
"TUH KAN BENER APA YANG GUE BILANG!! " Dara menutup telinganya dari suara melengking Ghea
"Apaan Ghe? " Zahra berjalan ke arah Ghea diikuti temannya dibelakang.
"Nih liat deh, tiga hari yang lalu gue bilang kalo bentar lagi Dara bakal ada penggemar nah terbukti. Iya kan? " Ghea menunjuk laci Dara yang terdapati coklat dan bunga.
"Wah gila lo Dar, baru bentar jadi treanding topik udah nyari hati cowok SMA Garuda. Pantesan aja, Arsel suka sama lo." Celutuk Fitri yang berdiri di samping Zahra.
Ingin sekali Dara mengembalikan barang yang ada dilacinya ke orang yang memberinya. Lagi pula, Dara tidak membutuhkannya.
"Kalian mau? " Sontak semua gadis mengerumuni meja Dara bersorak bahagia. Kapan lagi coba? Dapet rezeki mendadak gini.
"Loh, lo sendiri gamau? " Tanya Okta.
"Gak suka coklat." Semua teman perempuannya mengagguk dengan mata berbinar.
"So, kita boleh kan ambil coklatnya? " Dara mengangguki ucapan Zahra.
Dan beberapa menih setelahnya. Coklat dilaci Dara habis. Menyisakan bunga.
"Makasih Dara! Lo emang terbaik emang! Kapan kapan bagi lagi ya?" Teriak Fina dengan tangan membuka bungkus coklat itu.
Dara menggosok hidungnya, seraya duduk dibangku nya dan membuka bukunya.
"Kok di kasih ke mereka sih Dara? Kan itu dari fans lo" Ghea menatap sisa coklat yang dibeeika Dara untuknya.
Dara menghela nafas "Mau gak? Gakmau yau-"
Ghea langsung mengambilnya "Kalo dikasih, mana mungkin gue tolak. Makasih ya, ratu elsa ku"
Dara menggeleng kepalanya, didalam hati ia terkekeh melihat tingkah Ghea yang menggemaskn.
Baru saja teriakan terima kasih dari gadis itu reda, mereka kembali memekik dengan kedatangan Arsel dengan tiga buntut yang tak kalah tampan.
"Wess, lagi pada pesta coklat ya? Bagi dong. " Oji menarik turunkan alis kepada dua orang siswi dengan tahan nafas.
"Ada yang ulang tahun ya? Kok makan coklat ga bagi bagi" Zaki mendudukan dirinya di depan bangku Arsel.
Didi meletakan tas nya di bangku nya. "Siapa yang ulang tahun? "
"Bukan ulang tahun, ini si Dara yang ngasih. Dia dikasih sama penggemar Barunya, Tapi Dara tidak suka sama coklat, makanya dia kasih ke kita. " Oji, Zaki, dan Didi mengangguk mengerti.
Berbeda dengan Arsel, ia melirik ke laci Dara yang ternyata masih ada bunga disana. Entah mengapa, hati nya terasa panas. Ia mengeladah tas nya dan menemukan kotak bekal yang diberikan bundanya tanpa sepengetahuan Arsel. Ia tersenyum kecil dengan kelakuan bundanya itu.
Ia membuka kotak bekal itu yang ternyata berisikan Red velvet kesukaan Nada. Seketika Arsel terkekeh tanpa suara. Ia yakin, sepulang sekolah, Nada akan cemberut karna Red velvetnya hilang.
Setelah menutupnya, Arsel bangkit menuju meja Dara. Beberapa gadis dikelas yang melihat aksi Arsel hanya tersenyum penuh arti, seperti nonton film kesukaannya.
__ADS_1
Arsel meletakan kotak bekal itu diatas buku Dara yang membuat gadis itu mendonggak lalu mendorong kotak bekal itu hingga terbebas dari bukunya.
"Ini buat lo, tapi tukeran sama yang dilaci"
"Apa ini? Boleh gue buka? " Arsel menganguki ucapan Ghea "Boleh, buka aja"
Ghea membuka kotak bekal itu lalu memekik girang. "Dar! Ini kue kesukaan lo, Red velvet! Lo yakin mau nolak? "
Arsel tersenyum tipis, sepertinya rencana nya akan berhasil.
"Udah, mending lo terima aja. Lagian lo alergi serbuk bunga. Tuh liat, hidung lo udah merah" Ghea menunjuk hidung Dara yang memerah.
Dara menggosok hidungnya dan itu terekam jelas oleh Arsel. Dengan sikap, Arsel berojongkok mengeluarkan bunga bunga itu.
