Arsel Dan Dara

Arsel Dan Dara
(5) Sekedar pulpen


__ADS_3

Dara meletakan kotak bekal yang di berikan Arsel tadi. Sejanak Dara menatapnya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dara keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur, hari ini hari yang melelahkan.


Dara melihat ke arah jam mendapati jam 08.30 malam, dari habis pulang dari lesnya, dan sekarang Dara akan belajar lagi.


Dara membuka buku catatannya, ia melirik kotak bekal Red velvet tadi. Dara merasa lapar, Dara menyuruh tangganya membuka kotak bekal itu dan memakannya.


Enak.


Dara sesekali berdehem menatap bukunya yg ia tau. Jam menunjukan pukul 11.30 malam. Dara rasa, balajarnya sudah cukup. Dara berjalan ke arah ranjang nya, menatap langit langit kamar.


Tok tok tok


Suara mengejutkan itu berasal dari pintu.


"Masuk aja bi, ga di kunci"


Bi Edah masuk, selaku pembantu di rumah ini.


"Ini non, susunya diminun dulu"


"Iya bi, makasih. " Dara tersenyun ramah.


"Kalo gitu, bibi ke bawah dulu ya"


Dara mengangguk.


Dari kecil, Dara dirawat oleh Bi Edah. Lalu, kamana orang tua Dara? Orang tua Dara seaakan tidak peduli dengan anaknya. Papa nya maupun Mama nya, hanya mempedulikan perkerjaannya, dan Papa nya selalu menamparnya jika ia tidak memenuhi perintahnya.


Memang menyedihkan. Tapi, dara yakin akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya.


...****************...


Karna hari ini musim dingin, Dara memakai jaket putih di badannya.


"Berhenti disitu. Jangan kemana mana, gue mau buang dulu bunganya. "


Dara tertegun sejenak, mengapa laki laki itu mendadak perhatian kepadanya?

__ADS_1


Mata dara, memperhatikan laki laki itu pergi. Arsel membuang bunga bunga itu kedalam tong sampah.


Arsel tersenyum mempersilahkan Dara duduk di bangkunya. Dara duduk di bangkunya, membuka bukunya tanpa membuka jaketnya.


Dara teringat kotak bekal Arsel. Dara mendekat ke arah bangku Arsel tentu saja Arsel tersenyum karna ini pertama kalinya Dara menuju ke arahnya.


"Thanks" ucap Dara menunda kotak bekal itu di meja Arsel dan kembali ke bangkunya.


"Udah gitu doang? "


Satu ide berlian melintas dipikiran Arsel. Arsel menghampiri bangku Dara, Dara tidak tau kebaradaan Arsel di dekatnya.


"Lo ga kenyang makan rumus mulu? Gue yang liat aja udah enek"


Diam sejenak.


.


.


.


.


"Dar, gue penasaran sama lo. Apa lo ga bosan, kerjaan lo belajar, belajar belajar terus? Ga cape apa? "Arsel yg duduk di depan Dara menggunakan tangannya untuk menyangga kepala.


"Dia juga butuh istirahat kali Dar, butuh refreshing."


Arsel mendengus ucapannya diabaikan lagi. Arsel langsung mengambil pulpen Dara dan cepat cepat ia sembunyikan.


"Kembaliin"


Arsel tersenyum miring, meletakan pulpen nya diatas kepalanya menirukan Dara sedang menulis tadi.


"Tangkep kalo bisa"


"Kembaliin". Dara bangkit, berusaha mendapatkan pulpennya kembali. Dengan keaadaan kelas kosong, yang merupakan di kelas ini tidak ada seorang pun.

__ADS_1


"Gue bakalan kembaliin pulpen ini, tapi lo harus buat janji sama gue. " Arsel menatap mata lentik Dara yang matanya mengarah kekesalan. "Istirahat nanti bereng sama gue. Gimana? "


Dara menatap Arsel tajam.


"Arsel kembaliin! "


Arsel terperanggah bukan karna teriakan, tapi karna Dara menyebut nama nya.


"Lo barusan nyebut nama gue? Gasalah denger kan gue? Coba sebut sekali lagi. "


Dara terdiam dengan tangan berlipat didepan dada. Memalingkan wajahnya ke samping.


"Kembaliin! "


Arsel menyembunyikan pulpennya di belakang tubuh nya, ini adalah cara untuk dirinya jika Dara ngotot kearahnya seperti drama romansa romansa di film.


"Gini deh, sekali lagi gue buat keputusan. Gue bakalan balikin nih pulpen, asalkan lo harus nurutin kemauan gue, Gimana? " Arsel menatap mata Dara yang memalingkan wajahnya


Dara merasa tidak ingin berlama lama berbicara dengan Arsel dan Dara merasa sangat risih dengan tatapan orang orang yang sebagian melihat kearah mereka. Dara benar benar ini ingin mengakhirinya, Dara memutuskannya.


Dara mendonggak dengan tangan masih setia berlipat, dagunya ditarik ke atas.


"Iya,"


Mata Arsel berbinar. Tak percaya.


"Tapi cuma hari ini" Lanjut Dara.


"Iya, boleh. Gue malahan bersyukur. Nih"


Dara mengambil pulpennya dan kembali ke bangkunya untuk menulis tadi yang tertunda.


Semua orang mulai memasuki kelas.


"Lo kenapa senyum senyum gitu? Kesambet setan? "


Arsel menggeleng dengan tersenyum atas pertanyaan Didi. Didi menaruh tas nya di kursi nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2