Another World Stories: Why I Become Villain

Another World Stories: Why I Become Villain
Meneliti Sihir


__ADS_3

Setelah Liam menyebarkan darah di sekitar replika kurungan yang dibuat oleh Sebas, Liam mendengar suatu suara yang tidak mengenakkan.


"Grrrr!!!"


Liam menolehkan pandangannya, dan tidak terduga, ia melihat seekor serigala berbulu abu-abu sedang menatapnya dengan kelaparan.


(Apa!?)


Liam jelas panik. Tidak mungkin anak 10 tahun bisa melawan serigala. Liam kemudian bergegas untuk melarikan diri.


(Kenapa ada binatang buas disini!?)


Serigala itu mengejar Liam dengan cepat. Karena perbedaan kecepatan, serigala itu meyusul Liam.


(Tch, ini pasti karena darahnya. Aku sangat bodoh!)


Serigala itu semakin mendekat ke arah Liam dan kemudian ia lompat menerkam. Liam menyadari itu dan melompat ke samping untuk menghindar. Latihan pedangnya bersama Edna ternyata membuahkan hasil.


(Sial, sekarang apa yang harus aku lakukan?)


Liam berhadapan dengan serigala itu. Melarikan diri bukanlah opsi karena serigala itu lebih cepat darinya. Jika Liam melarikan diri sama saja ia memberikan punggungnya secata gratis pada serigala.


Serigala itu melompat ke arah Liam untuk menerkam lagi. Liam memprediksi gerakannya dan menghindar.


(Aku tidak bisa begini begini terus. Staminaku ada batasnya.)


Liam memikirkan rencana bagaimana ia bisa kabur dari serigala itu. Sementara itu, langit mulai mendung, dan hujan mulai turun. Suara gemuruh guntur mulai samar-samar terdengar.


"Dasar anjing bodoh, jangan menghalangiku."


"Grrr..."


Bagaimanapun Liam berpikir, rencananya selalu buntu. Hal yang bisa menjadi harapan terakhirnya adalah sihir. Tetapi, Liam tidak pernah belajar sihir apapun. Bahkan, ia tidak tahu elemen sihirnya. Meski begitu, Liam tidak ingin menyerah. Ia kemudian mengarahkan tangannya ke serigala itu dan mulai mengingat pelajaran sihirnya bersama Edna.


"Heh, aku tidak menyangka akan melakukan ini."


Liam mengingat lagi bagaimana cara mengeluarkan sihir. Kontrol mana yang bagus dan pembayangan adalah hal yang utama jika ingin mengeluarkan sihir.


Liam kemudian mulai berkonsentrasi, mengalirkan aliran mananya ke tangan. Liam tidak menyadari, ia melakukan kesalahan fatal. Ini adalah pertarungan nyata, jelas musuh tidak akan membiarkan Liam melakukan sesuatu.


Serigala itu langsung lompat menerkam Liam disaat Liam sedang berkonsentrasi.


DURRRR


Note: Suara guntur :v


Suara guntur yang sangat besar langsung mengagetkan Liam. Ia melihat bahwa serigala itu terbang ke arahnya dan ia tidak ada waktu mengelak.


(Sial!)


Zrash!


Suatu hal yang tidak terduga tiba-tiba terjadi. Sebuah kilat listrik keluar dari tangan Liam dan menyambar serigala itu sehingga ia langsung tak sadarkan diri.


"Hah?"


Liam bingung dengan apa yang terjadi. Dia beruntung karena bisa selamat.

__ADS_1


"Ini sihirku?"


Liam melihat tangannya sendiri. Sangatlah tidak lazim sebuah kilat listrik keluar dari tangan anak berusia 10 tahun.


...***...


Liam berjalan ke arah mansion sambil kehujanan. Sesampainya di mansion, Liam masuk secara diam-diam. Dia takut kalau orang tuanya melihat dia datang dari luar sambil basah kuyup. Bukannya ia takut dimarahi, tetapi bisa-bisa kepala Sebas, atau kepala pelayan yang lain bisa hilang.


