
"kall." panggil naren
saat ini Haikal sedang berada di belakang sekolah tepatnya dia sedang duduk sendiri an.
"iyahh, kamu gak papah ren?." tanya balik Haikal pada naren saat ini.
" gak papah kok santai aja."
" luka kamu mau aku obatin?."
" gak usah nanti juga sembuh sendiri sans aja."
" maaf yah renn gara gara aku kamu kayak gini, harusnya kamu gak usah belain aku jadinya gini deh." jawab Haikal dengan Muka rasa bersalahnya, ia yang mengakibatkan naren seperti ini, ia tidak tega.
" gak papah kali kall lu kan temen gua, pasti gua bantu lahh."
" owh iyaa lu di panggil kepala sekolah." lanjutnya
" ayah kamu?." haikall mengetahui bahwa ayahnya naren adalah kepala sekolah mereka yang baru, saat ia menginap di rumah nya naren menceritakannya.
" iyaaa, lu mau gua anter?." tawarnya
" gak usahh, bisa sendiri kok, thanks yaa." lalu Haikal pun segera berdiri dan langsung pergi menuju ruang kepala sekolahnya yang tidak jauh dari tempatnya sekarang meninggalkan naren sendirian di sana.
"lah jirrr gua di tinggal, yaudah lah gua ke toilet dulu pen boker." naren pun pergi ke toilet
saat ini Haikal sedang berjalan menuru ruang kepala sekolahnya, tatapan orang orang di sepanjang lorong membuat Haikal ingin cepat cepat pergi dari sana, ia sangat tidak nyaman.
Tepat di hadapan ruangan kepala sekolah, dan sekarang ia pun masuk ke dalam dan duduk di kursi di ruangan itu.
"assalamualaikum pak, bapak memanggil saya." salam nya pada kepala sekolah yang sekarang tepat ada di depannya.
"waalaikumsalam haikall apa kabar kamu?." sapanya.
"baik pak."
"haha, panggil om saja haikall, saya masih agak asing dipanggil pak sama kamu, om kangen banget sama kamu, dulu kamu masih kecil banget pas main sama si naren sekarang kok udah dewasa aja."
"hehe lyah om, om juga apa kabar? baik kan?."
"Baik juga, om mau nanya sesuatu boleh kan?."
"boleh om boleh ajaa nanti ikall jawab jujur." senyum nya
__ADS_1
"baik lah."
" apa ikall sering di bully di sini? ikall gak baik baik aja kan?" tanya nya, kok om nya itu bisa tau? padahal ia masih baru disini.
"ikall gak papah om, ikall sering main sama temen temen kok, ikall bahagia disini." huhhh Haikal menjadi anak yang berbohong sekarang.
"ya Allah maaf ikall bohong." sebenarnya ia tidak mau berbohong tapi ia takut mengakui nya.
"kamu pandai berbohong kall, jangan kira om enggak tahu apa apa disini, om menang masih baru disini tapi om banyak tau tentang sekolah ini." gotchaa haikall tertangkap berbohong
'jujur aja ikall, om mohon." mohonnya dengan sungguh sungguh bisa diliat dari rauh matanya om nya itu benar benar serius dengan pertanyaan nya itu.
iiiya om, ikall udah lama dapet bullyan dari banyak orang, ikall sakit om badan ikall sakit, ikall malu selalu dapet ujaran kebencian dari mereka padahal ikall enggak tau salah ikall dimana. ikall sendiri disini om ikall gak punya temen mereka gak suka ikall bahkan ayah sekali pun gak suka ikall. yang ikall punya saat ini cuman naren om, ini berat buat ikall buat jujur semua ke om tapi ini sakit banget om kalo misalnya di tahan lama, ikall harap bisa dapet sedikit cahaya kebahagiaan saat om dateng kesini." tak terasa air mata Haikal lolos begitu saja sekarang, is sangat tidak kuat saat harus menceritakan keluh kesalnya ia terus menghela nafas berat saat menceritakan nya.
gak ada yang bantu kamu saat kamu di bully gitu kall?."
