
"Ibuuuuuuuu...... ibuk dimana?".
"Roy ibu dimana?." Buku adalah nomer satu dalam diri adek satu-satunya lelaki dirumahku dia tidak pernah lepas dari sebuah buku.
"Ibu didapur kak.. kayaknya ada berita baik nih".
"Iya". Aku berlari menuju kedapur dan melihat ibu sedang memasak. Aku peluk ibuku dari belakang.
"Eeehhh. Ada apa nih ! Tumben memeluk ibu kayak gini." Ibu berbalik badan dan melihat raut mukaku yang begitu gembira.
"Aku lulus buk... bulan depan aku akan wisuda".
"Alhamdulillah"
"Ayah dimana bu?".
"Diladang nak."
"Ya sudah nanti ibu kasih kabar ini ke ayah". Mencubit pipi ibu saat bahagia adalah hobiku. Aku berlari kedalam kamar untuk menyiapkan keperluan wisudaku bulan depan.
"Kak.... Kakak sudah tidak cuek lagi dong! Kakak nggak akan nangis lagi tentunya !" Ani membuatku tersenyum dengan kata-katanya. Karena mengingatkanku kenangan saat berjuang demi menyelesaikan kuliahku.
"Iya lah.... kamu belum tahu saja gimana menjadi mahasiswi. Awalnya kita senang tapi saat terakhir......yaaaa seperti yang kamu lihat. Lama-lama kwalahan juga.
"Kalau begitu aku nggak akan kuliah deh kak. Aku langsung kerja saja."
"Terserah kamu saja... Tapi kakak saranin buat kamu kuliah... karena kamu harus punya pengalaman yang unik. Kuliah itu menyenangkan, cuma ujian terakhirnya saja yang berat".
"Ah aku nggak mau kak. Aku lngsung kerja saja".
"Terserah kamu saja... sekarang kamu keluar... kakak mau menyiapan berkas."
Ani keluar dari kamarku dan aku mulai membuka laptop. Mengatur berkas-berkas dan file yang nanti akan aku jadikan buku sikripsi kemudian aku kumpulkan keruang TU.
Setelah aku menyelesaikan semua yang aku butuhkan, aku kemudian beristirahat untuk sejenak.
Roy, Ani dan safia, masuk kekamarku dan mereka tidur-tiduran disampingku yang sedang beristirahat. Mereka meminjam leptopku untuk sekedan menonton film horor. Aku terbangun
Karena teriakan safia yang ketakutan melihat hantu didalam laptopku.
"Kalian nonton diluar. Kakak ngantuk !!!".
"Ah... nanti dimarahin sama ibu kak. Kakak tidur aja."
Aku tertidur lagi membiarkan mereka menonton disampingku. Aku tak bisa tidur karena keributan Ani dan safia yang membuat Roy tertawa terbahak-bahak.
"Hemmmm.... safia, ambilin handphon kakak dong sayang."
"Inih kak !! Safia memberikan handphonku yang aku taruh diatas meja belajar tadi.
Aku melihat banyak pesan.
"Assalamualaikum"
"Sayang kamu sibuk gak?" Kita ketemuan yuuk !!?".
"Sayang kok nggak bls?"
Nomer baru yang masuk membuatku penasaran.
"Ini siapa...--- perasaan aku nggak punya pacar deh". Lalu aku mencoba membalas pesan itu.
"Waalaikummussalam.... ni siapa ?".
"Masak kamu lupa sih sayang?".
"Nggak ingat". Aku memang jutek semenjak aku ditinggal menikah oleh kak Hadi.
"Hmmm.. yang ketemu sama kamu pas diposko itu loh.. saat kamu sedang kerja lapangan itu".
Aku akhirnya baru ingat, kalau aku pernah menerima seseorang yang selalu mengejarku saat melihat poto profil dimedsosku. Aku tak pernah mau membalas pesannya , sampai akhirnya aku dikecewakan. Aku mengingat-ngingat siapa dia. Karena aku memang lupa.