Sesampainya di kamar, Liam menukar bajunya yang basah. Ia masih memikirkan kejadian yang terjadi di Black Forest tadi.


Tok-tok


Pintu kamar Liam tiba-tiba diketuk. Karena sudah berganti baju, Liam membiarkan orang yang mengetuk itu masuk.


"Masuk."


Pintu kemudian terbuka, dan disana terlihat Sebas yang masuk.


"Syukurlah tuan Liam sudah pulang. Saya datang untuk mengecek, saya takut kalau tuan Liam masih diluar dan terkena hujan."


"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil dasar orang tua."


Note: Dasar bocil, baru 10 tahun juga :v


"Maafkan saya kalau begitu tuan Liam."


Sebas tidak terlihat marah sedikitpun. Dalam hatinya, Liam berpikir bahwa Sebas adalah pelayan yang profesional, layak diberi gelar 'Mr. Butler'.


"Haah... karena kau sudah disini, jadilah berguna dan jawab pertanyaanku kakek tua."


Liam ingin menyelidiki lagi peristiwa yang terjadi pada dirinya. Ia harus tau karena sihir adalah faktor penting bagi Liam untuk tetap bisa hidup.


"Apakah kau pernah mendengar sihir listrik?"


Sebas terlihat berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat pengalamannya di masa lalu.


"Iya tuan. Sewaktu saya masih menjadi petualang, saya kenal dengan orang yang memiliki sihir listrik."


Dalam hatinya, Liam merasa bersyukur ada sedikit titik terang.


"Ceritakan yang kau tahu soal sihirnya."


"Baik tuan."


Sebas kemudian mulai memberi penjelasan mengenai apa yang dia ketahui tentang sihir listrik.


"Dari yang saya tahu, sihir listrik adalah sihir yang sangat sulit untuk dikendalikan."


Liam menyimak penjelasan dari Sebas dengan saksama.


"Kebanyakan sihir bisa digunakan untuk jarak jauh, tetapi tidak untuk sihir listrik. Itulah mengapa, saya berkata bahwa sihir listrik sangat sulit untuk dikendalikan. Bahkan teman saya, yang menurut saya sudah sangat mahir dalam melakukan sihir listrik hanya bisa paling tinggi membungkus bagian tubuhnya dengan listrik. Ia tidak bisa membuat sihir jarak jauh dengan elemen listrik."


"Lalu bagaimana orang itu bisa bertahan sebagai petualang? Jika sihir listrik sepayah itu, dia pasti sudah jadi cemilan monster dari dulu."


Apa yang ditanyakan Liam cukup masuk akal. Tidak mungkin seorang petualang yang selalu berhadapan dengan bahaya bisa bertahan, kecuali dia mempunyai keberuntungan kelas dewa.


"Tentu tuan Liam, dia tidak bisa bertahan hanya dengan sihir listrik. Beruntungnya, sebelum sihir listrik sebagai elemen sekundernya ia sudah mempunyai elemen api sebagai elemen sekunder, sehingga ia bisa juga menggunakan sihir api. Selain itu, sihir listrik bukan hanya sekedar beban. Jika terkena serangan dengan sihir listrik, musuh bisa saja lumpuh, atau menerima luka bakar jika terkena listriknya terlalu lama. Sihir listrik tidak hanya memiliki kelemahan, tetapi juga memiliki kelebihan untuk menutupinya."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Sebas, Liam berpikir sejenak. Hal pertama yang mengganjal di pikirannya adalah penjelasan bahwa sihir listrik susah untuk dikendalikan sehingga tidak bisa digunakan sebagai serangan jarak jauh.


Saat melawan serigala di Black Forest sebelumnya, Liam jelas-jelas menggunakan sihir listrik jarak jauh. Ada terlintas di pikiran Liam bahwa itu adalah kekuatan cheat, tetapi itu sangatlah klise.


