Antara Kau Dan Orang Tuaku

Antara Kau Dan Orang Tuaku
Bab 8 Asin


__ADS_3

Menikah bukan sekedar menikah terus kita akan bahagia itu belum tentu kita dapatkan. Kehidupan berumah tangga tidak selalu mulus. Berbagai ujian rumah tangga bisa saja timbul. Dari masalah kecil yang dapat diselesaikan dengan mudah, hingga masalah besar yang berpotensi merenggangkan ketenangan dan keharmonisan rumah tangga


Jadi memantapkan diri sebelum menikah itu harus. Karena dalam berumah tangga banyak sekali ujian yang harus kita jalani.


Satu minggu telah berlalu dari sejak kedatangan putra kerumah. Aku tetap bekerja seperti biasa, terik matahari- hujan badai aku tetap terjun kelapangan untuk sekedar mengambil setoran mingguan.


Hari terakhir bekerja, sabtu minggu aku libur. Handphonku berdering.


"Assalamualaikum, Dinda kamu dimana?". Tanya putra saat aku akan melajukan motor.


"Ini aku akan pulaang".


"Oh.. aku boleh bicara sama ayah?."


"Boleh, cuma aku pulang dulu".


"Oh.. ya sudah, mulai besok senin kamu harus resign kerja."


"Yoh kenapa?".


"Setelah menikah, aku tidak mau kamu bekerja, aku mau kamu buat usaha saja, biar kamu tidak capek."


Aku tersenyum mendengar kata-kata yang dilontarkan olehnya. Aku memang ingin sekali diem dirumah istirahat untuk sementara.


"Emmm, nggak secepat itu. Aku harus menunggu surat resign keluar dulu, baru bisa berhenti.


"Yang penting kamu sudah mengajukan resign."


"Baik sekarang aku bicara sama manager kantor."


Aku kira Putra tidak akan serius dengan kata-kata nya untuk melamarku ternyata dia membuktikan perkataannya. Tidak seperti Haris, hanya kata-kata yang tak ada manfaatnya sama sekali.


Aku kembali kedalam kantor brtemu dengan pak Rizal manager cabang.


"Permisi pak."


"Iya mba Din". Aku duduk dikursi didepan meja pak Rizal.


"Begini pak, aku akan resign karena akan menikah".


"Apa? Aduh mba Din, sayang sekali padahal 3 bulan lagi kamu akan satu tahun kerja disini. Seperti dikontrak kerja yang ditanda tangani dulu. Boleh menikah setelah satu tahun kerja."


"Iya sih pak, hanya saja,,,, jodohku telah datang".


"Iya sih.. cuma walaupun kamu mengajukan sekarang, surat resign akan keluar paling lambat satu bulan setelah mengajukan."


"Nggak apa-apa pak".


"Ok sudah."


Setelah semua yang aku lalui, pahit manis kehidupan yang kujalani. Aku tetap menjadi seperti Dinda biasanya. Bapaknya Putra dan ayahku alhirnya berbicara. Bercanda dan tertawa melalui saluran seluler ditangan masing-masing.


"Padahal baru kenal, tapi kok mereka sudah cocok ya". Kata ibu kepadaku yang sedang duduk menghilangkan rasa letihku. Aku tak ingin ibu dan ayah tahu kalau aku resign.


Setelah selesai, ayah mengembalikan handphon ku. Dan ayah menemui kakek, saudara ayah dan ibu, kemudian Rt juga sedikit saksi-saksi didesa, agar mereka menghadiri rapat nanti malam untuk memberitahu tentang pernikahanku.


"Bu aku benaran mau nikah". Mata ibuku berkaca-kaca mendengar ucapanku.


"Kalau kamu sudah menikah kamu bukan tanggung jawab ibu dan ayah lagi, kamu harus mematuhi semua perkataan suamimu, walaupun pendidikan mu lebih tinggi dari suamimu. Kamu tetap dibawah suamimu."


"Iya bu, dinda mengerti."


"Apa tamatan suamimu?".


"Aku belum tahu bu". Aku berbohong kepada ibu, aku tidak mau sampai ayah tahu, jika ibu saja aku tidak masalah memberi tahunya tapi ayahku pasti akan mencaci makiku lagi, karena ayah lebih mementingkan pendidikan. Ayah ingin anak-anaknya menikah dengan orang yang lebih tinggi ilmu dunianya.


