
Setelah bercerai Prima pindah ke sebuah desa dan membangun usahanya disana, Prima merekrut karyawan penduduk desa setempat.
Aslan setelah selesai studinya kembali ke Kotanya dan memegang usaha Prima yang di kota itu.
Suatu waktu Aslan berkunjung ke Kantor Prima dan disanalah dia mengenal Anita yang seorang staf biasa yang energik dan lucu.
Setelah saling mengenal Aslan sering mengunjungi Anita sampai akhirnya memutuskan menikah.
Namun nasib nahas mengharuskan mereka membatalkan dulu pernikahannya.
Aslan sampai saat ini masih belum sadar, dia masih tetap seperti dulu, Aslan seolah ingin istirahat yang lama.
Namun Anita sudah mulai gelisah takut dia harus menjomblo terlalu lama. Di Kampungnya bila umur sudah melebihi 20 tahun belum nikah pasti jadi gunjingan para tetangga.
Prima tau kegelisahan Anita, namun entah kenapa kalau ketemu rasa kasihan itu lenyap berganti dengan rasa ingin marah saja.
Seperti saat ini, saat masih di rumah sakit.
" Nit mau pulang engga, atau mau nginep disini sama kekasihmu itu?" tanya Prima.
" Pulang lah Pak, besok kan kerja, nanti kalau tidak kerja dipecat sama Bos galak di Pabrik Ku itu " jawab Anita sewot.
" Emang kamu pantasnya di pecat" balas Prima.
" Pecat saja, besok juga saya mau cari tempat kerja yang lain" ungkap Anita.
" Silahkan emang ada gitu yang mau menerima cewek rese kaya kamu" seru Prima lagi.
" Enak aja ngatain cewek rese, Bapak tuh yang kurang piknik" jawab Anita Lagi.
Mereka kalau ketemu pasti ribut, belum pernah sekali saja akur, entah kenapa.
Prima pergi begitu saja, Anita baru sadar setelah Prima jauh melangkah.
Anita mengejar takut di tinggal, bahaya kampung dia itu jauh dari kota, kalau ditinggal dia bisa pulang besok.
Anita berlari lari ngejar Prima. Sementara Prima melangkah dengan pasti tanpa melihat kebelakang.
Padahal hati hatinya ingin tertawa melihat kelakuan Anita yang berlari lari nyusul dia.
Prima melangkah dengan langkah lebar, sementara Anita tidak sanggup mengejarnya kalau tidak berlari.
Setelah sampai di parkiran mobil, Anita mendahului Prima, dia dengan anggunnya masuk di belakang dan langsung duduk menyenderkan kepalanya, dan memejamkan matanya.
Semua itu membuat Prima geram. " Anita, kamu anggap aku ini supir kamu ya?" ucap Prima sambil naha rasa dongkol pada Anita.
" Bapak kan memang nyupirin mobil Bapak, kenapa nanya saya" jawab Anita enteng.
__ADS_1
" Nita pindah engga, kalau engga mau pindah aku kebelakang habis kamu aku makan" ancam Prima.
Anita dengan tergesa pindah ke depan tanpa membuka pintu, jadi dia pindah lewat dalam.
Prima sambil melongo melihat kelakuan Anita.
" Astagfirullah, Nita kamu tuh kaya tidak punya adab ya, masa pindah lewat situ" ucap Prima.
" Sama saja yang penting kan pindah, Bapak sangat rese, segala dipermasalahkan ' sahut Anita.
" Ayo Pak cepat keburu malam, aku takut nanti pas lewat hutannya" ucap Anita lagi.
prima sudah lelah berdebat dengan Anita, maka diapun langsung masuk mobilnya dan menjalankan mobilnya itu.
Disepanjang perjalanan Anita tidur sambil nganga mulutnya, sekali kali dia ngorok.
Dan yang paling parah kepala dia jatuh ke bahunya Prima, Anita terus cari posisi ternyaman nya. Dia pikir tidur di kamar nya kali.
Prima jadi sedikit tidak berkonsentrasi. Anita terus aja ngedusel dusel Prima. Pada akhirnya Prima menepikan dulu mobilnya, supaya Anita bisa tidur dulu dengan nyenyak dan nyaman.
Prima juga ikut memejamkan mata, dia istirahat sebentar, dia takut kelelahan dan celaka.