Di dalam tubuh Liam ada Shirogami yang notabenenya adalah seorang mahasiswa. Ia merasa pikiran semacam itu hanyalah dimiliki oleh anak chuuni  atau anak SMA naif yang merasa bahwa dunia berputar disekitarnya. Shirogami sudah mengerti betapa kerasnya hidup, dimana keberhasilan datang karena usaha, dan bukan karena cheat.


Baik, cukup pesan moralnya. Oleh karena cheat adalah pemikiran yang sangat naif, Liam sampai kepada suatu kesimpulan. Pasti ada yang memicu hal itu. Yang bisa diterima dan bukanlah cheat.


"Tuan Liam?"


Liam seperti berada dalam dunianya sendiri saat sedang berpikir.


"Oh? Kau masih disini? Pergi sana."


"Baik tuan Liam. Tapi maaf jika menanyakan ini. Apa tuan berpikir bahwa tuan memiliki sihir listrik?"


Jelas Sebas penasaran. Tidak mungkin Liam menanyakan hal itu pada Sebas tanpa suatu alasan. Mungkin Sebas tidak akan menggubrisnya jika Liam adalah anak 10 tahun biasa, namun setelah melihat apa yang ia lakukan pada Rachel, Sebas tidak bisa mengabaikan hal itu lagi.


"Urus urusanmu sendiri kakek tua. Rasa penasaran bisa membunuhmu di kemudian hari."


Dalam hatinya, Liam hanya ingin untuk memeriksa kebenaran fakta sihirnya terlebih dahulu barulah ia memberi tahu Sebas. Tapi apa daya, mulutnya memang dari dulu sulit dikontrol.


"Baik tuan Liam. Saya ingin beri saran, jika tuan Liam ingin mengetahui lebih banyak tentang sihir listrik, Edna-sama lebih tahu dari saya. Dia dulu yang melatih teman saya yang memiliki sihir listrik itu."


"Kau seharusnya memberi tahu itu lebih cepat, kakek tua."


Sebas kemudian pamit dan meninggalkan Liam sendirian di dalam kamarnya.


...***...


*Krauk! Krauk!


Jauh di kedalam Black Forest, terlihat seekor serigala yang sedang menyantap bangkai monster. Tidak ada apapun lagi yang tersisa dari bangkai monster itu selain beberapa tulang. Badan serigala itu penuh luka dan kelihatan gosong. Entah itu dari pertarungannya dengan monster atau bukan.


Serigala itu tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang.


"Grrr!!"


Serigala itu kemudian berusaha mempertahankan dirinya dari seseorang yang datang mendekatinya.


"Heeeeh... kau punya isnting yang bagus."


Serigala itu menatap orang yang datang itu dengan mata penuh kebencian.


"Pffft... kau sungguh menatapku seperti itu? Kau memang membenci manusia ya."


Orang itu memakai sebuah mantel, mungkin itu untuk melindunginya dari derasnya hujan. Karena gelap, wajah orang itu tidak terlihat jelas. Orang tersebut kemudian mengeluarkan sesuatu dari jubahnya. Terlihat di tangannya sesuatu seperti buah yang memiliki cahaya keunguan.


Orang itu kemudian melemparkan buah itu ke arah serigala.


"Kau akan cocok menjadi objek percobaan pertama."


Orang itu kemudian pergi meninggalkan serigala itu sendirian.


Serigala itu mengendus-endus buah yang ditinggalkan orang itu. Ia sangat kelaparan karena tidak banyak yang didapat dari bangkai monster yang ia makan sebelumnya. Karena tak bisa menahan lapar lagi, serigala itu kemudian memakan buah itu dengan lahap.


"Arg! GRRRRRR!! GROAAAAR!"

__ADS_1


Sesaat setelah memakan buah itu, serigala itu entah bagaimana mulai merasakan sesuatu yang aneh. Entah bagaimana tubuhnya terasa bertambah kuat, dan ia merasa sangat penuh dengan kebencian. Matanya berubah menjadi keunguan.


Death flag mungkin akan datang menimpa Liam.


__ADS_2