"Ohhh.. ya ya. Memangnya kita pernah jadian?".
"Yaaah kamu lupa ya. Kamu kan yang menerimaku saat aku menyatakan perasaanku didepanmu."
"Oh kita pernah ketemu juga?".
"Hmmm. Kamu melupakanku".
"Hahahahaha...-- aku melepas tawa saat membaca pesannya yang menurutku lucu. Dia seperti kecewa karena aku melupakannya.
"Kakak ketawain apa". Tiga adikku memandangiku dengan pandangan yang aneh.
"Ah... kalian nonton aja. Kakak ketawain pesan kakak."
"Ohhh.". Mereka nonton lagi.
"Sekarang aku ingat siapa kamu, orang yang bertemu aku dipinggir jalan diluar posko. Haris?".
Aku membalas pesannya saat sudah mengingatnya.
Haris berulang kali mengejar cintaku, dan selalu ingin bertemu. Namun aku tak bisa karena memang aku malas bertemu. Waktu itu dia sempat bertanya aku mengerjakan tugas lapangan dimana dan aku memberitahunya, sampai akhirnya di mendatangi tempat posko (tempat tinggal sementara aku menyelesaikan tugas-tugas kampus selama 3 bulan).
__ADS_1
Haris datang keposko, dia menelphonku dan kemudian menemuinya karena rasa kasihan.
"Kamu diluar? Ya sudah aku keluar,, tunggu disana".
Aku keluar menemuinya, kemudian aku melihatnya dari ujung kaki keujung kepala. Aku tak tertarik kepadanya, aku menjabat tangannya saat bertemu.
"Orang ini gak ada rapi-rapinya, udah pakai celana pendek, kaki banyak tompelnya. Kuku tak pernah dibersihkan, wajah hitam".
Dalam hatiku aku begitu ilfil. Bukan mengejek, aku memang tidak secantik artis sinetron. Hanya kebersihan yang aku utamakan dalam diriku.
"Kamu kecewa ya ketemu sama aku?".
"Ah. Nggak."
"Beneran?. Kalau begitu kamu mau nggak jadi pacarku?".
"Ahahaha...- pacar yaa!!!! Kita berteman saja ya?".
"Kalau begitu aku akan berlutuh meminta mu agar kamu mau menjadi pacarku. Aku tidak akan pulang kalau kamu belum menerimaku".
"Aduuhhh orang ini apa-apaan sih. Sudah tahu ini jalan raya lagi." Ketika aku sedang bergejolak dengan hati dan pikiranku. Dia telah berlutuh memegang kedua tanganku.
Melihat tangannya, aku rasanya tak tahan ingin tertawa. Aku juga ada rasa malu melihatnya seperti itu. Dan aku akhirnya mengiyakan karena terpaksa.
"Ya ya. Tapi aku mohon berdiri lah. Dan pulang. Lain kali kita ketemu dan membahas semuanya." Kata-kataku membuat dia bangun dan menyalakan motornya.
"Aku mencintaimu dan akan menunggumu sampai tugasmu selesai". Dia melajukan motornya dan aku mulai tertawa seperti orang gila sambil masuk kembali keposko.
Itulah ceritanya aku sampai bertemu Haris.
"Kamu punya waktu nggak ?". Aku akan mengajakmu Holliday keAir jeruk manis. Pariwisata diLombok Timur.
"Hmmmm, aku pergi saja kali ya!!! Anggap saja teman. Mumpung ada yang mengajak represing. Mengobati rasa sakit kepala karena memikirkan tugas-tugas kampus kemarin.".
"Ya sudah...- tapi tunggu aku menyerahkan sikripsi dulu. Besoknya kita bisa pergi."
"Ok.
Aku akhirnya menyudahi membalas pesannya. Karena azan magrib telah dikumandangkan. Aku pun shalat magrib, dan membaca alquran untuk menunggu solat isya. Aku jarang makan malam bersama keluarga.