Putra hanya Lulusan SMP. Dia tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Namun ilmu pengetahuaannya lebih tinggi dari pada anak kuliahan. Ilmu agamanya dan ilmu dunianya iya barangi, dia sering belajar melalui youtobe. Sampai dia pun bias mengalahkanku.


Keluargapun sudah berkumpul, mereka mulai musyawarah. Banyak keluarga yang menentang karena mereka terlambat diberikan kabar bahagia.


Sedangkan kakek hanya mengiyakan perkataan ayah. Musyawarah masih berlanjut aku tidur karena terlalu capek.


Keesokan harinya, burung-burung masih membunyikan melodi suaranya, aku masih tertidur karena selesai shalat subuh aku melanjutkan tidur lagi.


"Bagaimana kamu akan menjadi seorang istri nak, kalau kamu saja masih tidur sampai tamu-tamu dan para keluargamu sudah datang." Ibu melihatku masih terlelap dari pintu kamarku.


"Dinda juga belum bisa masak kak !". Tante (adik dari ibuku) mengagetkan ibu dengan perkataan dan memegang pundak ibuku.


"Iya dek. Aku takut nanti mertuanya akan marah-marah dengannya".


"Nanti kita bicarakan saat mertuanya datang, semoga mereka mengerti kak. Biar aku yang membangunkan Dinda, tamunya kakak dari pihak laki-laki sudah datang. Ayo kakak sambut dulu."


Ibu menyambut kedatangan tamu-tamu dari pihak Putra sedangkan dari pihakku sudah menunggu sedari tadi. Hanya aku yang belum siap. Padahal putra sedari tadi menelphon hanya saja aku tak mengangkat karena masih tidur.


"Dinda... ayo bangun sayang, calon suamimu sudah datang masa kamu masih tidur". Tante membangunkanku dengan lembut. Sampai aku kaget dan membuka mataku yang sedari tadi tidak bisa dibuka.


"Tante aku belum mandi."


"Ya sudah sekarang bangun, mandi sana". Aku berlari mengambil handuk dan masuk kekamar mandi.


Saat dikamar mandi pihak dari Putra mencariku karena ingin melihat wanita yang ingin dinikahi anaknya.


"Ah maaf, Dinda masih dikamar mandi, Kayaknya terlalu capek kerja, jadi kelolosan deh tidurnya".


putra dan keluarganya tersenyum mendengar jawaban dari ibu yang tersenyum memberi kabar".


"Maaf bu besan, Dinda juga belum bisa masak, walaupun dia pernah ngekos, dia hanya dimasakin sama kakak-kakak kosnya, kadang temannya. Kadang juga dikasih lauk sama ibu kosnya, jadi mohon permaklumannya, kalau bisa ajari dia pelan-pelan besok kalau sudah dirumah bu besan". Ucap tante Raya (Adik dari ibuku).


"Iya buk besan, kita sama-sama mengajarkannya."


Setelah semuan hantaran diserahkan, aku buru-buru keluar kamar. Dan tersenyum kepada keluarga Putra.


Duduk disamping ibu dan tante Raya. Sedangkan saudara dari ayah didapur menyiapkan makanan untuk para tamu.


"Nah ini cucuku. Semoga kalian menerimanya dengan baik".


Keluargaku saling mengobrol, aku dan Putra hanya tersenyum mendengar pembicaraan kedua keluargaku. Pandangan Putra membuatku sedikit tertunduk malu. Sampai akhirnya mereka berpamitan dan akan datang setelah menentukan hari akad buat kami.


Aku hanya akan menunggu hari H itu tiba, dan juga menunggu surat resign ku keluar. Walaupun aku akan menikah tapi aku tetap masuk kerja. Padahal kata orang pamali jika pengantin keluar sebelum hari H.


Namun aku tidak menghiraukannya, karena terdesak oleh pekerjaan yang menuntutku mencapai target sebelum surat resign keluar.


"Nak. Semua orang mencarimu, apa kamu tidak bisa izin dulu? Besok kamu harus dijemput keluarga barumu. Masa kamu juga akan kerja."

__ADS_1


"Apa boleh buat bu.. aku belum mencapai target, lagian aku belum satu tahun kerja, nggak bisa aku ambil cuti bu".


"Tapi ibu harus ngomong apa sama tante kamu, Om dan keluarga yang lain, bisa-bisa ayahmu akan marah".


"Ya sudah aku bisa pulang sebentar siang ini, ibu nggak usah hawatir, aku tutup telphonnya ya bu.. aku kerja dulu".


