Arsel Dan Dara

Arsel Dan Dara
(2) Arsel Nolan Vernando


__ADS_3

(Gak mungkin kan? )


Arsel Nolan Vernando


Badge nama Itu tertempel jelas di sisi baju sebelah kanan, sejajar dengan bendera merah putih yang terjahit disisi kiri atas saku. Membenarkan letak dasinya yang sedikit longgar tak lupa tataan rambut keatas yang selalu poni utama penampilannya.


Like father like son?


Arsel menyambar jaket, tas punggung abu abu, serta kunci motornya. Menutup pintu kamar, menuruni tangga untuk bertemu keluarganya.


Arsel mencium pipi bundanya.


"Pagi, bunda Tataku,"


Renata, bunda Arsel tersenyum cantik.


"Pagi juga sayang, makan dulu, Bunda buatin sandwhich kesukaan kamu."


Arsel menganguk lalu berjalan kearah adiknya, Nada dan Rama.


Rama berumur smp dan Nada berumur sd.


"Pagi es batu dari Antartika", sapanya ke Rama menoel pipi sang adik. Rama beda dua tahun dengan Arsel. Pasalnya, Rama itu jika disekolah suka pendiem dan bicara seperlunya.


Rama mendengus kesal akan sebutan yg diberikan kakanya.


"Pagi cerewet" ucap Arsel mengacak tatanan rambut Nada.


Nada mendengus kesal. "Bunda, Kak Arsel nih! "


Arsel terkekeh.


"Sel! Kebiasaan kamu, nanti adek. nangis! " Arsel menatap Elfan, ayahnya, lalu berjalan mendekat.


"Pagi juga yah" Arsel mengecup punggung tangan Elfan.


Arsel duduk di kursi nya, dan mengejek ngejek adiknya. Arsel memakan sandwhich yang diberikan renata, dan meminum susunya.


"Kak, udah mau setengah tujuh tuh, berangkat sana. Jangan gangguin adek terus, nanti telat. "


Arsel menoleh sekilas ke Renata lalu beralih ke jam tangan nya hampir kurang 10 menit lagi telat. Kepala nya terangkat melihat Rama sedang meneguk air putih.


"Mau bareng gue gak Ram? Tumpangan gue gratis nih gada ongkir. "


Rama nebatap sekilas lalu menggeleng.


"Emang gue barang? Gak makasih. Gue bawa motor"


Arsel terkekeh.


"Yaudah kalo gitu Arsel berangkat dulu Bun, Yah" ucapnya lalu menyalami keduanya.


Tak lupa ia mencubit hidung Rama hingga laki laki itu mendesis marah.


"KAK ARSELL!! "


Arsel Tertawa lalu berlari ke depan.

__ADS_1


...****************...


Arsel melepas helm full facenya dan pekikan nyaring dari berbagai arah menerobos masuk daun telinganya. Ia meletakan helm nya dikaca spion dan merapihkan rambut nya kebelakang.


Arsel beberapa kali tersenyum kecil pada gadis gadis yang baru menyapanya. Jujur, Arsel merasa risih sejak pertama kali masuk SMA GARUDA ini.


Arsel mempercepat langkah nya, Senyumnya melebar terpampang tiba-tiba ketika berhasil masuk ke kelasnya, segera ia menutup pintu kelas nya rapat rapat menghindari serangan dari hyena.


Arsel tidak tahu jika perbuatannya membuat Dara yang sudah hadir sedari tadi terlonjat kaget.


"Selamat gue, fiuh" ucapnya berbalik. Dan tepat saat itulah, mata mereka bertemu.


Arsel memasang senyum bodoh dan Dara balas dengan dengusan lalu kembali ke bukunya.


Anjir, Cuman dikacangin gue.


Mata Arsel menerawang keseluruh bangku yang masih kosong. Seketika ia sadar, hanya dirinya dan Dara lah berdua.


Baguslah. Setidaknya Arsel bisa terbebas dari ratusan serangan sekelompok para wanita.


Arsel bosan. Ia melirik Dara yang tampak bergeming sedikit pun dengan jemari yang sekali membalikan lembar buku. Tak sadar, Arsel larut memandangi wajah tenang Dara.


Jika dilihat lihat, Dara memang cantik. Gadis itu bagaikan air yang tenang menghanyutkan. Arsel jadi penasaran.


Arsel tak sepintar Dara. Tapi ia juga tidak bodoh. Si peringkat Tiga. Itu sudah menjadi gelarnya dari smp.


Merasa ditatap, feeling Dara menyuruhnya untuk memutar kepala kekanan. Dan lagi-lagi, tatapan mereka bertemu. Arsel sedikit terkejut saat tiba-tiba Dara menoleh Kearahnya.


Tapi ia mencoba mengontrolkannya dan memberikan senyuman yang mampu melelehkan hari para gadis manapun.


Dara menaikan satu alisnya lalu kembali menatap buku.


Dua kali diabaikan, rasa penasaran Arsel semakin melambung. Ia bangkit lalu mendekati meja Dara yang hanya terhalang satu pasang bangku.


Ada penggerakan yang mengangu, Dara mendonggak sekilas lalu kembali menatap buku. Sepertinya buku dihadapannya memikat hatinya dari pada wajah tampan Arsel.


