
Bunyi peralatan makan terdengar di mansion keluarga Teyvat. Makan malam yang mereka adakan kali ini adalah makan malam yang spesial, karena putra sulung keluarga Teyvat akan pergi ke ibukota dan menjalankan ujian sekolah kesatria.
"Bagaimana Lloyd, apakah semua persiapan barangmu sudah lengkap?"
Yang mengatakan hal itu adalah ibu dari Lloyd dan Liam, Jessica.
"Sudah ibu, semua barang keperluanku sudah beres. Tinggal berangkat saja."
Lloyd tersenyum pada Jessica. Ia sepertinya sangat senang karena besok adalah hari keberangkatannya.
"Jangan permalukan nama keluarga Teyvat. Pastikan bahwa kau menghajar orang-orang rendahan yang ada disana."
Pada akhirnya semua hal ini hanya berputar-putar pada gelar yang disandang, kedudukan, dan superioritas. Liam sudah menduga bahwa ini akan berakhir ke arah sana.
"Tentu saja ayah. Mereka tidak ada tandingannya denganku."
Lloyd menjawab Zagan dengan nada bangga. Shirogami yang ada di dalam Liam tahu bahwa dalam Tale of The Untales, Lloyd adalah karakter yang sangat kuat, sehingga kebanggannya itu memiliki dasar.
"Lalu bagaimana dengan latihanmu Liam? Apakah kau sudah mengetahui elemen sihirmu?"
Meski tidak tampak pada ekspresinya, Liam kaget mendengar pertanyaan Zagan. Ia kira bahwa makan malam kali ini hanya akan berfokus pada Lloyd.
"Aku memikiki mana elemen air ayah. Aku sepertinya bagus pada sihir penyembuhan. Aku juga sudah berlatih ilmu pedang dengan giat sehingga aku juga bisa menjadi seperti kak Lloyd dan menyadarkan para orang rendahan itu tentang tempat mereka."
Meski Shirogami bingung untuk menjawab, tapi berkat mulut Liam yang kasar, ia bisa berimprovisasi dan mengatasi situasi saat ini. Untuk elemen mananya, Liam berbohong bahwa ia memiliki mana berelemen air. Ia hanya menjawab sesuai elemen yang ia gunakan saat dalam Tale of The Untales. Tidak mungkin Liam memberi tahu kepada keluarganya bahwa tablet afinitas tidak menunjukkan reaksi apapun. Bisa-bisa ia dicoreng dari keluarga Teyvat.
"Baguslah kalau begitu. Dengan sihir penyembuhanmu, kau bisa membantu kakakmu dari belakang."
Liam bersyukur karena Zagan tidak kecewa dengan elemem air dan sihir penyembuh. Jika Zagan kecewa, Liam tidak tahu lagi bagaimana caranya agar ia bisa mengelak dari masalah ini.
Makan malam kemudian berlanjut seperti biasa. Liam bercengkrama dengan keluarganya secara natural. Setelah makan malam, Liam kemudian kembali ke kamarnya.
"Besok... akan dimulai."
Rencana penyelundupan Rachel akan dimulai besok, meski persiapaannya sudah matang, Liam masih agak gugup.
(Tidak apa-apa, besok semuanya akan baik-baik saja.)
Berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak gugup, Liam memikirkan mengapa Tablet afinitas tidak menunjukkan reaksi apapun.
(Manaku berwarna hitam, apakah itu mungkin pertanda buruk?)
Liam berpikir sekuat tenaga tentang apa yang salah dengan mananya. Menjadi buntu, Liam kemudian ingin membuat suatu percobaan.
"Aku harus memanggil Sebas."
Tak lama kemudian Sebas sampai di kamarnya Liam.
"Saya dengar tuan sedang memanggil saya."
Seperti biasa, sebagai pelayan Sebas selalu datang dengan cepat.
"Iya, aku ingin kau menggunakan mana flow milikmu."
"Baik."
Tanpa bertanya apa tujuan Liam ingin melihat mana flow miliknya, Sebas melakukan hal itu tanpa protes. Sesaat kemudian, dari tangan Sebas, muncul sebuah cahaya biru muda.
"Sudah tuan."
Liam berpikir sejenak, kemudian ia bertanya pada Sebas.
"Apa afinitas elemenmu?"
"Saya memiliki elemen air tuan."
Liam mulai melihat hubungan warna yang muncul dengan afinitas elemen seseorang. Liam kemudian meminta Sebas memanggil pelayan yang memiliki afinitas elemen api, tanah, dan angin.
