
Siang hari di Pondok Pesantren Ma'arif Pekalongan begitu ramai karena telah diadakan Tasyakuran pengantin.
" Abang Hanan, selamat menempuh hidup baru dan melaksanakan ibadah terpanjang di dunia. " Ucap gadis ayu yang menyalami dan memeluk kakaknya setelah berfoto bersama. Ia adalah Chesya adik kandung dari Gus Hanan.
" Aamiin, semoga adik Abang ini lekas menyusul. " Ucap Hanan yang ingin adiknya ini cepat menikah juga sembari mengelus kepala adik tercinta. Seharusnya Chesya dulu yang naik pelaminan tapi Allah berkehendak lain.
" Aamiin, iya bang doa in yang terbaik buat Chesya. " Jawab Chesya lalu beralih menyalami Hana kakak iparnya.
" Teteh Hana selamat jadi istri Abang Hanan ku, Jangan galak galak ya." Ucap Chesya terkekeh karena yang menjadi ipar adalah sahabat nya, terlebih ia harus memanggil teteh yang masih terasa asing.
" Iya adikku tercintrong jadilah adik ipar yang baik ya. " Ucap Hana menimpali candaan Chesya.
" Yaudah Bang, Teh aku turun dulu ya. Kayanya masih banyak yang antri mau bersalaman dengan pengantin. " Ucap Chesya begitu melihat sekelilingnya banyak yang mengantri menunggu giliran berfoto dan juga bersalaman.
" Iya Che siapa tau dapet jodoh kan di pernikahan kita, Iya kan bang. " Cetus Hana kepada Chesya yang meminta persetujuan Hanan dengan menyenggol kan tangannya.
" Iya sayang. " Jawab Hanan cepat sembari menyalami orang yang mengantri tadi.
Sedangkan Chesya sudah mlipir untuk menyapa tamu undangan yang hadir di pernikahan kakaknya bersama Umi nya.
" Eh Bu Amira akhirnya datang juga, kirain ndak bisa datang lho." Ucap Umi Fatimah bersalaman kepada teman lamanya yang telah lama tinggal di Jakarta bersama suami dan juga anak anaknya.
" Alhamdulillah Umi Fatimah aku bisa datang ke pernikahan anak mu. " Ucap nya.
Saat itu Chesya sudah berada di dekat Umi Fatimah dan juga Bu Amira.
__ADS_1
" Lho ini Chesya kan?". Sambung Amira berganti bersalaman dengan Chesya yang sedikit tak yakin dengan pertanyaan nya. Pasalnya ia sudah lama tak melihat anak perempuan dari Umi Fatimah. Terakhir melihat masih berusia 5 tahun, wajar saja kalo pangling.
" Iya Bu saya Chesya anak kedua nya Umi. " Jawab Chesya sopan.
" Masyaallah cantik sekali kamu nduk. " Ucap Amira menangkup kedua pipi Chesya karena saking gemasnya.
" Aamiin terimakasih bu, Ibu juga Masyaallah cantiknya. " Jawab Chesya malu malu merasa tak secantik itu. Namun ia juga memuji kecantikan Bu Amira walau sudah tak muda lagi tapi tetap masih terlihat cantik natural.
Di sudut lain ibu ibu perkampungan yang kebetulan datang untuk memberi selamat pada pengantin sedang bergosip ria sembari menikmati kudapan yang ada.
" Bu tau ndak kalau seharusnya itu yang menikah duluan Ning Chesya." Ucap Bu Retno si biang gosip.
" Emang iya Bu, Bu Retno kata siapa?. Lah wong kayanya belum ada yang ngelamar Ning Chesya, Kayaknya ga laku deh ya. " Jawab Bu Ratih yang tak kalah nyinyir.
" Astaghfirullah Bu jangan begitu, kok malah ghibah in Ning Chesya. Setau saya ada beberapa kali yang ngelamar tapi ndak di terima, mungkin belum ada kecocokan dan masih trauma. " Ucap Bu Santi yang memang tau dengan kejadian yang di alami oleh Ning Chesya. Kebetulan ia juga suka bantu bantu di ndalem nya kiyai.
" Yasudah terserah Ibu ibu saja, yang penting saya sudah mengingatkan. " Ucap Bu Santi lalu meninggalkan mereka yang sedang bergosip.
