Another World Stories: Why I Become Villain

Another World Stories: Why I Become Villain
Latihan


__ADS_3

"Haah... haah... dasar nenek tua..."


Liam sekarang sedang tergeletak di lantai pelatihan. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan keringat yang mengucur. Edna disisi lain, juga terlihat lelah, tetapi tidak separah Liam.


"Aku menang 20 kali berturut-turut. Sadari tempatmu dasar bocah."


Liam dan Edna memulai latih tanding mereka sekitar jam 8 pagi, dan sekarang sudah jam 3 sore.


"Jangan sombong dulu, dasar nenek tua, aku pasti akan menghajarmu."


Meski biasanya Edna marah karena dipanggil nenek tua, tetapi sekarang ia terlalu lelah untuk memarahi Liam.


"Dasar bocah, kau memang tak bisa menjaga mulutmu."


Edna kemudian duduk tidak terlalu jauh dari Liam. Mereka berdua fokus untuk memulihkan tenaga mereka.


"Tuan Liam, Edna-sama, aku membawa minuman segar untuk memulihkan tenaga."


Saat Liam dan Edna sedang beristirahat, Sebas datang membawa dua gelas minuman. Raut wajah Edna dan Liam langsung senang melihat hal itu.


Merke berdua langsung menyambar minuman itu tanpa ragu-ragu.


Gulp gulp


"Puaaah!! Rasanya seperti hidup kembali!"


Edna menyeka bekas minuman yamg tumpah dari mulutnya.


"Hmph, dalam hal ini kau memang cukup berguna."


Liam juga melakukan hal yang sama dengan Edna.


"Tuan Liam, sedari tadi kau terus menyerang Edna-sama dengan pedang. Bagaimana kalau kau juga berlatih sihir? Itu akan sangat membantu jika kau ingin mengalahkan Edna-sama."


Liam kemudian mempertimbangkan usul Sebas. Saat ini ia hanya fokus ke latihan fisik agar ia tidak gampang untuk dikalahkan. Dalam game, Liam juga hanya bisa melakukan sihir penyembuhan dari elemen air, sehingga sekarang Shirogami yang ada di dalam tubuh Liam berpikir bahwa sekarang tidak perlu untuk belajar sihir.


Namun, mendengar usul Sebas, itu cukup masuk akal. Liam harus melatih seluruh aspek tubuhnya baik itu fisik atau sihir guna bertahan dari situasi-situasi berbahaya di masa depan.


"Kau benar juga. Aku harus mebuat nenek tua itu menelan kalimatnya."


...***...


Liam memulai pelatihan sihirnya. Edna yang menjadi guru Liam mulai memberikan penjelasan mengenai dasar-dasar sihir kembali. Karena Edna adalah pengarang buku yang pernah Liam baca sebelumnya, tidak perlu waktu lama untuk Liam agar bisa mengerti penjelasan Edna.


"Kau sudah membaca bukuku kan? Aku akan mengulangi ini dengan singkat. Sihir terbagi menjadi 4 elemen dasar. Api, air, tanah, udara. 4 elemen itu bukanlah satu-satunya elemen yang ada di dunia ini, makanya namanya adalah elemen dasar. Ada juga elemen sekunder. Elemen sekunder ini memiliki jangkauan yang sangat luas. Tapi, kelemahannya yaitu elemen sekunder cukup sulit untuk dikuasai. Makanya kebanyakan orang lebih menguasai elemen dasar daripada elemen sekunder."


"Kalau sekedar itu aku juga sudah tau."


Edna kemudian melanjutkan penjelasannya pada Liam.


"Jadi, pertama-tama yang harus kita lakukan sekarang adalah melihat afinitas manamu. Apa di keluarga ini kalian memiliki tablet afinitas?"


Tablet afinitas adalah alat untuk mengetahui elemen yang dimiliki oleh seseorang.


"Sebas, pergilah dan ambil benda itu."

__ADS_1


"Baik tuan Liam."


Sebas kemudian berjalam pergi meninggalkan Liam dan Edna sendirian.


"Aku hanya menebak-nebak, tetapi tidak kusangka kalau kalian memiliki benda semahal itu."


Proses pembuatan tablet afinitas sangatlah susah, dan teknik pembuatannya hanya diketahui oleh ras Dwarf. Oleh karena itu, tablet afinitas memiliki harga yang sangat mahal.


"Jangan remehkan keluarga Teyvat."


Liam sebenarnya bermaksud menyindir kebodohan keluarga Teyvat untuk memboroskan uang mereka, tetapi sepertinya maksud yang ditangkap Edna adalah lain.


Beberapa saat kemudian Sebas datang sambil membawa sebuah tablet batu dengan kristal bening yang ada di tengahnya.


"Ini tuan."


Sebas lalu menyerahkan benda itu kepada Liam.


"Jadi, apa yang harus kulakukan dengan sebongkah batu ini?"


