Antara Kau Dan Orang Tuaku

Antara Kau Dan Orang Tuaku
Bab 1 Pengenalan


__ADS_3

Dinda lahir dikota Praya kabupaten Lombok Tengah. Aku anak pertama dari 4 (empat) bersaudara, satu laki-laki (Roy) dan tiga perempuan (Ani dan Safia). Aku hidup dengan keluarga yang sederhana ditengah sawah hanya ada tiga rumah disana Dan kami dibiayai hidup dengan hasil ladang dan ternak sapi.


Aku sekolah diMTs salah satu pondok pesantren dipraya. Aku adalah anak yang tidak bisa berfikir terlalu keras karena semenjak kecil aku pernah kekurangan mental.


Ibuku adalah IRT, dan ayahku adalah seorang petani dan peternak sapi. Sejak kecil aku dirawat oleh nenek yang sekarang sudah almarhum. Ibuku selalu menghabiskan waktu didapur setelah selesai harus menemani ayah keladang setelah selesai sarapan.


Ketidak bahagiaanku dimulai sejak aku berumur 4 (empat) tahun. Sejak ibuku tidak ada waktu untuk ku dan hanya nenek, tante dan om yang mengurusiku, karena ibu, ayah, tante dan om satu atap dirumah waktu itu mereka masih bujangan. Jadi waktu itu hanya aku cucu pertama sebelum adik ku lahir yaitu Roy. Dan hanya ibuku menantu pertama dikeluarga ayahku.


Karena itu Aku disayang-sayang. Aku dikasihani. Namun setelah Roy lahir umurku memasuki 4 tahun. Tante dan om (saudara 5 dan ke 2 dari ayah) mulai semena-mena terhadapku.


Aku mempunyai kulit sawo, bulu mata lentik, sedikit mancung, rambut keriting, dan badan kurus. Roy saat itu baru 5 bulan. Dari tiga rumah ditengah sawah ada tiga teman yang umurnya diatasku. Namun aku tidak pernah bermain-main dengannya karena tidak terlalu akrab. Aku lebih sering bermain sendiri dan berbicara sendiri dibawah pohon kelapa dedepan rumahku.


Hari semakin panas aku tetap duduk dibawah pohon kelapa sambil berbicara dengan pohon.


"Anak itu sudah seperti orang gila". Ucap om yang baru pulang mengajar. Ooh iya om aku itu seorang guru agama disebuah pondok pesantren (Nw).


Om masuk kerumah.


"Buk.. cucu kesayanganmu itu dari berangkat sekolah sampai pulang sekolah kok masih saja duduk ngobrol dibawah pohon kelapa itu"?. Ucap om yang melihat kearahku lewat jendela sambil meneguk minumannya.


"Biarin saja, namanya juga anak kecil biasa lah main-main". Ucap nenek yang membantak perkataan anaknya sambil mengupas bawang.


"Biasa gimana ? Coba deh perhatikan dia baik-baik!". Ucap om Ridwan dengan nada suara meninggi. Sampai nenek bangun dari duduknya melihatku dari arak jendela.


Aku mempunyai sebuah boneka yang matanya bisa kedip sendiri. Boneka itu teman ku sejak dibelikan oleh nenek.


Saat itu nenek kaget melihatku bermain seperti orang kurang waras. Kemudian mereka berencana membawaku keRSJ, setelah bermusyawarah dengan kedua orang tuaku dan keluarga yang lain.


Menjelang pagi hari aku pun dibawa oleh nenek dan om Ridwan keRSJ, dan tentu saja setelah diperiksa aku memang kekurangan mental. Dan juga kekurangan kasih sayang seorang ibu membuat ku akan menjadi gadis balita yang kurang waras.

__ADS_1


"Apa dok? cucuku kelain kejiwaan?". Ucap nenekku kaget.


"Apa cucuku bisa sembuh dok?". Tanya nenek memandangi mata dokter itu dengan mata berkaca-kaca.


"Kemungkinan besar dia akan sulit untuk sembuh, walaupun dia sembuh jika dia menghadapi masalah yang tidak bisa diatasi anak ini akan kembali seperti ini". Ucap dokter itu.


"Ya allah. Bagaimana ini ?. Tanya nenek menghadap om Ridwan.


"Ya sudah terimakasih dok". Ucap om dengan menjabat tangan dokter itu. Kemudian beranjak pergi membawaku pulang dari RSJ.


Setelah sampai dirumah nenek menuampaikan kata dokter tadi kepada kedua orang tuaku. Ibuku pun terkejut, ayahku hanya memijet dahinya. Lalu nenek mengurungku dikamar dan mengonci pintu dari luar.


