Antara Kau Dan Orang Tuaku

Antara Kau Dan Orang Tuaku
Bab 2 Tidak Naik Kelas


__ADS_3

Masa kekanak-kanakan adalah masa paling bahagia sebagian anak-anak. Masa dimana kebahagian itu ingin sekali terulang ketika pubertas telah datang. Namun aku tak ingin mengenang masa-masa yang membuatku sampai sebodoh sekarang.


Ketika itu dimusim kemarau yang berkepanjangan.


Dipagi itu nenek duduk bersama ibu dan Roy yang disuapin sarapan pagi dan aku bermain dengan bonekaku di samping nenek.


" Dinda sini kamu". Kata om Ridwan memanggil dengan nada sinis.


Aku langsung menghampiri "iya om, ada apa?". Aku menundukkan kepalaku.


"Ambilin gunting dikamar.. cepat !". Ucap om dengan bringis.


Tentu aku berlari mengambil gunting yang ada di atas meja kamar ibuku. Dan langsung memberikannya kepada om Ridwan.


"Ini om". Aku memberi gunting itu dan melangkah ingin berlari menuju ibuku dan Roy. Namun langkah kakiku terhenti begitu saja.


" mau kemana kamu.--- duduk sini". Perintah om Ridwan yang menyuruhku untuk duduk diam di bawah pohon asam disamping rumah.


Aku menuruti keinginan om Ridwan yang memintaku. Aku duduk dibawah pohon dan om ridwan langsung memegang rambutku lalu memotongnya. Mataku berkaca-kaca ingin berteriak, namun tidak bisa. Aku tahan sampai akhirnya air mataku pun tumpah dipipiku.


" sudah..--sana kamu mandi". Ucap om Ridwan Setelah selesai menggunting rambutku. Aku pun berlari kekamar dan berdiri didepan kaca melihat rambut kesayanganku.


Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak suka dengan model rambutku yang sependek rambut laki-laki. Ibuku ingin marah melihatku seperti itu, namun ketidak berdayaannya membuat ibuku terdiam tanpa tahu harus bagaimana.


"Nak kamu mandi dulu sana.--Rambutmu cantik dengan model seperti ini.-- kamu juga gak akan gerah lagi. Besok kalau udah dewasa baru deh kamu boleh mebiarkan rambutmu terurai panjang nak". Ucap ibu yang entah kapan ibu berdiri disampingku memegang rambutku.


Aku hanya terdiam dan beranjak kekamar mandi. Sedangkan ibu keluar untuk kedapur dan mengambil Roy yang digendong nenek.


"Besok masukan saja Dinda sekolah buk. Dari pada hanya main-main saja disini". Ucap om Ridwan yang nggak suka melihatku hanya bermain sendiri.


"Tapi dinda masih dibawah umur untuk sekolah...---mana bisa Dinda masuk dengan umur baru masuk 5 tahun. Kamu ngada-ada saja kalau ngomong." Jawab nenek yang tidak terima.


"Kenapa nggak bisa, bisa --- besok aku yang bawa dia kesekolah kalau kalian nggak mau". Ucap om Ridwan kekeh.


Ibu hanya berdiri meneteskan air mata mendengar perdebatan antara anak dan ibu (mertua ibuku). Ketidak tahenannya membuat ibu mengadu kepada ayah.


Setelah selesai memasak didapur ibu masuk kekamar sedangkan tante Rini baru pulang kerja sore itu. Dia langsung kedapur untuk mencuci piring kotor lalu masukkekamarnya.


Tante Rini seorang gadis jutek, bringas, dan emosionalnya tinggi. Dia sedikit bicara namun menyayat.


Dikamar ibu menunggu ayah pulang dari ladang.


"Yah.-- aku sudah tak tahen dengan saudara-saudaramu yang semena- mena kepada Dinda. Dia masih kecil. Namun sudah disuruh sekolah,. Ucap ibu dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah kita terima saja dulu dengan lapang dada buk.--- kita bisa apa? Disini kita hanya numpang. Ayah minta maaf belum bisa membuat kalian bahagia." Ucap ayah memegang pundak ibuku.

__ADS_1


Ibu hanya menghela nafas panjang dan berbaring disamping ayah.


Dipagi itu saat ayam mulai berkokok, suara burung pun mulai terdengar merdu. Aku masih melilitkan tubuh dengan selimut halus yang menempel ditubuhku. Rasa malas bangun membuat ibuku mulai masuk kelamar dan membukakan jendela kamarku dipagi itu.


"Dinda bangun ayo nak.--- gak boleh tidur lagi kalau sudah solat subuh. Seharusnya kamu langsung mandi nak. Karena hari ini adalah hari pertama kamu akan mendaftar kesekolahmu."


Ucap ibu dengan melihat pemandangan pagi itu dari arah jendela.


"Apa aku sekolah buk..--- ya sudah aku mau mandi buk." Aku berlari kekamar mandi kegirangan. Aku gembira karena sekolah, karena aku akan mempunyai banyak teman nanti disana. Aku tidak akan bermain sendiri lagi pikirku.


Setelah aku selesai ibu menyiapkan baju, dan keperluan yang akan aku bawa keSekolah Dasar.


Ibu tak lupa menyiapkan sarapan pagi dan uang jajan.


"Kak.---dinda sudah siap belum?". Ucap om Ridwan yang telah menunggu diluar.


"Sudah.---teriak ibuku...---ayo sayang om mu sudah menunggu. Kamu yang nurut ya kata om mu". Ucap ibu dengan mencium pipiku.


"Baik buk". Aku mencium tangan ibuku dan berlari menemui om Ridwan.


" kak...--- dinda sama kak Ridwan mau kemana tuh?". Tanya tante Rini yang sudah siap berangkat kerja.