Setelah beberapa saat, Sebas datang dengan 3 orang pelayan. Liam menyuruh mereka untuk melakukan mana flow. Hasilnya, pelayan dengan afinitas api mengeluarkan cahaya merah, afinitas tanah mengeluarkan cahaya kuning kecoklatan, afinitas angin mengeluarkan cahaya hijau seperti punya Edna.
(Ternyata begitu!)
__ADS_1
Setelah menyuruh 3 pelayan lain itu pergi, Liam kemudian bertanya pada Sebas.
"Apa ada cara untuk mengetahui elemen sekunder?"
"Terdapat Tablet khusus lagi untuk itu tuan."
"Cepat ambilkan!"
Sebas kemudian menggelengkan kepala terhadap Liam.
"Kita tidak mempunyai tablet itu tuan. Yang kita punyai adalah tablet afinitas elemen primer."
"Tch, tidak berguna."
Liam kira dia bisa tahu apa afinitas elemen sihirnya, tetapi ia merasa buntu lagi.
"Apa mungkin, tuan mengira elemen anda adalah elemen sekunder?"
Sebas bertanya pada Liam dengan wajah penasaran.
"Ya."
"Tapi tuan, dalam kebanyakan kasus, setiap orang mempunyai elemen primer dahulu, sebelum mempunyai elemen sekunder."
Liam kemudian menjawab Sebas dengan nada ketus.
"Kita belum tahu sebelum kita mencoba. Tanamkan hal itu dalam otak kecilmu."
Shirogami sudah pasrah terhadap mulut tajam Liam.
"Bagaimana dengan persiapan rencananya? Apakah semua benar-benar matang? Kita akan mati kalau ketahuan."
Liam bertanya karena memang ia sangat gugup terhadap rencana yang akan mereka jalankan besok.
"Semuanya sudah siap Tuan, tidak perlu khawatir akan hal itu."
"Semoga saja apa yang kau katakan benar..."
(Semoga besok baik-baik saja...)
...***...
Saat matahari belum menampakkan wujudnya, Liam sudah membuka mata.
"Ayo, kita mulai rencananya."
Dengan diam-diam, Liam keluar mansion dan pergi menuju penjara bawah tanah. Ia bertemu dengan Sebas. Mereka berdua pergi meninggalkan Mansion. Sesampainya di depan penjara bawah tanah, Liam melihat ada sebuah kereta kuda yang sudah tersedia. Liam lalu masuk ke penjara bawah tanah dan pergi menuju tempat Rachel dikurung. Liam melihat Rachel yang masih terlelap. Ia masih merasa kasihan terhadap anak 9 tahun yang dikurung di penjara itu.
"Bangun makhluk tak berguna."
Rachel lalu kaget saat ia mendengar suara Liam.
"Tu-tuan Liam?"
Rachel terlihat putus asa. Ia merasa bahwa waktu eksekusinya sudah dekat.
"Eh? Pak Sebas?"
Rachel terlambat menyadari keberadaan Sebas. Ia merasa bingung mengapa Sebas bisa bersama-sama dengan Liam.
"Sebas, buka kurungannya."
"Baik Tuan."
Menggunakan kunci yang ia pegang, Sebas kemudian membuka kurungan milik Rachel.
Rachel menatap Liam dan Sebas dengan tatapan bingung. Setelah kurungan terbuka, Liam kemudian memanggil Rachel keluar.
"Keluar kau."
Dengan takut, gemetar, dan bingung Rachel keluar dari tempatnya dikurung.
__ADS_1
"Aku akan memberi 2 pilihan dasar tak berguna. Mati disini atau keluar dari sini dan mati di tempat lain 60 sampai 70 tahun mendatang."
Rachel bingung dengan perkataan Liam.
"Tuan Liam ingin mengeluarkan kau dari sini Rachel."
Sebas kemudian menjelaskan maksud dari hati Liam sebenarnya. Shirogami yang ada di dalam tubuh Liam sendiri sudah pasrah dengan mulutnya yang tajam.
"Yah, lebih mudah jika kau ingin mati disini, sekarang."
Liam menyambung kalimat Sebas dengan nada ketus. Meski ketakutan, Rachel melihat secercah harapan untuk bertahan hidup. Ia kemudian langsung membungkukkan badan kepada Liam.
"Te-terima kasih tuan Liam!"
Dalam hatinya Liam senang bahwa Rachel masih mempunyai semangat hidup setelah banyaknya kesusahan yang ia alami akibat keluarga Teyvat. Akan gawat kalau Rachel sudah menyerah untuk melanjutkan hidupnya, tetapi seperti yang diharapkan, sebagai Heroine Rachel tidak pantang menyerah.
