Antara Kau Dan Orang Tuaku

Antara Kau Dan Orang Tuaku
Bab 9 kesabaran menjadi istrimu


__ADS_3

Malam kelabu, aku dan suamiku diam tanpa sepatah kata duduk dikamar, menikah dengan laki-laki sederhana itu harus bisa menerima keadaannya. Apapun itu aku terima, namun aku tak terima kalau aku dibentak-bentak.


Dua hari dirumah suami seperti bertahun-tahun.


"Kapan kamu akan berhenti kerja?". Putra memegang tanganku lalu memelukku dari belakang.


"Nggak tahu. Kalau aku tidak betah dirumahmu dengan sikapmu atau sikap keluargamu kepadaku, terpaksa aku tidak akan berhenti".


"Kamu masih marah !! Aku minta maaf dek".


"Aku hanya masih trauma".


Aku mengotak atik handphonku... putra memelukku dengan sangat erat.


"Lihat aku,, aku janji tidak akan menglangi kata-kata itu lagi." Pipiku yang tembem dia pegangi dan tiba-tiba saja air mataku menetes. Suamiku menghapus air mataku.


"Dinda, putra. Ayo keluar makan dulu."


"Ayo keluar, kita makan malam bersama bapak dan Ibu !!".


"Duluan saja, aku belum lapar".


"Kalau kamu nggak makan, aku juga tidak akan keluar!".


"Terserah lah... aku ingin tidur, besok aku akan kerja".


Terlihat ada penyesalan diraut wajah suamiku, dia belum bisa membuatku tak ingat kejadian dua malam yang lalu.


Sepertinya suamiku memang lapar, dia terpaksa mengambil sendiri makanan yang dihidangkan ibu nya di ruang tamu. Dan membawanya kekamar, dia makan didalam kamar. Aku sengaja memejamkan mataku, namun ada rasa bersalah didalam hatiku. Karena sesalah-salahnya suamiku seharusnya aku bisa mengurus makanannya. Aku belum mampu menjadi istrinya.


"Ampuni aku ya allah, aku membiarkan suamiku makan sendiri, tanpa menemaninya, hatiku masih serasa perih". Dalam hatiku ada penyesalan yang teramat besar.


Aku melihat suamiku melahap makanan yang ada ditangannya dengan menereskan airmata rasa bersalahnya.


"Kakak kenapa nangis?".


Dia berhenti melahap makanannya. Dan mengambil air minum karena tersedak.


Aku menatap matanya yang memerah karena menangis. "Aku nggak menangis." Mengindari tatapanku.


Aku memeluknya dan mencium pipi suamiku. Tidak ada rasa malu dalam diriku.


"Aku minta maaf kak. Aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu".


"Aku yang belum menjadi suami yang baik dek, aku belum bisa mencintaimu, kita baru menikah aku sudah melukai hatimu.. aku benar-benar menyesalinya."


"Aku meneteskan airmataku didadanya, mulai besok aku akan belajar untuk masak. Aku akan belajar menjadi seorang istri".


"Makasih dek,"


Aku membersihkan bekas makan suamiku dan keluar mencucinya. Adik ipar dan kedua mertuaku sudah tidur didalam kamar.


"Kak, besok aku kerja, sampai surat keluar dari kantor pusat."


"Iya nggak apa-apa. Aku juga akan pergi mencari bahan-bahan untuk usaha yang sedang aku tekuni".


Kebetulan suamiku usaha sepeda bekas yang diubah menjdi sepeda seperti baru lagi. Dan itu karena hobinya. Dia anak BMX, jadi suamiku sudah terbiasa dengan usaha karena hobinya itu.


Pagi-pagi sekali aku bangun untuk menyiapkan sarapan pagi. Aku begitu ragu karena takut masakanku akan gagal lagi, dan membuat sumiku marah agi.


"Kak.anuuu... emmm".


"Ada apa dek"?.


"Sa...saraapan sudah jadi. Aku pamit mau berangkat kerja". Setengah mati aku ragu mengatakannya.


"Aku mau kamu temanin aku sarapan dulu, baru boleh berangkat".