" Ekheeem, diam Bu ada Ning Chesya lewat. " Bu Retno berdehem sambil bisik bisik agar tak terdengar. Tapi nyatanya Chesya sudah mendengar apa yang mereka bicarakan.
" Aduh gimana ini Bu, Ning Chesya dengar ndak ya. " Ucap Bu Ratih ketakutan , padahal ia sudah mengata ngatai Ning Chesya.
Setelah Chesya semakin dekat ia menyapa segerombolan Ibu ibu tadi. " Silahkan Bu ibu di nikmati hidangannya. Semoga suka ya Bu ibu. " Ucap Chesya Ramah kepada Ibu ibu yang bergosip tadi. Lalu ia kembali berjalan ke depan gerbang pesantren ikut membantu Santriwati yang menjadi penerima tamu para Akhwat.
" Kalian sudah makan belum. Kalau belum bergantian aja, takutnya nanti masih banyak tamu yang datang. Jangan sampai kalian sakit." Ucap Chesya pada Santriwati yang berjaga dan akhirnya beberapa dari mereka pamit untuk santap siang dahulu. Sebenarnya mereka sudah istirahat ketika sholat dhuhur tapi langsung buru buru kedepan karena tamunya berdatangan tak berhenti. Walhasil mereka belum sempat untuk makan siang.
__ADS_1
" Yasudah Ning kami pamit makan dulu ya. Assalamualaikum. " Ucap mereka yang ingin makan dulu.
" Iya Silahkan, Waalaikumsalam. " Ucap Chesya, Nisa dan Santriwati lainnya.
" Nisa apa ada kendala selama berjaga menerima tamu, ada yang aneh aneh tidak. " Tanya Chesya kepada Nisa yang masih berjaga. Ia bertanya pada Nisa karena memang lebih mengenal Nisa dari pada yang lain. Takutnya ada orang yang ingin mengacau.
" Alhamdulillah sejauh ini ndak ada Ning. " Ucap Nisa mantap.
Hening sesaat karena belum ada tamu yang datang kembali. Tiba tiba Chesya ingat perkataan Ibu ibu tadi dan mengingat Almarhum calon suaminya.
" Ya Allah kuatkan lah hati hambamu ini agar tak sakit hati atas perkataan Ibu ibu tadi. Siapa yang tau Janur Kuning atau Bendera Kuning yang akan datang menghampiri hidup kita. Mas Bani semoga dilapangkan kuburmu dan mendapatkan surga nya Allah, Aamiin." Batin Chesya yang mengingat Almarhum calon suaminya dan mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Nisa, Caca dan yang lainnya melihat Chesya melamun dan seperti ingin menangis. Mereka saling sikut dan bertanya dengan cara berbisik dan memakai isyarat.
" Ca, Ning Chesya kenapa kok kaya mau nangis gitu. " Ucap Nisa berbisik dan menyikut Caca dengan lengannya.
" Eh iya kok kaya mau nangis. " Ucap Caca yang tak kalah kaget ketika melihat Ning Chesya. Sorot matanya juga memandang ke temannya yang kebetulan berjaga di sebrang nya.
" Aku juga ndak tau. " Jawab Siti dengan mengangkat bahunya pertanda tak tahu menahu.
Walhasil Nisa bertanya dengan menyetuh tangannya Ning Chesya daripada penasaran, pikirnya.
" Ning, Ning Chesya kenapa?. " Tanya Nisa pelan. Sedangkan kan di tanya sedikit tersentak karena kaget.
" Eh... Ga kenapa kenapa kok Nis. " Jawab Chesya cepat.
__ADS_1
" Beneran Ning Chesya ndak apa apa, cerita aja Ning sama Nisa. " Tawar Nisa yang ingin mendengar cerita Chesya. Nisa pikir sebagai sesama wanita mungkin bisa berbagi cerita agar bisa sedikit lega.
Pada akhirnya Chesya berbagi cerita empat mata dengan Nisa di ndalem kiyai. Setelah berbagi cerita ia merasa sedikit lega dan tak terlalu bersedih. Kebetulan juga acara tasyakuran sudah di penghujung itu artinya sudah tidak terlalu banyak yang datang.