Waktu sudah menunjukan jam 10 malam.
Anita belum juga sampai rumahnya. Orang tuanya sudah sangat gelisah.
Prima terjaga duluan, sementara Anita masih ngorok sudah gitu ngiler lagi kena baju Prima.
" Ya ampun jorok sekali ni cewe, ko bisa ya Aslan suka padanya" kata Prima dalam hati.
Prima mencoba membangunkan Anita.
" Nita bangun, udah malam, ayu kita lanjutkan perjalanan " ucap Prima.
" Nita kalau kamu tidak bangun, aku turunkan kamu disini, dan aku tinggal pergi" ucap Prima lagi.
Anita mendengar mau diturunkan langsung bangun dan mengelap mulutnya.
Dan tanpa tau malu dia seolah tidak melakukan kesalahan, dia langsung aja memerintah Prima.
" Ayo jalan, aku sudah bangun nih" seru Anita.
Prima menjalankan mobilnya sambil bicara dalam hatinya" bener bener engga ada jaim jaimnya, sudah ngiler, ngorok, engga minta maaf lagi, malah main perintah saja, ko ada ya perempuan model begini'
" Pak jangan suka ngedumel dalam hati nanti cepet tua" ucap Anita dengan nada datarnya.
Prima hanya mampu geleng kepala, sudah malas berdebat dengan seorang Anita, sebab tidak akan pernah menang.
__ADS_1
Sepanjang jalan Prima hanya diam dan berkonsentrasi. Sementara Anita bernyanyi.
Mending suaranya bagus, sudah cempreng, fals juga.
Prima ingin nyuruh diam, tapi dipikir lagi dari pada ngantuk lebih baik dia nyanyi walaupun suaranya kaya kaleng rombeng juga.
Akhirnya sampai juga, Jam menunjukan 11.30, Ayah Anita cepat keluar setelah mobil berhenti dihalaman rumahnya itu.
Dan menyambut anak yang bik. khawatir itu.
" Assalamualaikum" Anita mengucap salam.
" Walaikumsalam" jawab Ayahnya Anita.
" Sayang kenapa sampai malam banget Ayah kan jadi kuatir" ucap Ayahnya.
" Tadi aku tidur dulu di jalan, Dan Pak Prima juga ikut tidur ya istirahat sebentar takut nabrak" jawab Anita, tanpa memikirkan orang tuanya.
"Apa kamu tidur berdua sama Nak Prima di mobil malam malam begini?" tanya Pak Kardi panik.
" Iya pak emang ada yang salah?" tanya Anita enteng.
Prima yang mendengarkan jadi malu, dengan apa yang diucapkan Anita. Sungguh Anita sangat polos dan lugu, tidak ada rasa malu sedikitpun.
" Nak Prima karena sudah malam sebaiknya nginep di sini aja, ada kamar di sana" ucap Pak Kardi.
" Tidak usah Pak, saya langsung pulang aja" tolak Prima.
" Ya sudah Pak saya permisi dulu" ucap Prima sambil mengambil tangan Pak Kardi dan menciumnya.
" Baiklah nak hati hati dijalan, jangan ngebut" ucap Pak Kardi.
Pak Kardi masih belum puas dengan jawaban Anita, dia bermaksud besok mau menanyakan kepada Prima.
Keesokan harinya, Anita segera berangkat kerja, setelah sarapan Anita menuju sepeda motornya. Dengan hati hati dia melajukan motornya membelah jalanan kampung di desanya.
Banyak anak anak sekolah pada jalan kaki, ada juga naik sepeda, Anita dibelikan motor sama Ayahnya untuk memudahkan Anita kerja.
Sesampainya di parkiran Anita menyerahkan kunci motornya, dan dia menyimpan helm ditempatnya.
Anita masuk menuju mejanya. Langsung membuka laptopnya. Anita mulai kerja dengan serius, dia tidak mau membuat kesalahan dan harus bertemu Prima, dia tidak mau.
Sementara Prima mencari Anita, tidak biasanya dia mencari sendiri. Sudah Terlihat ada Prima kembali ke ruangannya.
Sampai sampai karyawannya pada heran, Bos nya yang galak bisa bisanya turun ke tempat karyawan.
Sampai sini dulu ya, besok disambung lagi.
__ADS_1