"Tapiiiii...."


"Please".


Aku akhirnya menemani suamiku sarapan, aku takut sekali saat dia melahap sarapannya.. aku memejamkan mataku. Dan suamiku melihatnya yang kemudian dia mengelus pipiku, aku benar-benar kaget.


"Aku tidak akan marah lagi." Suamiku tersenyum saat aku membuka mataku.


"Masakanmu enak." Entah dia bohong atau tidak aku merasa sudah seperti istri yang sesungguhnya.


Aku benar-benar bahagia mendengarnya.


Setelah selesai aku membersihkan bekas makanan, dan berangkat kekantor.


Dikantor aku mendapat berita bahagia. Kalau surat resign ku telah keluar, jadi aku tidak perlu bekerja lagi mulai detik itu.


Aku baru saja menerima gaji, dan bulan besoknya juga aku menerima gaji terakhirku.


Aku kerumah ibuku seperti biasa, aku memberikan gajiku.


"Assalamualaikum, bu !"


"Waalaikum saalam." Aku kemudian mencium tangaan ibuku.


" Ayah, sama Safia kemana bu?".


"Ayah biasa pergi sama temannya, kalau adikmu sekolah, kamu nggak sama putra?".


"Nggak bu, katanya kerja."


Kalau Roy sama Ani langsung kembali satu hari setelah acara akad ku selesai. Karena aku dan Putra tidak membuat acara pesta pernikahan.


"Bu. Nih !!! Aku memberikan uang gaji terakhirku.


"Kamu simpan saja. Gaji terakhir kan? Sementara kamu dapat pekerjaan lebih baik kamu simpan buat jaga-jaga."


"Buuu, aku kn sudah punya suami, jadi dia yang akan nafkahi aku".


"Ibu tahu nak. Iya kalau suamimu ada uang nanti".


"Ya sudah. Kalau gitu. Ibu ambil 1.500 aku 2.000.000., Jadi ibu juga bisa belanja. Ibu simpan.


"Baiklah nak, kamu sudah makan?".


"Alhamdulillah bu, ibu gimana?".


"Belum nak, ibu ingin sekali pergi memeriksa kesehatan ibu, tapi ibu juga takut."


"Ibu sering kambuh ya".?


"Iya nak".


"Ya sudah, aku temenin ibu, aku telphon tante Raya buat daftarin jadwal cek up ibu."


"Iya nak. Tapi gimana dengan biaya nak? Uang yang kamu kasih ini kayaknya aku trasfer buat makan adik-adikmu.


"Soal itu, ibu nggak usah mikirin, aku pulang ya bu! Besok sore aku anterin ibu".

__ADS_1


Aku pulang setelah sempat menelphon tante raya.


"Kamu hati-hati ya nak". Salam sama ibu mertuamu."


"Iya bu". Aku mencium tangan ibu dan melajukan motorku


Beberapa menit kemudian, aku sampai dirumah suami.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam".


"Yoh nak, kamu sudah kemana?".


"Aku kekantor. Cuma suratku sudah keluar. Jdi aku sudah tidak bekerja lagi".


"Oh." Aku masuk dan mencium tangan suamiku yang sedang duduk melamun dikamar. Seperti ada yang dipikirkannya.


"Kak...."


"Ah.. kamu sudah pulang".


"Iya... kakak kenapa? Sudah pulang beli barangnya?".


"Belum pergi."


"Yoh kenap kak?".


"Ah. Besok saja, uangku belum cukup buat barang".


"Nih buat kamu saja... belanja apa yang kamu butuhkan." Putra memberikan uang 50 ribu.


Aku mengambilnya "Alhamdulillah ". Putra tersenyum mendengarkan aku berayukur.


"Oh ya kak. Aku sudah tidak kerja lagi".


"Aku bersyukur, sekarang kamu lebih banyak waktu untuk suamimu".


"Ya sudah, aku mandi dulu..!!!! Oh iya.....nih kak untuk kakak." Aku memberikan 1 juta kepada suami untuk usahanya. Dengan niat aku sedekahkan.


