
Disaat cobaan terus datang, namun hidup selalu terus berjalan. Ketika kita merasa kehilangan harapan ingat bahwa Allah sedang merencanakan sesuatu terindah untuk kita.
Aku bangun dipagi hari, menghirup udara dari pintu kamar kosku yang telah aku buka.
"Acara liburan kemana neng". Kakak Tiya mengejutkanku saat aku duduk dipintu kamar kos memegang handponku.
"Ah hanya pulang kampung kayak nya kak.. mumpung ada yang mau anterin." Tersenyum kearah kak Tiya yang sudah berdiri dedepanku.
"Kamu nginap?".
"Tidak kak".
"Ooh". Tersenyum dan berjalan masuk kedalam kamar mandi, karena kamar mandiku sering digunakan kak Tiya dan saudaranya yang lain kalau lagi sepi. Kak Tiya anak ibu kos yang sudah seperti saudaraku juga. Dia sering membantuku menyetrika bajuku, memasakkan lauk untukku jika aku telat pulang kuliah.
"Assalamualaikum".
"Waalaikum salam..-- Yuni sepagi inikah kita akan berangkat?". Aku kaget baru jam 8 pagi sahabatku datang hanya untuk mengantarku pulang.
"Astagaaaaa.... loe belum mandi?".
"Hehehehe." Aku nggak mau debat dengan Yuni makanya aku jawab dengan tertawa kecil.
"Etttsss. Masih ada kak Tiya didalam". Sebelum Yuni protes aku mengantisipasi dia yang ingin mengetuk keningku. Aku langsung menjawab
"Ya udah sana,,,,,,,,mana laptopnya?."
"Tuh..--- didalam tas." Kebiasaan datang-datang langsung nonton serial drama koreanya.
"Eh Yuni sudah datang". Kak Tiya akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Iya kak, tak kirain Si ngok udah siap aja. Eh belum mandi rupanya".
Ngok panggilan sahabat.
"Alahhh. Nonton saja tuh". Aku tersenyum dan mulai masuk kekamar mandi. Kak tiya tertawa meninggalkan Yuni sendiri dikamarku.
Setelah aku selasai, dan sudah siap untuk pulang Yuni memasukan laptop kedalam lemari dan mengoncinya. Karena Yuni terbiasa jadi aku selalu percaya dia orangnya telitian kalau masalah barang dikos-kosanku.
Perjalanan kerumahku sekitar 1 jam karena Yuni tak berani ngebut. Setelah sampai aku masuk kegang jalan kecil yang tak lama dibuat oleh ketua DPR dilombok. Jalan itu dibuat sampai dibawah rumah karena beliau akan membuat sebuah kafe dan kolam ikan dibawah rumah jadi jalannya hanya sampai dibawah rumah.
Sesampainya dibawah aku dan yuni bingung bagaimana cara naikin motor melalui jalan sawah itu.
"Tunggu disini. Aku panggil orang buat bantu". Aku meninggalkan yuni dibawah sendiri
"Okeh".
Aku berjalan keatas menuju kerumahku, rumah ku sepi seperti tak berpenghuni. Tidak ada tanda ada orang disana. Semenjak nenek meninggal rumah tak pernah terlihat hidup sampai sekarang.
"Assalamualaikum - Assalamualaikum ". Aku masuk kerumah tidak ada orang.
"Waalaikumussalam. Ucap Om Ari dari dalam kamarnya." Aku mencium tangannya. Om Ari adik bungsu dari ayah.
"Om tolong naikan motor temanku dong, dibawah !".
"Oh ya ya... Om cepat-cepat turun kebawah.
Dan aku mengikuti om dari belakang.
"Yun ayo naik. Motornya biar Om ku yang naikan."
Om, yuni dan aku sekarang sudah diruang tamu. "Om kekamar dulu ya."
"Iya. Ibu sama ayah kemana om?". Aku berjalan ingin dapur mengambil es dikulkas. Sedangkan Yuni menungguku diruang tamu.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam." Yuni menjawab dan mencium tangan kedua orang tuaku.
