
"Mengapa kamu tak pernah menerima telphon ku sayang."
Pesan Haris tak pernah aku respon, aku masih kecewa dengan sikapnya saat holiday itu.
"Sayang aku akan melamarmu. Besok aku kesana membawa orang tuaku!"
Aku akhirnya terpancing untuk membalas pesannya.
"Aku belum siap.. aku minta maaf karena aku sibuk menyiapkan wisudaku yang tinggal dua hari lagi."
"Berarti selesai wisuda aku akan kesana".
"Aduuuhhh...... aku ingin kerja dulu."
"Sayang nanti kerja dirumahku saja."
Aku mulai tak meresponnya lagi, karena dia begitu kekeh".
"Oh iya.. Kamu ingat Putra kan? Temanku itu?".
"Iya".
"Tadi aku kasih nomer handphonmu, nggak apa-apa kan !."
"Oh.. nggak apa-apa".
"Udah dulu ya ! Aku benar-benar lagi sibuk.
Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri saat gladi dikampus, aku merasa ada yang aneh saat nama Putra disebut. Aku tak sabar Putra menelphonku. Namun sampai gladi selesai, tidak ada tanda handphonku berdering apa lagi pesan masuk.
Flashbeck
Sebenarnya aku bukannya nggak suka dengan Haris, hanya saja Haris bukan tipe aku banget.
Aku ingin mencari imam yang mampu mengajarkanku tentang agama, mampu memimpinku sebagai ma'mum dalam berumah tangga. Haris tidak punya itu semua, itu sebabnya aku acuh kepadanya.
Waktu itu aku ingin mencoba membuka hatiku untuknya.
"Hai kamu shalat?".
Aku ingin tahu gimana kesehariannya.
"Belum sayang, shalat mah nanti dulu. Kerjaan masih numpuk nih".
"Kok gitu... lepas dulu pekerjaanmu, kamu solat dulu sana !!!".
"Ayang aja yang solat aku bisa nanti-nanti. Soalnya nggak bisa ditinggalin ini."
Entah pekerjaan apa yang mebuatnya tidak bisa melepasnya untuk 5 menit saja mengingat sang pencipta.
Aku tak merespon lagi pesan itu, dan mulai membuka my facebook.
Aku melihat branda Haris yang duduk dikursi kantornya. Aku melihat komen teman-temannya yang menanyakan dia sebagai apa dikantorny. Ternyata dia sebagai Adminitrator (bagian keuangan) dikantornya.
Jam 15.15 WiB. Aku menutup facbook dan ingin beristirahat. Namun pesan masuk dihandponku.
"Sayang aku baru selesai, aku akan pergi solat dulu".
"Solat apa?".
"Ya solat zuhur lah".
"Kamu lebih mementingkan kerjaan ya?".
"Iya lah sayang, kita cari biaya masa depan dulu sebelum akherat.".
Aku membaca pesannya udah geleng-gelengkan kepala. Aku gak mau lah punya suami hanya mementingkan dunia saja.
"Haris kayaknya kita gak akan pernah cocok".
"Yoh kok ngomongnya gitu sayang."
Aku tidak lagi meresponnya karena aku semakin tidak mau memberi dia harapan.
Itulah kenapa aku tak mau menerima Haris dalam hidupku. Karena dia lebih mementingkan dunia yang hanya sementara.
Sepulang gladi, aku nyantai-nyantai dikamar bersama Ani.
"Kak rencananya kakak mau kerja dimana?".
"Belum tahu, mungkin ngajar. Karena aku mengambil matakuliah pendidikan. Ya jelas aku akan mengajar".
"Ngajar dimana, zaman-zaman sekarang kak? Kalau tidak ada orang dalam, mungkin kakak akan menganggur dulu sampai ada yang mengasihi ijazah kita kak !."
"Huzzz.... nggak boleh ngomong gitu, doain saja kakak".
"Ya sudah aku istirahat dulu kak ya".