Aku tersenyum, "sekarang pergilah beli barang yang kamu butuhkan kak."


"Yoh tapi ".


"Nggak apa. Aku ikhlaas kak membantumu".


"Baiklah dek. Makasih". Putra mengelus pipiku dnn berdiri.


"Nih konci motor!, pakai motorku saja".


Putra segera beraangkat setelah mengambil konci dariku. Aku kekamar dan mengambil handuk, aku berjalan kekamar mandi.


Dikamar mandi aku mendengar tetangga didepan rumah mengobrol dengan ibu-ibu tetangga lainnya.


"Eh.. kok aku lihat-lihat si Dinda kelihatan lebih tua dari Putra. Putra semenjak nikah kok tambah muda ya".


"Iya . Kok Putra mau-maunya nikah sama Dinda, kenal dimana lagi."


"Mungkin karena pekerjaan yang membuatnya lebih tua dari suaminyai, tapi aku nggak masalah, yang terpenting dia baik, sopan, dan yang jelas dia sudah seperti anakku sendiri". Ibu mertuaku merespon perkataan ibu-ibu rempong saat sekilas ibu mertuaku mendengar gosip itu.


"Eh... Bu saodah ! Maaf kami cuma mengatakan fakta yang sebenarnya."


Ibu mertuaku masuk dengan hati yang sedang jengkel. Namun aku dikamar mandi menangis. Dan mulai membersihkan badanku, selesai mandi aku masuk kekamar. Aku mengambil kaca bedak didalam tas melihat raut mukaku.


"Nggak, kak kenapa kaka mau menikah dengaku?".


"Karena kamu jodoh yang disiapkaan allah untukku".


"Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?. Suamiku memegang pipiku.


"Aku mendengarkan seseorang ngomongin aku tadi".


"Deeek, aku minta satu hal kepadamu, satu saja boleh?".


"Apa?"


"Jangan pernah mendengarkan perkataan orang, dan memasukkan perkataannya kedalam sini!!".


(Hatimu). "Kalau kamu sampai termakan omongan orang bukan hanya kamu yang terluka. Tapi rumah tangga kita yang akan rusak."


Aku mengangguk dan memeluk suamiku.


"Sedikit demi sedikit insyaallah rasa cintaku akan muncul kepadamu, jadi jangan rusak itu semua".


Aku tidur siang bersama suamiku, dan banyak teman-teman adik iparku berkumpul diluar, saat suamiku sudah terlelap.


"Eh Rin, mana sih kakak iparmu? Suruh keluar dong kita mau kenalan."


"Dia istirahat sama suaminya,".


"iiih... siang-siang begini dia ikut istirahat. Bukan istirahat dia kebelet. Setelah merasakan nikmatnya, pengen ngerasakan terus, hahahaha".


Rasanya aku ingin keluar dan menampar orang-orang itu.


"Biarin saja,,, aku nggak peduli."


Ririn adik kedua dari Putra, semenjak menikah dia tidak pernah mau bicara kepadaku apa lagi sekedar bertanya saat masak bersama didapur. Ririn sudah menikah dan mempunya satu anak (cewek) masih kelas 1 SD. Dia satu rumah dengaanku dan orang tuanya, suaminya terpaksa mengikuti istrinya, karena dia tak suka dengan ibu mertuanya yang katanya terlalu bersih. Tidak bisa melihat lantai kotor apa lagi dapur dan kamar tidur.


Sedangkan Linda adik ketiga dari Putra suamiku, dia juga sudah menikah dan tinggal dirumah suaminya satu rumah dengan ibu mertuanya, dia pun mempunyai satu anak -(cewek) baru 2 tahun.


Hanya tiga bersaudara.


"Dia selalu saja dinomer satukan sama ibu dan bapak. Dia tidak pernah disuruh-suruh, baju dan ****** ******** selalu ibu yang menyucikannya."


"Hahaha. Ibumu jadi pembantunya? Enak banget jadi menantu ibumu."


"Sudahlah".


"Ya allah, padahal aku tidak pernah meminta ibu mertuaku mencuci apa lagi memasak, dia sendiri yang mengambil pakaian dikamarku dan ibu juga yang megambil alih tugas ku memasak ."