"Eh ada tamu.."
"Di Yuni buk.. teman yang pernah aku ceritakan dulu." Yuni tersenyum kepada ibu dan ayahku.
"Oh kamu sudah datang nak!". Ibu tersenyum melihat kedatanganku dan ayah pun sedikit tersenyum.
"Ya sudah ajak temanmu makan dulu... ayah mau keluar dulu, mau kerumah teman sebentar."
Ibu duduk bersama ku dan Yuni, kami banyak mengobrol diruang tamu masalah kampus dan masalah kos, bagaimana aku dan Yuni bisa selalu bersama.
" buk, besok aku sudah menjalani PPL dan KKN. Jadi aku akan lebih jarang pulang karena aku akan langsung melanjutkan mengerjakan sikripsiku setelah selesai kerja lapangan."
"Nak kamu bisa nggak kalau sikripsi pulang pergi saja?. Ibu dan ayah sudah tidak mampu membayar kos-kosanmu nak".
"Iya buk. Bisa kok."
"Memangnya kamu bisa pakai sepeda motor ngok?". Yuni kaget dengan jawabanku kepada ibu.
"Insyaallah aku bisa sedikit-dikit, akukan pernah belajar. Cuma aku pernah terjatuh, makanya berhenti belajar."
"Hahaha. Yaaaaah,, sikripsi kita akan jarang ketemu ngok. Nanti kalau kangen telpon ya, awas kalau kamu cuek." Yuni tersenyum kepada ibu yang memperhatikan pembicaraan kami.
"Buk. Tapi aku pakai motor siapa?".
"Ayahmu sudah membelikanmu motor. Tinggal pakai besok waktu sikripsimu tiba..
__ADS_1
Aku bahagia dengan kabar yang aku dapat. Aku bercengkrama dikamar dengan sahabatku itu. Dan setelah bosan kami jalan-jalan kesawah memandangi pemandangan dirumahku. Kemudian tiba saatnya kami pun harus kembali kekos-kosanku.
Kami pamit kepada kakek, Om, ayah, dan ibu. Kami melajukan motor setelah motor Yuni diturunkan om Ari.
"Om mu ganteng juga ngok". Diperjalanan yuni mengobrol masalah om Ari.
"Ah lo. Di masih pokus dihotel bekerja. Dia juga sudah punya pacar,"
Kami tertawa diatas motor, bercanda gurau. Sampai kami tidak sadar kalau sudah sampai. Sesampainya dikos, Yuni tidak bisa mampir karena memang sudah terlalu sore. Saat ingin membuka kos handphonku berdering.
"Assalamualaikum". Akhirnya aku memutuskan menganggkat telphon Kak Hadi. Dan duduk dikursi depan.
"Dek,, bapak ninggal".
"Innalilahiwainnailaihirojiun-... aku turut berduka kak ya, sampaikan salamku sama ibu."
"Aku berharap adek datang sekarang, karena bapak selalu membicarakanmu sebelum dia meninggal."
"Tapi kak. Bagaimana aku kesana."
"Aku tidak mau tahu kamu kesini sekarang."
Tut.-tut.- tut.- dia mematikan telphonnya.
"Terserah lah. Gimana aku kesana. Aku saja baru pulang masa pulang lagi."
Aku membuka pintu dan beristirahat. Karena lagi halangan akhirnya aku pun ketiduran sampai pagi. Tiga bulan setelah kabar itu dan aku telah menyelesaikan kerja lapanganku.
Aku pergi kekampus untuk mengajukan judul sikripsi dan bertemu dengan salah satu teman yang memang tetangganya kak Hadi.
"Dindaaaaa.--- saat itu aku sedang dilorong kampus
"Hidayah..--- kok kamu teriak-teriak. Ada apa sih".
"Kamu sudah tahu nggak?".
"Gimana aku tahu kamu saja belum cerita".
"Adohhhh, kamu dapat undangan dari kak Hadi?".
"Nggak...--- undangan apa?".