"mereka gak berani, bahkan ikall juga kalah kalo
ngelawannya."
om usahain buat bantu yaa kall, tunggu sebentar lagi yah jangan nyerah dulu, om tau ini berat tapi harus kuat yah, sekarang kan ada om sama naren Tante juga ada jadii kamu gak usah sedih lagi yahh, Sekarang kamu punya kita.' om nya itu menenangkannya dengan semua ucapan yang pasti Haikal tau bahwa itu benar. dari dulu om nya sangat baik padanya, bahkan ia memberikan kebahagiaan buat Haikal saat ibunya meninggalkannya.
"makasih om hehe, om baik banget."
" makasih banget om, sekarang ikall tahu sandaran ikall siapa hehe."
"sama sama."
Haikal pun tidur di kursi panjang yang berada di ruangan itu. ia bersyukur bahwa Baren dan keluarga nya pindah kesini membuat Haikal sedikit bahagia. ia bisa beristirahat dari semua ini.
Bel pulang sudah berbunyi beberapa saat yang lalu dan Haikal baru bangun dari tidurnya sekarang, sekitar 3 jam an ia tidur. ia terbangun dengan linglung, ia diam sejenak untuk mengumpulkan nyawa nyawanya.
"eungg." ia menggeliat, ia reflek melihat jam yang di gantung di dinding.
"hahhhh ini udah jam pulang." ia terkejut dengan apa
yang ia lihatnya, jam pulang sudah dari tadi berbunyi
dan ia baru bangun tadi.
"ohhhh udah bangun lu, yok pulang." tiba tiba Suara naren terdengar. ternyata naren sudah ada dari tadi disana, bahkan saat Haikal masih tidur pun is sudah disana menunggu nya bangun.
"ehhh renn, belum pulang." tanya nya Linglung
__ADS_1
"belum lahh, lu nya aja belum bangun, masa gua ninggalin lu." jawabnya
"lahh, owh lyah ayah kamu gimana?." tanya nya lagi sebab ia tidak melihat avahnva naren itu
" dah pulang dari tadi, tinggal lu sama gua aja disini."
" ohhhh, yaudah ayoo pulang sebelum gerbang di kunci."
" yokk."
mereka pun keluar dari ruangan itu. mereka segera pulang ke rumah masing masing, Haikal saat ini pulang kerumahnya.
saat setiba ia dirumah ia disuguhkan dengan keberadaan ayahnya yang tengah duduk di kursi ruang tamu, ia pun segera menyapanya.
" hallo ayahh, apa kabar? ayah udah makan? ."
ayahnya itu hanya meliriknya sedikit lalu menjawab
" hemm."
" ayah, ikall izin ke kamar ya yahh, ikall belum mandi hehe." pamitnya
" sudah mandi langsung temuin saya, saya ingin bicara dengan kamu." ucap ayah sambil meneguk segelas kopi nya
" baik ayah."
haikal pun segera masuk kamar dan juga langsung mandi. ia tidak ingin membuat ayah menunggunya terlalu lama. selepas ia mandi dan memakai baju ia langsung turun menemui ayahnya.
" ayah mau ngomong apa sama ikall." tanya Haikal pada sang ayah yang tepat berada di depannya sekarang.
" to the point aja, ayah akan menikah."
" wahhhh selamat ayahhh, apakah dia wanita cantik? apakah aku akan mendapat ibu baru?." mendapat kabar itu Haikal sangat sedihhh tapi tidak ingin menunjukkan nya kepada sang ayah.
" dua bulan lagi, saya hanya ingin memberi tahu kan itu. sudah kamu ke kamar sana saat tidak ingin di ganggu oleh mu." usirnya
haikal pun pergi menuju kamarnya sendiri.
" ayah ngelupain ibu yahh, padahal ikall aja belum bisa Nerima orang baru tapi ayah udahh, ibuu apakah ikall rela." keluhnya saat ini ia sedang duduk termerenung di kamarnya.
" ikall belum bisa bayangin liat ayah bahagia sama perempuan lain Buu, apakah ikall bakal lebih di tinggalin atau mungkin di buang, ikall gak mau itu terjadi haaa." ia takut sangat takutt kehadiran orang baru membuat dia lebih tidak di anggap oleh sang ayah nya itu.
SEGITU DULUUU YAAAA,
__ADS_1