
(Kehidupan baru)
Senyum cerah terumbar disana sini. Wajar, hari pertama masuk sekolah SMA dengan dipenuhi wajah suka cita menyambut teman baru dan kelas baru. Tentu saja.
Tapi sayangnya, hai itu tidak berlaku untuk Dara Oliv Anggara. Gadis yang tidak suka mengubar senyum apalagi menyambut suka cita hari pertama maupun libur. Tak ada sesuatu yang spesial.
Dara menutup pintu mobil sedikit keras lalu berjalan dengan wajah datarnya. Langkah nya terhenti. Melihat kerumunan didepan mading membuatnya malas untuk ikut bersedakan.
Dara tau apa yang sedang mereka coba untuk lihat. Nama mereka. Jelas. Tapi lebih tepatnya kelas mereka.
Dengusan malas tak sadar keluar dari bibir ranum Dara. Ia memilih menyenderkan punggungnya di tembok. Serasa kerumunan itu mereda. Kini gilirannya yang akan ia tempati 2 tahun kedepan.
Lembar kesatu, ia tak menemukan. Begitu juga dilembar kedua dan ketiga.
apa nama gue ketinggalan?
Dara kembali mambaca lembar keempat dan terdapati nomor 20, DARA OLIV ANGGARA. tertera jelas huruf kapital.
Dan berarti, tahun ini ia menempati kelas 2 IPA 3
Semoga aja tak ada kejadian yang buruk dan hal hal yang menyebalkan dikelas ini. Batinnya.
Dara kembali berjalan, menaiki tangga, menyelusuri lorong yang terkenal akan keributannya di SMA GARUDA. Lorong kelas sebelas.
Akhirnya, ia menemukannya.
Samar samar terdengar keributan dari dalam. Dara mendengus. Sepertinya, doanya tidak terkabulkan.
Dengan wajah tembok nya, Dara berjalan.
Baru saja empat langkah masuk, seseorang berteriak memanggil namanya, otomatis kepala itu memutar. Sangat mengenali siapa pemilih suara itu.
"Dara! Kita sekelas lagi? Oh may gat! Gue seneng banget! " Teriak gadis itu seraya memeluk Dara dengan erat.
Dara melepaskan pelukan gadis dengan bondu di kepalanya. "Iya Ghe, gue juga seneng."
Ghea gemas dengan tingkah Dara yang selalu berekpresi datar.
"Senyum kek, gue berasa ngomong tembok tau gak?"
Raya berdecak lalu tersenyum paksa. Dan itu, berlangsung 1 detik saja. Ghea terkekeh, lalu menarik tangan sahabatnya waktu SMP itu ke bangku nomor dua dari depan.
Baru saja Dara duduk, teriakan menusuk telinga Dara. Ia mengadah, menatap sesuatu yang dikerumuni gadis gadis.
"Dar, dar! liat deh kayanya Arsel sekelas sama kita!*
Astaga sel! gateng banget!!
Sel! liat sini sel! notice me sel!
Woy! suami gue deteng!
Tuhan, tolong dekatkanlah hamba dengan malaikat ini
Samar-samar keributan dari kelas Dara.
"Kok dia makin ganteng aja? Ih seriur Dar, tahun ini bakalan jadi tahun paling ter-ter buat gue!" Ucap ghea dengan mata berbinar.
Dara tidak tau siapa dia. Dan, Dara tidak peduli.
__ADS_1
Ia mengambil eaephone disaku rok abu abu lalu menyetel lagu favoritnya. Matanya menutup lalu menyimpan wajahnya dalam lipatan tangan diatas meja.
"Dar! Dar! Lo dengerin gue gak sih? Ra--"
Ucapan nya terpotong menemukan sahabatnya tengan asik dengan dunianya.
"Dasar Dara! kapan lo bakal berubah?" Ucap Ghea terkekeh.
***
Karna hari ini hari senin, Dara melaksanakan hari pertama upacara. Dara berfikir dua kali untuk membolos.
"SIAP GRAK! UNTUK KELAS SEBELAS, TIGA LANGKAH KIRI JALAN!!" Suara ketua OSIS, Farhan, yang mulai memberi intruksi kepada adik adik kelasnya.
Dara berbaris barisan paling belakang mulai bergessr tiga langkah ke kiri. Satu, dua,
Tuk!
Topi raya tidak terpasang dengan benar jatuh karena seseorang menyengolnya cukup keras. Untung saja ia bisa menahan keseimbangan jika tidak, Dara akan menahan malu karna jatuh.
Dara hendak mengambil topinya, tapi lengan seseorang yang yakini adalah orang yang baru menabraknya.
"Sorry, gue gak sengaja. Nih topinya," Ucap orang itu seraya memberi topinya.
Dara terdiam mengibaskan tangannya ke topinya.
"Tunggu".
Dara mengadah dan menemukan wajah yg telah menabraknya. Laki laki. Dara tidak mengenal nya. Lebih tepat nya Dara tidak peduli.
"Lo dari kelas gue kan?" Ucap orang itu. Dara kembali menunduk membersihkan topinya lagi yang masih terkena batu kerikil kecil. Setelah bersih, ia memakainya.
