Antara Kau Dan Orang Tuaku

Antara Kau Dan Orang Tuaku
Bab 3 Suka Menyentil


__ADS_3

Hari berganti hari, musim hujan telah berganti musim kemarau. Ku jalani hari-hari seperti biasa. Tak disangka setelah aku tidak naik kelas. Dari saat itu aku belajar dengan giat lagi seperti yang diinginkan Guruku dan ibuku.


Aku telah naik kekelas 5 dan Roy baru masuk sekolah. Sekarang aku telah tumbuh dewasa dan setiap pulang sekolah aku tidak boleh pergi bermain-main bersama teman. Aku harus membantu ibu didapur, mencuci piring dan pergi kesawah membantu ayah.


Siang itu jam 13.00 WIB. Aku sudah dirumah mengganti baju, shalat, dan seharusnya istirahat.


"Dindaaaaaa......---sini kamu... ambil Al'Quran... ngajii". Teriak om Ridwan.


Aku jalan membawa Al'Quran itu dengan rasa kesal karena tidak bisa sedikit saja aku beristirahat.


Aku duduk disampingnya setelah mengambil air wudhu.


Dan mulai membaca


لۤمّۤ ۚ - ١ alif lam miiim "benar"


ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ - ٢ Dzaalikal kitaabu laa Roybapi...---" telingaku langsung dicentil om Ridwal


"Apa? Ulaaang". Dengan nada yang begitu tinggi.


"Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudan lil muttaqiin". Aku masih bersabar


الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ - ٣


"Alladziina Yu'minuuna bilghaibi wayuqiimuuna sholaata wa minmarazaqnaahum yumfiquun"


"ulaang". Bentak om dengan menjewer telingaku lagi.


"Alladziina Yu'minuuna bilghaibi wayuqiimuuna sholaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquun". Mataku kemudian berkaca-kaca karena telingaku sudah memerah terasa panas karena terus dicentil dan dijewer om Ridwan.


وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ - ٤


"Walladziina yu'minuuna bimaaa unzila ilaika wamaa unzila min qablika wabil aakhirati hum yuuqinuun"


اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ - ٥


"Ulaaaika 'alaa hudammin rabbihim wa ulaaaika humul mufliyun". Karena ketakutan aku mengulang-ulang bacaan sampai 3x.


"Lebih besar suaranya...i-a-i-u..---apa kamu ini, sampai sekarang belum bisa baca Qur'an. Ulang". Bentak om Ridwan membuat airmataku menglir.


"Ulaaaika 'alaa hudan min rabbihim wa ulaaaika humul muflihuun. Syodaqallah hul'Aziiim". Aku menutup Al'quran dan meninggalka om ridwan.


Aku menangis dikamar, aku lapar dan ingin makan kedapur. Namun langkah kakiku herhenti karena pnggilan ayah yang baru pulang dari pasar.


"Dindaa...---kamu keswah ya, cabitin rumput buat sapi-sapi itu. Bapak rasanya letih". Ucap bapak sambil masuk kedalam kamarnya.


Aku menghelai nafas, aku tidak bisa menolak kemauan ayah dan ibuku. Aku termasuk orang yang sulit menolak keinginan keluargaku. Namun mereka juga sulit memahami keinginanku.


Sebelum makan siang aku pergi kesawah jam 14.25 WIB. "Padahal aku lapar sekali." Keluhku didalam hati. Dengan meneteskan air mata aku terus mencabit rumput diladang, sendiri ditengah ladang dengan terik matahari yang begitu panas. Aku terus mengais sabitku sampai rumput memang sudah cukup untuk makan 3 ekor sapi.


"Sekarang siapa yang akan membantuku mengangkat rumput yang telah dimasukan kedalam karung berukuran besar ini". Ucapku dengan melihat kesekelilingku.


Karena sudah mulai azan ashar. Aku mencoba mengangkat rumput itu kepundakku yang begitu berat dan akhirnya bisa naik kepundakku dengan berbagai cara aku lakukan, tak henti airmataku menetes. Aku terasa lemas karena belum makan dari sepulang sekolah tadi.


"Kamu makan dulu jangan kerja kalau belum makan". Ucap ibuku yang melihatku sudah begitu pucat. Ibu selalu memperhatikanku, namun tidak bisa menentang keinginan Ayah dan keluarga suaminya.


Aku diam berjalan kekamar mandi untuk membersihkan badan dan akan shalat dulu sebelum makan. Selesai shalat aku merapikan mukenah, dan duduk sebentar karena masih terasa letih.


"Dindaaaaaa...----apa kerjaanmu dari tadi?" Teriak tante Rini yang berjalan kekamarku setelah melihat dapur.