"Ok".
Ani telah tertidur dikamarku dan aku melihat Galeri dihandphonku. Mataku pokus kesalah satu photo holiday bersama Haris dan teman-temannya. Entah kenapa aku berdiri disamping Putra, dan Putra berpose seperti menaruh tangannya dipundakku seperti dia memeluk leherku. Seharusnya aku berdiri disamping Haris pacarku.
Akhirnya aku tamat S-1 pendidikan. Namun aku tidak langsung bekerja, aku telah pergi melamar diberbagai sekolah hanya memang belum rizki. Sampai akhirnya aku bertemu teman waktu SD dulu.
"Yuyuuuun."
Aku melihat dia sedang berbelanja di supermarket tempat. Karena aku juga sedang belanja keperluan dapur dengan ibuku.
"Dinda.. Hai lama tak jumpa!".
"Kamu belanja ?".
"Iya nih,,, nemenin ibu, oh ya kerja dimana sekarang."?
"Dikoprasi simpan pinjam.... kamu sendiri dimana?".
"Belum ada nih, aku lagi nyari-nyari."
"Kerja ditempat aku aja, enak kok, gajinya juga lumayan."
"Wah beneran nih? Tapi kan ijazahku pendidikan yun".
"Nggak masalah. Teman-teman disana juga banyak S-1 pendidikan."
"Kapan bisa kesana?".
"Kapan kamu bisanya,"
"Besok aja lah, mana nomer mu?".
"0878654xxxxxx".
"Ok besok aku telphon." Aku banyak bertanya masalah kantor. Akhirnya kami berbincang sangat lama di supermarket sambil memilih-milih apa yang mau dibeli.
"Dinda, ayo kita pulang." Tiba-tiba ibu sudah dibelakangku
"Oh iya ibu."
__ADS_1
"Yun aku pulang dulu ya ! Besok kita ketemu."
"Ok".
Aku mengikuti ibu dari belakang ketempat kasir. Ibu membeli banyak stok bumbu dan yang lainnya.
"Tadi siapa nak".
"Teman lama bu".
"Oh".
Aku dan ibu keluar setelah selesa membayar kasir itu. Kami pulang kerumah dan aku langsung mengambil handphon dan memberi nomorku kepada yuyun.
Tak berselang waktu ada nomer baru yang mengirim pesan.
"Assalamualaikum, dinda".
"Waalaikumussalam. Siapa"!?
"Putra temannya Haris."
"Oooh. Hai."
"Kamu sedang apa? Aku ganggu nggak?".
"Nggak.. ada apa"?.
"Maaf aku minta nomernya, kata Haris kamu punya banyak teman. Aku boleh nggak kenalan sama teman-temanmu?".
"Oh boleh, sebentar ya, aku cari kontak temanku dulu." Aku kemudian mencari kontak teman-temanku dan meminta izin kepada mereka kalau ada laki-laki yang mau kenalan sama mereka.
Setelah aku mengirim sekitar 4 (empat) kontak. Aku mencoba meceritakan semua ciri-ciri temanku.
"Tapi aku nggak mau pacaran-. Aku maunya setelah kenal langsung menikah."
"Ya coba saja gak ada salahnya mencoba".
"Baik, makasih dinda".
"Ok."
Aku sebenarnya aneh,, kok bisa perasaanku seperti kecewa saat Putra meminta nomer kepadaku. Tapi aku hilangkan rasa itu karena tidak mungkin Putra bisa melihat gadis sepertiku. Karena tipenya dia adalah wanita yang tertutup, bukan aku yang seksi.
Keesokan harinya. Aku pergi melamar kerja ketempat yuyun bekerja.
"Selamat bergabung mba Dinda, mba sudah bisa bekerja besok pagi." Seorang menager perusahaan finance menjabat tanganku. Aku bekerja sebagai stap lapangan (marketing).
Sepulang dari kantor aku langsung masuk kekamar. Seperti biasa aku melihat handphon dan mulai uring-uringan diatas ranjang.
