Antara Kau Dan Orang Tuaku

Antara Kau Dan Orang Tuaku
Bab 4 Ramalan


__ADS_3

Hari-hari buruk memberikanku inspirasi dan pengalaman. Pengalaman yang mengajariku tentang sebuah kesabaran, keikhlasan, menjadi wanita paling tangguh. Pengalaman yang mengajariku untuk tidak gengsi. Tidak merasa sombong karena anak-anak diluar sana masih ada yang lebih tersiksa dari pada aku.


Saat-saat difase letih dengan kebidupan dirumah. Akhirnya aku bisa beristirahat sejenak dari aktivitas rumah yang itu-itu saja. Aku bersyukur kali ini aku terbebas dari masalah Sabit dan Rumput. Karena aku mulai masuk Kuliah di University diLombok Timur. Dan harus kos tak jauh dari kampus.


Ibu-bapak pemilik kos, dan anak-anaknya begitu baik kepadaku. Aku juga mempunyai teman-teman dan sahabat yang tak kalah baiknya dengan pemilik kos. Hariku kini berubah drastis.


Walaupun aku menggenggam sabit. Namun aku tidak pernah malu didepan orang-orang, didepan teman-temanku. Ataupun didepan kekasihku. Inilah aku wanita tanpa gengsi.


"Dindaa, kamu kalau dirumah ngapain saja?". Tanya Yuni Sahabatku sambil kita masak-masak dikos karena menunggu jam kuliah berikutnya. Kebetulan karena Yuni tidak kos. Dia sering pulang kekosku agar tidak bolak balik saat ada jam siang pelajaran.


"Nyabit rumput buat sapi". Jawabku santai, dengan sedikit melirik.


"Haahaahaa..-- mana aku percaya..-- tangan sehalus itu bisa nyabit rumput." Ucap Yuni tertawa tak percaya.


"Kapan-kapan ikut kerumah." Aku mengajaknya sambil sedikit tersenyum.


"Emm..-- saat sudah liburan saja lah, aku tak percaya". Jawab Yuni tertawa.


"Eh.-- ayo kita makan. Mienya sudah jadi nih". Yuni menghidangkang semangkok mie untuk kami berdua.


Kami makan dengan lahapnya karena memang kami belum sarapan ketika ada kuliah pagi tadi. Yang akhirnya Yuni mengajakku pulang untuk masak. Karena kami punya jam kuliah lagi jam 14.30 WIB.


"Bay the way, sudah berapa bulan nggak pulang?". Tanya Yuni yang membuka pembicaraan saat sedang makan.


"10(bulan)kayaknya." Jawabku tenang.


"Horkhorkhork...--Yuni tersedak lalu mengambil minuman dan segera meminumnya..


"Pelan-pelan". Kataku tersenyum.


"Kamu beneran? Ya allaaah. Kamu nggak kangen sama keluargamu?". Yuni ternyata kaget karena aku tidak pernah pulang.


"Kangen,..--tapi gimana mau pulang kalau tak dijemput..ayah-ibu sama tanteku nggak bisa pakai motor. Om semuanya sibuk. Adekku (Roy) sibuk disekolah". Jawabku seadanya.


Karena memang sekarang Roy sudah kelas 3 SMA. Dan Ani adik ku yang ke 3 sudah SMP kelas 2 lalu Safia sendiri sudah masuk TK. Dari semua saudaraku hanya aku yang masuk kepondok pesantren. Karena kurangnya kecerdasan.


"Ya sudah besok kalau libur aku yang anter". Kata Yuni menawarkan diri.


"Siap buk". Memberi hormat kepada sahabatku.


Kami membereskan bekas makanan yang berserakan di dalam kos. Kemudian membiarkan Yuni mandi duluan karena memang dia sangat lama jika mandi. Aku menunggu sambil mengotak-ngatik handphoneku.


"Triiinngg...---


"Assalamualaikum,..---kamu udah berangkat kuliahnya?". Pesan what's up dari Hadi


"Waalaikumussalam.. nih mau berangkat". Aku membalas. Tersenyum karena satu minggu menghilang. Eh malah nongol lagi.


Hadi adalah kekasihku sejak kelas 3 SMA. Dia yang mengajariku tentang cinta, rasa cintaku begitu besar untuknya. Kehidupannya termasuk orang yang sederhana.Namun agak kekurangan menurutnya, karena itulah dia terpaksa pergi merantau ke Malaysia untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


Aku pacaran dengannya 7 bulan setelah itu kami harus pacaran LDR. Walaupun 7 bulan pacaran kami hanya pernah ketemu 4x. Itu pun hanya bertatap muka melepas kerinduan didepan gerbang sekolah lalu pulang karena aku saat itu selalu dijemput Roy.


"Dia kok berbeda sekali..-- telphon jarang, sms juga jarang, chatku aja hampir hanya dibaca aja kalau pesannya udah dibalas." Aku menggerutu sendiri.


