
Keluarga Teyvat adalah salah satu keluarga bangsawan yang terpandang di kerajaan Trianos. Mereka memiliki daerah kekuasaan yang strategis. Daerah yang dipimpin oleh keluarga Teyvat memiliki benteng alami yang melingkupi daerah itu yaitu Black Forest.
Black Forest ini adalah hutan yang dipenuhi oleh berbagai jenis monster, dari yang lemah sampai ke yang sangat kuat.
Black Forest ini selain membawa dampak positif, ia juga membawa dampak yang negatif. Banyaknya monster yang berada di Black Forest membuat keluarga Teyvat rentan untuk terkena invasi monster.
Mungkin karena itulah, pendanaan yang dianggarkan keluarga Teyvat difokuskan pada militer. Tetapi, memiliki militer yang kuat membuat keluarga Teyvat semakin diktaktor. Tidak ada rakyat biasa yang berani melawan tirani keluarga Teyvat, karena mereka memiliki kendali militer yang kuat.
Untuk mengantisipasi ancaman dari luar, keluarga Teyvat betul-betul mengawasi orang-orang yang keluar masuk wilayah Teyvat.
Kembali lagi, karena adanya Black Forest, wilayah Teyvat hanya bisa dimasuki melalui satu jalan masuk.
Inilah yang menjadi halangan terbesar bagi Liam untuk mengeluarkan Rachel dari wilayah Teyvat.
Liam sebelumnya berkata pada Lloyd bahwa ia menaruh Rachel di penjara Black Forest, tetapi sebenarnya Liam hanya membawa dan mengurung Rachel di penjara bawah tanah yang agak jauh dari mansion.
Atas perintah, atau lebih tepatnya ancaman Liam, para penjaga tidak berani membuka mulutnya bahwa Rachel sedang dikurung di sana.
Setelah Liam memeriksa keadaan sekeliling dan memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Liam kemudian pergi ke penjara bawah tanah. Ada satu hal yang perlu ia konfirmasi dari Rachel.
Sesampainya di tempat itu, Liam kemudian menuruni tangga yang remang-remang, menuju sel-sel tahanan yang ada di bawah tanah.
Liam kemudian sampai di depan Rachel. Ia melihat Rachel yang sedang meringkuk ketakutan. Ia tampaknya menyadari kedatangan Liam.
"Hei penakut."
Rachel hanya bisa gemetaran, mendengar kalimat Liam.
"A-apakah sudah waktunya saya di eksekusi?"
Rachel sepertinya sudah kehilangan semangat untuk hidup. Sangat sedih melihat anak 9 tahun yang seharusnya bermain, menikmati masa kecilnya harus merasakan keputusasaan yang luar biasa.
"Akan sangat membantu jika kau mau aku melakukannya sekarang. Tapi, sebelum itu, jawab pertanyaanku, dasar tak berguna."
"Y-ya?"
Rachel agak bingung dengan kalimat Liam.
"Apa kau punya keluarga lain disini?"
Rachel masih bingung mengapa Liam bertanya hal seperti itu padanya.
"Cepatlah jawab, atau apakah aku harus masuk kesana dan membuka paksa mulutmu?"
Tertegun, Rachel langsung menjawab Liam.
"Sa-saya tidak punya siapa-siapa... ayah dan ibu saya meninggal 2 tahun yang lalu."
"Kerabatmu yang lain selain orangtua-mu?"
Liam lanjut menanyakan pertanyaannya.
"Sa-saya tidak tahu. Ayah dan ibu tidak pernah memberi tahu saya mengenai hal itu."
Puas mendengar jawabannya, Liam kemudian bergegas meninggalkan Rachel.
(Yep, sesuai dengan latar dalam game. Dengan begini, aku bisa menjalankan rencananya tanpa beban.)
Sesaat sebelum Liam menaiki tangga, Rachel memberanikan diri memanggil Liam.
"Tu-tuan!"
Liam berhenti, kemudian membalikkan badannya ke arah Rachel.
"Apa?"
__ADS_1
Rachel yang gemetar kemudian memberanikan diri untuk berbicara.
"Ji-jika anda berkenan, tolong kubur saya nanti di dekat tempat ayah dan ibu."
Jika itu adalah Lloyd, jelas Rachel tidak akan meminta hal itu, namun entah kenapa, dalam hatinya Rachel ada sedikit perasaan bahwa Liam berbeda dengan Lloyd.
"Hmph, permintaanmu sungguh sia-sia."
Tidak menggubris Rachel, Liam kemudian berjalan dan menaiki tangga ke atas.
(Sungguh menyedihkan, melihat seorang anak 9 tahun memilih tempat dia dikuburkan.)
Liam kemudian kembali ke mansion. Sesaat setelah sampai di kamarnya, Sebas datang menghampiri Liam.
"Tuan, keretanya sudah siap."
"Begitukah?"
Liam menjawab Sebas dengan nada ketus.
"Namun, ke daerah mana kita harus mengirimnya? Ke ibukota?"
Sepertinya Liam dan Sebas bekerja sama untuk mengeluarkan Rachel dari wilayah Teyvat.
"Dasar bodoh, kau kira seorang gadis 9 tahun bisa bertahan sendirian di kota yang besar itu?"