"Kakak Hadi Niiikaaaah".
"Ooh". Aku tersenyum dan balik badan. Karena aku sudah ditunggu dosen.
"Cuma oh saja? Kamu nggak kecewa atau nangis ditinggal !".
Kakiku terhenti "Ngapain? Memangnya kalau aku menangis dia bisa batalin pernikahannya?".
Setelah selesai ujian pengajuan sikripsi akhirnya judulku diterima. Mulai besok aku harus mulai bimbingan setelah dosen pembimbing satu, dan dua keluar. Aku mencium tangan dosenku setelah itu aku pergi dari ruang dosen dan pulang sendiri kekos. Aku tidak pernah bertemu dengan Yuni, karena dia pun sama-sama sibuk.
Didalam kos aku menangis, rasa kecewa karena mempertahankan seorang laki-laki pembohong seperti dia. Namun tak lama aku mulai menenangkan hatiku, yang kini telah hancur.
Aku mencari nomernya dihandphon.
"Selamat atas pernikahanmu. Semoga bahagia. Aku tidak akan pernah melupakan janji, dan sumpahmu dulu".
Aku membuka kartu card dan membuangnya ditong sampah. Di saat itulah aku mulai mencari kesibukan dengan pergi mencari dosen pembimbing.
Aku pun harus pulang pergi dari Lombok Tengah ke Lombok timur. Aku melupakan mantan pacarku dan mulai pokus bimbingan setia hari. Sampai aku diterima oleh pembimbing ke dua.
Kali ini pertama kalinya aku kepembimbing pertama. Seorang gadis berpaut cantik buk intan. Dia dosen termuda dikampus belum menikah. Sampai detik ini.
"Yang mau bimbingan denganku, nanti malam". Buk intan terkenal sebagai dosen killer di semua kakak tingkatku.
Aku yang pulang pergi terpaksa harus izin ke kakak kos untuk singgah sampai malam nanti.
Dan alhamdulillah kak tiya mengizinkan.
"Assalamualaiku-.. nak kenapa sampai sore kamu belum pulang?". Ibu begitu panik sampai beliau menelphon disore itu.
"Aku bimbingannya malam buk..-- jadi aku pulangnya nanti malam.".
"Oh ya sudah. Kamu pulang jangan terlalu malam, kalau minsal kamu tidak dapat bimbingan cepat-cepat pulang.".
"Iya buk."
Selesai solat magrib aku langsung menuju kekampus setelah berpamitan dengan ibu, bapak, dan kakak kos.
Dilantai 2 ruang komputer. Sudah banyak yang mengantri. Namun sampai azan ashar belum juga mulai. Jadi banyak kakak tingkat dan teman-teman semua pulang.
Buk inten sengaja mengurung diri diruang komputer. Dan setelahjam 9 malam baru bimbingan dimulai. Aku duduk menunggu giliran, aku mulai bosan saat aku melihat jam. Jam telah menunjukkan pukul 10.30 malam.
"Aku pulang saja lah pasti ibu mikirin aku".
Saat mau bangun pulang, akhirnya aku dipanggil.
Dan masuk kedalam.
"Dinda Tiara Larasati".
"Ya buk."
__ADS_1
"Coba sebutkan judul sikripsimu".
"The effect of.................".
"Judulmu sedikit Rancau..... coba kamu lihat bab 1. Disana tujuannya sudah benar tapi spasi tolong diperbaiki." Bab 2 sampai bab terakhir lalu di corat coret dengan tinta merah.
"Dosen pembimbing 2 mu ini halu mungkin bisa meluluskanmu dibimbingannya... apa ini, gak jelas sekali isi sikripsimu. Ganti judulmu."
"Tapi buk".
"Tapi apa, besok kamu temui aku disini, jam sembilan pagi kalau kamu belum bisa perbaiki sikripsimu aku mau lihat kamu ganti judul."
"Baik buk".
"Nih. Boleh pulang".
