
"Dek... ini untukmu". Aku mengambil pemberian suamiku, dan membolak balikan paket yang sudah ditanganku.
"Apa ini kak!". Rasa penasaran membuatku bertanya tanpa membukanya.
"Buka saja. Ets, sebelum buka, aku berharap kamu memakainya". Aku tersenyum dan membuka paket yang dibelikan suamiku lewat applikasi Shopee.
"Cadar ???". Suamiku minta aku pakai ini". Dalam benakku aku terus bertanya. Apa keluargaku akan terima aku menggunakan niqab?"
"Setiap apa yang kita niatkan baik untuk kita, pasti akan banyak masalah yang harus dihadapi".
"Jadi benar, kaka minta aku menggunakan niqab?- Apa karena aku terlihat tua darimu?".
"Hmmmm...Coba belajar untuk tidak berfikir positif. Niatku hanya untuk berjihat dijalan allah, dan kamu harus tahu, dari sebelum menikah aku sudah berniat siapapun istriku dia harus menggunakan niqab."
"Tapi kalau aku nggak mau?".
"Nggak apa-apa, ketika suamimu ingin melihat istrinya lebih baik, bolehkan istri menolak?."
"Aku tahu, tapi ini akan menjadi awal masalah untuk kita".
"Aku sudah memikirkan semuanya, tinggal kamu apa kamu mau dididik oleh suami, yang pendidikannya lebih rendah dari kamu?".
"Baiklah. Aku akan mencobanya".
Aku berdiri kaca lemari dan mencoba berdandan, aku memakai niqab yang dibelikan suami dan sebuah gamis muslim warna hitam polos.
Saat aku berbalik melihat suamiku, karena suami sedang terpokus memandangi layar handphon nya.
"Kak, gimana?".
"Subhanallah, aku bersyukur memilikimu
, kamu lebih anggun dari biasanya."
"Tapi kak, sekarang kita akan kepraya." Aku begitu hawatir, karena didalam keluargaku yang paling suka mengolok-olok orang yang berniqab adalah ayahku dan Om Heri (saudara dari ayah ku ke 4).
Sekarang bagaimana tentang aku !!!! Apa yang akan terjadi kalau mereka tahu aku berniqab".
Aku dan suamiku berjalan menuju kerumah ibuku, sebelum aku datang aku tidak bisa mengatur hatiku, aku merasa sesak.
"Assalamualaikum".
Saat aku dan suamiku telah sampai diteras rumah , aku melihat ibu duduk dikursi luar rumah, ayah dikandang sapi depan rumah dan Om Heri berdiri berbicara sama ayah dikandang sapi.
"Waalaikumussalam". Mereka melihatku sangat berbeda, aku mencium tangan Om, ayah, dan sebelum mereka mengomentariku, aku beranjak pergi dari hadapannya dan beranjak menjauh ketempat ibuku. Sedangkan kak Putra suamiku diam dikandang membantu ayah.
"Bu, ibu sehat?".
"Alhamdulillah, nak sini duduk !!! Kamu kok pakai cadar nak."
"Iya bu, suamiku ingin sekali melihatku menggunakannya, sudah niatnya sebelum menikah. Jadi aku tidak mungkin menentang suamiku kan bu !!!!?".
"Iya nak, cuma sekarang ini musibah untuk kamu, karena ayahmu yang akan menentang keinginan suamimu".
"Apa haknya ayah bu? Dia tidak punya hak lagi kepadaku."
__ADS_1
"Ibu tahu nak... ibu tahu.. tapi kamu tahu kan ayahmu".
Ayah membawa kak Putra keladang, menunjukkan kepada kak Putra yang mana yang harus digarap oleh kak Putra. Jadi sekarang mau tidak mau aku dan suamiku harus setiap hari keperaya karena kak Putra juga harus belajar mecabit rumput.
Aku yang diberitahu oleh kak Putra merasa sedih mendengarnya. Aku akan merasa letih jika harus bolak-balik kerumahku, karena rumah ku dan rumah mertua hanya perjalanan 35 menit.
Hari kedua aku kerumah untuk menemani suami ke ladang yang diserahkan oleh ayah, karena kami sedang menggarap untuk menanam padi, aku dirumah, kak putra keladang. Aku sudah merasa hari ini tidak akan baik-baik saja dan benar saja.
"Kamu sok-sok an pakai kesundung. Buka !!!".
Suara ayah seperti membentak.
"Ayah, tapi suamiku yang meminta".
"Siapapun yang minta, malu-maluin ayah saja kamu."
"Ayah, ayah sudah tidak berhak melarangku, kalau suamiku yang minta. Kenapa ayah tidak pernah bersyukur, aku hanya ingin berbakti sama suamiku."