Aku hampir tidak pernah semenjak aku disibukkan oleh dosen-dosen pembimbingku. Selesai solat isya aku langsung istirahat memeluk bantal guling yang rasanya empuk.
Pagj pun telah tiba, matahari yang terbit dari sebelah timur disambut dengan nada suara burung yang merdu. Dan ayam yang berkokok membangunkanku dari tidur panjangku. Aku mengeliatkan tubuhku. Dan beranjak pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Setelah selesai aku pergi kekampus setelah meminta izin kepada kedua orang tuaku.
Aku menyelesaikan semuanya agar aku bisa beristirahat lebih lama lagi tanpa harus bolak balik kampus.
"Hari ini kan hari ahad. Aku udah janji mau pergi holiday sama si Haris. Tapi dia belum nelphon."
Aku menaruh handphonku dan ingin pergi keluar. Namun handphonku berdering.
"Siapa ya !! Eeh Haris". Aku mengangkatnya
"Aku dibawah rumahmu.. ayo keluar."
"Haaah beneran?".
"Iya".
"Tunggu sebentar 5 menit aku turun. Aku siap-siap dulu".
Aku matikan telphon dan bersiap setelah izin kepada ibu. Aku keluar menemuinya... Haris adalah tetangga desaku. Jadi tak butuh waktu lama untuk kerumahku.
"Ayo". Aku mengajaknya secepat mungkin agar adik-adikku dan ibu tak melihatnya. Aku malu lah kalau sampai mereka tahu. Karena aku tidak pernah mengenakan orang yang sedang dekat denganku kekeluargaku.
Aku naik dan memberi penghalang ditengah-tengah dengan menaruh tasku. Motor melaju dengan sangat cepat.
"Kita kerumah temanku dulu ya? Kita nggak pergi berdua. Banyak teman-temanku yang akan iku
"Iya".
Alhamdulillah kirain hanya berdua.
Sesapainya dirumah temannya aku dipersilahkan masuk. Aku duduk diatas tikar, didekat jendela, disamping Haril
"Wah brow,,,, ini cewek loe? seorang laki-laki bertubuh kekar yang baru datang langsung memperhatikanku.
"Dinda kenalin ini toni. Dan yang duduk hanya pegang handphon itu tuan rumah namanya Putra."
"Dinda."
Putra tak mau melihatku apalagi hanya sekedar melirikku.
"iih namanya sih bagus, cuma mukanya itu udah hitam, sok cuek lagi, ogah bangat deh kenal sama laki-laki kayak gitu." Lirihku did
"Putra itu baru pulang dari kalimantan sayang".
"Oh".
Jangan pnggil-paggil sayang lah." Putra mungkin kaget karena perkataanku seperti itu. Yang akhirnya bersuara, namun tak melihatku.
"Hahaha... bilangnya pacar tapi kok nggak mau dipanggil sayang?".
__ADS_1
"Karena aku ilfil mending panggil nama atau adek gitu". Sebelum Haris menjawab aku yang menjawab terlebih dahulu.
"Ya ya". Haris sedikit malu dengan teman-temannya yang terus menertawakannya.
"Hello brow. Assalamualaikum ". Seorang pemuda berwajah sawo mateng datang dan duduk didekat putra.
"Kamu lama sekali."
Aku disuguhkan secakir teh oleh ibunya putra yang sedari tadi melirikku.
"Kok semuanya laki-laki, udah itu nggak ada yang ganteng lagi." Aku mulai sebel dan terus-terusan mengomel karena tak ada teman cewek minimal lah satu orang.
Aku tidak meminum teh yang telah tuan rumah suguhkan. Karena jengkel sampi jam 10 pagi belum juga berngkat.
Dala hati seorang ibu dari putra mengomel dalam hatinya "sombong sekali gadis itu, nggak mau minum teh buatanku."
