
"Semuanya, bapak akan membagikan kertas ulangan yang tadi kalian kerjakan. Silahkan kalian maju kedepan jika nama kalian desebut."
Semua mengangguk. "Iya pak"
"Pertama, Amanda"
"Duh degdegan gue buat liat nilai nya"Amanda menghampiri pak porjo dan kembali ke bangkunya.
"Kedua Ariel"
"Semoga 100, semoga 100, semoga 100" Mohon Ariel
"Ketiga Arsel"
Arsel berjalan kedepan dan kembali kebangkunya. "Lo punya nilai berapa sel?" Didi penasaran.
"Udah pasti 100 dong" Arsel memamerkan nilainya. Ya udah dibilang jika Arsel itu pintar.
"Keempat Bayu"
Bayu berjalan dengan santai kedepan, Walaupun nilai nya akan kecil. Bayu tidak peduli.
"Kelima Cinta"
"Wih, bakalan 50 ini mah" Gumam Cinta.
"Keenam, Dara" Dengan biasa, Dara menghampiri pak pirjo dengan wajah datarnya. Dan Dara melihat nilai nya dengan berlangsung murung.
"Sel, kenapa wajah si Dara jadi murung gitu? "
"Mana gue tau Didi. Gue kan bukan siapa siapa dia, Mungkin karna nilainya. "
Didi berfikir. "Ga mungkin deh, jika karna nilainya. Dia kan udah pintar seangkatan. Jadi dia bakalan punya nilai 100"
__ADS_1
Arsel menghela nafas kasar. "Terserah lo"
"Selanjutnya, Fira"
"Doain gue yaa" Zaki mengacungkan jempol nya dan menganngguk.
"Selanjutnya Ghea"
"Giliran gue Dar, "
Ghea kembali duduk, Dara penasaran dan mengintip kearah nilai nya. "Barapa? " Ghea melirik ke arah Dara. "90" Dara mengangguk angguk.
"Kalo lo berapa? " Dara menoleh, dan menyondorkan kertasnya. "Mati gue" Gumam Dara.
"Selanjutnya, Haris"
Serasa cukup lama membagikan ketas ulangannya. Bell pulang tak terasa berbunyi. "Baik, silahkan kalian pulang. Jika ada pertanyaan silahkan tanyakan. Bapak mau kertas ulangan itu ditanda tangan oleh orang tua kalian. Dan, satu lagi. Disini yang paling tinggi nilainya siapa? Mau tau atau udah tau? "
"Arsel. " Pak pirjo hendak pergi dan lenyap dibalik pintu.
Semua kelas menoleh ke arah Arsel. "Bukannya si Dara? " Tanya satu teman siswanya ke siswa disebelahnya. Siswa itu mengangkat bahunya.
...****************...
Di parkiran sekolah. Arsel berjalan dengan tenang karna tidak ada temannya yang mengganggu nya. Arsel menangkap sosok Dara yang sedang menunduk. Arsel bersembunyi dibalik tembok, menyaksikan adegan Dara disana.
"Anak ga guna! " Mendorong tubuh Dara
"Maaf yah"
Hah? Dia ayah nya?
"Maaf, maaf! Liat nih, nilai kamu masih kurang! Kamu itu jadi anak ga becus banget sih! " Menyondorkan kertas ulangan Dara yang bernilai 95.
__ADS_1
Dara masih menundukan kepalanya.
"Liat ayah! " Dara mendonggakan kepalanya.
Plak!
Wajah Dara bergerak kesamping menikmati rasa perih dan panas di pipinya. Mata Arsel membulat
"Kalo sampe ibu kamu tau! Kamu akan mendapatkan lebih keras dari ini! "
Tah sanggup, Dara meneteskan cairan bening di matanya kepipinya. Kaki Dara melemas, serasa ingin sekali istirahat dengan tenang tak ada gangguan.
"Anak pembawa sial! "
Ayah Dara yang bernama Darma itu memasuki mobil mewahnya dan menutup pintu mobil dengan keras. Wajah nya yang merah, badan besar tinggi. Ditemani body gard nya disampingnya, dan supir mobil dedepan mobilnya.
Dara masih menundukan kepalanya. Dengan mata masih meneteskan air matanya yang jatuh kebawah.
Arsel yang melihat latar belakang nya Dara, merasa sedih. Arsel melihat Dara berjalan kearah halte bis dan duduk disana.
Arsel memutuskan untuk pergi ditempatnya.
Kembali keDara. Dara menghapus sisa sisa air matanya. Menatap nilai ulangannya hanya satu yang salah. Dara meremas kuat kertas ulangannya.
"Gak ada sayang sama gue!" Dara semakin meremas ulangannya. Dara menghela nafas lembut menenangkan pikirannya. Dara menunda kertas itu didalam tasnya dan mengambil buku catatannya. Kembali membaca isi dalam buku itu.
Pip pip
Dara menoleh. Arsel
"Butuh tumpangan ga?"
...****************...
__ADS_1