
SEBAS POV
Aku sudah bekerja pada keluarga Teyvat selama hampir 20 tahun. Setelah aku pensiun menjadi petualang, aku ditawari kerja sebagai seorang pelayan. Awalnya ini cukup sulit, tetapi lama kelamaan aku menikmati pekerjaanku.
Keluarga yang aku layani adalah keluarga Teyvat, salah satu keluarga bangsawan yang ada di Trianos. Keluarga Teyvat dulu adalah keluarga yang baik. Namun, setelah mereka mendapat kekuasaan tertinggi di wilayah Teyvat, mereja mulai berubah.
Satu-satunya alasan aku bertahan untuk bekerja dalam keluarga ini adalah karena banyak kenangan yang aku miliki di mansion keluarga Teyvat. Lagi pula, apa yang bisa dikerjakan oleh kakek tua sepertiku ini selain menjadi pelayan? Aku selalu berharap ada seorang yang bisa menjadi secercah harapan.
Sekian lama aku menanti, hingga pada akhirnya, aku melihat tuan Liam. Aku berpikir bahwa beliau awalnya sama dengan kakak dan orang tuanya.
Kakak tuan Liam, tuan Lloyd jelas sangat mengikuti orang tuanya. Mereka suka memandang rendah orang yang tidak sekasta dengan mereka.
Meski aku tidak pernah melihat tuan Liam secara parah merendahkan orang lain seperti kakak dan orang tuanya, aku sudah mencap bahwa ia tidak ada bedanya dengan mereka. Disitulah letak kesalahanku.
Ada seorang pelayan di keluarga Teyvat. Ia adalah pelayan termuda yang kami miliki. Aku memungutnya di jalanan dan memberikannya pekerjaan sebagai pelayan di keluarga Teyvat. Dia adalah Rachel.
Mungkin karena aku memungutnya dari jalanan, tuan Lloyd selalu menyiksa Rachel. Hari demi hari, Rachel selalu kembali ke kamarnya dengan penuh lebam dan luka di sekujur tubuhnya.
Sebagai kakek tua yang memungutnya, aku merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apapun. Namun, secercah harapan muncul di hadapanku dari orang yang tidak terduga.
Tuan Liam pada awalnya selalu cuek terhadap perlakuan tuan Lloyd pada Rachel. Tetapi hari itu, ia tampak sangat berbeda dari biasanya.
Hari itu, Rachel diberi tugas untuk membersihkan kamar tuan Liam. Ia tampak ketakutan, tetapi ia mencoba memberanikan diri.
Beberapa saat kemudian Rachel datang kepadaku dengan jari yang berdarah. Aku kira ia sedang melarikan diri dari tuan Liam yang menyiksanya, tetapi aku salah.
"Ada apa Rachel?"
Rachel melihatku dengan wajah gelisah dan gugup.
"Sa-saya me-mecahkan vas di ruangan tu-tuan Liam!"
Aku terkejut mendengar perkataan Rachel. Jika Rachel yang tidak membuat kesalahan saja sudah disiksa dengan parah, apalagi Rachel yang membuat kesalahan sefatal ini? Ia bisa dibunuh.
"Kau pergilah dahulu. Aku akan pergi ke kamar tuan Liam."
"Ba-baik..."
Rachel kemudian pergi meninggalkanku. Aku kemudian dengan cepat bergegas ke kamar tuan Liam. Aku sudah bisa membayangkan betapa marahnya tuan Liam dan betapa kesalnya dia.
Saat di depan pintu kamarnya, aku menelan ludah. Aku akan mempertaruhkan pekerjaanku sebagai pelayan untuk membela Rachel. Aku kemudian mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk."
Sebuah suara menyambut ketukanku. Aku kira akan ada teriakan kemarahan tetapi, aku mengabaikan hal itu dan masuk ke kamar tuan Liam.
Aku melihat tuan Liam yang sedang duduk di sofa. Aku kira mukanya akan terlihat sangat marah tetapi, ternyata ia tidak semarah itu(?)
"Permisi tuan, aku datang untuk membersihkan vas yang tadi jatuh."
