang akan menanggung hidup orang tuamu, kalau mau ajak pindah aja ya semua ke rumah Mas, biar kamu tidak kesepian" ucap Prima lagi.


" Coba nanti aku ngomong sama mereka, soalnya mereka gak akan pernah mau kalau bukan dirumahnya sendiri" jawab Anita.


" Ya sudah istirahat ya, selamat tidur" ucap Prima sambil mengecup kening istrinya dengan dalam.


Hati Prima begitu dalam menyayangi Anita karena kepribadiannya yang sedikitpun tidak matre, padahal dia tau Suaminya itu Bos perusahaan namun Anita masih tetep dengan kesederhanaannya.


Begitupun Orang tuanya, tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk memanfaatkan menantunya, malah mereka sangat sungkan kepada Prima.


Namun Prima menerimanya dan merasakannya, dia ikut rasa ketidaknyamanan istrinya saat harus terpaksa tidur di lantai.


Adzan subuh berkumandang, Anita terbangun namun Suaminya sudah tidak ada dikamarnya, ternyata Suami dan Ayahnya pergi ke Mesjid.


Setelah melaksanakan kewajibannya, Anita pergi kedapur untuk membantu Ibunya menyiapkan sarapan buat mereka.


" Bu, mau masak apa?" tanya Anita.


" Ini masih ada Ayam kemarin yang belum di goreng, ibu goreng aja, sama cah kangkung" jawab Ibunya.


" Sini sama aku aja bu dilanjutkan masaknya" ucap Anita sambil mengambil alih memasak.


" Bu, Nita mau nanya boleh?" tanya Anita.


" Tanyalah Nit, apa yang kamu mau tanyakan?"


" Bu, ibu sama Bapak mau gak kalau tinggal sama Nita saja" ucap Anita.

__ADS_1


" Emang kamu mau pindah dari sini ?" tanya Anita.


" Bu, kata Mas Prima kalau perempuan sudah menikah harus ikut Suaminya" jawab Anita lagi.


" Ibu paham soal itu, maksud Ibu apa pindah ke Jakarta" tanya Ibunya.


" Tidak bu, cuma mendekati kantor Mas Prima saja, kan kasihan kalau kesini terlalu jauh, capek bolak baliknya" ucap Anita.


" Oh kirain mau pindah ke Jakarta, ya sudah kalau masih di kampung sini, Ibu gak akan pindah ke rumah Nak Prima" jawab Ibunya.


" Kan masih dekat Nita, bisa kapan saja kamu main kesini" ucap Ibunya lagi.


" Bu, aku mau terus sama Ibu" jawab Nita sambil memeluk Ibunya.


" Nita, kamu sudah punya Suami, sekarang semua tanggung jawab ada pada Suamimu, dan kamu wajib mengikuti kemanapun Suami mu ajak" nasehat Ibunya pada Anita.


" Bu, tapi kalau Nita rindu bolehkan sering sering kesini?" tanya Anita lagi.


Yang pulang dari mesjid pada pulang.


" Assalamualaikum" Prima dan Ayah mengucapkan salam.


" Walaikumsalam" jawab Anita dan Ibu.


Ibu mengambil tangan Suaminya dan menciumnya, Anita melihatnya dengan seksama lalu diapun mengambil tangan Ayahnya untuk di ciumnya.


Prima tidak mau kalah dia memberikan tangan nya untuk dicium istrinya.


Anita mengambil tangan Suaminya dan menciumnya.


Ada rasa hangat yang menjalar di dada Prima, kebahagian itu sederhana saja, dalam hidup yang pas pasan mereka begitu harmonis.


Gambaran keluarga yang bahagia tanpa harta melimpah tapi mereka saling memberikan kasih sayang nya.


Kebahagian tidak bisa diukur dengan harta dan benda, tanpa itu semua asal kita mampu mensyukuri apa yang kita dapat hari ini kebahagiaan akan datang menghampiri kita.


Itulah gambaran kehidupan Anita dan keluarganya, Prima yang hidupnya penuh kesepian kini mendapatkan keluarga yang membuatnya bahagia juga.


" Ayah, sama Nak Prima langsung saja sarapan ya, Nita sudah masak dari tadi, ayo langsung saja " ajak Ibunya Anita.

__ADS_1


Anita langsung menyiapkan sarapan buat semua, dia yang melayani suaminya juga orang tuanya, mereka makan dalam kebahagian yang tidak mampu Prima gambarkan.


__ADS_2