"Hatchi!" Dara bersin, tak bisa menahan gatal di hidungnya. Sejak kecil, Dara memang alergi bunga.
Hampir semua teman teman sekelas Dara merasa kasihan. Padahal, wanita identik dengan bunga.
Setelah mengeluarkannya, Arsel segera membuangnya ke tempat sampah. Kemudian menarik tangan Dara namun di tepis oleh Dara.
Jangan dipanggil Arsel, jika Dara membuatnya tidak menurut.
"Alergi lo kambuh, mending langsung ke UKS aja, nanti lo bisa sesek nafas. " Beberapa kali Dara memberontak, tapi genggaman Arsel semakin kuat, akhirnya Dara menurutinya berjalan keluar kelas dengan tangan yang ditarik tarik oleh Arsel.
Dara tersadar, orang orang melihat mereka berlari dengan tangan digenggamannya, Dara hanya menunduk.
Dr. Linda tersenyum karna Arsel datang kemari. Tapi dr. Linda melihat seorang gadis langsung khawatir karna dia matanya berair, hidungnya merah dan bersin dari tadi tak kunjung surut.
"Apa apa ini? " Khawatir dr. Linda.
"Dok bantuin pacar saya, dia punya alergi serbuk bunga dan alerginya kambuh. " Jelas Arsel.
Dara yang menyadari ucapan Arsel, hanya menatap tajam kearahnya. Arsel hanya menampil kan gigi ratanya.
"Udah lama, atau baru saja? "
"Baru sih dok, "
Dr. Linda menghela nafas, meneteskannya, obat tetesan hidung dan mata ke arah Dara.
"Udah enakan? " Dara mengganguk.
"Syukurlah kalo gitu, Dara disini dulu. Arsel kembali kekelas, kan bentar lagi bel masuk. "
Arsel mengangguk. padahal niatnya mau nemenin Dara dulu, siapa tau bisa modut dikit.
Arsel menggaruk tengkuknya. "Oke, tapi tolong jagain pacar saya ya dok?" Dara mencubit paha Arsel.
__ADS_1
Akh!
Dr. Linda terkekeh dengan mengangguk lalu menepuk dua kali bahu Arsel. "Pacar kamu aman sama saya. Tenang aja"
"Dia bukan pacar saya" Ucap Dara.
"Kalo gitu, saya pamit dulu ya. Bye Pacar! " Arsel menutup pintu UKS dengan kencang.
Mata Dara tiba tiba mengantuk, tak beberapa lama, pandangan Dara sukses mengelap.
...****************...
Semenjak Dara pergi ke UKS, Arsel benar benar kacau. Apa di baik baik saja? Atau jangan jangan tambah parah? Apa dia sudah meminum obatnya? Apa dr. Linda merawatnya dengan baik? Atau-
"Aishh! Gue kenapa sih? " Arsel mengajak rambutnya.
Arsel tersadar, bahwa ia tidak mendengarkan gurunya yang menjelaskan dari tadi. Raga nya memang di kelas, tapi pikirannya melayang memikirkan kondisi Dara saat ini. Ia tidak tega melihat kondisi Dara yang kesakitan tadi. Apa alerginya begitu parah? Apa -
Lagi lagi arsel mendesis akan pikiran yang tak mau berhenti memikirkan Dara.
Didi yang sedikit terganggu akan sahabatnya itu. Ia menyenggol lengan Arsel. "Lo kenapa sih? Kaya orang yang habis copet aja"
Iya, pencopet hati Dara.
Arsel berdecak. "Gue gak tau Di. Tapi gue khawatir sama Dara"
Arsel tidak menyadari kata kata yang diucapkan mulutnya. Didi terperangah akan ucapan Arsel barusan. "Lo serius, khawatir sama Dara? "
Arsel terdiam. "Emang gue ngomong apaan tadi? "
Didi terkekeh tanpa suara. "Gue gak tau Di. Tapi gue khawatir sama Dara. Itu yang lo bilang. "
Arsel melotot tak percaya. "Serius, gue ngomong gitu? "
Didi mengangguk jujur, menahan mulutnya agar tidak keluar terkekehannya.
"Sel, sekarang gue yakin lo frustasi kaya gini gara-gara Dara. "
Arsel memijat keningnya "Yakin apa? "
"Kalo lo emang suka sama Dara."
"Eh enggak, lo udah jatuh ke pesonanya Dara."
Arsel terdiam. Menatap lurus ke arah papan tulis, tapi pikirannya berkecamuk ke Dara. Tak sadar, ia tersenyum. Kayaknya Didi bener,,
Gue emang sudah jatuh pada pesonanya Dara.
__ADS_1
...****************...