"Assalamualaikum, dinda apa kamu sibuk?".
"Waalaikumussalam, nggak kok, ada apa?".
"Aku nggak nyambung dengan semua nomer yang kamu kasih, hanya dua nomer yang merespon, itu pun sepertinya aku malu sama mereka."
Tiba-tiba hatiku gembira mendengar perkataan putra kepadaku.
"Baguslah". Kataku didalam hati.
"Terus ?". Hanya mereka teman-temanku."
"Nggak apa-apa. Mungkin belum nasibku menemukan jodohku".
"Sabar allah sedang menyiapkan orang yang terbaik mungkin untukmu?".
"He.. iya mungkin ya! Oh ya... kamu sudah shalat?".
"Wanita itu harus segera mengambil air wudhu, kalau dia sudah mendengar kumandang adzan".
"He iya ya. Aku shalat dulu kalau begitu".
Putra tidak membalas dan aku segera pergi mengambil air wudhu shalat dan kemudian aku istirahat siang.
Dimalam hari yang gelap. Aku duduk jendela kamar memandangi bintang dilangit. Dalam hatiku aku berpikir kenapa nasibku begitu menoton. Seperti jiwaku selalu memberontak dengan keadaan.
Hari-hari ku seperti diambang-ambang. Ayah ku yang tidak pernah bersikap adil, ibuku yang tidak bisa memberontak. Dan adik-adik yang selalu ingin menang sendiri membuat kepalaku terasa berat untuk memikirkan sesuatu.
Sedikit meneteskan air mata membuat hatiku lega.
Jiwa dan amarahku sedikit-demi sedikit melemah.
"Kamu harus ngajar, bukannya kerja dikoprasi. Ngapain aku harus menyengolahkanmu sampai S-1 pendidikan lagi. Kalau kamu nggak ngajar, ilmumu mau dikemanain?" Ayah memarahiku diluar.
"Untuk anak-anaknya sih nanti yah. Anakmu sudah kesana kemari melamar, cuma belum ada rizkinya". Jawab ibu yang memahami ketidak berdayaanku.
"Sudahlah kamu belain saja anakmu".
Aku nggak peduli dengan semua yang aku dengar yang penting aku kerja dan tidak dirumah ini.
Aku menutup jendela kamar dan mematikan lampu kamarku. Aku mulai tidur karena besok pagi aku akan kerja.
Alhamdulillah aku masih diberikan nafas sampai pagi ini. Aku membersihkan diri dan merapikan tempat tidur. Aku lalu berangkat kerja pagi-pagi sekali, tanpa sarapan dan tanpa menemui ayahku.
Aku berangkat bekerja dengan semangatnya. Dibulan pertama gajiku keluar dengan jumlah Rp.1.xxx.xxx. Dan aku hanya mengambil 300 ribu dari gajiku hanya untuk membeli bensin dan makanan. Sisanya aku serahkan keibuku.
Dibulan-bulan berikutnya pun seperti itu. Sampai pada bulan ke 5 kerja. Aku harus dimutasi kecabang Lombok Timur. Hanya saja itu tidak berlangsung lama. Aku disana hanya 2 bulanan, dan harus mutasi lagi ke Lombok Tengah.
Semenjak aku kerja Putra hanya memberi kabar disaat aku dia curhat atau tidak aku yang curhat. Selain itu kami tidak pernah saling berhubungan ataupun bertemu. Kami hanya bertemu satu kali saja saat holiday itu.
Aku juga jarang bertemu ayah, Roy, dan Ani, karena mereka melanjutkan kuliah di Universitas UIN walisongo. Sedangkan ayah selalu diladang saat aku menganterkan ibuku gaji bulananku.
Aku mempunyai Mes dikantor jadi aku jarang pulang kerumah. Malahan hampir tidak pernah menginap dirumah sejak aku yang dimarahi karena kerja dikoprasi.
