
" Sayang...mencintai kamu itu anugerah terbesar dalam hidupku. Tak ada alasan untuk mencintai wanita seperti dirimu. " Ucap Abhizar seperti pujangga.
Seketika pipinya merah merona seperti tomat atas pengakuan suaminya. Tapi ia kurang puas dengan jawaban Abhizar. Masa iya mencintai dalam sekejap saja.
" Kamu gombal ya Mas. Mana ada seperti itu." Jawab Chesya malu malu. "
" Ga gombal kok sayang, coba kamu tatap mata Mas. Apa terlihat tak sungguh sungguh." Jawab Abhizar yang mengangkat dagu Chesya agar melihat manik matanya.
Mau tak mau kini netra matanya bertembung dengan mata lelaki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Chesya melihat mata sang suami, ia menangkap jika memang hanya ada ketulusan dari caranya menatap.
" Terimakasih Mas udah mau mencintai Chesya dengan tulus. " Ucapnya dengan senyum tipisnya, ia bertekad agar segera mencintai suaminya itu.
" Sama sama Dek, mungkin kamu sekarang belum bisa mencintai ku. Tapi Mas akan tunggu kamu sampai hati mu ini terbuka untuk ku. " Jawab Abhizar tersenyum manis.
Abhizar menepuk nepuk dadanya, lalu ia merentangkan ke dua tangannya untuk meraih tubuh Chesya agar bersandar. " Sini sayang, biar kamu tau betapa Mas mencintai dirimu. "
Chesya masih bergeming tak kunjung menyambutnya, jelas terlihat jikalau dirinya canggung dengan keadaan ini.
Lama tak kunjung mendapat respon dari Chesya. Abhizar sedikit kecewa tapi ia memaklumi jika istrinya itu masih canggung.
" Yasudah tak mengapa, mungkin kamu masih canggung. " Ucap Abhizar pada akhirnya, menurunkan tangannya yang tadi ia rentangkan.
" Maafkan Chesya Mas. " Jawab Chesya menunduk.
Tak berselang lama, ia memberanikan diri untuk memeluk suaminya. Chesya takut berdosa jika menolak permintaan suaminya. Ia juga tak mau mengecewakan lelaki yang katanya tulus mencintainya. Secara perlahan tubuh Chesya langsung merangsek kedalam pelukan Abhizar.
Greep!!!
" Eh. " Reflek Abhizar karena kaget tiba tiba dirinya dipeluk wanitanya. Akan tetapi ia juga sangat senang dapat pelukan dari istrinya. Jantungnya tak bekerja semestinya.
" Aku takut Mas ga Ridho. " Ucap Chesya jujur.
" Masyaallah istri shalihah nya Mas, makasih ya. " Jawab Abhizar mengelus surai yang tertutup jilbab.
Chesya tak menjawab perkataan Abhizar, ia sedang bersandar, memejamkan matanya pada dada bidang sang suami. Tadinya gugup tapi lama kelamaan Chesya merasa hangat dan nyaman dalam pelukan lelakinya.
__ADS_1
Abhizar menunduk kan kepalanya agar sejajar dengan wajah Chesya. Ketika tau bahwa Chesya sedang bersandar dengan nyaman Abhizar mengembangkan senyumnya.
" Bagaimana sayang, apa kamu mendengar jika jantungku sedang berdisko. Kamu memeluk Mas seperti ini saja rasanya jantung Mas ingin keluar dari tempatnya. "
" I-iya aku mendengar nya. " Jawab Chesya singkat, lalu mengurai pelukannya.
" Jadi..." Sengaja Abhizar menggantung ucapannya.
" Jadi apa Mas? " Tanya Chesya dengan raut bingung. Sungguh Chesya ini masih sangat polos walau umurnya sudah tak muda lagi.
" Hmmm...masa kamu ga tau sih. " Ucap Abhizar kembali.
" Aku benar-benar ndak tau lho Mas. " Jawabnya kembali.
" Istri Mas ini lucu banget sih, Jadi Mas ini benar benar mencintai mu dengan setulus hati. Kamu kan udah denger sendiri jika jantungku berdetak lebih cepat ketika kamu bersandar. " Jelas Abhizar pada akhirnya sembari menoel hidung istrinya.
" Ih Mas, aku kan beneran ga tau. " Jawab Chesya dengan bibir mengerucut.
" Yasudah iya, Jangan kaya gitu bibirnya nanti Mas cium mau? " Ucap Abhizar terkekeh melihat tingkah Chesya yang menggemaskan. Sepertinya Chesya sudah lebih baik, tak terlalu canggung lagi setelah tadi berpelukan.