"Aku". Belum selesai menjawab sudah dipotong.

__ADS_1


"Ohhh..---kamu enak-enakan duduk santai dikamar. Kamu bercermin dikamar. Heh..--- kamu itu jelek, itam. Keriting lagi. ngapain pakai acara bercermin segala. Tuuuuuh..--- cuci piring itu, bersihkan dapur sekarang." Bentak-bentak tante Rini.


"Ya allaaaahhhh..----aku capek sekali". Keluhku dengan mata berkaca-kaca lagi.


Aku akan berdiri namun telingaku sudah dicentil dan dijewer dari belakang. Telingaku ditarik agar bangun dan menuju kedapur.


"Kamu tuli atau gimana sihh.--kalau disuruh cepat-cepat kamu kerjakan. Ucap tante Rini menjewer telingaku.


"Aduuhh tanteee..---sakittt". Keluhku. Mengalirlah airmataku sambil membersihkan dapur .


Setelah selesai aku masih menangis. Rasa laparku tiba-tiba hilang diganti dengan kesedihan yang luar biasa sakitnya.


Aku tidak bisa pergi bermain seperti teman-temanku kebanyakan. Aku hanya menghabiskan waktu bekerja.


"Nak..-- ibu nggak tahu harus bagaimana. Kamu yang sabar ya nak. Esok pasti kamu akan lebih bahagia saat waktu itu tiba." Ucap ibu kepadaku ketika ibu melihatku dikamar masih menangis.


Aku tidak menjawab kata-kata ibuku yang ingin menghiburku. Aku hanya mengangguk, namun airmataku tidak mau berhenti.


"Kamu sudah makan nak?". Tanya ibuku.


Aku hanya menggelengkan kepala. Tanda aku memang belum makan sama sekali.


"Ibu ambilin nasi dulu ya nak". Ucap ibu bangun dari duduknya.


"Nggak usah buk..--- aku sudah nggak lapar." Jawabku tanpa melihat mata ibuku.


Ibuku akhirnya keluar dengan wajah sedih dan kasihan kepadaku.


Aku memang tak bisa melawan, aku juga tidak bisa menentang. Rasa takut membuatku tak bisa menolak semua yang berkaitan denga keluargaku.


Bodoh, dan Lugu ada dalam diriku. Aktivitasku setiap hari yaitu Ngaji, sawah dan membereskan dapur. Tidak ada lagi bermain-main dimasa kekanak-kanakan. Hanya sekolah-bekerja.


"Kita besok harus ujian, gimana kalau kita belajar dirumahmu saja Dinda ?". Kata salah satu teman yang duduk denganku ditaman sekolah.


"Dindaaa..--kata Linda mehamburkan lamunanku.


"Oh. Iya boleh. Pulang sekolah kita langsung saja kerumahku." Ucapku dengan senang hati.


Setelah pulang Aku, Linda, dan Naya pulang kerumahku. Sesampainya dirumah aku tidak menemukan ibu, ayah dan yang lain, entah kemana mereka. Aku mengambil nasi dan lauk untuk makan siang bersama teman-temanku.


Saat kami sudah selesai makan tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.


"Ayah..-- kok masuk gak salam sih !". Ucapku tiba-tiba mengejutkan ayah yang masuk tergesa-gesa.


"Ah. Assalamualaikum, ada tamu?". Ucap ayah dengan tersenyum.


"Waalaikumussalam..---Ayah orang-orang kemana?" Tanya aku kepada ayah.


"Ah itu dibelakang. Sebentar lagi sampai." Jawab ayah.


Aku dan teman-teman mulai berdiri dan akan mulai belajar, namun.


"Dinda, setelah selesai makan kamu kesawah carikan makan untuk sapi-sapi itu". Ucap ayah dan akan beranjak pergi.


"Tapi ayaaah...--- aku dan teman-temanku akan belajar bersama. Besok kami akan ujian akhir sekolah". Sedikit ragu untuk menyampaikan isi hatiku.


"Nanti malam saja lah kamu belajar, siapkan dulu makanan untuk sapi-sapj itu". Perintah ayah. Aku sedikit malu dengan teman-temanku.


"A-a-ku akan kesawah...--- apa kalian akan ikut?". Dengan gagapnya aku meminta izin keteman-temanku.


"Dinda..--- apa kamu selalu kesawah?" Tanya Linda.

__ADS_1


"I-i-ya...---ini aktivitasku setelah pulang sekolah."


"Ya allaah.--seharusnya kamu bermain dengan kami. Tapi ya sudah Din..-- ayok kami bantu." Ucap Naya yang begitu kasihan kepadaku.