Aku bangun dari tempat duduk dan berlalu meninggalkan ruangan. Sesampai diparkiran aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. "Apa aku berani ya pulang..- sudah lah insyaallah nggak akan terjadi apa-apa.
"Dinda. Kamu pulang kemana?."
"Eh buk. ..- akhirnya ketemu diparkiran karena teman-teman juga disuruh lanjutkan bimbingan besok.
"Praya buk..." aku nyalakan motor.
"Ah... yakin kamu berani. Kenapa kamu nggak nginap dikos temanmu".
"Gak enak buk".
"Ya sudah kamu hati-hati." Buk intan lalu pergi dan aku pun pergi. Dijalan raya yang sepi hanya disinari lampu jalan membuat tanpa ada pengendara lain membuat aku merinding.
Aku menangis disepanjang jalan, hanya satu dua mobil yang lewat. Setelah sampai diluar gang menuju rumah aku menelphon ibu.
Untung saja ibu masih siaga menungguku.
"Buk suruh ayah jemput aku dibawah aku takut".
"Ya allah nak. Kamu dimana sekarang?".
"Aku diluar gang. Aku merinding mau masuk".
"Kamu pelan-pelan saja nak. Ibu sama ayah akan keluar sekarang.
Aku mematikan telphon dan mulai menjalankan motor. Aku merinding karena dari masuk gang disebelah barat jalan itu kubur sampai dibawah rumah sekitar 500 meter dari gang.
"Ibuuuu...-- "
"iya nak.."
"Alhamdulillah"
Tidak ada yang berani bertanya saat aku datang. Mereka tahu bagaimana perjuanganku untuk mengejar S-1.
Sesampainya dikamar. Aku mulai membuka leptop dan memperbaiki isi sikripsiku. Ibu shalat malam, dan bapak tidur kembali.
"Nak....kamu istirahat dulu... besok kamu kerjakan lagi".
Aku tidak menjawab, hanya ada tetesan air mata membasahi pipiku. Aku lelah, kepalaku sudah berkunang. Tapi aku memaksakan diri untuk memperbaiki. Karena aku tidak mau lagi mengulang dari awal.
Ibu diam dan menyadari kalau aku sedang menangis.
Adzan subuh telah tiba.. sikripsiku telah selesai aku perbaiki, aku shalat dan mulai tertidur sampai pukul 7.30 WIB.
Tidak ada Yang berani membangunkanku. Dari ibu sampai saudara.
Aku pun sudah siap untuk berangkat kekmpus pagi itu. Masih belum ada yang berani bertanya.
"Ibu aku berangkat."
Aku lalu melajukan motorku tanpa dipanaskan terlebih dahulu. Sampai aku benar-bena lulus tahun 2015 kemarin. Sikripsiku adalah air mataku.
Walau aku disuruh mengulang judulku. Aku tetap mempertahankan yang sudah susah payah aku kerjakan demi merait ijazah S-1.
12x bimbingan sampai akhirnya buk intan menandatangani sikripsiku.
"Alhamdulillaaaah ya allah". Aku sujud syukur karena penantiaan yang begitu Melelahkan. Yang menguras air mataku karena harus bolak balik.
"Dindaaa kamu sudah selesai ?".
"Yuniiiiiiii.... aku kangeeeennn."
"iiihhh ngok. Kamu kenapa?".
Akhirnya aku terbebas dari buk intan !".
"Apaaaa? Hahahahaaha...... jadi buk intan dosen pembimbingmu?". Aku mengangguk tanda mengiyakan.
"Menguras air mataku ngok". Akhirnya aku bisa tersenyum lagi setelah berakhir bimbinganku.
" duh duh duhh.. tapi aku belum selesai nih. Tinggal sedikiiiiit saja."
"Yang semangat kamu". Aku menyemangati sahabatku yang tak sengaja ketemu dilorong kampus.
"Bay the way. Mau kemana sekarang."
__ADS_1
Aku mau pulang. Pengen sekali istirahat.". Aku mencium pipi Yuni dan berlalu bergi dari kampus untuk menuju kerumahku".