Dara melipat tangannya didepan dada, menunggu laki-laki itu pergi dari hadapannya.
"Sel! Upacara udah mau dimulai, lo masih aja ngobrol! Katauan sama Pak Bambang mampus lo!"
Suara bagaikan siraman itu sangat disukuri Dara karna dapat laki laki itu pergi di hadalannya.
Setelah kepergiannya, Dara menggeser kekiri satu kali lagi dan menikmati teriknya matahari.
...****************...
"Pagi anak anak! Saya disini, berdiri sebagai wali kalas kalian. Menurut pepatah, tak kenal maka,,"
"KENALAN!! " Sahut satu kelas dengan kompak, diiringi dengan senyum. Kecuali Dara.
"Benar sekali! Perkenalkan nama Bapak, Sugeng Pirjo. Anda semua bisa memanggil saya Pak Pirjo, atau bisa juga Pak Sugeng. Tapi jangan Pak Supir. Karna saya bukan supir bus, oke? " Gelak tawa muncul serempak.
"Oke, Bapak dikelas sebelas ini, akan mengajarkan kalian mata pelajaran yang paling kalian hindarkan, keluhkan, dan yang paling kalian tunggu untuk jam-jam tidur. Kalian tau apa itu? "
"Sejarah pak! " Sahut Arsel dengan lantang.
"Siapa nama kamu? " Arsel memasang wajah pura pura panik.
"Kok tanya nama pak? Serem amat? Gak ada pertanyaan lain ya Pak? "
"Oke, pertanyaan saya diganti. Siapa saja tokoh yang menjadi korban G-3OS/PKI?"
"Mampus lo! " Ejek Didi yang notabenya sahabat Arsel.
__ADS_1
"Beneran diganti lagi! Aduh Pak Pirjo yang gantengnya ngalahin saya, saya belum nonton tuh pak film nya. "
"Lah katanya minta Bapak ganti pertanyaannya. Yaudah saya ganti. Gampang kan? "
"Ya gak usah gitu juga Pak, baru aja masuk hari pertama masuk sekolah."
Kini semua tertawa kecuali Dara dan tentu saja orang yang menjadi incaran ejekan mereka, Arsel.
"Loh benarkan saya? Saya kan cuma tanya nama kamu. Tinggal sebut aja kok, mau hadiah gak? " Alis Pak Pirjo bergerak naik turun.
"Arsel Pak, itu nama saya. "
"Nah gitu dong! Oke Arsel, nomer absen tiga, satu nilai kamu. " Kekeh Pak Pirjo karena telah mengerjai satu muridnya.
"Anjir! Dari tadi kek, Pak. Bilang mau ngasih nilai kan saya gak perlu deg-degan gini. " Arsel mengelus dadanya sabar.
"Deg-degan kaya ada gebetannya aja dikelas ini. " Cewek cewek yang mendengar saling bersorak semangat.
"Ya doain aja Pak, siapa tau kecantol. " Arsel tertawa.
Dara yang sedari tadi merasa bosan, memilih meletakan kepalanya dilipatan tangan yang menjadi bantal.
Pak Pirjo yang sedang menatap para muridnya, sengaja menemukan Dara.
"Mbak yang asik tiduran,"
Semua mengedarkan pandangan ke pusat Dara. Barulah Ghea sadar jika Daralah yang sedang Pak Pirjo sindir segera menepuk pelan behu gadis itu.
Dara mendonggak lalu kembali menegakan tubuhnya.
"Nah gitu dong, kan wajah cantiknya terlihat sama semuanya. "
Sejenak, Dara merasa risih karena seluruh mata mengarah nya.
"Saya jadi penasaran sama nama kamu. Coba mbak cantik, berdiri didepan teman teman kamu. Saya yakin mereka juga penasaran. "
Dara bangkit lalu berjalan ke depan, menghadap teman-teman barunya yg mulai memberi tanggapan tentang wajah nya memang cantik.
"Perkenalkan, nama saya Dara Oliv Anggara. Kalian bisa panggil saya Dara." Ucapnya dengan datar.
"Mbak Dara, oh saya tau nama itu! Si peringkat satu seangkatan?" Dara hanya tersenyum tipis. Sangat tipis. Sampai semuanya tak ada yg menyadari.
Tapi senyum itu berhasil Arsel tangkap dan menyimpannya di dahi berkerut.
"Kayanya Baru sebentar, Arsel sudah mulai tertarik aja ini dengan Dara. " Ucap Pak Pirjo dengan nada mengejek.
Arsel menggeleng kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Tatapan mereka bersemu dan Arsel langsung senyum miring. Menyangga kepala dengan satu tangan sebari menatap gadis itu beberapa detik.
"Gak tau nanti Pak, doain aja lah."
Dan jelas, jawaban Arsel membuat para gadis dikelas itu bersorak tak terima. Lagi lagi Dara kembali mendengus karena merasa doanya tidak akan terkabul. Ia yakin, hidupnya di tahun ini tidak akan sedamai dulu.
Daya menghela nafas pasrah
Selamat datang kehidupan baru.
...****************...
__ADS_1