
Prima mencari Anita, dia ingin memastikan apakah Anita baik baik saja, entah kenapa semenjak pulang dari Jakarta dia begitu gelisah hatinya, selalu ingin bertemu dengannya.
Tanpa banyak tanya Prima langsung menuju mejanya Anita. " Pagi Nita, kamu baru datang?" Prima bicara duluan, seumur umur belum pernah dia melakukan itu.
Anita bukan menjawab malah bengong dan merasa heran, dia langsung memegang dahi Prima sambil mengucap " Bapak sehat kan"
" Nit, kamu ini apaan sih, aku nanya kamu, malah nyangka aku sakit"
" Ih Bapak lucu, kaya orang ketempelan, tidak biasanya Bapak lakukan itu, biasanya juga manggil ke ruangan Bapak, terus marah marah deh"
" Ya ampun Nita, aku ini udah berbaik hati, dan aku menghawatirkan kamu, malah kamu nya seperti ini"
Semua karyawan yang satu ruangan dengan Nita semua menatap heran kepada Bos besarnya itu.
" Tuh Pak lihat, mereka juga heran dengan sikap Bapak, atau ini bukan Bapak" ucap Nita sambil memutar tubuh Prima.
Semua karyawan yang melihat menahan tawanya, emang kelakuan Anita itu kocak.
" Udah kamu sekarang keruangan ku" akhirnya Prima menyadari kecerobohannya.
Prima sadar kalau barusan sudah membuat kebodohan, dia terkenal dengan seorang yang jutek, galak tiba tiba saja berbuat manis pada seorang gadis yang notabene hanya staf biasa.
Para manager juga menjadi tanda tanya ada apa dengan Prima.
Anita akhirnya mengikuti Prima untuk keruangannya.
" Pak apa Bapak tadi salah minum obat?" tanya Anita lagi yang masih penasaran dengan tingkah Prima.
" Tidak Nita, aku cuma khawatir sama kamu, takutnya kamu sakit karen kemarin pulang dari Jakarta kemalaman " ucap Prima sambil gemas juga dia sama Anita yang tidak peka sama sekali.
" Pak saya mah, tidak apa apa atuh, kan biasa saya seperti ini, tumben Bapak khawatir sama saya, jangan jangan Bapak suka ya sam saya" jawab Anita sambil terus saja mengejek Prima .
__ADS_1
Entah mengapa biasanya Prima akan marah kalau ada saja yang berani sama dia, tapi tidak dengan Anita, dia tidak sama sekali marah malah dia seneng dengan sikap Anita yang kocak itu.
" Anita yang baik hati dan tidak sombong dan rajin menabung dengar baik baik ya , aku mau ngomong sama kamu, bisa enggak jadi orang peka dikit aja sama orang lain, jangan lurus lurus aja tidak bisa kamu merasakan sesuatu gitu" pancing Prima, dia mulai jengah juga kenapa ada orang sepolos Anita.
' Eh bapak tau itu kalau saya itu gadis baik dan tidak sombong" jawab Anita bukan menjawab yang ditanya Prima malah bicara yang tidak penting justru.
" Anita, bisa tidak kamu serius dikit aja" ucap Prima lagi sudah mulai kesabarannya teruji.
Anita jadi sedikit kicep juga, dia engga berani melihat ke Prima kalau suara Prima sudah kaya barusan.
" Anita kamu diajak bicara malah nunduk, sini lihat aku" ucap Prima lagi sambil menurunkan intonasi bicaranya.
" Pak, sebenarnya ada apa aih manggil saya, dari tadi ko gak ngomong ngomong ?" tanya Anita sungguh tidak nyambung .
Dari tadi Prima ngasih tau kalau dia khawatir malah tidak paham juga.
Akhirnya Prima mengalah, Anita bukan orang yang bisa diberi kode, atau di sindir dia harus diomongin langsung, jelas dan lugas. Orangnya terlalu lempeng.
Prima selama ini tidak bisa dekat dengan perempuan, ada yang membuat dia minder, namun entah kenapa Anita bisa membangkitkan yang selama ini terpendam.
Bila berdekatan dengan Anita ada gairah yang tidak bisa diucapkan. Dulu waktu masih menikah dengan Lira sulit sekali untuk menaikan gairah itu, sampai terapi dan segala macam pengobatan sudah dia lalui.
