
Liam sekarang menghadapi situasi yang sangat gawat. Di sampingnya, terlihat kakaknya Lloyd yang tampak sangat marah. Wajahnya merah, dan dipenuhi urat-urat kekesalan.
"DASAR TERNAK RENDAHAAAAN!!!!!"
"Ma-maafkan saya!"
Rachel berusaha melap teh yang tumpah di baju Liam. Tangannya gemetar dan wajahnya penuh dengan ketakutan.
(Sialan! Aku harus melakukan sesuatu!)
Mengingat sifat Lloyd, Liam tahu bahwa Rachel pasti akan dibunuh. Itu adalah hal yang buruk, karena Rachel merupakan tokoh yang penting untuk perkembangan karakter utama Tale of the Untales.
Jika Rachel mati sekarang, maka tidak ada jaminan bahwa karakter utama bisa mengalahkan bos terakhir di masa depan. Terlepas dari itu semua, membunuh seorang gadis kecil seperti Rachel adalah sebuah kesalahan.
"Tenanglah kak."
Dalam hati Liam panik, tapi ia menyikapi hal ini dengan tenang. Skill poker face Liam sangatlah luar biasa.
"Aku akan mengurus bajingan ini. Selain itu, kau harus mempersiapkan berbagai hal untuk pergi ke ibukota kan? Sayang jika persiapanmu tertunda hanya karena dia. Tenang saja, aku akan memberinya pelajaran yang tidak bisa ia lupakan."
Liam mengeluarkan senyumnya yang jahat. Ia menatap Rachel dengan tajam. Disisi lain, Rachel kehilangan harapannya untuk hidup. Ia merasa seperti orang tersial yang pernah hidup.
"Cih... kau ada benarnya."
Lloyd kemudian berjalan mendekati Rachel.
"Oi, ternak rendahan."
Lloyd memanggil Rachel dengan nada kasar.
"Y-ya?"
Rachel tidak berani menatap mata Lloyd secara langsung. Keringat dingin keluar melalui dahinya.
"Ini salam perpisahanku."
BUAK!
Dengan senyum sinis, Lloyd langsung mengarahkan tinju ke perut Rachel. Rachel langsung jatuh tersungkur setelah menerima pukulan Lloyd yang luar biasa keras itu.
(Oi, dia masih sembilan tahun!)
"Ohok! Ohok!"
Rachel terbatuk-batuk, ia berusaha menghirup nafas ke dalam paru-parunya, tetapi ia sangat kesusahan. Pukulan itu jelas sangat menyakitkan.
"Berikan dia pelajaran yang berat, Liam."
Setelah berkata demikian, Lloyd meninggalkan Liam dan Rachel yang sedang tersungkur.
(Dia ini...)
Liam jelas tidak bisa melihat anak 9 tahun disiksa seperti ini. Kembali menolehkan pandangannya pada Rachel, ternyata Rachel pingsan. Jelas saja, mana mungkin gadis 9 tahun dapat menahan pukulan telak ke arah perutnya.
"..."
Terpaku melihat Rachel, Liam kemudian bersiap untuk membopong Rachel yang pingsan.
Saat ia mengangkat Rachel, Liam agak kesusahan.
"Saya akan membantu anda."
Tiba-tiba, ada sebuah suara yang datang dari belakang Liam.
"Sebas?"
__ADS_1
...***...
Liam sekarang sedang menunggu di teras mansion. Siapa yang dia tunggu? Tentu saja, itu adalah gurunya yang baru. Karena koneksi dari keluarga Teyvat, ayah Liam, Zagan bisa memanggil guru yang Liam pilih sebelumnya. Sehari setelah itu, akhirnya hari di mana Liam bertemu gurunya tiba.
Gruduk gruduk
Dari gerbang mansion yang jauh, terlihat sebuah kereta kuda datang. Liam otomatis tahu bahwa itu adalah guru barunya. Kereta itu kemudian berhenti di depan pintu masuk mansion. Pintu kereta itu terbuka, lalu keluarlah seorang perempuan. Rambutnya berwarna merah cerah. Ia berumur sekitar 50 tahunan, tapi meski begitu, ia kelihatan sangat bersemangat.
"Jadi, kau adalah muridku huh?"
Meski tahu bahwa Liam adalah anak seorang bangsawan, Perempuan itu tidak menggunakan bahasa yang sopan.
"Ajari aku dengan baik, nenek tua."
Mendengar kalimat 'nenek tua', perempuan itu langsung meninju kepala Liam.
"Jaga bicaramu, dasar bocah!"
"Aduh!"
Liam langsung meringkuk kesakitan.
"Dasar, mengapa aku harus mengajari bocah nakal sepertimu?"
Perempuan itu kelihatan tidaklah puas.
"Selamat datang, Edna-sama. Terima kasih sudah menerima tawaran untuk menjadi guru tuan Liam."
Sebas ternyata sudah tiba juga untuk menyambut guru baru Liam. Edna Myford, dia adalah guru yang Liam pilih. Dia juga adalah penulis buku yang Liam baca sebelumnya. Liam memilih Edna, karena dalam buku yang ia baca, penjelasan Edna sangatlah rinci dan mudah dipahami. Liam yakin bahwa Edna memiliki bakat mengajar yang hebat.