Sebas yang menyadari hal itu kemudian menanyakan solusinya pada Liam.
"Tapi tuan, jika kereta kita nanti meninggalkan rombongan tuan Lloyd, bukannya akan terlihat mencurigakan?"
Liam juga menyadari hal tersebut, tetapi ia sudah memikirkan suatu ide sebelumnya.
"Aku akan mengakali hal itu."
Liam kemudian bangun dari sofanya, dan pergi meninggalkan kamarnya.
...***...
(Aku harus terlihat natural.)
Liam kemudian mengetok pintu ruangan ayahnya.
Tok tok
"Masuk."
Beberapa saat kemudian, Liam mendengar suara Zagan dari dalam yang mempersilahkannya masuk.
Liam kemudian membuka pintu ruangan, dan melangkah masuk ke dalam.
"Jadi, kenapa kau kesini Liam?"
Tanpa basa-basi, Zagan berbicara langsung pada intinya.
"Ayah, aku ingin membeli sebuah pedang."
"Benarkah? Lalu kenapa kau datang melaporkan ini padaku?"
Normalnya, jika Liam ingin membeli pedang, ia bisa saja meminta Sebas atau pelayan yang lain untuk pergi ke kota, dan membeli sebuah pedang. Ia tidak perlu repot-repot memberi tahu ayahnya.
"Kata guruku, ada sebuah pengrajin pedang yang hebat di kota sebelah. Aku ingin membeli pedang yang dibuatnya."
Liam berbohong pada ayahnya. Edna tidak pernah sama sekali mengatakan hal itu pada Liam.
"Benarkah? Kalau begitu, ini uangnya. Dapatkan sebuah pedang yang bagus."
__ADS_1
Zagan mengambil 5 keping koin emas, lalu memberikannya pada Liam.
"Terima kasih, ayah!"
Liam tersenyum pada Zagan kemudian keluar dari ruangan Zagan.
(Tidak kusangka akan semudah ini. Percuma saja aku memikirkan simulasi percakapan dengan ayah.)
...***...
Satu hari sudah berlalu. Besok adalah hari keberangkatan Lloyd ke ibukota sekaligus hari dimana rencana Liam dilaksanakan. Karena berbagai hal yang diperlukan untuk rencana sudah beres, hari ini Liam ingin untuk fokus pada latihannya.
"Usaha yang bagus, Tuan Lose!"
Edna sekarang sedang melatih Liam tentang ilmu pedang. Mereka berdua melakukan latihan tanding di belakang mansion keluarga Teyvat.
"Diam kau, nenek tua!"
Liam terus-menerus menyerang Edna menggunakan pedang kayu yang ada di tangan kanannya, tetapi hasilnya nihil. Edna selalu bisa menghindar, atau menangkis serangan yang Liam berikan.
"Cih, bagaimana dengan ini!?"
Liam kemudian melesat ke arah Edna dari depan. Ini sama seperti pertarungan pertamanya dengan Edna sebelumnya.
"Apakah kau sudah putus asa bocah?"
Edna menyerang lagi Liam seperti di pertarungan sebelumnya. Ia mengayunkan pedangnya secara vertikal ke atas Liam.
Pada pertarungan sebelumnya, Liam menghindar serangan Edna ke samping. Tetapi kali ini, Liam menerima serangan Edna.
(Hohou, rupanya dia ingin beradu kekuatan denganku. Bocah ini cukup berani.)
Pedang kayu Edna dan Liam bertemu. Tetapi, sejak awal Liam tidak berniat untuk beradu kekuatan dengan Edna. Perbedaan usia dan massa otot jelas membuat Liam pasti akan kalah dalam adu kekuatan.
Alih-alih menerima dan menahan serangan Edna secara utuh, Liam menerima dan membelokkan serangan Edna.
(Apa?)
Edna cukup terkejut mengenai apa yang Liam lakukan. Kuda-kuda Edna hancur sehingga Liam langsung mendekat untuk menyerang Edna yang pertahanannya terbuka.
"Ini kemenanganku!"
Saat Liam berpikir dia sudah menang, Edna tersenyum kemudian dia mengarahkan tangannya yang kosong ke arah Liam.
"[Wind Blast]"
Sesaat kemudian, sebuah angin bertekanan tinggi datang menghantam Liam, membuatnya terpental.
"Ahaha! Sayang sekali bocah, kau kalah lagi!"
Edna tertawa melihat Liam yang terpental karena sihirnya.
"Kau curang! Dasar nenek tua!"
"Wah-wah, ada yang merengek karena kalah! Ahahaha!"
Terlepas dari kekalahan Liam, Edna terkesan dengan apa yang Liam lakukan sebelumnya.
(Dia berbakat. Di usianya yang semuda ini, dia sudah mampu menggunakan teknik yang rumit. Aku penasaran, akan jadi apa dia di masa depan.)
Liam kelihatan emosi kemudian memasang kuda-kudanya lagi.
"Ayo sekali lagi! Akan kukalahkan kau, nenek tua!"
Mendengar kalimat Liam, Edna langsung emosi.
__ADS_1
"Jangan panggil aku nenek tua!"