Aku membelakangi suamiku dan menangis , meneteskan air mataku. Karena kata-kata adik ipar dan teman-temannya.


Sebelum azan ashar tiba aku keluar mengambil air wudhu. Entah apa lagi yang mereka bicarakan saat aku dikamar mandi.


Aku dan Ririn memang tidak pernah bicara semenjak aku menikah dengan kakak nya. Entah kenapa, aku tidak tahu dan tidak mau tahu.


Azan telah dikumandangkan, aku mulai shalat. Disetiap sujud aku memohon agar kesabaranku selalu diperluas oleh allah SWT.


"Benar kata suamiku jika aku terus saja mendengarkan perkataan mereka, rumah tanggaku ancamannya".


Aku mulai mencoba menguatkan hatiku. Melihat suami masih tidur saat setelah aku selesai shalat, aku membangunkannya.


"Kak, shalat".


Suamiku mulai membuka mata dan melihat mataku membengkak. Dia menarik tanganku sampai aku jatuh kepelukannya.

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu dengarkan? Kamu harus menjadi wanitaku yang kuat. Aku pernah menceritakan tentang tetangga-tetanggaku saat aku melamarmu, dan kamu sanggup kan.


Dek, mulai besok aku tidak ingin melihat kamu menangis. Biarin saja orang berkoar-koar diluar, yang penting kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri. Dan juga kamu kan tidak minta makan kerumahnya, kenapa kamu harus memikirkannya."


"Hmmmm. Aku bosan disini."


"Ya sudah aku shalat dulu, kamu siap-siap, dandan yang cantik".


Aku tersenyum, dan mulai mematuhi keinginan suamiku. Aku menunggunya diluar. Dengan menggunakan masker saat itu. Aku menggunakan masker karena aku tidak mau ibu-ibu akan bergosip lagi.


"Ayo". Kata suamiku dan kami lalu melajukan motor. Kami mencari tempat-tempat yang aku suka. Rasanya aku seperti bebas dari penjara saat keluar dari rumah suamiku.


"Dek ayo kita pulang, udah terlalu malam. Nanti bapak pasti nyariin kita."


"Tapi aku belum mau pulang."


"Nggak boleh begitu... Ayook!!!".


Sebelum aku pulang ibu mertuaku sudah mengambil cuciankh dikamar saat aku pergi.


Saat sampai dirumah, aku langsung menuju kedalam kamar, dan mencari nomer ibu.


Tapi ibu tidak menerima panggilanku.


Keesokan harinya aku pamit kerumah untuk mengantar ibu cek up kondisi ibuku. Ibu selalu merasa kejang, dan sesak saat terlalu kecapean.


Aku kerumah tante Raya,dan pergi kerumah sakit deket dengan rumahnya.


"Bu ayo dokter sudah memanggil kita."


Lalu ibu masuk dan aku tidak boleh ikut masuk, karena tubuh ibuku akan di scan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan ibuku selalu begitu.


Aku menunggu ibu di ruang tunggu. Dan beberapa menit kemudian ibu keluar. Hanya saja aku dan ibu harus menunggu hasil dari dokter itu.


"Buk Dini, mari ikut hasilnya sudah keluar." Aku dan ibu berjalan mengikuti dokter keruangannya dan dipersilahkan duduk.


"Buk Dini, ada masalah dengan jantung ibu, ibu harus dioprasi untuk memasangkan ring pada jantung ibu".


"Apa dok." mata ibuku berkaca-kaca.


"Tolong lakukan apapun untuk ibuku dok,"


"Tidak dok". Nak ibu nggak mau dioprasi. Lagian biayanya pasti besar.


"Berapapun yang penting ibu sehat."


"Lebih baik bu Dini musyawarah dulu dengan keluarganya. Aku kan memberikan obat untuk menahan rasa sakit saat kambuh nanti".


Kami pulang setelah membayar adminitrasi.


"Nak, ibu boleh minta sesuatu?".


"Apa bu". Sambil menggandeng ibu kekamarnya.