"Mungkin aku sudah waktunya melupakannya. Karena aku tak ingin LDR ini terus-terusan menyakiti perasaanku". Kataku melamun


"Mandi sana". Ucap Yuni membuyarkan lamunanku.


"Ihhh...--- Suka sekali ya ngagetin". Ucapku sambil melempar bantal kearah Yuni.


"Siapa suruh melamun.-- nanti bisa-bisa kamu itu kesambet."Ucap Yuni tertawa.

__ADS_1


Aku berdiri lalu menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku. Didalam kamar mandi aku lagi-lagi mengingat Hadi yang entah kenapa sikapnya berubah.


Sampai aku Semester 5 menunggunya berharap dia akan kembali seperti dulu yang sedikit-dikit nelphon kalau gak sms, atau chat. Kalau aku ngebalasnya lama pasti sudah banyak panggilannya. Tapi memang sekarang dia sedikit cuek.


Setelah selesai mandi, aku masuk untuk mengganti pakaian. Melihat yuni sedang membuka laptop memutar film korea kesukaannya membuatku menggelengkan kepala.


"Anak ini mentang-mentang agak mirip dengan salah satu pemain korea. Dia suka sekali nonton film itu-itu saja." Ucapanku yang tak dia gubris karena terlalu pokus atau memang dia tak mendengar.


"Ada pesan masuk tuh dihandphonnya." Ucap yuni yang pokus menonton. Saya ambil handpon dan melihat pesan masuk


"Jam berapa kamu pulang?." Tanya Hadi


"Selesai shalat ashar mungkin". Aku membalas dengan perasaan heran.


"Aku sudah siap, ayo kita berangkat". Ajakku kepada Yuni yang memang aku telah siap.


"Let's go". Ucap Yuni dengan mematikan dan menutup laptopku.


Ketika sedang mengonci pintu kos. Nada telphonku berbunyi.


"Hallo...---assalamualaikum pak korti (panggilan ketua kelas)."


"Dosen nggak bisa datang hari ini. Jadi kita libur". Ucap pak korti kepadaku. Aku dan Yuni kegirangan dong, kan kami bisa sambung nonton film drama korea lagi.


Kami masuk lagi kedalam kos, lalu membuka kembali laptop dan mencari film drama korea. Kami asyik menonton sampai azan ashar.


"Din..--aku pulang dulu yaa". Ucap Yuni setelah solat ashar.


"Ya udah..--kamu hati-hati bawa motor." Jawabku sambil mengantarnya keluar parkiran.


" Ehhh cepat sekali pulang ndu?". Ucap ibu kos yang sering didekat parkiran karena memang Yuni sering parkir didepan kios ibu kosan.


"Iya buk besok aku kesini lagi pagi-pagi." Ucap yuni yang tersenyum sopan kepada ibu kosan.


"Aku kan mau antar kamu pulang sebentar". Ucap Yuni yang membuat aku agak tersenyum.


"Ya wish lah." Jawabku dan Yuni pun berlalu pergi meninggalkanku. Aku masuk kekos dan mulai melihat-lihat handphon mencari nomor.


"Assalamualaikum...-- buk !!! Ibu sehat?". Tanya aku kepada ibu setelah telphonku diangkat.


"Alhamdulillah nak. Ibu baik, kamu kapan pulang nak?". Jawab ibu seadanya.


"insyaallah besok buk, aku pulang sama Yuni sahabatku yang pernah aku ceritakan . Oh iya, Ayah dan saudararaku sehat?".


"Alhamdulillah, ayahmu sehat adik-adikmu juga sehat..---- oh ya gimana kuliahmu nak?". Tanya ibuk kepadaku.


"Alhamdulillah lancar-lancar saja buk !". Jawabku.


"Ya sudah buk aku mau masak dulu buat makan nanti malam." Kataku ingin menutup panggilan.


"Ya udah nak". Ucap ibu.


Aku mematikan telphon setelah mengucapkan salam. Dan aku melepaskan handphonku lalu akan bersiap-siap untuk menyiapkan makanan. Tapi handphonku berdering, aku melihat ada no Hadi. Antara senang dan tidak karena setiap kali dia nelphon bawaannya hanya bertengkar saja.


"Hallo. Assalamualaikum". Kataku akhirnya menjawab telphon darinya.


"Waalaikummussalam, dek..- aku tunggu ditaman pancor sekarang!". Tak ada hujan tak ada angin


"dia ngajak ketemu? Kapan dia pulang?." Pikirku dalam hati.


"Sekarang?" Kapan.....----- aku ingin bertanya sudah dipotong aja".

__ADS_1


"Iya. Gak usah banyak tanya". Ucapnya dan mematikan handphonnya.


Aku pun berjalan ketaman yang tidak terlalu jauh dari kos. Aku berjalan disekitar taman melihat-lihat sosok dia disana. "Dimana ya ! Apa dia bohongin aku ya!". Ucap ku dengan menyusuri taman yang begitu luas.