Ibu tidak bisa berkata apa-apa setelah aku menutup telphonnya. Dirumah semua orang marah karena aku pergi, nanti kalau gimana-gimana kita harus ngomong apa pada keluarga besan?". Kata orang-orang yang menghakimi ibu.


"Hanya doa yang bisa menyelamatkannya. Jadi kita doakan saja yang terbaik".


Setelah aku menyelesaikan tugasku, aku minta izin untuk pergi keluar kantor, padahal aku akan pulang. Aku secepatnya melajukan motor kerumah, untungnya saat aku sampai aku tidak menemukan ayah atau yang lain. Hanya ibu dan tante Raya disana.


"Ibu... tante".


"Dindaaaa sayang. Sudah lah. Kamu berhenti kerja. Jangan buat orang panik".


"Tante, ibu.. aku hanya butuh doa kalian. Dan aku tidak akan apa-apa. Aku akan kembali untuk minta izin digantikan selama 3 hari sampai acara selesai bu, tan".


"Tapi Din, ibu dan tante tidak tahu mau ngomong apa sama ayahmu".


"Tenang saja, aku yang akan ngomong sama ayah sekarang." Aku menunggu ayah yang sedang pergi menemui Rt untuh mengurus berkas-berkas ke KUA.


Setelah ayah pulang aku tersenyum kepadanya.


"Kamu kenapa?"


"Yah. Aku mau kekantor buat izin dulu. Masalahnya anak baru yang akan menggantikanku itu masih belajar, tinggal satu lokasi yang harus aku tunjukkan! Boleh kan yah?".


Karena aku menyuruh anak baru itu untuk mencari sebuah desa mencari target untuk dirinya sendiri. Dan aku minta dia menunggu disalah satu desa.


"Ya.. tapi besok pagi kamu sudah harus disini."


"Bukan besok ayah, nanti malam aku pulang".


"Itu lebih bagus lagi".


Aku mencium tangan ayah, ibu dan tante Raya.


Aku pamit untuk pergi lagi. Dan menemui anak baru yang harus menggantikan tugasku.


Walau kami akan menikah Putra jarang menghubungiku, kecuali ada yang penting.


Aku pun jarang ingin tahu tentang dia, karena aku sibuk.


Aku dan anak baru itu menuju kesebuah desa untuk bertemu dengan anggota yang meminjam dikoprasi. Setelah pukul 17.15 menit. Kami kembali kekantor untuk melaporkan bahwa anak baru telah menghapal seluruh lokasi yang nanti akan iya datangi setiap harinya.


Kemudian aku pun pulang setelah semua aku rasa selesai. Dirumah sudah banyak keluarga yang kumpul untuk acara penyerahanku.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam' astagaaaa, pengantin masih saja kerja".


"Terakhir kok paman". Tersenyum kepada orang-orang yang sedang berkumpul.


"Bu aku kekamar dulu, mau packing baju buat besok".


"Iya nak".


Aku tidak sabar menunggu hari ini dijemput Putra dan keluarganya. Aku bahagia bukan main. Ada rasa deg degan. Sampai tiba saatnya keluarg Putra datang. Semua telah siap. Aku berjalan duduk didekat putra. Saat penyerahan tubuhku mulai berkeringat, Putra tersenyum melihatku.


"Kamu santai aja, Din".


Aku hanya tersenyum dan kemudian kami pamit akan pulang kerumah suamiku.


Semua keluargaku menangis, aku tersenyum, namun saat melihat air mata ibuku, entah kenapa airmataku jatuh dengan tiba-tiba. Padahal aku hanya dua hari dirumah mertua. Eh calon mertua.....


Nah apa kabar saat aku pergi ngekos, dan saat aku tinggal dimes tempat kerjaa. Tidak ada yang aku lihat menangis....


Aku berjalan mengikuti langkah kaki Putra dan keluarga baruku... calon keluarga baruku....


Semua orang menunggu kedatanganku, melihat bagimana rupa calon istri dari Putra.


Aku begitu grogi untuk masuk.


"Ayo nak kamu masuk. Kamu istirahat lalu shalat."


Ayah mertuaku memintaku untuk istirahat,


"Iya Om."


Aku lalu pergi kekamar yang telah disiapkan. Dari kedatanganku sampai malam tiba banyak tamu yang berdatangan hanya untuk melihatku.. aku serasa malu.


"Dinda... ayo keluar... ada tamu yang ingin bertemu."


"Iya" calon ayah mertuaku meminta aku untuk keluar, sedangkan calon ibu mertua ku hanya mengurus tamu, ibu mertua terlihat malu saat aku bertanya harus apa.