"Menurutku memang aku salah Yun. Apa yang kita kerjakan ini Riba, dan dibenci sama allah. Tapi aku harus kerja, sedangkan semua sekolah yang aku datangi selalu menolakku."
"Aku juga begitu Din, selalu ditolak makanya aku masuk kekoprasi ini, mau tidak mau karena kondisi." Randi tiba-tiba menjawab keluhanku keYuyun.
"Ya bener Din, kamu jalani saja dulu, sambil-sambilan kamu cari pengganti kerjaan ini."
"Tapi aku sudah tidak snggup lagi kerja disini, alasannya karena terlalu banyak konsekuensinya."
"Ya sudah kalian berdua istirahat, besok kita harus bangun pagi karena ada breeping."
Kami tersenyum kepada Randi dan pergi kekamar meninggalkannya sendiri ditaman kantor.
Saat dikamar aku ditelphon safia, karena ibu ingin berbicara penting.
"Iya bu. Ada apa?"
" tadi diladang aayahmu bertemu dengan ayahnya Haris. Katanya beliau akan datang kerumah 3(tiga) hari lagi."
"Untuk apa?".
"Ngelamar kamu...--- sejak kapan kamu pacaran sama anaknya nak?".
"Aku nggak mau. Dia nya saja yang tergila-gila. Aku sih nggak suka bu.-- ayah ngomong apa?".
__ADS_1
"Ayah menyuruhnya membawa uang maharmu 50 juta."
"Oh,,, Ayahnya setuju?".
"Dia akan bicarakan dulu sama anaknya."
"Bagus lah." Aku tidak begitu kaget saat ibu meberitahu aku permintaan ayah kepada ayahnya Haris. Ibu mematikan telphonnya karena ayah datang.
Aku akan menunggu hari ketiga, apakah benar Haris akan datang. "Hmmmm, nggak mungkin haris berani datang kerumah".
Aku bekerja seperti biasanya, satu minggu kemudian tak ada yang menghubungiku. "Berarti benar Haris tidak berani kerumah". Aku tertawa sendiri. Saat aku ingin curhat ke putra pada saat jam istirahat kerja. Malah Putra yang duluan mengirim pesan.
"Assalamualaikum".
Aku tersenyum karena chat dari Putra.
"Kebetulan sekali, tadi aja aku mau chat". Tahu saja aku ingin curhat".
"Waalaikumussalam". Aku membalas pesannya.
"Dinda aku boleh bertanya?".
"Emmm, boleh, silahkan ?".
"Kalau ada yang mengajakmu nikah, apa kamu mau?".
"Hahaha.. Haris ya yang mau ngajak aku?".
" kalau iya? Apa kamu mau?".
"Ah. Yang lain saja lah". Aku bercanda membalas pesan nya.
"Kalau yang ngajak aku gimana?".
Hatiku mulai berdebar. Rasanya aku terbang melayang karena balasannya.
"Memangnya kamu berani menemui ayahku?".
"Siapa takut, kasih alamatmu, besok sore aku akan kesana".
"Jalan Indah, gang Sari, masuk kedalam lurus, ada rumah diujung jalan itu rumahku".
"Ok. Makasih Dinda...-- terus Haris gimana? Bukannya dia akan melamarmu?
"Hahaha.. Nggak, mana berani dia.. katanya tiga hari lagi dia akan datang sampai satu minggu nggak ada".
"Ya sudah, sampai ketemu besok, jangan lupa makan, shalat, jangan terlalu capek. Assalamuallaikum !."
"Iya..waalaikumussalam.." aku memasukkan handphon kedalam tas setelah membalas pesan terakhir Putra.
Hari ini aku bahagianya bukan main. Apa putra berani menemui ayahku?."
Sepulang kerja, aku berpamitan kepada teman-teman satu mes. Karena hari sabtu-minggu libur, jadi aku bisa pulang kerumah sekedar melihat ibu saja. Namun hari ini berbeda, aku pulang untuk meminta izin kepada ibu dan ayah untuk menikah.