Arsel mendengus kecil. Tiga kali permirsah!


"Gue panasaran sama lo, " Ucap Arsel membuka percakapan. Matanya bahkan tak teralih sedikitpun dari Dara, padahal satu persatu teman kelasnya berdatangan.


"Gue tau lo gasuka, tapi gue penasaran".


Dara membalikan lembar berikutnya, sama sekali tak minat untuk barbaur dalam percakapan itu.


"Nyaut kek, orang ganteng kayak gini dicuekin, ntar lo nyesel loh"


Arsel mulai gemas, ia mendudukan dirinya didepan bangku Dara dengan menghadap gadis itu.


"Apa buku lo ada foto idola lo sampe sampe muka ganteng kayak gini lo gak minat buat dipandang? "


Arsel mencondongkan tubuhnya untuk melihat isi buku Dara. Tapi Dara, hanya menyingkirkan buku itu dari hadapan Arsel.


"Pagi pagi udah ngegas aja lo Sel, " Ucap Didi yang berjalan bersama dua orang dibelakangnya kemudian menaruh tasnya.


"Gebetan baru? " Celetuk Oji, laki laku dengan hoodie hitam yang menempel di tubuhnya.


"Yang kemaren mau kemanain? " Kini giliran Zaki yang berbicara, laki laki dengan rambut awut awutan, khas anak badboy.

__ADS_1


"Gini nih, ciri ciri orang yang kalo pagi gak pernah dapet asupan pendidikan karakter. Sukanya main nyebarin gosip miring, " Ucap Arsel penuh Ejekan.


Didi itu sahabat Arsel dari kecil,


Dan Oji dan Zaki, shabat Arsel dari Kelas 9


Mata Arsel kembali kepusat Dara yang sama sekali tak mengubah posisinya dari tadi.


"Dara, nyaut kek, lo gak bisu kan? "


Tanya Arsel hati-hati, takut menyiindir. Oji, Zaki maupun Didi pun tak mau lepas dari pandangan mereka.


Dara sedari tadi merasa risih, segera menutup bukunya lalu menatap kesal Arsel yang tiba tiba terdiam.


"Berisik! " Ucap Dara penuh penekanan lalu bangkit dan melenggang pergi.


Tepukan membahana dari kawan kawannya membuat Arsel sadar.


"Wow! Seorang Arsel baru saja diabaikan seorang cewek? " Zaki tertawa bahagia. "Mamam tuh kacang," lanjutnya.


"****! Diem lo. " Ketiga temannya sukses dibuat geli oleh tingkat Arsel yang merasa kesal.


"Lagian lo berdua, " Arsel menatap Zaki dan Oji bergantian. "Kelas mana lo? "


"Masih bau orok aja songong, balagu lo! " Zaki duduk dibangkunya disamping Didi lalu iseng, mengorek isi laci Arsel yang sudah ia tebak penuh terisi.


"Ada berapa Ki? " Celutuk Oji. Dengan muka bersemangat.


Zaki mengeluarkan semua isi laci itu dengan penuh terisi coklat batangan, sebatang bunga mawar, surat cinta yang membuat Arsel mual, dan kado yang isi nya entah apa.


"Gila, fans lo makin hari makin banyak aja bro. " Zaki menggeleng tak percaya dngan semua didepannya.


"Jangan lupa, makin ganas juga. " Ucapa Didi diangguki oleh Zaki.


"Diapain nih enaknya? " Oji menatap Arsel yang terlihat tak berselera dengan semua itu.


"Dikarungi aja bawa pulang. "


Arsel mendudukan dirinya dibangku depan Didi, mengeluarkan pondselnya dan bermain game.


"Asikkk! Ini baru yang namanya temen! " Oji membentang tangannya. Bersiap mengambil semuatu.


"Eh kuda poni! Bagi rata woy! Main mau raup aja lo! " Zaki yang tak terima segera membagi rata hadiah itu.


Didi hanya menggeleng serta terkekeh,


Sedari tadi Arsel memang tak berniat bermain game, pikirannya berkecamuk akan kejadian dengan Dara tadi. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil.


Namun buru-buru ia menggeleng cepat. Ngapain gue mikirin Dara?


Tak berselang lama, bell berbunyi. Semua siswa berhamburan masuk kekelas. Oji dan Zaki sudah keluar dengan membawa hadiah hadiah itu. Dan kini, semua siswa kelas 2 IPA 3 itu telah terisi penuh hanya Dara saja yang belum memasuki kelas.


Arsel mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadis itu. Sebuah ketukan berasal dari pintu, dan menemukan gadis yang ia cari menjadi pusat pandangan, berjalan ke bangkunya dan siap menyambut guru.


Arsel lagi-lagi tak sadar jika ia telah jatuh pada sikap Dara. Hingga sebuah senggolan membuatnya mengerjap.


"Lo suka sama Dara? " Bisik Didi, membuat Arsel melotot tak terima. Ia menatap ke depan, mengalihkan pandangan namun otak berkali kali menanyakan sesuatu.

__ADS_1


Gak, ga mungkin kan?


...****************...


__ADS_2