"Kamu duduk diam saja didekat Putra nak. Nanti kami yang menyuguhkan secangkir tes dan cemilan lainnya kepara tamu." Ucap calon ibu mertua.


Aku melihat Putra tertawa, dan bercerita kepada para tamu. Aku sedikit mengerti, kadang juga nggak ngerti dengan apa yang mereka katakan. Maklum beda-beda bahasa.


"Eh... Dinda, duduk sini." Aku mendekat Putra dan duduk disampingnya tapi agak-agak merenggang.


Setiap hari setiap malam selama dua hari dua malam aku hanya diduduk menyambut para tamu. Lebih asyik kerja dilapangan dari pada harus menyambut tamu yang begitu banyaknya sampai aku merasa pusing.


Dimalam terakhir aku disana seseorang yang bisa dibilang keluarga dari putra datang bersama istri dan anak-anak menantunya.


"Dindaa... bawain dulu nih secangkir kopi buat paman," titah calon adik iparku.


"Iya". Aku jalan menuju daput tempat kopi itu dibuat.


"itu adik ipar saya nak". Calon ibu mertuaku memberitahuku siapa para tamu yang datang.


Aku hanya bisa tersenyum, dan membawa secangkir kopi yang masih panas.


Entah kenapa aku merasa pusing melihat para tamu yang begitu banyak sampai aku tidak sengaja menumpahkan secangkir kopi itu keselangkangan paman itu yang menggunakan sarung.


"Aaaaaa... panas.." paman berteriak sambil mengibas-ngibaskan sarungnya. Semua orang tertawa tak henti-hentinya. Aku hanya terdiam dan pergi kekamar diminta ayah mertua.


"Menantumu dendem apa sama kamu damar". Ucap seseorang wanita yang aku dengar dari dalam kamar.


Mereka semua masih tertawa. Sesangkan aku masih terasa kaget sampai wajahku memerah saking malunya.🫣🫣😁


Aku mencoba untuk tidur saja, menghilangkan rasa maluku. Tak terasa telah pagi,

__ADS_1


"Dinda ayo keluar... kamu harus dirias". Aku keluar dan beranjak kesalon depan rumah Putra.


Tak terasa akhirnya aku pulang kerumah. Dua hari dua malam dirumah calon suami terasa satu tahun disana. Mungkin dari pembaca ada yang merasa seperti aku.


Setelah selesai aku dirias, Putra terkejut melihatku. "Perfect". Ucap Putra ditelingaku. Membuat aku tersipu malu.


"Makasih"


Aku berjalan kemobil saat Putra selesai dirias, aku tersenyum karena dia berbeda dari biasanya. Yang dulu aku olok-olok hitam , jelek, sekarang dia terlihat wow...


"Aku dan rombongan berangkat kerumahku untuk sekedar akad saja. Semua orang memandangku, sesampainya dirumah, dari sahabatku Yuni, sahabatku waktu SMA Hida dan kenzel. Sampai ke teman-teman kantorku.


Mereka berpose bersamaku dan suamiku setelah akadku selesai." keluargaku, teman-temanku, sahabat-sahabatku mengambil momen bahagia itu, walau tanpa dekorasi.


Karena acaranya memang begitu sederhana.


Setelah semua menyantap hidangan dan satu persatu pulang aku mengganti gaun pernikahanku dengan gamis dan hijab. Begitu pun dengan suamiku.. keluarga dari suami pamit pulang, dan membiarkanku berdua mengurus tamu dulu.


"Kita pulang yuk!". Ajak putra yang sedikit bosen dirumah.


"Ayo ! Kita pamit sama keluarga.".


Kami pun pamitan, dan pulang menggunakan motorku setelah selesai shalat ashar.


"Dikamar pengantin"


"Dinda, sekarang kita sudah sah menjadi suami istri, aku sama kamu harus mengganti panggilan."


"Boleh, aku panggil apa?".


"Mulai besok Aku panggil kamu dek, dan kamu panggil aku kak?".


"Boleh, kak".


"Tapi aku minta maaf Din, aku belum bisa mencintai mu, karena aku masih perlu mengenamu."


Kata-katanya membuatku sedikit kecewa. Hanya saja aku masih bisa memakluminya karena memang kami Taaruf.


"Iya, nggak apa-apa."


"Putraaa ada tamu tuh... teman-temannya manggil." Terdengar suara ibu mertuaku memanggil anaknya.


"Ya".


Putra pergi dari hadapanku, dia memintaku istirahat duluan, sedangkan dia akan menemui teman-temannya.