Liam memegang tablet afinitas itu sambil memutar-mutarnya. Jika dilihat lebih jelas, tablet itu memiliki ukiran yang aneh. Sebagai informasi, tablet ini tidak ada dalam Tale of the Untales. Jika ingin mengetahui elemen sihir karakter, kau bisa melihatnya dengan mudah di stats karakternya.


"Sekarang coba alirkan manamu menggunakan [Mana Flow]."


Satu lagi istilah asing diucapkan oleh Edna. [Mana Flow] tidak ada juga dalam Tale of the Untales.


"..."


Liam hanya diam karena ia memang tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan [Mana Flow] itu.


Mengetahui ketidaktahuan Liam, Edna kembali mengejek Liam.


"Sudahlah dan cepat beri tahu apa itu nenek tua!"


Tertawa kecil mendengar balasan Liam, Edna kemudian mulai mempraktekkan [Mana Flow].


Edna berkonsentrasi, dan kemudian sebuah cahaya hijau pudar tampak menyelimuti tangan Edna.


"Heeh, jadi itu ya [Mana Flow]?"


Edna terkejut mendengar perkataan Liam.


"Wah, tidak kusangka. Padahal aku belum memberitahumu kalau aku sudah menggunakan [Mana Flow]. Kau memiliki pendeteksi mana yang baik."


Liam bingung dengan perkataan Edna. Sudah jelas ada sedikit cahaya hijau yang membungkus tangannya. Liam bertanya-tanya mengapa Edna tidak melihat cahaya semencolok itu di tangannya.


"Berikan tablet itu padaku."


Liam kemudian memberikan tablet afinitas itu pada Edna. Sesaat setelah memegang tablet itu, kristal bening yang ada di tengahnya berubah perlahan menjadi hijau.


"Inilah kegunaan [Mana Flow]. Dengannya kau bisa mengendalikan mana mentahmu. Aku memasukkan manaku ke dalam tablet afinitas sehingga warna kristalnya berubah menjadi hijau. Ini menandakan bahwa manaku berelemen angin."


"Hm..."


Liam mengangguk kemudian meminta tablet itu dari Edna.

__ADS_1


"Berikan padaku, biar aku mencobanya."


"Kau yakin? Menggunakan [Mana Flow] itu cukup susah."


"Jangan meremehkanku nenek tua."


Liam kemudian mengambil tablet itu dari Edna.


(Hm... aku tidak tahu caranya tapi, aku hanya perlu berkonsentrasi dan membayangkan cahaya mana di tanganku kan?)


Liam kemudian meniru apa yang dilakukan Edna. Sesaat kemudian, Liam melihat bahwa tangannya diselumuti cahaya hitam pudar. Meskipun begitu, tidak ada reaksi apapun dari tablet afinitas.


(Huh?)


Liam bingung mengapa tidak terjadi apa-apa. Meski memiliki warna yang berbeda, tangan Liam sudah bersinar sama seperti tangan milik Edna sebelumnya.


"Haha! Itulah akibatnya kau terlalu sombong, bocah nakal!"


Edna tertawa dan kembali mengejek Liam.


"Diamlah!"


Liam sudah mengikuti prosedurnya, tetapi tidak terjadi apapun. Pasti ada sesuatu yang salah. Liam mencoba berulang kali, tetapi tablet afinitas tidak menunjukkan reaksi apapun meskpun di tangan Liam sudah muncul cahaya berwarna hitam.


"Sudahlah bocah, kau bisa perlahan menguasainya. Daripada itu, sebaiknya kita fokus pada latihan pedangmu."


Liam kemudian memberikan tablet itu ke Sebas dan mengambil pedang kayunya.


"Sebas, periksa apakah alat tak berguna itu rusak atau tidak. Aku akan membuat nenek tua ini menelan ludahnya sendiri."


Liam tampaknya marah karena diejek oleh Edna berulang kali.


"Kau pikir bisa mengalahkanku? Itu terlalu cepat 100 tahun dasar bocah!"


Dan begitulah, Liam kembali melakukan latihan pedangnya bersama dengan Edna.


...***...


Hari sekarang sudah mulai malam. Liam sedang duduk di sofa yang ada di tengah kamarnya. Badannya terasa sangat pegal karena terlalu banyak melakukan pertarungan dengan Edna.


"Dasar nenek tua..."


Meski sekilas mereka terlihat bermusuhan, Edna dan Liam memiliki hubungan yang semakin akrab. Disisi lain, Shirogami yang berada di dalam tubuh Liam juga sekarang sudah terbiasa dengan mulut kasar Liam.


"Besok... rencananya akan dimulai..."


Liam memikirkan rencana yang akan dia jalankan besok untuk membebaskan Rachel dari wilayah Teyvat. Meski seluruh persiapan sudah selesai, Liam masih gugup mengenai rencana yang akan dia jalankan besok.


Tok tok


Saat Liam larut dalam pikirannya, pintu kamarnya diketuk.


"Tuan Liam, makan malam anda sudah siap. Nyonya dan Tuan besar sudah menunggu anda."


Mendengar perkataan Sebas, Liam kemudian bangun dari sofanya.

__ADS_1


(Rencana ini haruslah berhasil.)


__ADS_2