Arsel Dan Dara

Arsel Dan Dara
(10) Firasat Arsel


__ADS_3

Dara terkejut karna Arsel sudah duduk di ranjangnya, sedang menatapnya dengan beerlipat tangan didadanya.


"Ngapain? "


Dara duduk di kursi belajar Arsel dan menggeleng. Lalu, Dara menunda tas yang tadi belum ia simpan. Di simpan di meja Arsel. Dara melihat ada buku. Disana terdapat tulisan Diary Arsel,


"Lebay" Tak sadar, Dara berucap kata dengan memandangi buku diary Arsel. Arsel melihat Dara berucap beralih ke bukunya yang sedang memandanginya.


Arsel langsung berdiri dan mengambil buku warna biru itu. "Iya, gue tau gue lebay. Tapi gue ga akan se lebay hati gue"


Dara memutar matanya.


"Ayo, tadi bunda udah masakan buat lo"


Dara mengangguk.


Sesampainya di ruang makan. Terlihat lengkap sekali keluarga harmonis ini.


"Eh anak nya Bunda" Memang, tadi Renata menanggap Dara itu anaknya.


"Sini duduk dekat Arsel"


"Iya bun" Dara duduk di dekat Arsel.


"Dia siapa Bun? " Tanya Elfin selaku ayah Arsel.


"Ohh dia, calon istri Arsel" Renata tersenyum.


Dara berdiri, menyalami punggung tangan Elfin "Halo Om, saya Dara. Temennya Arsel" Elfan mengangguk mengusap puncak kepala Dara lembut. Dara tersenyum


"Ohh calon istri Arsel? Akhirnya juga Arsel membawa cewe kerumah* Kata Elfin.


"Ih ayah!"


Dara kembali duduk dikursinya.

__ADS_1


"Halo kakak! "


Dara menoleh ke sumber suara. Dara melihat di samping Renata terdapat anak kecil yang lucu.


"Halo! " Dara melambaikan tangannya, serta tersenyum.


"Dara, kenalan ini adik adik gue. Dia Nada, dan dia entah anak siapa. Mungkin anak pemulung yang datang kesini" Arsel menunjuk Nada dan Rama.


"Arsel!!" Peringat Elfin.


"Eh ayah ampun!" Arsel tersenyum kaku.


"Gue bukan anak pemulung, Gue anak satu satunya ayah Elfin dan bunda Renata" Kata Rama. "Ya kan Yah bun? "


Elfin menggeleng serta Renata juga.


"Ih kalian jahat!" Kesal Rama.


"Hiu kasian"


Rama memutar bola matanya malas. Langsung beralih menatap Dara yang sedang tersenyum ke arah Nada. Rama pun menjadi iri


"Jangan lama lama. Tangan Dara bersih, nanti kena najis"


Dara hanya menggeleng geleng kan kepalanya. Keluarga yang harmonis ini sangat akur tidak seperti keluarga dirinya, yang hanya ribut ribut dan ribut.


"Silahkan Dara makan"


Dara mengangguk "Iya bun"


Dara memakan makanan Renata. Ternyata seperti ini rasanya mempunyai keluarga yang akrab, memakan makanan ibunya, bercanda dengan ayahnya. Dara sangat iri sekali dengan Arsel.


Sesudah makan malam selesai. Dara memutuskan untuk pulang.


"Om, bunda. Saya pulang dulu udah malem"

__ADS_1


Mereka mengangguk. Lagi pula, mereka tidak ingin orang tua Dara marah karna terlalu lama disini.


"Kakak! Jangan pergi, Mending Temenin Nada main lagi ya?" Nada memeluk kaki Dara. Dara mengusap rambut Nada.


"Nanti kakak kesini lagi main sama Nada lagi ya? Jangan nangis" Dara mengusap pipi Nada yang basah.


"Iya kak"


"Arsel! Anterin Dara pulang" Tegas Alfin


"Pasti yah"


...****************...


Di perjalanan pulang kerumah Dara. Dara terlihat kelelahan Dara merasa seperti melupakan sesuatu tapi apa?


Sesampai di rumah Dara. Dara menyondorkan helm nya ke Arsel. "Lo kenapa kaya ada yang kelupaan gitu? "


Kenapa Arsel slalu tau isi pikiran gue? batin Dara.


Dara berfikir sejenak. "Oh iya! "


"Gue ketinggalan les. Gue hari ini ga hadir les. Mampus gue! "


"Lo enggak les? Maaf ya karna gue" Arsel merasa bersalah.


Dara mengangguk "Gue masuk"


"Lo Gapapa? Gue takut lo dimarahi sama bokap lo"


Dara menggeleng "Gpp"


Dara memasuki pintu rumah nya.


"Gue punya firasat, kalo dia bakalan di marahin"

__ADS_1


Arsel menggeleng. "Gue gaboleh kepikiran yang enggak enggak" Arsel menyalakan motornya. Dan meninggalkan pekarangan rumah Dara.


...****************...


__ADS_2