Jadi untuk teman-teman pembaca kalau bertamu kerumah orang dan tuan rumah menyuguhkan hidangan kalian harus mencicipinya walau sedikit untuk menghormati tuan rumah. "Hehehe".
Pukul 10 25 menit kami berangkat, aku dibawa ke Air terjun Jeruk Manis. Pemandangannya luar biasa indaaah sekali.
"Aku capek".
"Aku gendong ?".
"ihh. Nggak".
Diam-diam putra memperhatikanku dari belakang. Aku yang menenteng sepatuku dan berjalan tanpa alas kaki membuat putra kasihan. Yang seharusnya kasihan adalah Haris. ini malah terbalik. Orang yang sedari tadi aku ejek dalam hati malam dia yang membantuku.
"Dinda.. nih pakai sendelku saja."
Kebetulan putra menggunakan sendel connect.
"Tapi kamu pakai apa?".
"Pakai saja... nggak perlu mikirin aku". Masih saja dia cuek
"Makasih".
Haris malah meninggalkanku jalan bersama 3 temannya, sedangkan aku sama putra dibelakang.
Aku sedikit kecewa, bilangnya pacar tapi malah ninggalin pacarnya.
"Sayang. Maaf aku pikir kamu didekatku tadi." Haris balik lagi menemuiku dan putra.
Aku hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Pemandangan dengan jalan dihutan belantara membuat aku takut karena hanya aku wanita dari 5 laki-laki yang bersamaku.
"Brow masak iya pacarnya ditinggalin."
"Ah ada kamu kan yang jagain".
"Memangnya aku bodyguard".
Putra berjalan didepanku meninggalkanku dengan Haris. Aku hanya diam dengan melihat pemandangan jalan menuju ke air terjun yang sangat indah, dingin yang menyelimuti tubuhku membuat aku tak tahan dan ingin kembali sebelum sampai pada tujuan.
"Sayang ayok dong. Jalannya dipercepat".
"Jalan aja duluan, nanti kita ketemu disana".
"Tapiiii nggak enak lah aku ninggalin kamu."
"Enak-enakin saja. Sana kamu duluan".
Haris mengejar teman-temannya dan meninggalkanku sendiri. Rasanya aku ingin nangis hanya mataku yang berkaca-kaca.
Aku berjalan lebih dalam lagi, namun aku tidak melihat apa-apa lagi karena embun yang seperti awan menutupi lembah itu.
"Dinda". Terlihat sosok pria berjaket merah membuat aku terkejut bukan main.
Aku meneteskan air mata.
"Kamu !!! Kenapa kamu disini, kenapa nggak bergabung dengan teman-temanmu?".
Putra tidak menjawab, tapi membuka jaketnya dan memakaikannya kepadaku.
"Ayo jalan. Sedikit lagi kita datang".
Tentu saja aku merasa berbeda didekatnya, putra cuek, dingin kepada wanita. Namun dibalik itu dia begitu perhatian kepadaku.
"Terimakasih". Sesampainya disana aku melihat Haris dan yang lainnya begitu bahagia, aku dan putra hanya terdiam.
"Put, mending kamu yang pacaran sama Dinda, dari pada si Hariiis,,, malah ninggalin pacarnya."
Toni yang blak-blakan tanpa memikirkan perasaanku.
"Jangan ngayal kalian". Haris tersenyum kepadaku, namun aku berbalik kesebuah bebatuan yang ada disana.
"Alah... kayak kalian nggak tahu aku saja,,, kalian tahu kan pacaran itu haram. Jadi aku ingin cari istri bukan cari pacar."
Aku tersenyum mendengar perkataannya. Namun disisi lain aku pun malu karena pacaran dengan Haris laki-laki yang tidak punya rasa kasihan.
Kami mengabadikan momen-momen kebersamaan kami melalui handphon Toni dan Haris.
"Semenjak liburan itu aku jadi tidak pernah mau bertemu dengan Haris. Kami hanya saling mengabari melalui jejaring sosial.
__ADS_1