"Jangan kasih tahu ayahmu, juga adik-adikmu tentang penyakitku ini."


"Tapi buuu".


"Janji kepada ibu !!! Ibu tidak ingin melihat mereka sedih. Ibu ingin melihat adik-adikmu sukses nak."


"Baiklah bu... ibu nggak usah terlalu capek ya!!! Nggak usah ikut-ikut keladang, biar nanti kak Putra yang bantu ayah diladang. Mumpung kak Putra usahanya belum terlalu ramai.


"Baik nak.."


"Ibu istirahat. Dinda pulang dulu ya bu?!"


"Saat ingin pulang aku bertemu ayah diteras rumah yang baru pulang dari ladang untuk mencabit rumput. Ayah orangnya tidak bisa terlalu capek, pasti bawaannya marah-marah.


Aku sudah membelikan lauk untuk ayah dan Safia agar ibu bisaistirahat.


"Yah". Aku berjalan ingin mencium tangannya namun ayah langsung marah.


"Ibumu mana. Kenapa dia tidak mencariku keladang! Tahu aku tidak bisa mengangkat sekarung rumput".


"Ayah ibu sakit, ayah masih saja egois gini, lihat keadaan ibu yah".


"Kamu tahu apa, kalau memang ibumu sakit seharusnya kamu yang dan suamimu datang membantu disini."


"Besok".


"Kamu nggak nikah, nggak ada gunanya, menikah pun nggak ada gunanya".


"Ayah, ayah ini kenapa sih selalu saja meremehkanku, coba adik-adikku suruh dia pulang buat bantu diladang".


"Kamu yang aku suruh bukan adik-adikmu." Suara yang menggelegar membuat ibu bangun.


"Terus ayah anggap aku apa!?" Pesuruh ayah?"


"Oh setelah menikah kamu berani sekarang membantah ya, ini yang diajari suamimu.?


"Aku sekolahin kamu, ngak punya adap kamu. Tahi kamu"!!!"


"Sudaaaah, kamu pulang nak. Aku bosan sama sikap ayahmu.! Sekarang kamu pulang."


Aku melihat ibuku menangis masuk kekamarnya. "Ibu maafin aku bu".


Aku meneteskan air mata diatas motor.


Ayah kenapa sifatmu mulai berubah, ayah tidak adil sama aku. Atau mungkin aku yang baru merasakan kalau ayah memang memperlakukanku sangat berbeda dengan saudara-saudaraku.


"Bu Saudah,, enak ya menantunya, nyuruh bu saudah nyuci ****** ********, sedangkan menantunya pergi entah kemana, dia tinggal masukan saja kelemari.


"Dia nggak pernah memintaku, aku saja yang tidak suka melihat pakaian kotor, aku cuci".


"Alah buuu-buuu ... jangan membelanya deh".


Mereka terdiam saat melihatku sudah berdi didekat ibu mertuaku.


"Buuu, jangan dicuci bajuku, biarin aku yang nyuci, aku tidak mau orang-orang salah paham kepadaku. Sudah cukup aku mendengar gosip yang nggak-nggak."


"Biarin mereka ngomong nak. Toh aku ikhlas kok".


"Aku tahu buk, niat ibu baik,,, tapi aku mohon, aku lagi banyak masalah, jangan ditambah lagi bu."


"Baiklah nak,,, mulai besok ibu nggak akan nyuciin lagi baju-baju kamu dan suamimu."


"Ini... buat ibu belanja besok." Aku memberi 2 kertas warna merah.


"Makasih nak." Besok aku sama kak Putra akan kerumah orang tuaku., Ibu hanya mengiyakan.


Dan aku pergi kekamarku.


Aku tidak pernah bermimpi pernikahan akan serumit ini, dicela, digibahin, sampai adik iparku saja tidak pernah mau berbicara sama aku. Dulu aku bermimpi akan lebih bahagia dirumah suami saat dirumah sendiri tidak kurasakan kenyamanan.


Ternyata aku salah. Malah batinku lebih tersayat-sayat.

__ADS_1


__ADS_2