Namun dengan Anita hanya dengan menatapnya saja kobaran gairah di dadanya sangat membuat dia bahagia, sebab selama ini, dia tersiksa dengan keadaannya.
Mencoba menerima namun sangat sulit jiga sebab dia akan menyakiti setiap wanita yang mencoba mendekatinya.
Anita langsung terdiam, dia sungguh tidak menyangka Bos nya yang begitu galak mau menikah dengannya tanpa cinta, dia malah membayangkan kalau dia menikah dengan Prima akan seperti apa, dia malah bergidik ngeri dan semua itu terlihat oleh Prima.
" Apa yang membuat kamu bergidik begitu?" tanya Prima penasaran kenapa sampai segitunya.
" Duh Pak jujur ya saya membayangkan nikah sama Bapak jadi ngeri, saya takut setiap hari saya dimarahi, kalau saja saya buat kesalahan saya nanti dihukum, di potong gaji, kan saya nanti repot, nanti saya gak bisa beli skincare, baju, jajan saya nanti gak bisa beli baso favorit saya dong Pak"
__ADS_1
Entah Prima harus ngomong apa lagi, sangat sulit menjelaskan kepada seorang Anita yang pikirannya sangat polos.
" Anita tidak mungkin kalau sudah menikah saya potong gaji kamu, yang ada kamu akan saya nafkahi kamu bebas mau belanja, beli baso kalau mau kamu beli sama mang gerobaknya juga" ucap Prima jengkel lama lama ngomong sama Anita bisa naik tensi dia.
" He he Pak jangan marah dong, saya kan cuma bercanda, kalau gitu buktikan dong sekarang saya pengen makan siang dengan makanan yang lagi hit tuh Pak, kaya orang orang, makan ala ala korea gitu" ucap Anita memang selama ini dia hanya mendengar saja dari temannya belu tidak pernah, melihat wujudnya saja tidak pernah.
Itulah seorang Anita yang memang kalau boleh dibilang sangat kuper, kalau pulang gajihan dia hanya ambil secukupnya dia buat jajan, sisanya dia kasih ke Ibunya.
Oleh sebab itu dia jarang kaya teman temannya jajan makanan yang aneh aneh, cenderung dia tidak tahu, Anita gadis polos baik tidak neko neko.
Makanya Prima sangat suka sama Anita, dan orangnya sangat jujur. Apa yang ada dihatinya itu yang dia ucapkan terkesan ceplas ceplos namun menyenangkan semua orang yang didekatnya.
"Ya sudah nanti makan siang kamu bareng saya ya, jangan lupa jangan bikin saya nunggu ya" ucap Prima dia mau menyenangkan gadis pujaan hatinya itu.
" Serius Pak, Asyik aku mau makan enak" ucap Anita girang sekali kaya sudah mendapatkan lotre saja.
" Makasih ya sebelumnya, aku seneng banget loh" ucap Anita lagi sambil mengambil tangan Prima lalu diciumnya.
Prima kaget, dan berdebar hatinya merasakan bibir Anita yang basah di punggung tangannya. Memang kelakuan Anita itu sangat random.
Anita berlalu dari ruangan Prima, dia berjalan sambil bernyanyi kecil dia bahagia sekali sebab dalam hidupnya dia jarang sekali mendapatkan makanan yang enak enak.
Setalah Anita berlalu Prima merasakan kebahagian, kenapa membuat Anita bahagia itu sangat mudah, dan kebahagian Anita itu sangat sederhana.
Anita memang gadis yang baik, tidak pernah menuntut seperti orang lain, Anita sangat menyayangi orang tuanya. Makanya dia selepas lulus sekolah Menengah Atas dia langsung mencari kerja.
Dia tidak mau jadi beban orang tuanya, Anita gadis periang penyayang juga. Itulah kenapa Aslan sangat mencintainya.
Bahkan Anita tau kalau Aslan adik dari Bosnya pun tidak pernah memanfaatkan, dia kerja profesional.
Itulah seorang Anita, bila ada dia buat orang bahagia. Dia tidak pernah menampakan kesedihannya, padahal kalau sudah dikamarnya dia menangis seorang diri, dia merasa sangat sedih dengan pernikahannya yang gagal, namun di depan orang tuanya seolah di tidak merasakan kesedihan itu.
__ADS_1
Anita tidak mau orang tuanya kepikiran saja.