Sesampainya dirumah aku mencium tangan ibu.
"Ayah kemana bu?."
"Tadi keluar sama pak Yar. Sebentar lagi balik."
"Oh ya bu, aku mau nikah".
"Sama Haris". Ibu yang sedang nonton tv melihat kemataku.
"Nggak.... ibu belum mengenalnya."
"Dari mana dia ? Apa dia serius?".
"Mudah-mudahan. Dia akan datang sore ini."
"Sore ini?". Sebentar lagi datang kok".
Belum aku selesai ngobrol, handponku berdering. "Putra." Aku langsung angkat. Baru kali ini aku akan mendengar suara Putra dari telphon. Aku sedikit tersenyum.
"Assalamualaikum.. Dinda, aku sudah dibawah rumahmu."
"Wa...waalaikumussalam.. apa? Kamu beneran kesini?". Ibu yang mendengarkan pembicaraanku terkejut dan laangsung masuk kedalam kamar mengambil hijab.
Aku keluar melihat sosok yang berani datang kerumahku. !!!
"Lihat aku diatas,,, ayo naik." Tersenyum kearah putra yang terlihat rapi dan sopan.
"Assalamualaikum.."
"Waalikumussalam warahmatullah hiwabarokatuh". Putra menundukkan kepala dan mencium tangan ibuku. Sedangkan aku tidak bersalamaan karena belum muhrim nya.
"Ayo masuk nak, dinda bawa masuk temannya?". Ucap ibu dengan wajah tersenyum..
"Iya tante.. Om ada tante?."
"Masuk dulu yuk !! Setelah kami duduk disopa dan ibu membawakan secangkir teh manis untuk Putra .
"Om sebentar lagi pulang."
Belum selesai berbicara, ibu melihat ayah sedang ngobrol dengan om Yar diteras rumah.
"Sebentar ya". Ibu pamit menemui ayah. Terlihat ibu sedang memberi tahu ayah kalau ada tamu. Mata ibu seperti berkaca-kaca.
"Ada tamu rupanya!?".
"Om." Putra berdiri mencium tangan ayahku.
"Duduk-duduk nak... Dinda kamu kapan pulang?".
"Barusan yah... ya sudah aku kedalam dulu ya." Aku membiarkan ayah dan putra mengobrol. Sedangkan aku kekamar yang sudah lama aku tidak tempati.
"Om niatku kesini untuk melamar anak om, apa om akan merestui kami?".
"Kalau Om ya merestui saja kalau kalian memang saling menyukai."
"Alhamdulillah". Terus gimana masalah maharnya Om".
"Kalau itu aku minta kamu memberikan Dinda 10 gram mas, dan 25 juta uang tunai."
"Insyaallah Om, karena aku orang yang tidak punya, hidup sederhana, jadi aku minta waktu Om untuk mengumpulkan Mahar yang Om inginkan".
"Baik aku kasih waktu dalam satu bulan dari sekarang, Om minta segitu, karena Om ingin acaranya dirumah Om".
"Baik Om aku akan membicarakannya kepada orang tuaku dulu."
"Baik, Aku tunggu informasimu. Om keluar dulu ya. Dindaaa"
"Iya yah."
"Ayah keluar dulu bicara sama ibumu. Kamu temenin dulu Putra."
Aku hanya tersenyum, dan duduk didepan putra. Kami berbicara dan bercanda. Putra menceritakan keadaannya, bagaimana keluarganya, dan semua tentang tetangga didesanya.
__ADS_1
Bagaimana aku nanti menjadi seorang istri, bagaimana bersikap dikeluarganya. Putra menceritakannya agar aku siap saat pertama kerumahnya nanti.
Jodoh, maut, Rizki tidak ada yang tahu kepada siapa dan untuk siapa. Allah menyiapkan semuanya dengan begitu indah agar kita bisa bersyukur.