" Sekarang kita istirahat yuk, Mas capek. Kamu pasti juga capek kaan. Kamu bersih bersih dulu ya. Sehabis kamu, Mas juga mau bersih bersih lalu istirahat. "
Chesya mengangguk, lalu memasuki kamar mandi untuk bebersih sebelum tidur.
" Bentar ya Mas. " Ucap Chesya.
" Iya sayang, Mas mau rebahan dulu sebentar sembari menunggu kamu keluar dari kamar mandi. " Jawab Abhizar yang langsung merebahkan tubuhnya di ranjang Chesya.
Setelah beberapa menit Chesya keluar dari kamar mandi yang sudah terlihat segar. Ia memakai setelan Piyama tidur lengkap dengan penutup kepalanya yaitu bergo instan. Biasanya saat mau tidur Chesya melepas jilbabnya. Tapi untuk kali ini ia masih memakai bergonya karena belum terbiasa dilihat oleh lelaki asing. Ya walaupun sebenarnya yang sekarang ini suaminya sendiri yang berada dalam satu ruangan.
Ia menghampiri Suaminya yang ternyata tertidur ketika menunggu Chesya dari kamar mandi. Mungkin Abhizar terlampau lelah sehingga mudah terlelap.
" Mas Mas Maas bangun, katanya mau bebersih dahulu. " Ucap Chesya sembari menepuk nepuk lengan suaminya agar terbangun dari lelapnya.
Akhirnya Abhizar bangun juga.
__ADS_1
" Dek, kamu sudah selesai? " Tanyanya sembari menutup mulutnya karena menguap.
" Iya Mas udah. " Jawab Chesya singkat.
" Yaudah Mas ke kamar mandi dulu. " Abhizar bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi ia berbalik dan mengatakan sesuatu pada Chesya.
" Owh ya kamu kalo udah ngantuk, langsung tidur aja ya. " Ucap Abhizar dengan lembut lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah mendengar Chesya menjawab.
" Iya Mas ini Chesya langsung mau tidur kok. " Jawabnya.
Chesya merebahkan tubuhnya yang lelah berharap bisa langsung tertidur. Alih alih bisa tidur dengan nyenyak. Ia justru tak bisa tertidur, sudah mengganti posisi tidurnya dengan cara membolak balikan badannya. Tapi tak kunjung tertidur. Saat itu juga Abhizar keluar dari kamar mandi.
Ceklek!!!
" Lho sayang kok kamu belum tidur juga, Mas kira kamu sudah tidur nyenyak. " Tanya Abhizar yang melihat Chesya seperti sedang gelisah.
" Iya Mas, aku ndak tau kenapa. Padahal tadi kayak ngantuk banget tapi ini kok jadi ndak bisa tidur. " Jawab Chesya heran dengan dirinya sendiri .
Abhizar menghampiri Chesya dan ikut naik ke ranjang. Ia juga sudah berganti pakaian santainya untuk tidur.
" Sayang Mas boleh tidur di sini kaan. " Tanya Abhizar meminta persetujuan nya. Takut Chesya belum terbiasa. Ia bertanya karena sangat menghargai wanitanya.
" Iya Mas ndak papa, ini kan ranjang Mas juga karena Mas sudah jadi suami Chesya. " Ucap Chesya tersenyum.
" Sayang sini deh, deket Mas. Siapa tau kamu bisa tidur nyenyak sembari berpelukan. " Pinta Abhizar cengengesan.
" Itu mah akal akalannya kamu aja Mas. " Jawab Chesya yang seolah tau isi pikirannya Abhizar.
" Di coba dulu dong sayangnya Mas, Ning Cantik. " Ucap Abhizar menggoda.
Anehnya Chesya mengikuti perkataan suaminya. Ia mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan suaminya. Lalu secara perlahan memeluk tubuh kekar lelakinya yang begitu nyaman.
" Nah seperti ini baru benar. " Abhizar mengusap surai nya Chesya dengan penuh kasih sayang. Tapi Abhizar merasa ada yang kurang. Ketika melihat kepala sang istri yang ada dibawahnya, ternyata Chesya masih menggunakan hijabnya.
" Sayang kok kamu tidur masih pakai jilbab? apa nyaman tidur seperti ini. Di buka aja jilbabnya, sekalian Mas pengen lihat rambut kamu. " Ucap Abhizar.
__ADS_1
Bersambung....