"Sok kamu ngajar-ngajarin ayah. Ayah yang berhak untuk ngatur kamu dan suamimu.....Ayah sudah nyengolahin kamu biar kamu ada adabnya. Sekolah tahi kamu,". Ayah berdiri ingin menamparku,
"Ayah, cukup.. bukan urusan ayah melarang-larang anakmu." Ibuku mulai melerai perdebatan ku dengan ayahku.
Air mataku menetes dipipiku, rasa sakit karena kata-kata ayah membuatku tak bisa lagi menahan air mataku.
Aku masuk kekamar dan mengirim pesan kepada suamiku agar kami pulang, dan beberapa menit kemudian kak Putra pulang.
"Bu... Dinda mana ??".
"Dikamar nak". Aku mendengar kak Putra, cepat-cepat aku menghapus air mataku dan merapikan pakaianku.
"Ayah kemana bu??". Tanya kak Putra yang melihat kedalam rumah.
"Ayah keluar tadi".
"Oh, ya sudah, kami pamit bu, assalamualaikum".
Kak Putra melajukan motornya setelah aku naik. Ditengah jalan aku menceritakan semuanya kepada suami, berharap dia mengurungkan niatnya untuk menginginkanku menggunakan cadar.
Namun harapanku sia-sia, karena suamiku tetap kekeh. Sampai dikamar aku mulai meneruskan pembicaraanku kepada suamiku."
"Ini sebabnya aku memintamu, karena selalu saja orang bercadar dianggap sebagai *******, selalu diplok-olok, selalu dianggap orang bercadar itu wahabi... Aku berharap kamu bisa istiqamah untuk membuktikan kalau tidak semua orang bercadar itu seperti yang mereka pikirkan, dan kamu ngomong baik-baik sama ayah."
"Ini semua lebih besar mudaratnya kak, kalau masalah sebesar ini aku tidak bisa ngomong sama ayah, dia tetep melarang. Dan kita seakan-akan diwajibkan mematuhinya."
"Nggak, aku tetap akan mendidikmu karena kamu adalah istriku, dan kamu tanggung jawabku."
"Lalu kenapa adik-adikmu tidak kau suruh kak, ibu juga tidak bisa kau ajari?".
"Iya, pelan-pelan, dengan prantara kamu mereka akan berubah. Asal kamu tahu dek, bukan ayah saja yang menentang, Bapak dan ibu disini juga menentang, aku jelaskan kepada mereka, namun mereka belum juga mengerti.
Memang dari kedua keluarg belum bisa menerima kecaman dan gibahan tetangga. Dan diantara kedua keluarga hanya menggunakan hijab saat keluar rumah. Itu sebabnya kak Putra ingin aku membantu niatnya.
Dari semenjak perdebatanku waktu itu, aku tidak pernah mau ikut kerumah, hanya kak Putra yang pergi....sampai suatu hari keluargaku merayakan ultah Baginda Nabi muhammad SAW. Dan aku tidak hadir membantu ibu.
Mungkin karena ibuku terlalu sakit hati karena aku yang terlalu patuh kepada suami atau memang karena ayah yang egonya terlalu tinggi, sampai ibu merasa kecewa kepadaku.
__ADS_1
"Kalau kamu memang lebih memilih suamimu, dari pada memilih ibu dan ayahmu,, dan kamu tidak mau lagi melihat ibu mu ini. baiklah.....kamu datang saat ibu sudah tiada dan kamu hanya akan menemukan mayat ibumu ini. Saat itu lah kamu akan bersimpuh dikaki ibu".
Pesan ibu yang dikirim melalui saudaraku Ani yang memang dia pulang karena libur.
"Eh kak Dinda, suami kaya gitu aja dipertahanin.. malah memilih lebih mendengar suami dari pada orang tua yang melahirkan dan membesarkanmu.
Kak dinda cerai saja, masih banyak laki-laki yang mau sama kakak, dan membebaskan kakak dari permintaan suamimu itu." Ani merasa sudah besar dan mampu ikut campur masalah keluargaku. Dia sudah berani ngomong seperti itu kepada saudara sendiri.
Entah kenapa ibu dan adikku bisa berubah secepat itu. Yang tadinya membelaku, malah sekarang mereka yang lebih menyakiti perasaanku. Bukan sakit lagi jantungku dibuat serasa ingin berhenti.
Kata-kata itu membuat hatiku semakin hancur... doa yang dilontarkan ibuku, aku semakin terpuruk didalam dilema ini.
