
Semilir angin malam menemani Ning Chesya yang sedang duduk di sofa. Tepatnya sofa yang berada di balkon kamarnya. Ia sedang memantapkan hati agar segera bisa memberikan hak sang suami. Chesya merasa berdosa sendiri, Dua Minggu berlalu setelah pernikahan nya tapi belum memberikan mahkotanya untuk sang suami. Ketika melihat ke bawah ternyata suaminya, Abah dan juga Abang Hanan sedang berjalan menuju ndalem setelah selesai Sholat berjamaah. Biasanya Abah dan Abang Hanan langsung mengajar mengaji. Tapi untuk Dua Minggu ini waktunya sedikit senggang.
Ketika melihat suami nya yang sedang berbincang dengan Abah dan Abang dengan memancarkan kebahagiaan. Itu terlihat dari caranya berbicara, walaupun Chesya tak tau apa yang sedang di bicarakan. Ia semakin merasa bersalah pada Abhizar.
*Di Teras Ndalem*
" Hanan masuk dulu ya Bah, Bhi. " Pamit Hanan yang lebih dulu masuk ndalem karena ingin cepat cepat menemui istrinya. Sebenarnya Abhi juga ingin segera menuju kamarnya tapi diurungkan, Pasalnya Abah ingin berbicara dengannya.
" Iya monggo Nan. " Jawab Abah.
" Iya silakan Bang. " Jawab Abhizar hampir bersamaan dengan Abah.
Setelah Gus Hanan masuk, Abah dan Juga Abhi duduk di teras rumah yang sudah tersedia tempat duduk yang terbuat dari kayu yang diukir.
" Duduk sini Bhi. " Ucap Abah menginterupsi agar Abhizar duduk di sebelahnya yang terhalang meja.
__ADS_1
" Iya Abah. " Jawabnya sembari mengangguk.
" Bagaimana Bhi, disini betah?. " Tanya Abah.
" Alhamdulillah betah Bah, apalagi disin udaranya seger banget. " Jawabnya.
" Hubunganmu dengan Chesya bagaimana?. " Tanyanya kembali, bagaimana pun Abah yang akan menjadi orang pertama paling bersalah jika anak dan menantunya tak bahagia atas pernikahan nya.
" Jangan ada ya ditutup tutupi ya Bhi, Ndak papa kalo mau cerita. Cerita sama Abah saja atau juga sama Hanan. Jangan sama orang lain." Ucapnya kembali, agar menantunya bisa berbagi cerita, siapa tau Abah bisa memberi solusi.
Sejatinya urusan rumah tangga tak boleh di umbar, akan tetapi jika ada suatu masalah, harus ada solusi dari orang yang lebih mengerti. Seperti sekarang Abah adalah salah satu Kiai yang bisa dipercaya, terlebih ia adalah Ayah mertuanya. Dalam Islam rahasia rumah tangga jangan sampai diumbar. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al - Baqarah Ayat 187. Inti dari Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pasangan sebagai pakaian. Itu artinya diwajibkan setiap pasangan untuk saling menutupi dan juga menjaga kehormatan.
" Tentu saja Bhi, Abah dan Umi ridho atas pernikahanmu dan putri Abah. Ridho Allah adalah ridho orang tua. Rasulullah SAW bersabda. " Ridho Rabb terletak pada Ridho kedua orang tua dan murka - Nya terletak pada kemurkaan keduanya. " ( Riwayat Ath Thabrani, di shahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi ). Jadi insyaallah Allah SWT pun Ridho atas pernikahanmu dan Chesya. " Jelas Abah panjang lebar.
Abhi manggut manggut mendengar kan penjelasan dari Abah Ma'arif yang lebih tinggi ilmunya.
__ADS_1
" Aamiin, iya Abah. " Abhizar mengaminkan.
" Pesan Abah jaga Chesya dengan baik ya Bhi dan juga sayangi dia dengan setulus hati. Karena Abah dan juga Umi membesarkan Chesya dengan penuh cinta kasih. " Pesan Abah berkaca kaca, ia merasa baru menimang nimang Chesya di gendongan nya. Tapi nyatanya Chesya sudah bersuami, yang artinya tanggung jawab nya sudah berpindah ke pundak sang menantu. Lelaki yang sekarang duduk bersama di depan teras rumahnya.
" Maaf Bah, mungkin Abhi nggak bisa menjanjikan untuk membahagiakan Chesya. Tapi Abhi akan berusaha membuat nya tersenyum bahagia jika bersama Abhi. " Jawab Abhizar dengan tulus.
" Abah percaya insyaallah Abhi akan menjadi salah satu alasan Chesya untuk selalu bahagia. " Ucap Abah menimpali.
" Aamiin Bah. "
" Yasudah kamu naik keatas, sudah malam. "
" Iya Bah monggo, Abah juga istirahat. " Jawab Abhizar mengakhiri obrolan nya dengan Abah.
Lantas Abah dan Abhizar masuk ke ndalem lalu menuju kamarnya masing masing.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf telat update, maklum dunia nyata masih riweh