Aku menunggu sampai jam 11 malam, dia tidak kembali kekamar. Padahal ini malam pertamaku.


Aku tidak bisa tidur karena suara kendaraan yang entah mereka mau kemana malam-malam begini.


Aku selalu terkejut saat akan terlelap. Begitu sampai aku melihat jam menunjukkan pukul 12.30 malam.


"Putraaaa... yoh kamu masih diluar?.


Istrimu kamu biarin didalam sendirian !! Masuk".


Ibu mertua mengusir semua teman-teman putra yang memang sengaja mengganggu. Mereka tertawa dan membiarkan Putra masuk !!


Saat pintu terbuka aku terkejut. "Maaf ya".


Putra mulai membuka bajunya. Namun aku tidak memperdulikannya karena kesal dengan suara kendaraan yang lewat. Maklum aku menikah kekota dekat jalan raya.


"Kamu kenapa?".


Melihatku begitu pucat membuat putra kaget.


"Aku tidak bisa tidur dengan suara kendaraan itu- akumemang tinggal dimes dekat dengan jalan raya. Hanya saja kalau sudah jam 11 keatas, tidak ada lagi suara kendaraan".


"Ya sudah.. sini kamu tidur sambil aku peluk." Aku sedikit malu campur dengan takut.


Putra menarik tanganku hingga aku terjatuh kepelukannya. Dia mematikan lampu dan berbaring memelukku, kemudian menutup telingaku dengan tangannya.


Tidak ada yang terjadi dimalam pertamaku, Putra hanya tidak tega melihatku, karena itu dia sedikitpun tidak menyentuhku dimalam pertamaku. Sampai pagi tiba, aku harus bangun lebih pagi untuk membersihkan rumah, menyapu dan mencuci piring. Lalu aku mencoba untuk masak.


"Kamu bisa kan nak?".


Ucap ibu mertua yang tiba-tiba mengejutkanku dari belakang".


"Eh. Insyaallah aku akan mencoba bu".


Ya sudah aku mau keluar nyuci baju ke Telaga dekat jalan sana.


"Iya bu".


Aku harus masak., ini masakan pertamaku untuk suamiku. Aku mulai menyiapaka berbagai menu kesukaannya. Sambal tempe, dan sop ayam.


Setelah selesai aku hidangkan suamiku dan ayah mertuaku.


"Emmm. Mungkin sedikit ditambahin air". Suara ayah mertuaku membuat aku malu.


"Ini apa. Kamu bisa masak nggak sih. Kamu punya mulut kan! Kamu cicip lah dulu baru kamu kasih kekami !". Suara bentakan Putra membuat aku meneteskan air mata. Aku hanya terdiam


"Bodoh kamu, gak berguna. Masakan seasin ini kamu berikan kepadaku!. Kamu saja yang makan nih !". Aku malu begitu malu sama ayah mertua dan kedua adik iparku.


Sampai aku menangis sejadi-jadinya dan masuk kekamar mengambil koperku.


"Kalau kamu mau enaknya saja, masak sana sendiri, ngapain marah-marah sama istrimu. Sini". Ibu mertuaku mengambil piring yang dipegang Putra dan ayah mertuaku, semua masakan dimasukkan kembali kedalam kuali.


Mereka semua terdiam, mereka tidak bisa melanjutkan makan karena telah dibereskan ibu mertuaku, ternyata ibu mertuaku begitu sayang sama aku.


Sampai Putra menyusulku kedalam kamar, dan melihatku menangis histeris sambil memasukkan semua bajuku kedalam koper.


"Dek, aku minta maaf, bukan maksudku menghinamu," putra menyesali perkataannya, memegang tanganku.


Namun aku benar-benar kecewa, malu, dan sakit hati.


"Bisa-bisanya kamu meperlakukan aku seperti itu. Kamu kira aku nggak malu?. Kamu tidak menghargai masakanku sedikit saja".


"Maaf aku menyesali prilakuku terhadap kamu". Meneteskan air mata membuatku luluh. Dan mengurungkan niatku untuk pergi. Dia memelukku, menciumku, dan berjanji tidak akan berkata kasar lagi..


"Sekali lagi kamu berkata kasar. Aku benar-benar akan pergi dari rumahmu kak. Dan untuk saat-saat ini maaf aku tidak akan lagimemasakkanmu".


Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah memasak lagi karena trauma. Aku selalu meninggalkannya bekerja sampai surat resign ku keluar.

__ADS_1


__ADS_2