"Mau mendaftar sekolah". Jawab ibu sambil beranjak pergi kedapur.


" Apaaa..---- gak salah ? Dinda baru umur 5 tahun loh kak. Nanti kalau dia kambuh lagi karena tidak bisa nampung pelajaran gimana?." Tante kaget dan mengingatkan ibuku tentang keadaanku.


Tante terdiam dan beranjak pergi dari hadapan ibu. Roy yang masih tidur membuat ibuku bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan tenang. Nenek sudah berangkat kepasar dan kakek dan ayahku pergi keladang.


Sesampai disekolah aku dites oleh guru Agama disekolah itu. Dan om ridwan bicara dengan kepala sekolah.


Banyak teman yang mengajakku berkenalan membuatku begitu bahagia.


"Yaa..-- kita sampai disini ya . Selamat bergabung disekolah ini anak-anak manis. Sekarang kalian sudah boleh pulang". Ucap buk guru


"Horeeeee". Kami bersorak gembira.


Lalu aku pulang dengan om Ridwan. "Ni ya..-- kamu harus ingat jalan kesekolah dan jalan pulang. Jadi besok dan seterusnya kamu tidak akan diantar jemput..---kalau jalan kamu masih bisa jalan sama tante Rini". Ucap om Ridwan sambil berjalan kaki.


Sesampainya dirumah aku makan sambil bercerita dengan ibu. Ibu bahagia mendengar aku bahagia karena memang belum saatnya untuk masuk sekolah.


Hari - hari ku jalani disekolah jalan kaki diatas embun pagi melewati sawah aku dan tante Rini setiap pagi harus basah-basahan terkena embun dipagi hari apalagi saat musim hujan, kami harus becek-becekan harus menenteng sepatu agar bersih sampai sekolah.


Saat aku mulai ujian naik kelas kepalaku masih bisa menerima soal-soal yang memang mampu aku jawab. Namun saat naik kekelas 2 aku mulai mengasah otak harus bisa menghapal kali-kalian. Yang membuat kepalaku sakit-sakitan.


Dirumah aku menangis karena tak bisa menghapal . Kali-bagi-tambah-kurang. Itu membuatku pusing.

__ADS_1


"Buk.--- menghapal membuat kepalaku terasa kaku. Sakit sekali buk." Kata ku tidur dipangkuan ibuku karena Roy sudah tidur jadi ibu punya waktu buatku.


"Kamu jangan memaksakan diri nak, kamu belajar sedikit demi sedikit." Jawab ibuku sambil memijit-mijit kepalaku yang lagi pening.


"Makasih ibu...--- besok aku akan ujian untuk kenaikanku kekelas 3 buk. Apa aku bisa naik dengan soal-soal yang menurutku begitu rumit.


Kata ku memandangi wajah sendu ibuku.


"Insyaallah kamu pasti naik nak. Walaupun kamu tidak naik pun ibu tetap bangga karena kamu sudah mau berjuang". Jawab ibu mencium keningku.


Dan aku pun terlelap dipangkuan ibuku. Kemudian ayah menggendongku kekamar untuk istirahat dan bermimpi indah didalam kamarku.


Setelah beberapa hari aku ujian. Aku sudah yakin kalau aku tidak akan naik kelas.


Hari sabtu aku dan teman-teman harus membawa nasi bungkus kesekolah karena harus menerima raport.


Saat kami bersama-sama sudah menghabiskan nasi bungkus didalam kelas kami merasa gugup sebelum guru kelas datang membawa raport kami.


"Sekarang sebelum kalian menerima raport ini kalian berdoa dulu". Ucap guru kelas


Setelah selesai membaca doa " baiklah sekarang jika kalian sudah menerima raport ini kalian buka dirumah agar ibu dan ayah kalian tahu nilai- nilai kalian. Bagi yang tidak naik kelas jangan kalian berkecil hati.--- kalian harus lebih giat lagi belajar lebih semangat lagi". Ucap ibu guru didepan kelas.


Kami hanya menunduk. Buk guru mulai memanggil nama kami pertama adalah juara 5 smpai juara satu. Namun tak ada namaku-...


Setelah absenku tiba aku pun maju mengambil raportku.


" kamu lebih giat lagi belajar nak ya." Ucap buk guru memegang pundakku. Aku pun langsung pulang dan tidak mau membuka raportku didepan teman-temanku. Aku tidak mau malu karena nilai yang ku dapatkan.


Sesampai dirumah aku melihat tante Rini dan ibu sedang duduk.


"Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh". Ucapku sesampainya didepan pintu.


"Waalaikumussalam". Jawab ibu dan tanteku.


" mana ibu lihat raportnya sanyang". Ucap ibu tersenyum.


Aku memberi raportku kepada ibu dan beranjak mengganti baju lalu tidak ingin keluar kamar. Karena aku sudah tahu soal raportku. Aku tinggal dikelas 2. Nilai yang memalukan.


Aku menangis didalam kamar, nenek menemuiku dan duduk disamping tempat tidurku.


"Naik dan tidaknya kamu..-- nenek dan ibumu serta keluargamu tetap mendukungmu...--- kamu disekolahkan bukan semata harus mempunyai nilai bagus. Tapi seberapa jauh ilmu yang kamu dapatkan. Jadi kamu jangan putus asa begini sayang". Ucap nenek sambil mengelus pundakku.


"Tapi bagaimana dengan om Ridwan..--- pasti dia akan marah nek.--- aku takut nek". Kataku merengek kepada nenekku.


Tidak ada yang bisa memarahimu semasih ada nenek disini." Ucap nenek menghiburku agar aku tidak menangis lagi.

__ADS_1


Dan tentu aku bangkit lagi dan semangat seperti biasa tanpa harus takut dimarahi om Ridwan.


__ADS_2