Arsel Dan Dara

Arsel Dan Dara
(8) Ulangan harian


__ADS_3

Bell masuk, menandakan semua kelas masuk kekandang nya masing masing.


Yah, rencananya mau nyobain saran dari Fira dan Zahra. Tapi bell mengganggunya, tapi tak apa lah. Istirahat kedua, gue bakalan ikutin rencananya.


Pak Pirjo masuk kelas,"Halo anak anak, sekarang kita ulangan harian. Bukunya cepat kunpulin"


"Yah pak, koh mendadak?"


"Iya, sengaja. Biar kalian dapet nilai kecil" Serta tawaan kecil dari PakPirjo.


Huh, pasrah ini mah-


Semua murid mengumpulkan bukunya untuk menilai bukunya dan untuk tidak ada yang menyontek.


"Bapak mau, kalian ulangan yang bersih. Jangan ada yang kotor, ngerti? "


"Iya pak, dimana mana juga bersih disini. Tuh ga ada kotoran sedikitpun" Tunjuk Zaki ke arah lantai.


"Bukan itu Zaki, maksudnya jangan ada yang menyontek"


"Iya pak"


"Farhan, bagiin kertas ulangannya."


Farhan mengangguk. Dan mulai membagikannya.


"Udah kebagian semua kan? Bapak kasih waktu sampai bell istrirahat ke 2 dikumpulin. Jangan ada yang menyontek, terutama Oji dan Zaki. Kamu jangan nyontek ke Arsel." Oji dan Zaki mangangguk "Iya pak"


"Semangat dong, jangan lesu gitu "


"Iya pak! " kompak mereka berdua.


"Oke, silahkan dimulai dari sekarang " Pak Pirjo berdiri di depan semua muridnya, mengawasi siapa tau ada yang menyontek.


40 menit kemudian


Bell berbunyi.


"Yah padahal dikit lagi"


"Ga kerasa bell juga"


"Heh! Cepet gue liat! "


"Ah pusing gue! Serasa mau meledak"


"Anak anak, sudah. Sekarang kumpulin, secepatnya. Jika kalian tidak ingin istirahat. "


Semua murid mengumpulkan kertas nya, terutama juga Dara dan Arsel. Mereka berpapasan, tapi dihiraukan. Semua orang keluar kelas, kecuali Dara masih dengan membaca buku.

__ADS_1


"Dara, bisa tolongin bapak? "


Dara menganggguk.


"Tolongin bawa kertas-kertas ini ya? Soal nya bapak kebanyakan bawanya." Dara hanya mengannguk dan "Iya pak"


"Bapak duluan ya" Pak Pirjo keluar kelas dengan semua barang ditangannya.


Dara masih membereskan buku buku yabg tergeletak di meja. Dara menumpukannya, Dara mengambilnya dan berjalan ke luar kelasnya.


Dilain tempat, Arsel mencari keberadaan Dara. Arsel menerawang seisi sekolahnya. Mata Arsel menangkap sebuah gadis sedang membawa buku yang banyak. Ini kesempatan buat gue, batin Arsel dengan senyum miringnya.


"Hai"


Dara tidak menoleh, dia tahu siapa itu. Tidak ada respon, Arsel tidak akan menyerah.


"Mau gue bantu?" Tanya nya dengan nada sedikit lembut.


Masih tidak ada respon, Arsel kembali menanyakan sekali lagi. "Mau gue bantu gak? Kayanya lo bawa bukunya kebanyakan, sini gue ambil".


Hendak Arsel membawa sebagian Buku itu ditangan Dara,karna biar bisa berjalan berduaan. Tapi kehendak tidak mentejuinya. Dara memberikan semua buku itu ke arah tangan Arsel.


"Eh, kenapa ini semua ke guein? "


Dara menatap datar wajah Arsel, membuat jantungnya ingin copot. Iya, tahu Arsel lebay.


"Kan lo mau bantu, yaudah gue beriin" Dara pergi dari hadapan Arsel.


...****************...


Yayy hatiku bersorak gembira, hati ku bersenang senang, hatiku bergoyang goyang. Arsel sangat alay lebay sekali kan pren?


"Lo kenapa kaya bahagia gitu?" Tanya Didi bingung.


"Gue seneng akhirnya Dara ngejawab perkataan gue"


"Emangnya lo ngatain gimana? " Didi penasaran.


"Kepo deh loo"


"Udah ah, gue mau ke perpus. Mungkin disana bakalan ada si Dara" Arsel meninggalkan Didi yabg meminum marimas kesukaannya.


...****************...


Arsel melihat Dara sedang membaca buku dengan tenang. Arsel mengamati wajah Dara dari depan, tapi tidak disadari oleh dipemilik wajahnya.


Merasa ada yang menatap. Dara menoleh ke depan, melihat wajah Arsel yang hanyut kedalam wajah tenang Dara. Dara menaikan satu alis menandakan pertanyaan 'Ada apa'.


Arsel tersadar, dan menggeleng kecil. Arsel mengahampiri Dara dan duduk dihadapannya. "Gue mau belajar sama lo" Arsel menompang dagunya.

__ADS_1


Dara hanya mendengarnya. Arsel bangkit, dan mengambil buku matematika. Arsel meletakan bukunya didepan dirinya. Arsel sudah pintar, hanya saja ingun modus dengan Dara.


Arsel menulis soal matematikanya dikertas selembar, dan mencodongkannya keDara.


"Tau ga ini gimana? Gue gabisa jawab dan kasih penjelasannya"


Dara melirik kertas yang Arsel sodorkan.


"Lo gatau? Tk juga ini tau"


Arsel menggeleng. Dara tersenyum miring, "Bodoh! " Arsel sabar, sabar, dia itu cewe. Jangan meluapkan amarahmu. Iyalah, masa Arsel tidak tau 1+1\=??


"Emang nya hasilnya jadi apa? "


"Dua" Arsel tersenyum.


"Iya, seperti kamu dan aku itu jadi dua. Gak ada ketiganya diantara cinta kita."


".."


Arsel menghembuskan nafasnya kasar. Lalu menuliskan soalnya lagi.


"Kalo ini jadi berapa? " Dara melirik.


"Satu"


"Emm, kalo dipikiran pikir. Ini cintaku padamu yang hanya satu tiada tandingannya"


".."


Arsel hanya pasrah. Mana bisa meluluhkan hati Dara? Arsel kembali menulis tapi dengan perkataan.


"Ini apa bedanya? "


Dara mengerjit dahi. "Dingin dan hangat? "


Arsel mengannguk "Iya, lo tau ga? "


"Dingin itu waktu cuaca iklim dilangit berubah mendung, sesaat akan menja-"


"Shuttt,, Bukan itu. "


Dara mengangkat alisnya.


"Dingin itu sikap lo, dan hangat lo sikap gue. Jika disatuin bakalan jadi satu. Ngerti ga?"


Dara menggeleng.


"Hah yaudah"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2