Sore itu aku datang kerumah, hanya untuk memohon ampunan dari ibuku. Saat kak Putra melihatku terdiam mematung dikamar dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Membuat dia mengambil handphon ditanganku dan melihat pesan itu. Itu sebabnya kak Putra memintaku untuk ikut kerumah dan meminta maaf kepada ibu dan ayahku.
"Ibu...... aku minta maaf kepadamu bu !!!! Jika aku menyakiti perasaanmu tapi aku tidak bisa menolak keinginan suamiku bu? Tolong ibu mengerti." Aku memeluk ibuku dan memeluk kakinya meminta untuk dia mengerti posisiku sebagai istri.
"Bu... Dinda adalah istriku, tanggung jawabku. Aku tidak mau karena istri aku yang akan terseret kedalam neraka. Aku tidak mau tanggung jawabku kepada istri aku abaikan. Mohon pengertiannya bu".
Tante Raya yang melihatku hanya diam, saudaraku tidak mau melihatku saat aku datang mereka masuk kekamar, hanya Roy yang tidak dirumah, karena dia lebih nyaman diluar kota dari pada harus dirumah. Roy tahu bagaimana ayah, membuatnya tidak pernah mau pulang.
"Sudaah lah kalian lupakan... sekarang bantu tante kamu, Putra kamu kupas kelapa itu." Titah ibu yang tidak mau memperpanjang masalh itu."
Aku dan tante raya didapur membantu tante memotong ayam. "Dinda... aku mengerti perasaanmu, tante tidak tahu harus ngomong apa nak. Kamu sabar ya nak... mungkin suatu saat nanti kamu bisa bahagia !!
"Amin tante, tante mungkin ibu sudah cerita masalah ini. Tapi sekarang aku tanya sama tante yang memang sering ikut kepengajian".
"Dari cerita yang tante dengar, bukan kamu yang salah nak, tapi pilihan yang membuatmu seperti ini.. sisi lain mereka ayah dan ibumu, disisi lain dia suami yang wajib kamu patuhi. Ibumu hanya termakan oleh perkataan Om Heri dan ayahmu."
"Jadi benar,, ibu tidak akan berubah dalam sesaat tante."
"Kamu sabar. Jangan kamu bantaah perkataan ayah mu itu, kamu juga jangan sampai tidak mematuhi suamimu. Mengerti kan apa maksud tante?". Tante melihat mataku yang membengkak.
"Iya tante."
Aku melanjutkan apa yang perlu dikerjakan dan istirahat setelah selesai. Karena kamarku diambil Safia. Aku harus tidur diruang tamu bersama suamiku. Saudaraku tidak ada yang mau bicara kepada, mereka cuek, tak peduli denganku apalagi ayah yang hanya bicara sedikit kepada kak Putra. Hanya menyuruh makan dan pergi tidur.
"Kak.. kenapa aku harus dihadapkan dengan masalah seperti ini. Aku tidak pernah bermimpi akan sehancur ini karena pilihan antara kau dan orang tuaku."
"Kamu harus belajar istiqomah.. apa pun yang terjadi, ini demi orang tua kita dan demi saudara-saudaramu yang dipandang tidak baik oleh orang-orang seperti Om Heri dan ayah."
"Hmmmm,aku ngantuk kak".
"Satu yang ku ingatkan kepadamu. Istiqamah itu berat... jadi tergantung dari kamu...niat kamu waktu pertama menggunakan cadar. Aku tidak akan memaksamu tapi aku ingin bagaimana kamu konsisten, bagaimana istiqomahmu menggunakan cadar itu, sekarang tidurlah."
Aku dan suamiku tidur disopa, namun suamiku tidak bisa tidur karena memikirkan masalah-masalah yang terus aku hadapi.
"Suatu saat nanti mereka akan mengerti mengapa aku tegaskan kamu menggunakan cadar. Dan orang tua kita akan mengerti." Kak Putra mencium keningku dan duduk disopa melihat layar handphonnya."
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun membersihkan rumah, dan mengerjakan apa yang perlu aku kerjakan. Sampai acara selesai aku merasa begitu asing dirumah sendiri. Seperti rasanya aku tak dianggap dirumah sendiri.
Dari kejadian itu... aku benar-benar istiqomah menggunakan cadar sampai saat ini. Aku tidak mau memikirkan masalah yang sudah terjadi. Walaupun ayah masih belum menerima niqabku.
Ayah hanya mecibirku saat suamiku tidak bersamaku. Sama seperti Om heri yang selalu mengatakan kalau suamiku adalah wahabi.
Kenapa orang-orang menganggapku wahabi, itu karena sebagian besar dikalanganku banyak saudara-saudara sepupu, keponakan suamiku seorang wahabi.
__ADS_1