Kudengar ibuku menangis dan kakekku berbicara dengan om Ridwan dan ayah.


"Kita cari dukun saja". Ucap kakek kepada ayah.


" apa mungkin akan bisa yah?". Ucap ayah kepada kakek dengan mata berkaca-kaca.


"Kita coba dulu apa salahnya, dia cucuku. Aku tidak mau cucuku seperti itu". Ucap kakek dengan suara tinggi.


"Ya sudah. Kita coba dulu". Ucap nenekku. Sedangkan ibu hanya bisa menangis tersedu-sedu. Dan kemudian mereka meninggalkan ku dikamar itu untuk menjalani aktivitas masing-masing dirumah yang besar itu.


Aku sudah seperti dipenjara dirumahku sendiri. Saat waktunya makan aku diantarkan makanan oleh ibu atau tidak nenek yang masuk seperti itu sampai kakek menemukan orang yang bisa mengobatiku.


Satu tahun aku dipenjarakan dirumahku sendiri. Dan akhirnya kakek menemukan seseorang (dukun) yang bisa mengobatiku.


"Siapkan 5 daun sirih, sehelai kain putih, benang, dan rumah kepompong". Ucap dukun yang ada didepan kakek dan ayahku.


"Baik". Ucap ayah dan berdiri mencari apa yang diinginkan si dukung itu.

__ADS_1


Setelah semua terkumpul, entah apa yang dijampi-jampikan kesemua syarat yang sudah ada digenggaman dukun itu. Kemudian semua syarat itu dibuat menjadi satu lipat kain putih dijahit dan dibuat menjadi sebuah kalung jimat.


Lalu kamarku terbuka. Ayah melihatku meneteskan airmata ketakutan. Aku tak bisa bicara karena takut melihat seorang berdiri diatas lemari dengan rambut yang panjang sampai ketanah wajah datar tanpa ada hidung dan mata.


"Aku takut. Ayah-ibu kalian dimana? Dia mau membawaku". Aku berteriak sambil menunjuk kearah lemari didepanku dan memeluk boneka yang tak mau aku lepas dari tanganku.


"Dinda anakku. Kamu kenapa? Sini nak!". Ucap ayah dengan meraih tanganku dan menggendongku keluar dari kamar itu menuju si mbah dukun.


Duduk didepan mbah dukun aku seperti ketakutan, aku tak ingin melihat dukun itu. Namun mbah dukun itu hanya tersenyum.


"pakaikan kalung ini kepada anakmu". Ucap mbah dukun sambil memberikan kalung itu kepada ayahku.


"Iya mbah". Ucap ayah dan memakaikan kalung itu kepadaku.


"Dan setelah ini putrimu akan terlelap dia akan lebih nyaman sekarang. Kalian tidak boleh melepas kalung itu karena kalung itu akan terlepas dengan sendirinya setelah putrimu sembuh total". Ucap mbah dukun dengan tersenyum kepada kakek.


"Apa cucuku tidak akan mengalami ini lagi berulang kali mbah?". Tanya kakek untuk memastikan.


"Insyaallah dengan izin allah putrimu akan lebih baik dari sebelumnya. Setan-setan yang mengganggunya tidak akan berani lagi menyentuhnya". Ucap mbah dukun yakin akan mukjizat allah.


"Alhamdulillah, semoga saja amiiin". Ucap ayah dan kakek berbarengan.


"Baiklah. Aku pamit dulu pak haji". Ucap mbah dukun kepada kakek dan saling berjabat tangan


Sedangkan aku telah tertidur digendongan ayah yang ikut berdiri mengantar mbah dukun keluar dari ruang tamu.


Setelah kejadian itu. Aku tak pernah lagi dikurung dikamar sendiri dan Dari situlah aku sekarang sehat dan kalung itu benar-benar hilang tanpa ada yang tahu kemana jatuhnya kalung itu. Tak ada lagi yang mengungkit masalah kesehatan jiwaku karena aku memang sudah terlihat lebih baik. Semua orang menjadi begitu tenang melihat kondisiku yang membaik.


"Nenek menyayangimu sayang, kamu harus menjadi gadis yang kuat demi orang tuamu."

__ADS_1


Nenek memelukku dengan erat.


"Saat nenek nanti meninggalkanmu, nenek berharap kamu bisa menjalani kehidupan kedepannya, karena didikan yang begitu keras dalam keluarga kita". Aku tertidur dipangkuan nenekku.


__ADS_2