"Sebas! Kau sungguh bertambah tua ya!"
Edna menepuk pundak Sebas seakan-akan mereka berdua adalah teman.
"Heeh... kau kenal dengan pelayanku?"
"Sebas, kau sungguh tinggal bersama bocah ini?"
"Huh? Apa kau bilang nenek tua?"
Sebas hanya bisa mendesah melihat Liam dan Edna yang bertengkar.
"Ehem, jadi Edna-sama, dia adalah Liam Teyvat, tuanku di mansion ini. Dan tuan Liam, Edna-sama adalah teman petualangku waktu aku masih muda dulu."
Pada akhirnya, Sebas-lah yang memperkenalkan Liam pada Edna dan sebaliknya. Kesan pertama mereka berdua sangatlah buruk.
"Tidak usah basa-basi lagi. Tunjukkan saja apa yang kau bisa, dasar bocah!"
Edna kayaknya benar-benar kesal pada Liam.
"Sebas, ambilkan pedang latihan. Jangan harap aku akan menahan diri, nenek tua."
...***...
Liam dan Edna sekarang sedang saling berhadapan di bagian belakang mansion. Mansion keluarga Teyvat memiliki taman indah di bagian depan, sedangkan di bagian belakangnya terdapat sebuah tempat pelatihan.
Mereka berdua akan melakukan duel pedang di tempat itu.
"Ayo maju, bocah."
Mempersiapkan kuda-kudanya, Liam mendecakkan lidah.
"Jangan menyesal kalau kalah, nenek tua."
Memegang pedang kayu di tangannya, Liam langsung melesat ke arah Edna.
__ADS_1
"Butuh 100 tahun latihan agar kau bisa menyerangku dari depan, bocah!"
Edna langsung mengayunkan pedangnya secara verikal ke arah Liam yang sedang melesat. Bereaksi terhadap serangan itu, Liam langsung mengubah arah dan mengindar ke sebelah kiri.
"Ini kemenanganku."
Liam yang sudah berada di sisi kanan Edna, langsung menyerang Edna yang sedang terbuka pertahanannya secara vertikal.
Sesaat sebelum pedang Liam mengenai Edna, Edna mundur beberapa langkah ke belakang sehingga pedang Liam hanya mengenai udara kosong.
Edna lalu tersenyum lalu menyerang Liam.
(Gawat!)
Liam yang masih belum memperbaiki kuda-kudanya tidak bisa menerima serangan Edna yang tiba-tiba.
Sesaat sebelum mengenai Liam, Edna mengehentikan pedangnya di wajah Liam. Dan begitulah, duel ini dimenangkan oleh Edna.
"Butuh 100 tahun bagimu untuk mengalahkanku di duel pedang, dasar bocah."
"Tch."
Liam kemudian melepaskan pedangnya dan berjalan meninggalkan tempat latihan.
"Mau kemana kau, bocah? Kau tidak akan meminta maaf?"
Edna tersenyum mengejek Liam yang meninggalkan tempat latihan.
"..."
Liam hanya terus berjalan tanpa menggubris kata-kata Edna.
"Saya minta maaf atas sikap tuan Liam, Edna-sama."
Sebas, yang dari tadi menyaksikan duel, datang mendekat pada Edna.
"Dia memang bocah yang nakal, bagaimana kau bisa berakhir bersamanya Sebas?"
Sebas hanya tertawa kecil mendengar kalimat Edna.
"Meski begitu, tuan Liam memiliki hati yang baik."
Edna heran mendengar perkataan Sebas.
"Bocah nakal itu?"
...***...
Liam berjalan meninggalkan tempat pelatihan. Dari raut wajahnya, ia tampak frustasi. Shirogami yang berada dalam tubuh Liam, tidak tahu apakah rasa frustasi ini benar-benar dari dirinya atau dari Liam yang asli.
Tetapi pada dasarnya, mereka berdua sudah menjadi satu kesatuan. Shirogami frustasi karena ia lemah, dan dengan begitu ia tidak bisa bertahan di masa depan, sedangkan Liam yang asli, frustasi karena ia kalah. Harga dirinya tidak bisa membiarkan itu.
Disaat sedang berjalan, Liam berpapasan dengan kakaknya Lloyd.
"Liam, apakah kau sudah memberi pelajaran pada ternak itu?"
Lloyd tampaknya masih marah pada kejadian yang kemarin terjadi.
"Oh kakak, aku mengurungnya di tengah-tengah black forest."
"Black forest?"
Liam lalu menunjukkan senyum jahat. Tidak ada anak seusianya yang mungkin bisa tersenyum seperti Liam sekarang.
"Iya kak, bayangkan saja, bagaimana rasa takut akan monster, dipadukan dengan kelaparan dan kehausan, di campur dengan keputus-asaan. Aku yakin, bajingan itu sekarang sedang menderita."
__ADS_1
Lloyd tersenyum balik pada perkataan Liam.
"Kau tidak buruk juga."