
Pip pip!
Dara menoleh. Arsel
"Butuh tumpangan ga?"
Dara menggeleng dan kembali membaca buku catatannya itu.
"Gue tau lo butuh sandaran. Temenin gue yu, pasti lo seneng" Dara kembali menoleh, dan berfikir sejenak.
"Jangan banyak kepikiran, nanti mucul jerawat karna stres" Dara memutar bola matanya malas.
Dara berdiri, Dia juga butuh ketenangan. Butuh hiburan untuk pikirannya. Dan juga tidak ada uang untuk pulang. Dara menghampiri Arsel. "Mau kemana? Lo kenal gue? " Dara menghela nafas kasar dan berbalik ke halte bisnya.
"Eh iya iya. Gue bercanda jangan marah" Arsel mencekal tangan Dara. "Nih pake" Arsel memberi helm nya ke Dara karna Arsel sekarang memakai motor. Dara menerimanya.
Dara menaiki motor besar Arsel. Dara kesusahan menaiki motor nya Arsel. Arsel mengerti dengan arahan Dara.
"Kalo butuh bantuan bilang" Arsel menyondorkan tangannya.
"Gaperlu" Dengan tubuh kecil nya. Dara melompat kearah motor Arsel. Motor Arsel bergoyang, "Jangan lompat ih, nanti jatuh"
Tidak ada sahutan, Arsel menghela nafas kasar berusahal lembut "Pegangan" Dara berpegang pada pundak Arsel. Arsel tersenyum miring. Arsel melakukan motornya tiba tiba dengan cepat. Otomatis Dara langsung berpegangan eh maksudnya memeluk pinggang Arsel. Dara memukul pundak Arsel.
Aw!
"Ternyata pukulan lo lebih sakit dari pada sakit hati" Teriak Arsel karna berisik dengan angin yang lewat.
Dara hanya diam menikmati angin yang menyejukan ini. Ditambah lagi dengan kehangatan punggung Arsel. Dara memejamkan matanya, Arsel melihat kearah kaca memandangi pemandangan wajah Dara saat memejamkan matanya.
Dara kembali membuka matanya, tersadar apa yang ia lakukan. Dan melepaskan pelukan nya beralih ke pundak Arsel.
"Peluk aja, kalo lo terasa nyaman. Gapapa kok"
__ADS_1
Dara mendengar penuturan Arsel, Dara merasa malu. Dara melihat lihat perkotaan saat sore ini. Terasa menyejukan. Ditambah lagi ada pusat pemeran roda putar yang menjulang tinggi keatas.
10menitkemudian.
Arsel menghentikan motornya. Arsel turun, Dara mengikuti Arsel yang turun jadi turun ikut ikutan. "Dimana?" Arsel melirik ke arah Dara yang sedang melihat rumahnya.
"Ini rumah gue. Ayo masuk"
Dara mengangguk. Eh tunggu Dara menghentikan langkahnya. "Kenapa? "
Kenapa gue disini? Gue kan mau pulang. Ini hampir malam lagi. Batin Dara.
Tahu arah pikiran Dara. "Gue ajak lo kesini cuma mau pikiran lo tenang. Soal nya maaf banget ya, gue tadi liat lo ditampar oleh bokap lo. Gasengaja itu juga, maaf ya udah nguping"
Dara yang tadi melamun, menatap ke mata manik Arsel yang sendu. Dara mengangguk.
"Ayo"
"BUNDA!! ARSEL PULANG!! " Teriak Arsel. Karna rumah ini begitu besar, takut gak kedengeran.
Renata menghampiri anaknya.
"Ih kamu ini. Udah dibilang jangan teriak teriak! " Renata menjiwir daun telinga Arsel.
"Aah bunda, sakit, "
Renata menoleh kearah gadis yang rambut diikat itu. Dan menghampirinya "Kamu siapa? Pacarnya Arsel ya? Cantik bangett"
"Halo tante" Dara menyalami Renata.
Renata mengusap sayang Dara
"Jangan panggil tante, panggil aja bunda. Kan kamu mau jadi anak tante nanti. Nama kamu siapa? "
__ADS_1
"Iya bun, Nama saya Dara olif anggara, saya temennya Arsel" Dara tersenyum ramah.
Arsel menatap Dara. Ini pertama kalinya gue liat lo semyum. Semoga kedepannya terus tersenyum ya. Batin Arsel.
"Ohh temennya, kirain pacarnya. Maaf ya*
Dara mengangguk
Renata menghampiri Arsel. "Sel, tembak dia Atuh Bunda udah suka sama Dara"
"Ini juga lagi usaha bun"
Dara memutar matanya malas. Matanya menangkap poto keluarga dengan pigura besar. Disana ada ayah dan bundanya, Dara melihat adiknya mungkin yang cowok dan anak kecil perempuan sangat lucu.
"Bun, Arsel kekamar dulu sama Dara"
Renata mengangguk. "Iya, nanti bunda panggil buat makan malam bersama ya? "
Mereka mengangguk.
"Ayo Dara"
Dara menaiki tangga yang indah itu. Dara menerawang kesekeliling rumah ini. Setibanya di kamar Arsel.
"Lo duduk dulu. Gue mau mandi dulu, Kalo bosan liat liat kamar gue, asal kan jangan lemari baju gue. Nanti ada daleman gue" Arsel tertawa kecil beralih ke kamar mandi.
Dara duduk di pinggir ranjang Arsel. Kamar ini serasa tak asing baginya. Kamarnya mewah sekali, kamar Arsel sangat besar dan rapi.
Dara berjalan ke arah balkon kamar Arsel. Dan membuka pintu kaca itu dan berjalan kearah luar. Di balkon, ada sofa, gitar, sepatu, bunga, dan jaket Arsel. Dara berdiri di pinggir balkon tersebut menikmati semilir angin menerpa wajahnya.
Di balkon kamar Arsel, terdapat perkotaan yang padat, terlihat juga disana pemandangan matahari terbenam. Dara berjalan untuk masuk lagi kekamar Arsel. Dara terkejut karna Arsel sudah duduk di ranjangnya, sedang menatapnya dengan berlipat tangan didadanya.
...****************...
__ADS_1