"Kau harus menuruti semua perintahku, satu saja kesalahan dan nyawamu akan melayang."
"Ba-baik!"
Dan dengan begitu, Liam memulai tahap selanjutnya dari rencana.
...***...
Di pintu gerbang wilayah keluarga Teyvat, terdapat beberapa rombongan kereta kuda yang sedang berbaris. Satu dari kereta-kereta itu berbeda dari yang lain. Kereta itu memiliki berbagai macam hiasan dan ornamen mewah. Jelas itu bukanlah kereta orang biasa.
Banyak rakyat di wilayah Teyvat berkumpul untuk melihat apa yang sedang terjadi. Lloyd kemudian terlihat berjalan, kemudian masuk ke dalam kereta mewah itu.
Sebuah terompet lalu dibunyikan dan rombongan kereta itu berjalan bersama-sama dengan kereta Lloyd berada di tengah-tengah mereka.
Iringan musik yang meriah mengiringi kepergian Lloyd. Liam dan Sebas melihat kepergian Lloyd dari kejauhan. Ada sedikit kekhawatiran terpancar dari muka Liam tetapi ia berusaha menyembunyikannya.
Berpindah ke rombongan kereta Lloyd, sesaat setelah mereka keluar, sebuah kereta memisahkan diri dari rombongan Lloyd.
Kereta itu awalnya dicegat namun setelah diberi tahu bahwa mereka ingin singgah ke kota sebelah karena disuruh Zagan untuk membeli pedang bagi Liam, mereka kemudian dibiarkan pergi. Itulah kereta yang sebenarnya membawa Rachel.
Kembali lagi ke sisi Liam, sekarang Liam sedang berada di pinggiran hutan Black Forest sambil memegang 4 ekor ayam yang sudah mati. Area ini tidak terlalu berbahaya sehingga Liam masih bisa memasukinya.
Liam kemudian masuk agak lebih dalam ke hutan sehingga ia sampai di sebuah kurungan kayu yang tampak rusak.
"Sebas membuatnya dengan baik."
Menggunakan pisau yang ia bawa, Liam memotong ayam-ayam itu dan menyebarkan darahnya di sekitar kurungan.
"Sentuhan akhir selesai."
Dengan begitu seluruh rencana menyelamatkan Rachel berhasil diselesaikan.
Sejak awal, inilah rencana Liam: Untuk mengeluarkan Rachel dari wilayah Teyvat, kereta yang membawa Rachel perlu melewati penjaga. Ini yang menjadi masalah. Karena struktur alam, Liam tidak bisa menyelundupkan Rachel melalui jalan lain.
Liam bisa saja menyuap penjaga gerbang, tetapi semakin banyak orang yang tahu penyelundupan Rachel, semakin berisiko pula rencananya.
Oleh karena itu, Liam memanfaatkan keberangkatan Lloyd. Tidak mungkin para penjaga akan memeriksa kereta yang keluar bersama dengan rombongan Lloyd sehingga ini menjadi kesempatan bagi Liam.
Setelah diluar wilayah Teyvat, kereta yang membawa Rachel tinggal memisahkan diri dari rombongan Lloyd dan untuk jaga-jaga jika dicegat, Liam menggunakan alasan membeli pedang sebagai perintah Zagan.
Sebagai sentuhan akhir, Liam tinggal membuat kurungan palsu dan memalsukan kematian Rachel di Black Forest.
"Seharusnya besok sore Rachel sudah sampai di tempat itu."
Liam mengirim Rachel ke sebuah desa yang agak jauh dari wilayah keluarga Teyvat. Desa itu adalah desa Borsch.
Liam mengirim Rachel ke panti asuhan Elvengrade. Mengapa kesana? Itu karena panti asuhan Elvengrade adalah tempat protagonis dunia ini, yaitu Zack dibesarkan.
Dalam Tale of the Untales Rachel dibawa kesana oleh sekelompok petualang, tetapi Liam telah merubah hal itu.
...***...
Rachel yang sedang berada dalam keretanya termenung. Ia seakan tidak percaya bahwa ia masih hidup sampai sekarang. Ia mengingat kembali pesan tuannya, Liam Teyvat sebelum ia masuk ke dalam kereta.
"Jangan pernah datang lagi ke wilayah Teyvat. Kau sudah mati di sini. Hindari bertemu dengan Lloyd atau orang manapun yang berasal dari keluarga Teyvat. Mulai sekarang kau tidak ada hubungan dengan kami."
__ADS_1
Memegang erat-erat kantong uang yang diberikan Liam sebagai biaya hidupnya, Rachel merasa bersyukur. Ia bersumpah akan membalas Liam suatu hari nanti.