Aku membuang semua pikiran tidak berguna yang mengacaukan diriku. Tujuanku sekarang adalah menahan kemarahan tuan Liam agar nyawa Rachel tidak melayang. Tuan Liam mungkin sekarang kurang terlihat marah, tetapi ia bisa menyimpan kebencian yang amat dalam terhadap Rachel.
"Tidak usah."
Eh? Aku bingung dengan jawaban tuan Liam. Aku kira dia akan menanyakan padaku dimana Rachel. Tetapi tidak terduga, ia tidak membiarkanku membersihkan pecahan vas itu?
Apakah kemarahannya sudah sangat memuncak sehingga ia muak melihat ada pelayan lain yang datang ke kamarnya?
__ADS_1
"Tidak tuan, sebagai pelayan aku tidak bisa membiarkan kamar tuanku berantakan."
Aku tidak bisa menyerah di sini sekarang. Aku harus berhasil membujuk tuan Liam. Aku tidak bisa membiarkan Rachel dalam bahaya.
"Cih, dasar pengganggu. Jika saat aku masuk dan kau belum selesai, aku akan membuatmu menjilat seluruh mansion sampai bersih."
Kata-katanya sangat tajam, tetapi itu adalah isyarat bahwa dia membiarkanku membersihkan vasnya.
Aku kemudian mulai membersihkan vas itu. Aku berencana membujuk tuan Liam sambil membersihkan vas tetapi, tak kusangka saat aku mulai membersihkan tuan Liam berjalan meninggalkan ruangan.
Ini gawat. Apakah dia pergi mencari Rachel sendiri? Aku tidak boleh membiarkannya. Aku harus mengejar tuan Liam.
"Oi Sebas."
Sebelum aku mengejarnya, tuan Liam secara tidak terduga kembali lagi ke ruangan ini.
"Ya tuan?"
Apakah sekarang dia akan menanyakan keberadaan Rachel padaku?
"Bawakan aku buku sihir. Semuanya."
Eh? Sihir? Bukan Rachel? Apakah aku sudah menjadi sangat tua sehingga pendengaranku terganggu? Tidak, aku jelas mendengar 'buku sihir'.
"Baik!"
Aku menjawab tuan Liam dalam kebinguganku. Tuan Liam kemudian pergi meninggalkanku.
Setelah dipikir-pikir, jika tuan Liam menangkap Rachel dari awal, dia mungkin tidak bisa datang kepadaku, bahkan mungkin sudah langsung dibunuh di kamar ini. Tetapi, kenapa Rachel bisa lepas?
Aku mengabaikan pikiran itu dan hanya bisa bersyukur bahwa Rachel masih bisa tertolong untuk saat ini.
...***...
Aku saat ini sedang berada di kamar tuan Liam untuk memberikan buku sihir yang ia minta.
"Maaf tuan Liam, hanya itu satu-satunya buku mengenai sihir di mansion ini."
Buku sebenarnya bukanlah buku milik mansion ini, tetapi buku pribadiku. Aku mendapatnya dari teman petualang lamaku. Ia memberikannya sebagai hadiah perpisahan kami.
"Tch, ini sama sekali tak berguna."
Aku tidak tahu mengapa tuan Liam menaruh fokusnya kepada buku sihir dan bukan kepada Rachel, tetapi aku bersyukur akan hal itu.
"Kau boleh pergi. Sia-sia saja aku memanggilmu."
Tuan Liam sudah menyuruhku pergi. Ini adalah kesempatan untuk mengecek kondisi Rachel.
"Baik. Anda bisa memanggil saya kalau perlu sesuatu."
Aku kemudian pergi meninggalkan tuan Liam dan mencari Rachel.
...***...
Gawat.
Aku tidak bisa menemukan Rachel dimanapun. Aku sudah mencari ke seluruh ruangan mansion dan masih tidak menemukan Rachel.
__ADS_1
Apa tuan Liam sudah menemukan Rachel terlebih dahulu dan menyiksanya sehingga ia tak tampak emosi di depanku? Pikiranku menjadi kalap. Aku yang membawa Rachel ke sini. Adalah kesalahanku jika terjadi sesuatu pada anak itu.
"Dasar ternak!"