Aku menelphon tapi tak diangkat olehnya, itu sebabnya aku harus menyusuri taman sendiri tanpa ada yang menemaniku.


"Hai..--sapa hadi dari belakangku membuat aku kaget.


" haaah...-kakak. Ini benar-benar kak hadi kan?". Aku tak percaya yang dihadapanku sekarang adalah kekasih LDRku.


"Ayo kita kesana". Dia menarik tanganku dan membawaku ketengah taman yang ada banyak orang-orang duduk melihat pemandangan taman disore hari.


"Duduk." Ucapnya mempersilahkanku untuk duduk ditikar taman dan memesan tiga gelas es kelapa muda.


"Satunya untuk siapa?". Ucapku heran.


"Teman". Jawabnya


" kakak kapan pulan?". Kataku yang masih heran dan bertanya-tanya.


"Kira-kira 3 hari yang lalu. Karena aku abis kerumah seseorang. Dan melewati kosanmu. Ya sudah aku sengaja mampir menemuimu". Ucapnya seolah menganggapku hanya sebatan teman yang ingin dia temui.


"Ooh...---- ucapku dan meminum segelas es yang sudah diantar. "Dia anggap aku apa. Berarti dia tak akan mengabariku jika dia tak melewati kosanku". Aku jadi berfikir negatif dihatiku.


"Nah itu dia". Kakak Hadi menunjuk kearah temannya. Hatiku sudah berdebar karena aku beranggapan teman yang dimaksud cewek.


"Hai bro..--Lama tak jumpa." Katanya dari belakangku. Ternyata cowok, dan dia kakak tingkat di kampusku.


"Hai...- dengan saling menjabat tangan. Temannya duduk didekat kak Hadi dan mengenalkanku.


"Kenalin, ini Dinda...- kekasihku. Dinda ini Dodi temanku dikampung. Kakak tingkatmu dikampus juga." Ucap kak Hadi.


" Hi.". Ucapku dan dibalas dengan senyuman.


Kami banyak berbincang-bincang, bercanda gurau, dan tertawa bareng ditaman seolah taman itu milik kami bertiga. Sampai akhirnya kak Dodi ingin melihat Garis tanganku dan garis tangan Kak Hadi. Aku menjulurkan tanganku dan kak Hadi dengan senang hati juga menjulurkan tangannya.


"Sepertinya kalian tidak akan berjodoh". Kata Kak Dodi kini menjadi menegang.


"Jodoh allah yang atur". Jawabku santai-.. karena aku tahu ini pasti rencana mereka. Seolah-olah telah diatur.


Aku memang sudah tak ada rasa sedikit pun kepada kak Hadi karena perasaanku yang dulu pertama kali ketemu begitu menggebu dari pada sekarang yang seolah biasa saja saat bertemu. Padahal sudah begitu lama aku tak bertemu, hampir 3 tahun lebih.


"Aku yakin besok kalian akan berpisah. Salah satu dari kalian akan menikah dan diantara kalian ada yang akan kecewa dan menangis.". Ucap kak Dodi dengan tatapan serius.


"Hahahaha. -- aku tidak pernah percaya ramalan". Ucapku yang memang tak masuk diakal. Kalau memang itu benar. Paling yang nikah Kak Hadi


Coba kalian pikir kak Dodi sahabatan dengan kak Hadi. Mereka satu desa, satu Rt, satu Rw. Lagi pula dari pertengkaranku sebelum-sebelumnya, dari perubahan sikapnya. Aku sudah yakin kalau ada orang ketiga dari hubunganku dengan kak Hadi.


"Ya sudah kalau nggak percaya". Kata kak Dodi lebih santai. Kak Hadi hanya terdiam menyimak.


"Ya udah..--- aku pulang dulu. Nanti dicari sama kaka kos." Aku berpamitan kepada mereka.


"Yo kok gitu". Kata kak Hadi menahan tanganku.


"Nanti kamu nyesel loh. Lihat pacarmu dulu nih lama-lama sebelum jadi mantan". Ucap kak Dodi senyum.


Dari senyumannya pun aku yakin kalau kak Dodi tahu semua yang akan terjadi karena memang dia tahu sesuatu tentang kak Hadi.


"Maaf..-- maaf tapi aku tak punya waktu." Aku menarik tanganku dan melangkah pergi meninggalkan mereka.


Didalam kos aku berfikir kalau sudah waktunya aku melupakan kak Hadi. Dia selalu saja membuat aku kecewa, dan menangis setiap dia menelphonku.

__ADS_1


"Ramalan...---hah. Mereka kira aku sebodoh itu bisa dipermainkan. Ramalan bodong." Ucapku dikamar kos sambil menyiapkan makan malam.


Aku sudah tidak peduli berapa tahun aku pacaran LDR. Terserah jika dia mau menikah, aku tak peduli lagi. Ku relakan dia bersama orang lain yang penting aku tak lagi disakiti olehnya.


__ADS_2