Setelah sampai sawah kami bertiga duduk sambil bercerita tentang aktivitasku dan altivitas mereka yang berbeda jaaaauuuuh selama ini. Dan sampai akhirnya mereka izin pulang karena memang tidak terbiasa dengan terik matahari yang begitu panas.


"Dinda..--- kamu nggak apa-apa kami tinggal !". Ucap Linda memegang tanganku.


"Iya..---aku nggak apa-apa kok." Jawabku dengan senyuman.


"Ok. Kalau gitu kami balik ya. Nanti malam jangan lupa belajar ya." Ucap Naya dan beranjak pergi dari hadapanku.


Dan pada akhirnya aku tetap sendiri menjalani aktivitas yang itu-itu saja tanpa mereka pahamiku.


Setelah lulus SD, aku masuk ke pondok pesantren. Namun aku tidak dibolehkan tinggal diasrama karena memang rumahku dekat dengan sekolah. Sekitar 3 kilo dari rumah itu kata tante dan om Ridwan.


Aku berjalan melewati sawah menuju desa. Kemudian menyusuri sebuah jalan besar menuju kepondok pesantren (MTs).


Bisa dibayangkan aku berjalan sendiri waktu itu karena hanya aku yang masuk kepondok pesantren dari semua teman- temanku.


Tidak pernah terbayang gimana letihnya aku yang harus berjalan dari sekolah kerumah apalagi saat musim kemarau.


Saat aku sedang benar-benar letih karena berjalan sejauh 3 kilo. Saat itu pula ayah, tante, dan om, tidak peduli dengan keadaanku.


Aku harus mengerjakan semua yang mereka inginkan. Jam 14.10 WIB.


"Dindaaa sini". Panggil tante Maya (saudara ayah yang ke-3)


"Ya tan!". Tidak semangat karena aku masih merasa letih.


"Ayo bantu tante membawa padi ini kegudang". Ucap tante maya yang menunjukkan kepadaku padi yang telah dikarung, padi itu akan digiling menjadi beras.


"Aaah!!. Apa gak salah sebanyak itu". Kataku didalam hati melihat sekitar 45 kuintal.


"Ganti baju dulu sana". Pinta tante Rini kepadaku.


Tanpa menjawab permintaan tante, aku berjalan menuju kamar untuk mengganti baju seragam. Emosi yang bergejolak tak sanggup aku keluarkan. Namun kalau aku tidak mau, pasti harus ketemu om Ridwan yang suka menyentil telingaku. Karena sudah waktunya aku belajar ngaji.


Tante maya dan tante Rini mulai menjunjung karung berisi padi itu untuk aku sunggi kegudang penggiling yang berjarak dari rumah sekitar satu kilo dari rumah. Dan itu melewati sawah juga menyebrangi sungai sebesar selokan.


Yaaa lumayan karena masih ada air walau musim kemarau.


Sesampai digudang penggilingan kami bertiga tidak bisa berbicara apa-apa lagi karena berat yang kamu sunggi membuat kepalaku berkunang-kunang.


"Hidupku kok begini terus ya. Tak pernah seperti teman-temanku yang bisa bermain-main." Kata ku didalam hati.


"Ayo kita kewarung, biarin saja tante mayamu dirayu pacarnya." Ajak tante Rini yang mengajakku minum es campur diwarung sebelah gudang.


Aku tersenyum dan mengikuti langkah kaki tante Rini.


Saat sedang minum es, tante Rini menyuruhku secepatnya menghabiskan es ditanganku. Dan dia pergi melihat kegudang.


"Mungkin sudah jadi, kamu tunggu disini, tante mau lihat dulu". Titah tante Rini. Dan aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Ayo kita pulang dinda." Ajak tante yang kembali kewarung hanya untuk memanggilku. Kami kembali membawa pulang beras.


Sesampainya dirumah, aku merasa senang karena aku libur kesawah juga aku libur belajar membaca Al'quran. Sebenarnya aku senang membaca alquran, cuma karena om sukanya menyentil jadi aku harus selalu ketakutan saat belajar. Melihat bayangannya saja sudah seram sekali.


Sampai akhirnya Om Ridwan menikah dan pindah dari rumah kerumah barunya. Dan dilanjutkan dengan meninggalnya nenekku karena penyakit struk yang ia derita selama ini. Aku sedih hanya saja aku harus gimana lagi.


Empat puluh hari kepergian nenek tante Rini menikah dan pergi dari rumah kerumah suaminya. Saat itulah aku terbebas dari hobi mereka yang suka menyentil telingaku sampai memerah dan menjewernya sampai rasanya panas ditelinga.

__ADS_1


Kalau tante maya sudah menikah sebelum om Ridwan dan tante Rini menikah.


__ADS_2