Aku mendengar suara tuan Lloyd dari taman. Saat aku mengintip dari jendela mansion, aku melihat tuan Lloyd yang sedang menyiksa Rachel. Aku langsung berlari menuju taman.
"Kakak!"
Sebelum aku sampai ke taman, ternyata tuan Liam telah sampai terlebih dahulu. Karena tuan Liam, tuan Lloyd berhenti untuk menyiksa Rachel. Mereka berdua sedikit bercengkrama. Secara samar-samar aku mendengar bahwa tuan Liam akan mengurus Rachel menggantikan kakaknya. Tuan Lloyd kemudian pergi meninggalkan Liam dan Rachel.
Sesaat sebelum aku pergi menghentikam tuan Liam, aku mendengar sesuatu yang sangat mengagetkan.
"Wajahmu membuatku muak. Enyah dari pandanganku sekarang, dasar gadis penakut."
Meski kalimatnya tajam, itu adalah pertanda jelas bahwa tuan Liam melepaskan Rachel. Rachel yang sebelumnya memecahkan vas bunga, yang sebelumnya mengacaukan ruangan tuan Liam sekarang ada di hadapannya, tetapi tuan Liam melepaskan Rachel.
"Apakah mungkin..."
Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa bahwa mungkin, tuan Liam adalah orang yang akan membawa cahaya baru di keluarga Teyvat, namun aku harus memastikan hal ini lagi.
Setelah tuan Liam pergi, aku kemudian mendekati Rachel untuk mengobati lukanya.
"Rachel..."
Rachel kaget dengan kehadiranku.
"Tidak apa-apa pak Sebas, aku baik-baik saja."
Ia mengatakan hal itu dengan badan yang penuh luka-luka. Melihatnya membuatku merasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak untuk melindunginya.
...***...
Aku sedang bekerja membersihkan lorong mansion, sampai kemudian aku mendengar suara teriakan penuh kebencian.
"DASAR TERNAAAAAK!!!!!"
Aku langsung berlari ke lokasi kejadian. Disana aku melihat tuan Liam yang bajunya sudah basah, tuan Lloyd yang berada di samping tuan Liam, dan Rachel yang sedang terjatuh dengan banyak gelas teh berserakan. Seketika aku langsung memahami situasi yang terjadi.
Ini adalah situasi yang sangat gawat. Aku mungkin bisa membela Rachel di depan tuan Liam, tetapi tidak dengan tuan Lloyd. Beliau sangat tidak mentolerir kesalahan, apalagi yang melakukannya adalah Rachel.
Hati dan pikiranku berkecamuk, bagaimana aku harus mengatasi situasi gawat ini. Selain itu terdapat ketakutan dalam diriku terhadap tuan Lloyd yang tidak kenal ampun.
Selagi memikirkan semua hal itu, tiba-tiba tuan Liam angkat bicara.
"Tenanglah kak."
"Aku akan mengurus bajingan ini. Selain itu, kau harus mempersiapkan berbagai hal untuk pergi ke ibukota kan? Sayang jika persiapanmu tertunda hanya karena dia. Tenang saja, aku akan memberinya pelajaran yang tidak bisa ia lupakan."
Mendengar hal itu, amarah tuan Lloyd agak sedikit mereda. Dia kemudian pergi setelah memukuli Rachel dengan keras di bagian perutnya. Sesaat setelah tuan Lloyd pergi, aku melihat tuan Liam yang berusaha membopong Rachel yang pingsan.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ini sama seperti saat tuan Liam melepaskan Rachel dari tuan Lloyd di taman. Selagi aku yang sudah berumur ini masih ketakutan dalam mengambil langkah, tuan Liam dengan berani mengambil resiko, bahkan jika dia harus membohongi kakaknya sendiri, ia berani mengambil penyelesaian.
Aku salah mengenai tuan Liam. Aku bodoh karena tidak menyadari hal ini dari awal bahkan sampai mencurigainya.
Aku kemudian pergi menuju tuan Liam dan Rachel.
"Saya akan membantu anda."
__ADS_1
...***...
Halo gaess, ini adalah chapter penutup untuk arc 1. Aku bagi chapternya menjadi 2 part. Thanks bagi yang udah baca :)